Percakapan dengan Angin
di Telaga Kedokan Parang Gupito Wonogiri

ke Kedokan Nok, ke Kedokan
kau basuh debu tubuhmu
kau basuh luka musimmu
kau basuh matahari Wonogiri
(angin kering menyisiri jalan setapak
bekas jejak perawan banyak kehilangan)

Ke telaga tanpa warna
aku Dhenok memotong senja
matahari membakar bianglala
kusembunyikan di celah dada
(siapa memperhatikan suaranya
selain angin bukit kapur tanah leluhur)

Senandungmu lirih
adakah perlambang sedih
telaga kian menyusut
Tuhan tetap Maha Kasih
(angin menggugurkan debu di udara
hinggap pada bulu burung dan angsa)

Ke telaga tanpa warna
kubasuh wajah letih
bunga kecubung Parang Gupito
air telah bercampur lumpur
menjadi boreh dan lulur
air telah bercampur kencing
manusia dan sapi serta segala
kusapa Gustiku Maha Cinta
(di keruh telaga Dhenok mencoba berkaca
musim hanguskan kulitnya) 

Jakarta
September, 1987
"Puisi: Percakapan dengan Angin (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan dengan Angin
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top