Maret 2002
Tentu. Kau boleh

Tentu. Kau boleh saja masuk,
masih ada ruang
di sela-sela butir-butir darahku.
Tak hanya ketika rumahku sepi,
angin hanya menyentuh gorden,
laba-laba menganyam jaring,
terdengar tetes air keran
yang tak ditutup rapat;
dan di jalan
sama sekali tak ada orang
atau kendaraan lewat.
Tapi juga ketika turun hujan,
air tempias lewat lubang angin,
selokan ribut dan meluap ke pekarangan,
genting bocor dan aku capek
menggulung kasur dan mengepel lantai.

Tentu. Kau boleh mengalir
di sela-sela butir darahku,
keluar masuk dinding-dinding jantungku,
menyapa setiap sel tubuhku.
Tetapi jangan sekali-kali
pura-pura bertanya kapan boleh pergi
atau seenaknya melupakan
percintaan ini.

Sampai huruf terakhir
sajak ini, Kau-lah yang harus
bertanggung jawab
atas air mataku.

"Puisi: Tentu. Kau boleh (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Tentu. Kau boleh
Karya: Sapardi Djoko Damono
Bunga, 3

Seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat
ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan.
Seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di
empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika
terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah
membawa pergi jasadku?” 

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Bunga, 3
Karya: Sapardi Djoko Damono
Hujan Dalam Komposisi, 2

Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di
udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam
  dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau
     bumi; dan menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari
  daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di
pekarangan rumah, dan kembali ke bumi.

Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang
panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan
kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus
  mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini,
bercakap tentang lautan.

Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan.
Selamat tidur.

1969
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Hujan Dalam Komposisi, 2
Karya: Sapardi Djoko Damono
The Rest is Silence
(Hamlet, William Shakespeare)

1
Apakah kau percaya
pada arwah gentayangan
yang ada dan tiada
di sekitar istana?
Apakah kau percaya
ada yang baunya sengit
ada yang membusuk
di sekitarmu?
Apakah kau sungguh-sungguh
mencintai ibumu?
Wahai, Perempuan,
kaulah kaum ringkih itu.

2
Pangeran, lihatlah ke luar.
Orang-orang pulang kantor
berkendara motor:
satu, sepuluh, seratus, seribu –
ada yang berteriak
mungkin padamu,
“Bagaimana kabar anjingmu?”
Tak ada yang peduli
dengan siapa ibumu tidur
malam ini.
Mereka tak suka nonton
sandiwara sedih –
hujan yang hampir setiap hari
menggigilkan mereka sudah cukup
menjajarkan mereka
di sudut duka yang baka.
“Apa kabar anjingmu
yang suka menggeletak
pura-pura mati
setiap kali kau bicara
kepada dirimu sendiri
tentang bunuh diri?”

3
Seorang perempuan yang lewat
membuka payung dalam gerimis
tak pernah mendengar
dan mungkin juga tak peduli
banyolan dua penggali kubur
di pinggir liang lahat
yang akan menganga
siap menerima masa lampaumu.
Perempuan itu pengin buru-buru pulang
menonton kisah gadis solehah
agar bisa ikut mengusut
rangkaian pertanyaan sederhana
yang tak ada kaitannya
dengan celoteh dua badut itu,
“Apakah memang cinta
yang telah mengirim
perempuan muda itu
ke jalan sesat?”
Perempuan berpayung
menunggu angkot –
kalau saja ia tahu
kisah cinta tak terlarai itu
mungkin akan dikatakannya –
tanpa menimbulkan rasa sedih,
“Itu pasti lebih dikenang
daripada kalau ia masuk biara
yang pasti akan menjadikannya
tak jelas telungkup
atau telentang.”
Sidik jarinya tetap menempel
di sekujur tubuhmu, lihat!
Siut matanya masih terasa
menyambar-nyambar tatapanmu!

4
Kau mungkin hanya ragu-ragu
untuk tahu bahwa sepasang badut
itu punya firasat buruk
segera sesudah kau mendarat
di negeri ini;
mereka bernyanyi-nyanyi
memain-mainkan tengkorak
melempar-lemparkan kata-kata musykil
ketika menggali kubur
perempuan muda yang bayangannya
meraung dan mencakar-cakar
dua belah otakmu.
Mereka mungkin saja tahu
bahwa kau hanya berpura-pura
gila ketika itu;
bahwa kau memang tak paham
makna cinta yang kaukumur-kumur
tak pernah masuk tenggorokanmu,
“Yang mati bunuh diri
tak berhak dikubur
di pelataran suci ini!”
Tapi, bukankah kau sebenarnya
yang membimbingnya
ke liang kubur itu?
O, ya, Pangeran – bukankah kau
yang pernah menyuruhnya
masuk biara ketika ia
merasa tak kuasa
menjangkaumu? Padahal!

5
Bahwa kau memang tak paham
ketika dulu bilang
ibumu pelacur murahan
bahwa kau tak bisa mengurai
simpul yang digulung
ibumu dan perempuan muda itu;
bahwa kau memang tak paham
kasak-kusuk sebelum kau masuk
ke perhelatan agung
yang tak seharusnya
tapi yang ternyata seharusnya
melibatkanmu;
bahwa adu pedang itu
permainan yang lebih perkasa
dari sandiwara akal-akalanmu.

6
Sandiwara yang kaurancang
hanya sedikit menggoyang mahkota,
yang jelata tak diberi tempat
untuk menyaksikannya;
mereka sibuk berseliweran
naik angkot, bis kota,
boncengan sepeda motor setiap hari
tidak untuk menjawab
pertanyaan yang mungkin kausodorkan
kepada arwah gentayangan itu.
Sandiwara hanya keyakinan maya
yang menorehmu, “Hai,
kenapa gentar pada api maya?”
Kepada siapa sebenarnya
kautodongkan pertanyaan itu?
Kepada arwahmu sendiri
yang akan menutup
perbincangan ini nanti?

7
Underpass macet sama sekali
ketika hujan deras turun –
itu, alhamdulillah, sebabnya mereka
tak pernah sampai di gedung
pertunjukan sandiwara
akal-akalanmu.
Mereka buru-buru
ingin sampai ke rumah
menyaksikan sinetron
yang tak berniat menyodorkan
masalah atau tanda tanya
ke kotak kepala
yang sudut-sudutnya
tak pernah tentram
dan karenanya hanya memimpikan
air mata yang melegakan sukma.
Sialan! Hujan tak juga berhenti
macet di underpass menyebabkan
semua tertunda.
Alhamdulillah, mereka tak ikut bingung
meski mungkin suka sandiwara
yang ada adu pedangnya
yang banyak maki-makinya
yang berkilau gelimang darahnya
tanpa harus mendengarkan
ucapan filsafat yang keramat
di tepi liang kubur itu.

8
Aku mencintai perempuan muda
yang mungkin bunuh diri itu –
lebih dari segala cinta
yang dimiliki manusia!

9
Tentu kaudengar teriakan lelaki
yang bapaknya kaubunuh
dan adiknya mati tenggelam itu,
“Tunggu, jangan timbuni dulu
liang kubur yang kaugali
sampai aku bisa memeluk
sekali lagi
tubuh molek itu!”

10
Ada HP bergetar
di underpass:
“sinetron keluarga sakinah
dah mulai mas
kamu masih di jalan
hujan ya
rugi mas nggak nonton
haru banget deh.”
Sialan! Hujan nggak juga reda!
Padahal hanya dalam sandiwara
hidup berupa tanda tanya.

11
Apakah benar itu umpatan
ketika terdengar ucapan,
Wahai, Perempuan,
kaulah kaum ringkih itu.

12
Selebihnya: senyap-sunyi semata.


"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: The Rest is Silence
Karya: Sapardi Djoko Damono
Dongeng Marsinah

I
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan hati-hati.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
"kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi."

II
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
"Ia suka berpikir," kata Siapa,
"itu sangat berbahaya."

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
"Ia tahu hakikat waktu," kata Siapa,
"dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu."

III
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lengkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.

IV
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret
dan dicampakkan -
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?

V
"Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi."

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)

sengsara betul hidup di sana
jika suka berpikir
jika suka memasak kata

apa sebaiknya kita menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

"Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana."

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

VI
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

1993-1996
"Puisi: Dongeng Marsinah (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Dongeng Marsinah
Karya: Sapardi Djoko Damono
Air Mancur

Air mancur jatuh kuat keras,
Berdebar deru ke atas batu,
Bersimbah buih putih selalu,
Mengalir terus teramat deras.

Keras deras, bersorak berseru,
Mendesah desing, berdengung deruh
Air mengalir membawa batu,
Menggulung-gulung dengan gemuruh.

Gemuruh guntur di tengah rimba
Membuat terasa hening tenang
Di dalam hutan bertambah terang.

Ditekannya berat dasar jiwa,
Dibuatnya hati rindu dendam,
Tetapi tujuan hanya kelam.


"Puisi: Air Mancur (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Air Mancur
Karya: Sanusi Pane
Syiwa-Nataraja
(Kepada R. Soeratmaka)

Pada perjalananku melalui Langka purbakala,
Mengunjungi tempat keramat, dengan harapan bernyala
Di dalam hati, di bumi India yang mulia,
Yang dari dulu sampai ke akhir zaman dalam dunia
Tinggal kuat dan sakti dan termasyhur, aku melihat
Di Sailan, tempat zaman telah silam berkilat-kilat.
Astana Rawana sebagai bulan purnama raya.
Dan di negara Godawari dan Krisjna, Nataraja,
Mahadewa sebagai Penari, Sungai Mahanadi,
Dengan meninggalkan India Selatan, kuseberangi,
Dan mataku termenung memandang Pataliputra,
Tanah daratan, tempat Ayodia dan Hastinapura.
Mediadesa, kulalui dan aku berdiri, terkenang,
Penuh rindu dendam akan waktu yang silam, dipandang
Kuruksetra. Aku berada di Sarnath Negara,
Tempat Buda pertama kali mengeluarkan sabda.
Di Agra dan Fatehpur Sikri, di tepi Jamna,
Aku mengherani gedung marmar yang indah tidak terkata.
Dalam taman dan astana Taj Mahal, Mutiara Timur,
Tempat Syah Jahan dan Mumtaz-i-Mahal bersanding berkubur,
Aku bermimpi mengenang cinta.

O, jiwa India
Kupandag gilang-gemilang, kurasa mahamulia.
Tetapi, yang kuingat seperti yang paling utama,
Ialah, ketika aku, setelah aku sejurus lama,
Memandang naiknya Surya Dewa ke cakrawala,
Dengan mulia raya, cerlang-cemerlang, bernyala-nyala.
Di tepi Gangga yang sakti, melutut dalam Samadi,
Dalam candi Kencana, yang berdiri di jantung hati
Tanah Hindustan.

Aku terkenang akan Nataraja,
Yang kuherani denga mata yang bercaya-cahaya
Di Ratnadwipa dan India Daksina: Syiwa menari
Dalam lingkungan api bernyala-nyala, yang tahadi
Belum pernah aku dapat, biarpun aku sudah
Memandang hampir segala yang indah, yang belum punah
Oleh zaman dan tangan yang ganas, saksi bercaya
Dari abad kemegahan, abad yang kaya raya.
Di Indonesia, tanah airku,

Natesa berdiri
Di atas buta, tangan kanan memegang gendang, kiri
Memegang api bernyala-nyala. Sikap badan, tangan
Dan kaki, wajah muka amat permainya: angan-angan
Keindahan.

Genta candi, merdu, bersahut-sahutan
Dan aku merasa sebagai berada dalam lautan
Kedamaian, tiba-tiba ‘ku memandang dengan jiwa,
Menari dalam api dunia terang benderang, Syiwa.
Dalam dirinya bergerak dan beredar, tidak terperi
Berapa banyaknya, bersinar-sinar, berseri-seri,
Matahari, bulan dan bintang, semua mengikut bunyi
Gendang yang mahamerdu dan nyaring, yang tiada sunyi
Dari memenuhi seantero dunia, Alam yang muram
Melayang ke dalam hati teratai api dan suram
Diganti sinar caya yang terang benderang dan alam
Kembali beredar dalam dunia, menari dalam
Pesta cahaya dan suara.

Tiap alam berhati
Sendiri, emas yang bersinar-sinar, teratai api
Yang kembang, machluk yang indah permai, yang gilang-gemilang
Masuk ke dalam, keluar kembali sebagai bintang,
Terbang bernyanyi, antara alam yang silang bersilang.
Beradu kebagusan, banyaknya tiada terbilang.
“Pandang kebagusan dunia, o putera Duka Nestapa,”
Kedengaran satu suara yang halus-merdu berkata,
“Tujuan sekalian ada dalam diri sendiri,
Tidak ada asal tujuan, pangkal ujung, yang diberi
Dari luar, apa yang kau pandang terjadi sekarang,
Tidak ada waktu dulu dan nanti, semua barang
Sudah ada, ada dan akan ada dalam sebentar
Itu jua. Supaya segala makhluk tahu benar,
Bahwa ia harus turut menari dalam pesta caya.
Agar berbahagia, ia harus dalam api bernyala
Membakar segala ikatan buta yang dikarangnya.
Dibikinnya sendiri. Api memusnakan kebatannya.
Dan jiwa merasa siksa, tetapi, lihat, ia terbang
Sebagai dewa, indah permai ke dalam cuara terang,
Tetapi belum ia merdeka, berkali-kali lagi.
Ia msuk untuk membersihkan diri ke dalam api,
Sehingga akhirnya ia sadar, bahwa Nataraja
Ia sendiri, bahwa dunia semata tidak ada
Di luar dirinya. Jalan ringkas, putra Nestapa.
Mencapai kemerdekaan ini, pandanglah dengan nyata.”
Seorang orang duduk termenung seorang diri,
Matanya muram, seperti dukacita dunia ini
Sekaliannya dirasanya. Pandangannya menyayat
Hatiku, membakar jiwaku, membuat ku teringat
Akan sengsara kemanusiaan dan malapetaka.
Diri sendiri. O, ‘ku sudah pernah memandang mata
Yang demikian rupanya itu di alam jasmani,
Mata, yang menyuruh daku merdeka atau mati,
Api bernyala-nyala datang mengelilingi dia,
Bertambah tinggi, bertambah besar, dan antero dunia
Tercengang, karena ia tinggal samadi, diam semata.
Akhirnya dalam kalbu hati dunia ia bertakhta.
Sekalian alam berhenti beredar memberi hormat.
Jiwanya makin lama makin lebar dan pada saat
Ia berdiri dari kalbu hati dunia, segala alam
Segala matahari, bulan dan bintang ada dalam
dirinya: Ia satu dengan Nataraja, Mahadewa,
Ialah dia: seseorang yang mencari sudah merdeka!

"O, putra Duka Nestapa, yang berjalan dari candi
Ke candi, dari negeri ke negeri, mencari
Kelupaan dan penglipur buat hatimu, yang dibelah
Oleh malapetaka dan keinginan, yang belum pernah
Bisa diobati,barang suatu, ketahuilah,
Bahwa Bah'gia berada dalam hatimu. Satuilah.
Tari segala alam, masukilah Api bernyala,
Sehingga engkau akhirnya jadi Syiwa-Nataraja."

"Puisi: Syiwa-Nataraja (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Syiwa-Nataraja
Karya: Sanusi Pane
Bunga Kuburan

Gadis kecil itu suka sekali memetik mawar putih
dari kuburan, kemudian menanamnya di ranjang.
“Bunga ini, Bu, akan kuncup dalam tidurku.”

Ibunya sangat sedih setiap melihat bunga itu mekar
di ranjang dan harumnya memenuhi ruangan.
“Trauma, anakku, menjulurkan wajahnya
lewat bunga indah itu.”
Ia lalu mencabutnya dan membuangnya ke halaman.

Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu;
ia sangat mencintai bunga itu sebab, “Bunga ini
secantik Ibu.” Ia tidak tahu bahwa ibunya
sangat membenci kuburan itu.

Kuburan itu terletak agak jauh di luar desa, disediakan
khusus untuk mengubur mayat para penjahat.

Dulu pernah datang seorang petualang,
menyatakan cintanya, kemudian memperkosanya.
Suatu hari petualang itu datang lagi,
diringkus dan dikalahkannya.

Gadis kecil itu suka sekali memetik bunga mawar putih
dari kuburan dan ibunya tidak sampai hati
mengatakan, “Buah hatiku, sesungguhnya kau
anak si pemerkosa itu.”


2002
"Puisi: Bunga Kuburan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bunga Kuburan
Karya: Joko Pinurbo
Utan Kayu
(untuk Godot)

Suatu malam di Utan Kayu tak kujumpai engkau,
tak kujumpai siapa-siapa
selain kursi-kursi berjungkiran di atas meja.

Kedai sudah tutup. Malam tinggal sisa.
Kudengar tikus-tikus bermain musik bersama piring,
gelas, sendok. “Kusaksikan tadi pertunjukan besar,”
saudara kucing melaporkan.

Di mana engkau? Biasanya engkau duduk manis
di pojok, minum angin, merokok.
Engkau terlonjak girang bila aku datang:
“Hai, dari mana saja engkau?”

Ternyata engkau sedang termenung di ruang pertunjukan.
Engkau sedang mengumpulkan kembali kata-kata
yang berceceran. Engkau sedang menangis,
mencopot wajah di ruang ganti pakaian.

Malam berikutnya tak kulihat lagi engkau
di bangku penonton. Engkau tak muncul lagi
di panggung permainan. “Hai, ke mana saja engkau?”
Kupanggil engkau berulang-ulang.

2001
"Puisi: Utan Kayu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Utan Kayu
Karya: Joko Pinurbo
Hutan Karet
(in memoriam: Sukabumi)

Daun-daun karet berserakan.
Berserakan di hamparan waktu.

Suara monyet di dahan-dahan.
Suara kalong menghalau petang.

Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan.
Berloncatan di semak-semak rindu.

Dan sebuah jalan melingkar-lingkar.
Membelit kenangan terjal.

Sesaat sebelum surya berlalu
masih kudengar suara bedug bertalu-talu.

1990
"Puisi: Hutan Karet (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Hutan Karet
Karya: Joko Pinurbo
Penjual Celana

Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan,
sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar
di dekat kuburan di pinggiran kota.
Orang-orang sangat suka membeli celana bikinannya
karena terjamin kwalitetnya, sangat enak dipakainya,
terkenal sejak 1945.

Mentang-mentang pakai celana serdadu, penjual celana itu
tiba-tiba menjadi sombong dan pura-pura lupa sama aku.
"Anda dari kampung ya?" Ejeknya ketika aku sibuk
mencoba-coba berbagai celana dan tidak juga membelinya.

"Semua celana itu palsu. Yang asli cuma ini," katanya
sembari menunjuk-nunjuk celananya sendiri.
Ia tertawa hebat ketika aku berniat membeli celana antik
yang dipakainya, berapa pun harganya.
Ia bertahan: "Jangan. Ini celana perjuangan."

Ketika sekian tahun kemudian kami bertemu lagi
di sebuah rumah sakit jiwa di dekat kuburan di pinggiran kota,
bekas serdadu itu mengaku bahwa celana loreng
yang dibanggakannya itu sebenarnya palsu dan ia menyesal
mengapa dulu tidak menjualnya ke aku.
Celana itu sudah dibeli seorang kolektor kaya
yang gemar mengumpulkan berbagai macam benda pusaka.

2002
"Puisi: Penjual Celana (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Penjual Celana
Karya: Joko Pinurbo