April 2002
Persahabatan dengan Seekor Anjing

Aku tidur di depan kulkas. Suaranya berdengung seperti kaos kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi. Aku memakai rakit bambu, kembali pulang ke nenek moyangku. Mereka ternyata tak pernah tidur. Mereka sibuk menjaga pohon pisang di pinggir kali. Lalu mereka kembali mengajariku menyanyi. menabuh. dan menari, Dari tubuhku berjatuhan telur-telur busuk. Nyanyian sungai dan pesta batu-batu.

Aku berteman dengan seekor anjing yang sudah lama membenci negara yang tak pernah keluar dari dalam kulkas itu. Kulkas dengan partai-partai spanduk dan kaos oblong. Yang sibuk mencekik suara rakyat. Cahaya matahari sangat ramah di sini, menerangi bulu-bulu anjing.

2002
"Afrizal Malna"
Puisi: Persahabatan dengan Seekor Anjing
Karya: Afrizal Malna
Pelajaran Bahasa Inggris tentang Berat Badan

Maaf, berapa berat badanmu? Sebentar saja, kepalaku 
satu kubik pasir. Tanganku 60 cm. Permisi, berapa jam 
berat badanmu? Bibirku tebal. Tentu, kakiku coklat, 
seperti bangunan pemerintah. Berat badanmu 
bagaimana, please. Namaku Ahmad, tolol! No, kepalaku 
satu kubik pasir. Ada saluran got. Irisan daging di 
wastafel. Tunggu. Kenapa tanganmu keras? Seperti 
kekuasaan. Kamu punya kebudayaan, ya? Wajahmu 
merah. Anda suka juice tomat? 

Maaf. Berat badanmu 
siapa? Kakiku ada di situ, tolol! Please ... please. Temani 
badanku. Jangan begitu. Satu karung pasir untuk apa? 
Sorry ... di mana berat badanmu?

Maaf, jangan pegang 
hidungku. Kekasihmu mana? Wortel dan buncis sudah 
direbus. Permisi, sudah mendidihkan air itu? Bulu kucing 
di matamu lucu, ya. Beautiful. Pakai saja baju batik itu. 
Nanti pacarku curiga. Jangan lupa, namaku Ahmad! 
Idiiiih, masa tidak pakai sabun? Aaaaaaa, kok kupingnya 
seperti itu?

Maaf, pernah melihat berat badanku?  Mau 
membuat esei, ya? Tentang kebudayaan? Analisa politik 
dan ekonomi, ya. Sakit, dong, tanganmu.

1995
"Afrizal Malna"
Puisi: Pelajaran Bahasa Inggris tentang Berat Badan
Karya: Afrizal Malna
Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga

Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, 
membukakan pintu. Ia tersenyum. “Tak apa, kalau tak 
ada siang di sini,” katanya. Aku segera meletakkan tas. 
Aku lihat matanya, sebuah pemandangan baru saja 
mendapatkan sinar. “Bisakah besok kamu jadi ibu rumah 
tangga,” katanya.

Pagi sekali aku bangun. Membereskan seprai. 
Memasak air. Memandikan anak. Menyapu. Menyusun 
pot-pot tanaman. Dan banyak urusan lagi untuk menjadi 
seorang ibu. “Telepon aku jam 12 siang.” Masakan apa? 
Semuanya aku kerjakan, seperti berjalan dari satu kota ke
kota lainnya. Nonton film. Memetik jambu. Ada ikan dan 
kelinci di dapur, pemandangan putih ketika membuat 
susu. Hingga aku hamil, melahirkan diriku sendiri, 
membesarkannya. Dan mengerti, kenapa ia memanggil 
“ibu” kepadaku.

Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, 
membukakan pintu. Ia tersenyum. “Kenapa kamu 
menjadi seorang ibu seperti itu,” katanya. Aku peluk 
bahunya, seperti sebuah kamar, dengan jendela 
menghadap ke bukit.

1997
"Afrizal Malna"
Puisi: Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga
Karya: Afrizal Malna
Kumaknai

Di atas bukit yang menyerupai lukisan
Kabut bagaikan dinding tebal
Yang menopang udara. Musim menjadi tangga
Antara yang sementara dengan yang kekal
Yang nampak terlihat dengan yang tidak teraba

Pohon-pohon berbaris melingkari danau
Seperti deretan usiaku yang risau. Detik-detik
Menjelma burung-burung kecil, kecipak-kecipak air
Jalan setapak yang terus mengalir. Semakin ke tenggara
Rumput-rumput basah menghamparkan kata-kata

Kumaknai setiap butir embun yang melepuh
Di tubuh daun. Kumaknai jejak-jejakku yang sunyi
Kenangan-kenanganku yang kehilangan puisi
Ketika memberi atau menerima, ikhlas atau terpaksa
Menjadi tidak jelas lagi batasannya di antara kita

Di sawah-sawah yang menyerupai tapestri
Gerimis bagaikan jalinan benang emas
Yang mengurung senja. Kesedihanku memaknai tanah
Tanah air kita yang terbelah, kepedihanku memaknai bumi
Bumi percintaan kita yang tinggal onggokan sampah.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kumaknai
Karya: Acep Zamzam Noor
Di Malioboro

Di antara kereta yang beranjak ke timur
Serta jerit peluit yang masih tersisa di telinga
Udara seperti bergetar meski hujan telah lama reda
Kita berjalan ke luar meninggalkan deretan bangku itu
Dan segera nampak aspal yang mengkilat, trotoar yang bersih
Juga bentangan rel yang ujungnya menghilang ditelan gelap
Kau sedikit sempoyongan menghirup candu kata-kataku
Sedang wajahku membiru oleh kalimat-kalimat tanggung
Dari cerita pendek yang tak kunjung kauselesaikan

Di sebuah warung segalanya menjadi lebih terbuka
Seperti majalah lama. Aku mengingat kembali namamu
Mencatat alamatmu, menghitung tahi lalatmu dan membaca
Isyaratmu. Gambar kupu-kupu hijau di atas payudaramu
Membuatku paham bahwa kau memang keturunan peri
Bahwa parasmu cantik sekali. Mungkin pelipismu tak serata
Jembatan yang menyatukan patahan garis di lengkung alis mata
Namun rambutmu yang segimbal musim hujan, serimbun ucapan
Telah membuat napasku menjadi begitu tidak keruan

Kau menciumku seperti gempa bumi yang pelan dan sopan
Lalu aku membalas ciumanmu layaknya tanah kerontang
Yang diberkati hujan. Rasa tembaga kucecap dari bibirmu
Seperti asin darah yang bercampur dengan buih-buih ludah
Aku menelan semuanya bagaikan menelan setiap peristiwa
Dalam kehidupan. Tapi di sebuah warung yang terbuka
Di majalah lama yang mulai sobek halaman-halamannya
Ceritamu menjadi terlampau pendek untuk sebuah kisah cinta
Yang panjang. Untuk sebuah kota yang selalu digenangi kesedihan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Malioboro
Karya: Acep Zamzam Noor
Di Ujung Dago

Sunyi mengalunkan lagu
Pun segala jemu. Semilir angin mengurapi rabu
Ketika langkahku kehilangan tuju
Di antara pohon-pohon dan udara beku

Kabut mempersempit ruang
Memadatkan waktu. Kenapa aku
Kenapa masih menunggu
Kenapa masih percaya padamu

Sedang ruang
Tak mengenal waktu
Sedang waktu tak mengenal ruang
Ruang dan waktu tak mengenal rindu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Ujung Dago
Karya: Acep Zamzam Noor
Nokturno

Untukmu kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan musik yang tenang kulayari gelombang pasang
Kau tahu, betapa hening bunyi yang diciptakannya
Berdenting, mengetuk-ngetuk lantai dan dinding
Betapa nyaring! Betapa runcing percik-percik airnya

Untuk kunyanyikan lagu rinduku malam ini
Dengan penuh kekhusyukan kudaki nada-nada tinggi
Lalu menukik ke dalam semadi, menyelam ke lubuk sepi
Kau tahu, kekasihku, rindu adalah napas syair-syairku
Ialah gitar yang kugaruki sepanjang waktu

Ialah musik improvisasi, yang iramanya berasal dari lubuk hati
Ialah samudera luas, yang ikan-ikan serta camar-camarnya liar
Ialah deru angin sakal, yang menghantam layar dan buritan
Ialah gemuruh biru, yang gemanya bersahutan dalam dadaku
Yang menggedor-gedor dinding beku. Aku cinta padamu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Nokturno
Karya: Acep Zamzam Noor
Kolam

Sewaktu berkaca di air bening kedamaian
di kolam jiwamu yang tenang dan sepi gelombang
kulihat betapa kumuhku, rupa debu di jalan
terbakar dan menggeliat

Kulihat wajahku bukan lagi wajahku
kulihat sebuah komposisi yang rumit dan berbelit
dengan garis-garis liar, warna-warna kusam
bertumpuk dan berjejalan

Sewaktu aku berdiri menatapmu, kekasihku
kulihat di matamu sebuah kolam kesalihan jiwa
aku ingin sejenak berteduh dari kehidupanku yang mendera
mencuci semua luka
dan belajar mencintai.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kolam
Karya: Acep Zamzam Noor
Capung

Kalau kau pergi ke halaman atau pun ke kebun
Carilah capung dan perhatikan dia baik-baik
Ketika dia hinggap di ranting atau tangkai daun
Betul 'kan, dia adalah hewan yang memang cantik

Panjang badannya kira-kira lima sampai tujuh senti
Bentuknya lurus, makin ke belakang makin kurus
Sayapnya empat buah, dua di kanan dan dua di kiri
Jernih dan bersih lalu ada garis-garisnya yang halus

Di kepalanya ada mata berbentuk dua buah benjolan
Letaknya satu di kiri dan satu di kanan
Setiap benjol terdiri dari 30.000 mata yang kecil-kecil sekali
Wah, banyak betul mata sang capung yang semungil itu

Dengan indahnya sekali kini capung melayang-layang
Empat sayapnya mengipas-ngipas dan di udara dia terapung
Susunan sayapnya dahulu pernah ditiru orang
Dibuat kapal terbang dan dinamakan model capung

Sambil terbang dia pun mencari makanannya
Makanannya nyamuk dan lalat terutama
Dengan matanya yang 60.000 itu dia meluaskan pandangannya
Bila lelah, hinggaplah dia di ranting melepaskan penatnya.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Capung
Karya: Taufiq Ismail
Singa

Seekor singa termenung di kandang kebun binatang
Barangkali dia memikirkan nasibnya yang malang
Karena kalau dia tidak dikurung di balik jeriji besi
Pastilah dia mengembara di padang belantara Afrika

Sebenarnya singa itu berkeluarga dengan kucing
Cuma badannya jauh lebih besar, tapi giginya juga runcing
Dan karena dia garang dan suka makan daging
Dia termasuk binatang buas yang berbahaya kalau lepas

Dapatkah engkau membedakan singa jantan dan singa betina?
Singa jantan berbulu lebat tengkuk dan lehernya
Sedangkan singa betina tidak berbulu tengkuk dan lehernya
Serta lebih lincah dalam gerakannya

Singa jantan itu pemalas dan sering tidur kerjanya
Singa betina yang pergi mencari mangsa untuk makanan mereka
Yang jantan itu pengantuk dan kalau menguap lebar betul mulutnya
Tapi kalau meraung di rimba memang sangat menakutkan suaranya.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Singa
Karya: Taufiq Ismail
Mencatatkan Kerinduan
(kepada Bimbo, 
setelah 25 tahun, 
lirik dituliskan)

Sam, tolong catatkan kerinduanku
Pada daun-daun pohon jati
Cil, tolong catatkan kerinduanku
Pada nelayan laut sunyi

Jaka, tolong catatkan kerinduanku
Pada kata si rendah hati
In, tolong catatkan kerinduanku
Pada penangkap ikan dan 25 Nabi

Adalah sunyi sipres tua
Ada pula awan bulu domba
Adalah anak tak putus bertanya
Ada pula serangga berkata-kata

Adalah merdu Daud burung-burungnya
Ada pula dedahanan berkosa-kata
Adalah tongkat nabi Musa
Ada pula eling Ranggawarsita
Ada sakratul-maut di mana dia.

Dari seribu kerinduan berapa kiranya
Yang Dikau berikan
Dari sepuluh kerinduan
Manakah kerinduan
Yang bersangatan?

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Mencatatkan Kerinduan
Karya: Taufiq Ismail
Don King Makan Siang di New York

Setiap dua bulan tenggelam
Seorang petinju masuk kuburan
Atau di krematorium dipanggang
Di Amerika sana
Perdarahan otak sebab utama
Dan ini sudah berlangsung lama
Sejak 1918 sampai 1988
Ini catatan majalah adu manusia
Ring namanya

Mayat 500 petinju telah dibariskan
Yang 70 tahun dihasilkan
Kebudayaan padat kebringasan
Yang menyebar keganasan
Dan mengobarkan kecongkakan
Yang memberi sesajen kepada kepalan
Serta menyuburkan perjudian

Lihatlah siang hari ini
Seorang lelaki gendut sempurna
Rambutnya kaku bagai duri landak
Sedang makan siang dengan rakusnya
Kunyahnya berbunyi ke mana-mana
Sebuah otak bulat terhidang di piringnya

Ketika dia menjilat garpunya
Nampak darah segar berlelehan
Di sudut-sudut mulutnya

Lalu di depan kasir itu
Dia merogoh saku celananya
Muncul di lipatan dompetnya
Kepala dan leher ular berbisa
Putih tutul hitam warnanya
Menjulur-julurkan lidahnya
Yang bercabang dua.

1989
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Don King Makan Siang di New York
Karya: Taufiq Ismail
Suara

Deretkan awan, pelangi, dengan rambutmu merah-ungu
Taburkan pelan, pelangi, sepanjang lengkung lenganmu
Panorama yang kemarau teramat kering
Daunan berjuta. Angin menjadi hening

Tiada terasa lagi di mana suara memanggil-manggil
Tiada suara lagi betapa cahaya makin mengecil
Pohon-pohon redup dan berbunga di bukit dan pesisir
Kemarauku siang, dinginku malam yang menggigil

Di sanalah dia bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Ketika langit seolah menutup dan kau amat pucat
Di hutan selatan cahayamu pelan berlinangan
Melintas jua ke ambang pasar, pada bayang-bayang jambatan

Tiada terasa lagi dimana cahaya berhenti mengalir
Tiada bintik lagi ketika bintang dalam fajar
Dan pada pilar-pilar langit
Awan pun bersandar

Di sanalah kau bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Setiap terasa lagi suara memanggil-manggil
Pada pilar-pilar langit. Di puncak-puncaknya
Suara Engkau yang merdu
Suara sepi yang biru.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Suara
Karya: Taufiq Ismail
Refleksi Seorang Pejuang Tua

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan
Setelah mereka menyimak deru sejarah
Dalam regu perkasa mulailah melangkah
Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dari kalbu yang murni
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali dua puluh tahun yang lalu.

Mahasiswa telah meninggalkan ruang-kuliahnya
Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya
Mereka kembali menyeru-nyeru
Nama kau, Kemerdekaan
Seperti dua puluh tahun yang lalu.

Spiral sejarah telah mengantarkan kita
Pada titik ini
Tak ada seorang pun tiran
Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan
Dan berseru: Berhenti!

Tidak ada. Dan kalau pun ada
Tidak bisa.

Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dimulai dari sunyi
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali dua puluh tahun yang lalu.


1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Refleksi Seorang Pejuang Tua
Karya: Taufiq Ismail