Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga

Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, 
membukakan pintu. Ia tersenyum. “Tak apa, kalau tak 
ada siang di sini,” katanya. Aku segera meletakkan tas. 
Aku lihat matanya, sebuah pemandangan baru saja 
mendapatkan sinar. “Bisakah besok kamu jadi ibu rumah 
tangga,” katanya.

Pagi sekali aku bangun. Membereskan seprai. 
Memasak air. Memandikan anak. Menyapu. Menyusun 
pot-pot tanaman. Dan banyak urusan lagi untuk menjadi 
seorang ibu. “Telepon aku jam 12 siang.” Masakan apa? 
Semuanya aku kerjakan, seperti berjalan dari satu kota ke
kota lainnya. Nonton film. Memetik jambu. Ada ikan dan 
kelinci di dapur, pemandangan putih ketika membuat 
susu. Hingga aku hamil, melahirkan diriku sendiri, 
membesarkannya. Dan mengerti, kenapa ia memanggil 
“ibu” kepadaku.

Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, 
membukakan pintu. Ia tersenyum. “Kenapa kamu 
menjadi seorang ibu seperti itu,” katanya. Aku peluk 
bahunya, seperti sebuah kamar, dengan jendela 
menghadap ke bukit.

1997
"Afrizal Malna"
Puisi: Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top