Juli 2002
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Sel

Aku seperti air
yang reda dari goncangan
mengapungkan busa
mengendapkan ampas
menapis keruh
pagi yang jernih.

Aku seperti air
yang reda dalam goncangan
mengaca ke dalam
pada keheningan di balur kabut
dan sosok utuh yang muncul
bukan lagi siapa-siapa.

Aku seperti air
yang reda dalam goncangan
kelam menyisih
terang menyorot
bukan lagi bagi siapa-siapa.

"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiDalam Sel
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Noncy Mokina

Berketurunan Portugis
bersenyum manis

Masa lalu piatu
tak ada boneka masa kecil
tak ada teman masa kecil
tak ada foto masa kecil

Di Adonara ibu bumi telah dijajah ayah moyang
kesabaran merayap di bukit-bukit
membangun rumah dari angin

Pendeta melantun mantra
Noncy melamun gereja
redup matanya menjelma gugusan sungai:
engkau gemetar dalam keranjang jingga
engkau menangis sepanjang kebun-kebun kokoa

Noncy Mokina
ia sudah dewasa
dan lantang berkata,
“pacarku sembilan, di antaranya suster Maria”
Noncy Mokina
wajahnya milik rahasia
di kesepian mana ia sanggup menemu gundukan celana?

Orang-orang paham ia tak akan sanggup durhaka
sekalipun telah membunuh Ibunya.

Adonara Timur
24 Juni 2014
"Puisi Nana Riskhi Susanti"
PuisiNoncy Mokina
Karya: Nana Riskhi Susanti

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kutanggalkan Puisi
(: Kajitow El-kayeni)

Ada bunga nampak mekar, di setiap kelopaknya terselip bilahan belati
ada aliran sungai yang bening di permukaan, namun keruh dalamnya
ada tebing terjal dilengkapi bebatuan runcing, teguh menyimpan telaga
dalam perkemahan ini, segalanya ada pada empat penjuru mata angin
serupa tipu yang siap memperdaya mata dan hati pada lipatan nurani azali.

Dua peta di tangan kadang tak terbaca, gurat aksara memburam
di antara gemerlap dunia gelap menyatakan keberadaan
kita hanya dapat meraba dan menerka simbol-simbol kehidupan
yang kian bias berpusara di ceruk dada terdalam, mendiami keyakinan

Beginilah adanya kawan....
kembali, adalah harga yang harus dilunasi seusai pergi
tak ada misteri dalam kelahiran manusia di bumi
akal telah mampu mengaji dan mengkaji makna penciptaan
adalah kubur, mahsyar, mizan dan dua tempat pilihan

Pada hari kelahiranmu yang memberikan isyarat kematian
tanpa kado dan selamat, karena tahun tak pernah berulang
kutanggalkan puisi meski tak seindah dekor-dekor surga
hanya sebatas salam-sapa, saling mengingatkan keberadaan-Nya.

Cilegon, Banten
9 Februari 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiKutanggalkan Puisi
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pohon Tumbang Karena Hujan

Pohon itu tumbang karena hujan. Sebelum siang putik-putik bunga yang meliputi pohon itu berguguran. Disusul daun-daun rontok bergulingan di jalanan. Lalu beberapa buah jatuh pelan-pelan. Beberapa menimpa para pejalan. Kalau aku jadi penyair, aku ingin melukiskan pemandangan pohon itu, gumam seorang tukang cukur yang sedang mencukur di bawah pohon. Kalau ranting dan dahannya boleh ditebang, aku ingin menjadikannya kayu bakar, kata orang yang dicukur. Setelah sore, ketika tukang cukur pulang, hujan menderas dengan kencang. Dahan dan ranting pohon patah dan daun-daunnya berserakan di jalanan. Lalu kilat menyambar, angin berkesiur. Pohon itu ranggas, sebelum tersungkur. Akarnya menyeruak di trotoar ditimpa hujan.

2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiPohon Tumbang Karena Hujan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penyair yang Ditumbangkan

Ayah sudah menjadi penyair 30 tahun. Menjadi seseorang 
dalam waktu lama Ayah pun menjadi diktator seperti 
Firaun. Bukan hanya kepada kami anak-anaknya; bahkan 
terhadap kata-kata ayah juga bertindak kejam dan lalim. Ia 
selalu menggertak setiap ada kata yang punya pendapat 
berbeda. Kata-kata yang dibentak itu biasanya terdiam, ciut 
dan sungguh-sungguh takut beneran. ”Mirip kakak,” kata 
Adik menuding jidatku.

Selama menjadi penyair puluhan 
tahun itu, ayah sangat lihai membangun kroni bersama 
kata-kata kesayangannya. Mereka digunakan untuk 
melawan kata-kata yang dianggapnya membangkang. Tapi 
sepandai-pandai penyair, akhirnya kekuasaan Ayah 
tumbang juga.

Suatu hari, sejumlah kata berkomplot untuk 
menggulingkan Ayah. Diam-diam mereka menyelinap ke 
kamar kerja ayah, menculik dan memaksanya 
menyerahkan kekuasaannya. Sejak itu Ayah tak lagi 
menjadi penyair. Sementara kata-kata terus menuliskan 
sajak-sajak baru, ia sibuk minum kopi dari satu kafe ke kafe 
lainnya.

2011
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiPenyair yang Ditumbangkan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||