September 2002
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nonton Harga

Ayo keluar keliling kota
tak perlu ongkos tak perlu biaya
masuk toko perbelanjaan tingkat lima
tak beli tak apa
lihat-lihat saja

Kalau pingin durian
apel-pisang-rambutan-anggur
ayo...
kita bisa mencium baunya
mengumbar hidung cuma-cuma
tak perlu ongkos tak perlu biaya
di kota kita
buah macam apa
asal mana saja
ada

Kalau pingin lihat orang cantik
di kota kita banyak gedung bioskop
kita bisa nonton posternya
atau ke diskotik
di depan pintu
kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma
mendengarkan detak musik
denting botol
lengking dan tawa
bisa juga kau nikmati
aroma minyak wangi luar negeri
cuma-cuma
aromanya saja

Ayo...
kita keliling kota
hari ini ada peresmian hotel baru
berbintang lima
dibuka pejabat tinggi
dihadiri artis-artis ternama ibukota
lihat
mobil para tamu berderet-deret
satu kilometer panjangnya

Kota kita memang makin megah dan kaya

Tapi hari sudah malam
ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
sebelum kehabisan kendaraan
ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
tidur berderet-deret
seperti ikan tangkapan
siap dijual di pelelangan

Besok pagi
kita ke pabrik
kembali bekerja
sarapan nasi bungkus
ngutang
seperti biasa.
18 november 1996 
"Puisi: Nonton Harga Karya Wiji Thukul"
Puisi: Nonton Harga
Karya: Wiji Thukul
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Kamar 6 x 7 Meter

Mimpi-mimpi bagusku kubunuh dengan kenyataan
tinggal tubuh kurus kering dan cericit tikus
ketika kuterbaring tidur di tikar dan bantal
yang banyak bangsatnya
tak seluruh mimpi-mimpi itu sirna
tersisa juga yang sederhana:
alangkah bahagia aku andai sudah bisa beli
minyak tanah dan menyalakan lampu teplok
lalu membaca buku sampai malam larut dan menulis
alangkah bahagia aku andai sudah beli kompor
dan masak supermi ketika lapar
alangkah bahagia aku andai sudah bisa menggaji ibu
membeli baju baru bagi adik-adik ketika lebaran
rokok buat bapak dan lain-lain

Lapar memang memalukan!
(tiba-tiba aku mendengar jutaan nyawa saudaraku yang
karena lapar menjadi copet, lonte dan gelandangan
tiba-tiba aku merasa lebih kaya tinimbang mereka
rumah punya, nyewa tak apa
makan bisa hutang kiri-kanan
minum tersedia air sumur umum).

Justru hari inilah
ketika aku lapar sendiri dalam kamar 6 x 7 meter
di sini ini
aku bersyukur masih sempat nulis puisi.
 
 
"Puisi Dalam Kamar 6 x 7 Meter"
Puisi: Dalam Kamar 6 x 7 Meter
Karya: Wiji Thukul
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Supar

Tersiar
di halaman kabar
supar dipecat
ya supar dipecat

Kabar tersebar lalu dari mulut ke
mulut
masuk dan meluas di bilik-bilik
sempit
rumah kontrakan buruh-buruh

Si lancang mulut bilang
"nah rasain lu
karena ngurus orang lain
diri sendiri kehilangan pekerjaan!"
sapar tak goyah
sapar tak gentar

Pihak majikan bilang
sapar suka bikin onar
kawan-kawannya membantah
"majikan cuma cari-cari alasan
mereka takut karena kita punya
kekuatan!"
nah, itulah yang benar

Supar dipecat
ya supar dipecat

Pada siapa yang tanya
supar menjelaskan
"kami dipecat karena pabrik
kewalahan
karena buruh sekarang melawan!"
majikan gentar
itulah yang benar

Supar dipecat
ya supar dipecat

Kerja lain aku bisa cari
tapi kebangkitan buruh
tak bisa kalian halangi lagi

Si lidah jahil
mungkin bilang
: sudahlah lebih baik kalian diam!
tapi siapa bisa membungkam supar
dan kaum buruh sadar
- lihatlah kapitalis terus cari akal!

Supar dipecat
ya supar dipecat
tapi apakah pabrik bisa berproduksi
kalau kita mogok sepuluh hari lagi?

Supar dipecat
ya supar dipecat
tapi apakah mesin-mesin sanggup
beputar
tanpa kami?

18 Mei 1993
"Puisi: Supar"
Puisi: Supar
Karya: Wiji Thukul