November 2002
Nenek Kebayan


Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
matanya sumur kering tanpa kerinduan
terlupa kenangan lampau, disepikan
dan kejemuan ada pada yang datang.

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
mukanya berkerut adalah malam
tiada warna damba dan harapan
kecuali sepi tiada lagi dirasakannya.

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
menghitung butir-butir tasbih dengan separoh hati
bulan putih berlabuh di hatinya
angin kemarau menyatu pada napasnya.

Duhai! Hidup yang tinggal diisi tidur dan bubur
sudah itu sepi pada dada terbujur,
laba-laba di pojok kamarnya
bunga-bunga tidak lagi tertawa.

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
terdengar langkah gaib depan kamarnya
sudah terasa dilihatnya sabit dan orang hitam
terdengar ketukan di pintu - atau dadanya.
berkata ia dan senyuman sepi di mulut tanpa gigi:
"Masuklah, ya, Tuan, tamu budiman!"

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
sudah hilang esok harinya.
 
 
"Puisi: Nenek Kebayan"
Puisi: Nenek Kebayan
Karya: W.S. Rendra
Ho Liang telah Pergi

Teramat biru, Ho Liang!
Gelap dan sepi?

Teramat ringan, Ho Liang!
Melayang pergi.

Roh Ho Liang putih
burung undan terbang putih
tinggal ke mentari.

Apa panas di sana, Ho Liang?
Padang salju atau firdausi?
Engkau saja yang cerita, Ho Liang!
Jangan kemurungan tanah merah di sini!

Terkadang teramat singkat, Ho Liang.
Kita harus beri hati.

Kecantikan murung, bunga-bunga
tersia merebahi kuburnya.

Kupetik satu yang paling putih
kubawa pergi ke pesta.
 
 
"Puisi: Ho Liang telah Pergi"
Puisi: Ho Liang telah Pergi
Karya: W.S. Rendra
Nyanyi Bunda yang Manis


Kalau putraku datang
ia datang bersama bulan
kerna warna jingga dan terang
adalah warna buah di badan.

Wahai, telor madu dan bulan!
Perut langit dapat sarapan!

Ia telah berjalan jauh sekali
dan kakinya tak henti-henti
menapak di bumi hatiku.
Ah, betapa jauh kembara burungku!

Sumber angin mana dicarinya?
Sainganku bunda yang mana?
Kuda jantan dengan kuku-kuku runcing ia!
Angin tak putus dahaga ia!

Putra-putra langit yang putih pun pergi kembara.
Dan lelaki selalu pergi ninggalkan Tanya.

Tanah yang dibajak dan diinjak adalah hati bunda
makin hari makin parah tapi makin subur ia.
Hati bunda adalah belantara yang rela terbuka.
Bagai bapaknya ia!
Pergi dan tak terduga.
Wahai, buah tubuh yang dulu kulahirkan
adalah sekapal duri yang manis dan jelita!
 
 
"Puisi: Nyanyi Bunda yang Manis"
Puisi: Nyanyi Bunda yang Manis
Karya: W.S. Rendra
Remang-remang


Di jalan remang-remang ada bayangan remang-remang
aku bimbang apa kabut apa orang.
Di langit remang-remang ada satu mata kelabu
aku bimbang apa cinta apa dendam menungguku.

Di padang remang-remang ada kesunyian tanpa hati
aku bimbang malam ini siapa bakal mati.
Di udara remang-remang ada pengkhianatan membayang selalu.
Wahai, betapa remang-remangnya jalan panjang di hatiku.
 
 
"Puisi: Remang-remang"
Puisi: Remang-remang
Karya: W.S. Rendra
Tidurlah Intan


Si gadis menyanyi "Tidurlah Intan"
dan padanya ada yang ditimang di pangkuan.
"Burung yang manis jangan tualang
minumlah air rinduku sayang.
Mata cerlang aduan rindu dan dendam
mata air yang meminta diri tenggelam"
Adapun yang tergolek di pangkuan
bukan apa selain kenangan.
 
 
"Puisi: Tidurlah Intan"
Puisi: Tidurlah Intan
Karya: W.S. Rendra