Januari 2003
Pertemuan Malam
Setelah mereguk getah rembulan tanggal pertama
aku berjalan tanpa tujuan di dalam hutan.
Kemudian bau Gandasuli membuat aku tertegun,
berdiri kaku di tengah semak belukar,
menghentikan nyanyian serangga malam.

Terpancang seperti si Gale-gale
tanpa pikiran dan perasaan.
Banyak masalah datang bersama,
tanpa sebab dan akibat.
Kemurungan menyelimuti diriku.
Seperti kabut menghalangi pemandangan.
Itu pun tanpa makna.
Tanpa keterangan. Tanpa hubungan.

Bau Gandasuli memenuhi paru-paru.
Membanjir ke dalam urat-urat darah.
Bahkan lalu menjadi daging.
Ya, Allah, apakah aku mati sambil berdiri?

Cahaya bulan dan bintang-bintang
jatuh ke pohon-pohon yang sekadar pohon.
Serangga malam kembali bersuara sekadar suara.
Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa.
Tidak mengapa. Tidak bagaimana.
Sedetik dan seabad apa bedanya.

Tiba-tiba
dari kegelapan rumpun pohon-pohon jati emas
menyebar bau Tembakau yang wangi.
Lalu aku lihat kilatan kacamata.
Lalu kilatan senyum dengan gigi-gigi putih.
Dan kemudian muncul dari kegelapan
sosok tubuh yang gagah berpeci hitam
dan mantel malam berwarna coklat tua.
Ayahandaku, paduka muncul tak terduga!

Apakah arti kehadiran anda ini?
Apakah batas antara hidup dan mati
menjadi tipis karena cahaya rembulan?
Aku tidak mengharapkan pertemuan ini.
Aku ikhlaskan anda istirah
di ranjang buaian kematian anda.
Kini, apakah yang akan anda katakan?

Tanpa harapan. Tanpa keinginan.
Aku berdiri terpaku di bumi.
Apakah sebenarnya aku sudah mati?
Dan kini menjadi sebatang Gandasuli?

Anda hanya tersenyum
Tanpa berkata sapatah kata.
Kemudian anda melangkah sedikit ke depan
disertai beribu kunang-kunang
yang menerangi pohon-pohon di hutan.
Dan mengiring di belakang anda
kerumunan orang yang berbaju compang-camping.
Para pemulung dan perempuan bunga malam.
Semua tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku.

Ternyata ada juga di antara mereka
Atmo Karpo sang penyamun,
dan Joko Pandan, anaknya yang membunuhnya.
Lalu Fatima yang dizinahi oleh Kasa,
serta Maria Zaitun yang dimakan rajasinga.
Malahan Suto yang selalu mengembara
sepanjang masa juga ada.
Wahai, ilalang kehidupan setiap zaman!
Wahai, lumut dan kecoak setiap metropolitan!
Wahai, para patriot dunia ketiga yang bersimbah darah!
Semuanya tersenyum
dan melambaikan tangan kepadaku.

Di tengah kemeriahan tanpa suara itu
tercurah hujan air emas dari langit.
Hawa hangat merasuki ubun-ubunku
menjalar ke seluruh badan.
Aku menengadah.
Tampak ibunda turun dari langit
berdiri di puncak pohon yang paling tinggi.
Bau kulit susu dan kulit kuduknya
memenuhi dadaku.
Aku berlutut.
Mengharap ayahanda dan ibunda
mencium keningku. Tapi itu tidak terjadi.
Hujan air emas makin deras tercurah.
Mataku silau. Mataku silau.

Lalu ibunda melambaikan tangan memanggil ayahanda.
Dalam sekejap mata saja rasanya.
Ayahanda dan segenap barisan orang-orang tercinta
membubung ke langit mengikuti ibunda.
Lenyap ke angkasa raya.
Perlahan-lahan aku bangkit berdiri.
Keluar dari semak belukar.
Aku dengar dengung lebah.
Ayam jantan berkokok.
Asap keluar dari dapur-dapur di desa.
Fajar tiba.
Perempuan terkasih yang gelisah menunggu di rumah!
Anak-anakku yang sedang mengusap mata!
Cucu-cucuku yang sedang bermain air di kamar mandi!
Aku pulang.
Setelah mati di dalam hutan
dan hidup kembali.
Rumah Sakit Cinere
5 November 2003
"Puisi: Pertemuan Malam (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Pertemuan Malam
Karya: W.S. Rendra
Hiroshima, Cintaku


Seperti kau basuh aku
dalam desah asap
saunamu.

"Ah,
lakukan,
lekukkan,
lekaskan."

Sadarkan kau
kian kubenamkan
kangen
ke gemas tubuhmu?

Mungkin tidak.

Tapi harum kelenjar rusa jantan
merah mengusta malam
lenguh dan peluh
merambat gelap

Dan angin jadi lambat.

Setelah itu kita saling bercerita

Dan aku tak tahu kenapa kau bercerita tentang Hiroshima.

"Dengarlah. Aku lahir 26 Desember 1965.
Titisan
dari bayang-bayang kesakitan
yang membekas, tersisa
di puing lantai bank
ketika bom itu pecah
ke cuaca".

Kau datang dari surga?
"Aku datang dari utara"

Aku baru tahu bahwa kita berbahagia.

Kaurasa hari itu Jumat
Kurasa kuingat Sabtu
Apa pun detik tak bersaat
Jam tak mengadu.

Yang telah kudengar
adalah kain yang jatuh
kancing yang runtuh
dan cermin itu, aduh...

Hawa,
rasa,
magma,
senyummu yang tahu
siapa yang akan datang ke panas suhumu.

Lalu kulepaskan lidahku
dari langit-langitmu.

"Tahukah kau siapa kakekku?"

Tentu saja aku tak tahu. Siapa dia?

"Ia seorang komandan Kenpetai
di sebuah negeri Selatan
yang memperkosa seorang pemuda dan
menggantungnya di sore hari"

Ah, tapi tadi aku telah berkata
bahwa kita bahagia.

"Ya. Tapi malam tinggal separoh
dan bulan pelan
seperti permainan Noh"

Kini
kau gelarkan rambutmu,
hitam, hitam seragam
pada bantal sedap malam.

Bukankah sudah lama kita duga
di loteng ini tak ada surga
dan kau, aku, mereka, tak mencarinya.
 

1989-1990
"Puisi: Hiroshima, Cintaku (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Hiroshima, Cintaku
Karya: Goenawan Mohamad
Pesona


Di antara seribu malam
inikah malam kita?

Kulihat semua bintang
menjelma purnama
dalam langit cahaya
tiada tara benderangnya.

Lalu semuanya tiada
semuanya lenyap
dalam senyap
semesta fana.

Tiba-tiba ya Ilahi
silau aku
oleh kilas
wajah
Mu
yang menderas
dalam takjubku.

Dan aku pun
tak ingin
yang lain
tak ingin yang lain
hanya Kau
dimana
Kau?
kemana
Kau?
 
  
"Puisi: Pesona (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Pesona
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Di Arafah


Terlentang aku
seenaknya dalam pelukan bukit-bukit
batu bertenda langit biru,
seorang anak entah
berkebangsaan apa
mengikuti anak mataku
dan dalam
isyarat bertanya-tanya
kapan Tuhan turun?
Aku tersenyum.
Setan mengira dapat mengendarai
matahari,
mengusik khusukku apa tak melihat
ratusan ribu hati putih
menggetarkan bibir,
melepas dzikir,
menjagamu
dari jutaan milyar malaikat
menyiramkan berkat.
Kulihat diriku
terapung-apung
dalam nikmat dan si anak
entah berkebangsaan apa
seperti melihat arak-arakan
karnaval menari-nari
dengan riangnya.

Terlentang aku
satu di antara jutaan tumpukan
dosa yang mencoba menindih,
akankah
kiranya bertahan dari banjir
air mata penyesalan
massal ini.

Gunung-gunung batu
menirukan tasbih kami,
pasir menghitung wirid kami
dan si anak
yang aku tak tahu
berkebangsaan apa
tertidur di pangkuanku
pulas sekali.
 
  
"Puisi: Di Arafah (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Di Arafah
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Orang Penting


Orang penting lain dengan orang lain
Dia beda karena pentingnya
Bicaranya penting diamnya penting
Kebijaksanaannya penting
Ngawurnya pun penting
Semua yang ada padanya penting
Sampai pun yang paling tidak penting
Jika tak penting lagi
Dia sama dengan yang lain saja.
 
  
1987
"Puisi: Orang Penting (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Orang Penting
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Bulan Pada Suatu Senja

Seulas bulan
sebutir bintang muram.

Bulan pada suatu senja
aku menatapnya lama-lama.

  
1967
"Puisi: Bulan Pada Suatu Senja (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Bulan Pada Suatu Senja
Karya: Aldian Aripin
Tjerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
Tjuma satu.

Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut.

Beta pattiradjawane
ketika lahir dibawakan
datu dajung sampan.

Beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
beta api di pantai, siapa mendekat
tiga kali menjebut beta punja nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala, badan perawan djadi
hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas! Djangan bikin beta marah
beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu!

beta ada di malam, ada di siang
irama ganggang dan api membakar pulau .......

beta pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
tjuma satu.

"Puisi: Tjerita Buat Dien Tamaela (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Tjerita Buat Dien Tamaela
Karya: Chairil Anwar
Sorga
Kepada Basuki Resobowo

Seperti Ibu + Nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidari beribu.
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya
kerlingnya Yati?


1947
"Puisi: Sorga (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Sorga
Karya: Chairil Anwar
Mezbah

Mezbah ini sebuah kota
yang tak menyebutkan namanya
seperti kamar mayat
sementara.

Tak ada tempat yang lapang
hanya seseorang bilang,
"kita berkabung, maka kita ada."

Malam pun menemui kurban
di hamparan. Cahaya warna kusta
dan plaza jadi dingin, ketika ajal
memandang

ke paras pertama. ada angin dan api lampu.
Wajah itu pun hanya putih, seakan puru,
dan mungkin maut
tak akan tahu mengapa ruang

dan dinding bergeming, mengapa
lorong ini tak melepas dosa
mengapa yang padam
tak ditinggalkan.
 

2003
"Puisi: Mezbah (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Mezbah
Karya: Goenawan Mohamad
Gerbong-gerbong Senja


Rimba yang menghilang
dalam hembus senja yang panjang
dan kilometer-kilometer yang lenyap
(landasan perjalanan tak kunjung genap)
memanggil-manggil malam yang sunyi

Dan demikianlah gerbong-gerbong senja
tiba dalam kota
berangkat dari kota
di batas Yogya, di Ibukota
dan di mana-mana
Sebab kasih adalah
rumah kami: sorga yang salih
yang tak ada berantau tersisih
yang tak ada berbumi yang sedih.

1963
"Puisi: Gerbong-gerbong Senja (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Gerbong-gerbong Senja
Karya: Goenawan Mohamad
Pariksit


Pariksit menunggu hari segera lewat.
Orang-orang pun menunggu batas waktu kutukan Crengi kepadanya berakhir,
hingga baginda bebas dari ancaman kebinasaan oleh Naga Taksaka. Saat
itu hari dekat senja. Raja muda yang disembunyikan di puncak menara itu
tengah tegak, merapatkan diri ke tingkap. Angin bangkit.

I
Dari rahim waktu, aku tahu kutukan bangkit
ke arah dadaku. Angin masih juga menimpa
dinding menara, penjara dari segala penjara:
ia yang lahir dari busur langit
dan jatuh berpusar ke arah tubuhku yang sendiri.

Angin yang purba, yang
semakin purba: dingin dan asing.

Jauh di bawahku terpacak rakyatku
menunggu. Mereka yang menyelamatkan, dan juga
menyiksa diriku. Mereka yang mendoa, sementara
aku tiada berdoa. Mereka kini yang punya angin-angin
sendiri, hujan-hujan sendiri, dan duka cita yang
sendiri. Mereka yang tak tahu
kita tak bisa berbagi.

(Tapi siksa ini adalah siksa mereka, siksa
mereka yang kuwakili di atas kelemahan tangan-tanganku)

Kini kuhirup bau senja, bau kandil-kandil
dan pesta: pesta pembebasan, tapi juga serapah malu
akan kecut hatiku. Bau yang sunyi, teramat sunyi.

Seperti sunyi ini yang menyilangkan kakinya
menantang padaku.

II
Menara penjara, dan penyelamat jasadku.
Tinggi ia menghujat bumi, mendamik dada ke langit:
keangkuhan besar ke tengah maha alam yang besar.
Karenanya, langit yang sarat warna tiada lagi
tempatku. Dan bumi gemetar meninggalkanku

Kini telah kupilih, sebab keluarga dan
rakyat yang kukasih, keselamatan jasadku.
Kini telah kupilih, karena takutku, hari-hari
yang tak memerdekakan hatiku.

Dan telah kuhindari Maut, mautku sendiri.

Barisan burung-burung yang kian jauh
seakan-akan menyingkirkan diri dari kotaku yang
sepi. Kota yang berbatas gurun, berbatas rimba serta
rumah-rumah pertapa. Kota yang melenguhkan hidup
bila musim pun rekah, dan yang juga melenguhkan hidup
bila tahun-tahun mengatupkan pintu-pintunya.

Aku telah lama bernafas dari kandungannya.

Telah lama.

Aswatama, mengapa tak kau bunuh dulu
bayi itu? Mengapa kau lepaskan aku?

III
Maka segeralah senja ini penuh dan
titik mentari terakhir jatuh. Dan kutuk itu datang,
membinasakan dan melebur daku jadi abu.

Bukan kegelisahan dahsyat yang hendakkan
semua itu. Bukan siksa menunggu yang menyuruhku.
Tapi kurindukan kemenangan-kemenangan, kemenangan
yang mengalahkan kecut hatiku.

Karena memang kutakutkan selamat tinggal
yang kekal. Seperti bila dari tingkap ini
kuhembuskan nafasku dan tak kembali
tanpa burung-burung, tanpa redup sore di pohon-pohon
tanpa musim, tanpa warna, yang menyusup
kulit tubuhku. Juga tanpa laut, yang
jauh menyimak matahari, rimba ddan hewan-hewan meriah.

Seperti bila langit dan titik-titik bintang
yang halus pun raib bersama harummu, perempuan
dalam telanjang dini hari

Pada akhirnya kita
tak senantiasa bersama. Ajal
memisah kita masing-masing tinggal.

IV
Wahai, adalah dia? (Berderak tingkap tiba-tiba:
tapi angin yang kian dingin yang menguap padaku – angin
dan angin senantiasa.)

Jika saja aku selamat, saudaraku, ketika nanti
saat itu lalu, akan masih saja kudukung kiamat dalam
diriku. Pohon-pohon menyambutku, hewan-hewan akan lagi
kuburu: tapi sepi akan tumpah ke nadi-nadiku. Karena
aku telah dibebaskan, tapi juga tak dibebaskan.
Dan tak kukenal wajahku kembali.

Di ruang ini, kunobatkan ketakutanku. Di menara ini
kuikat hidup-hidup kehadiranku: begitu sunyi, terenggut
dari alam dan nasibku sendiri.
Maka, Taksaka, leburlah aku dalam seribu api!
Dan mati.

V
Demi matiku, kutunjukkan padamu segala
Yang tak sia-sia ini.
Ketika tiada pernah kubunuh diriku, dan tiada pernah
kuingkari. Dan siksa yang telah diwakilkan padaku,
kudekapkan pada Maut: dan segalanya pun terurai,
seperti musim bunga.

Dan di sana kulihat, juga kau lihat:
jentera-jentera yang berbisik ke laut,
berbisik, seperti burung-burung yang mencecah
dan degup demi degup darah
Lalu terasa: di ruang abadi ini
kita akan selalu pergi
dalam nafas panas
yang santai.
Dan setiap kali malam pun tumbuh, juga pagi, siang
dan senja,
dan setiap kali demikian baka, tapi demikian fana
seperti bulan tumbuh
dan cemara
menggigil dingin ke udara.


1963
"Puisi: Pariksit (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Pariksit
Karya: Goenawan Mohamad
Firman Ke-12


Aku tak tahu apa yang disebut dalam firman ke-12.
"Mungkin tentang angin dan muara," katamu.

Kudengar suaramu.

Aku bayangkan garam yang dikais dari ombak,
dan ombak yang di pantai dipatahkan.

Aku bayangkan biduk yang mencari tempat. Mendapat, tak
Mendapat.

Aku tak tahu apa yang disebut dalam firman ke-12.
"Mungkin sebuah amsal yang singkat, tentang
Perjalanan yang kekal, jauh, di atas akhir yang sederhana."

Dan seseorang akan berangkat, aku tahu tak akan lama.

Barangkali bintang jadi tajam
di dini hari.

Aku bayangkan waktu terseret sungai.



2002-2003
"Puisi: Firman Ke-12 (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Firman Ke-12
Karya: Goenawan Mohamad
Seperti Dalam Film Lama


Seperti dalam film lama
kota pun terbelah besi
trem terendam
dalam kabut.

Hanya ada sisa hingar
sebentar
di ingatan
paling awal.

Dan suara serakmu, dulu,
pada sebuah jembatan,
pada sebuah sungai tua, ketika
sebuah proyektil.

Terlontar jauh:
mimpi
selurus mimpi.
Waktu itu
lampu iklan biru,
seperti kematian
tak menyentuh
tubuhku.

Kini seperti dalam film lama
toko-toko menghilang
gang dan taman tenggelam,
hujan.

Tak terdengar
dan kau berangkat
dari sisi ini ...
Terlalu cepat, kataku

Tidak, katamu.
Telah kulihat
kilat lenyap
di gelas hitam
itu.
 
 
"Puisi: Seperti Dalam Film Lama (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Seperti Dalam Film Lama
Karya: Goenawan Mohamad
Sajak Matahari


Matahari bangkit dari sanubariku.
Menyentuh permukaan samodra raya.
Matahari keluar dari mulutku,
menjadi pelangi di cakrawala.

Wajahmu keluar dari jidatku,
wahai kamu, wanita miskin!
Kakimu terbenam di dalam lumpur.
Kamu harapkan beras seperempat gantang,
dan di tengah sawah tuan tanah menanammu!

Satu juta lelaki gundul!
keluar dari hutan belantara,
tubuh mereka terbalut lumpur
dan kepala mereka berkilatan
memantulkan cahaya matahari.
Mata mereka menyala
tubuh mereka menjadi bara
dan mereka membakar dunia.

Matahari adalah cakra jingga
yang dilepas tangan Sang Krishna.
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,
ya, umat manusia!


Yogya, 5 Maret 1976
"Puisi: Sajak Matahari (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Matahari
Karya: W.S. Rendra
Sajak Mata-mata


Ada suara bising di bawah tanah.
Ada suara gaduh di atas tanah.
Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
Ada tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan, lho, ini di belakang saya,
ada tentara marah-marah.

Apa saja yang terjadi? Aku tak tahu.

Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.
Aku melihat isyarat-isyarat.
Semua tidak jelas maknanya.
Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
mengganggu pemandanganku.

Apa saja yang terjadi? Aku tak tahu.

Pendengaran dan penglihatan
menyesakkan perasaan,
membuat keresahan -
Ini terjadi karena apa-apa terjadi
terjadi tanpa 'ku tahu telah terjadi.
Aku tak tahu. Kamu tak tahu.
Tak ada yang tahu.

Betapa kita akan tahu,
kalau koran-koran ditekan sensor,
dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.
Koran-koran adalah penerusan mata kita.
Kini sudah diganti mata yang resmi.
Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.
Kita hanya diberi gambaran model keadaan
yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.

Mata rakyat sudah dicabut.
Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
Mata pemerintah juga diancam bencana.
Mata pemerintah memakai kaca mata hitam.
Terasing di belakang meja kekuasaan.
Mata pemerintah yang sejati
sudah diganti mata-mata.

Barisan mata-mata mahal biayanya.
Banyak makannya.
Sukar diaturnya.
Sedangkan laporannya
mirip pandangan mata kuda kereta
yang dibatasi tudung mata.

Di dalam pandangan yang kabur,
Semua orang marah-marah.
Rakyat marah-marah, pemerintah marah-marah,
semua marah lantaran tak punya mata.
Semua mata sudah disabotir.
Mata yang bebas beredar hanyalah mata-mata.



Hospital Rancabadak, Bandung
28 Januari 1978
"Puisi: Sajak Mata-mata (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Mata-mata
Karya: W.S. Rendra
Sajak Pertemuan Mahasiswa

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggallah tingginya.
dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata: "Kami ada maksud baik."
Dan kita bertanya:"Maksud baik untuk siapa?"
Ya. Ada yang jaya ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya:
"Maksud baik Saudara untuk siapa?
Saudara berdiri di pihak yang mana?"

Kenapa maksud baik dilakukan
Tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu, kita bertanya:
"Lantas maksud baik Saudara untuk siapa?"

Sekarang matahari semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam mimpi.
Akan tumbuh di kebun belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana!
Jakarta, 1 Desember 1977

Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan dalam salah satu adegan film "Yang Muda Yang Bercinta" yang disutradarai oleh Sumandjaya.
"Puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa (Karya: W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Pertemuan Mahasiswa
Karya: W.S. Rendra