Februari 2003
Orkestra di Daun-daun

Telah kudengar bisikan jauh daun-daun jatuh
Terpetik luka matahari musim kematian
Telah kudengar jerit mengaduh daun-daun membusuk
Dalam tanah yang basah. Terbangun dunia baru
Bagi pesta ulat-ulat dan cacing tanah
-Musik yang senantiasa dinyanyikan
Dan nyanyian luka yang menggetarkan igauan.

1987
"Puisi: Orkestra di Daun-daun (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Orkestra di Daun-daun
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sebuah Radio, Kumatikan
fragmen ke 22

Ada yang mengirim untukmu seuntai cinta: duka yang manis
menyelinap lewat lubang kunci jendela, atau desis yang ngilu,
atau entah apakah - segala warna kelabu yang pucat seperti mayat,
ada yang mengucapkan salam lewat detak jantungmu.

Kita masih bersidekap, rindu tua mengaliri darah keruh
yang mengalir lewat erangan dan teriakan tersangkut pejam mata,
lalu dengus kecil - aku mengusap keringat di lehermu.

Kubawa sekeranjang cinta yang kusut seperti daun-daun tua yang layu.
engkau biarkan ada yang menyusup, entah, mungkin lewat lubang kunci,
atau lewat dengusmu: senandung itu terdengar
sampai tengah malam, jendela-jendela kembali tertutup.
ada yang mengucapkan salam manis, dan segala omong kosong
di senggang waktu.

Magelang, 1999
"Puisi: Sebuah Radio, Kumatikan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Sebuah Radio, Kumatikan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Senja di Batu Gilang

I
Jadi titah
yang diberkahi
hidup di alam dunia
jiwa indah
rawatlah senantiasa.

Jadi titah
yang dipesan
elok selalu memahami
tenang tabah
jujur setia sabar hati.

Gusti hanya Gusti
yang harus engkau pepuji
pesan Andika di angin senja
mengusap batu gilang
diri terkesima.

II
Ingat wahai
manusia elok
harus yang lugu
jangan lompat
langkahnya agar tak keliru

Sadar wahai
hanya Gusti Sang Pemberi
Berkah Rahmat
jangan lupa disyukuri
syukur puncak hati nurani

Gusti hanya Gusti
penerangmu dalam hati
pesan Andika meresap jiwa
batu gilang bercahaya
diri terpana.

Jepara, 2006
"Puisi: Senja di Batu Gilang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Senja di Batu Gilang
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Perempuan Belati

Menangkap senyum kemenangannya
dari tatap mata menyamping arah
menangkap seringai perlawanannya
dari senyum yang sanggup kuliti lelaki
saat senja menabir nampak ia menari
di pelataran berduri
ditantangnya matahari
diejeknya rembulan
ditusuknya gemintang
musim dan sejarah tidak bertuan
dengan pisau sakti bermata ganda 
diburunya para lelaki jahanam
'tuk menuntaskan dendam
menambah guratan
atau membakar simbol Adam.

Tak ada keramat dalam kata
tak ada rahasia di bawah mawar
lelaki yang hanya piawai rejam rahim suci
tak ada tempatnya lagi
belati itu terus bekerja
seiring lava pijar Merapi meleleh jiwa.

Cimanggis
2003-2004
"Puisi: Menyimak Perempuan Belati (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Perempuan Belati
Karya: Diah Hadaning
Tentang Kebenaran

Di tanah ini setiap orang gemar berbincang
bagai gadis-gadis gemar memoles bibir dengan gincu
bagai lelaki-lelaki gemar mencumbu nafsu dan tabu
baurnya antara nikmat dan dosa
di tanah ini setiap orang rindu yang nikmat
nikmatnya merubah warna dengan warna
nikmatnya mencatat-catat sejarah
tentang cinta sampai perjuangan
tentang durhaka sampai kepahlawanan
dan,
sempurnalah bila pada satu ketika
bibir-bibir bergincu kuasa memanggil gempa
dan nafsu-nafsu lelaki kuasa melumat bumi
sejarah bisa dirubah jadi potongan-potongan puisi
lalu,
apa arti sebuah jasa, pekik orang di satu ketika
saat dengki dan dan iri jadi mahkota
apa arti sebuah dosa toh manusia tidak sempurna
saat sang waktu telah mengubur racun-racun itu
mereka merubah lakon drama 
kini,
yang putih, putihlah, itu katamu
menindas caci selama ini raja di hati
dan setiap orang bebas menyanyi hari ini
tentang arti satu kebenaran
yang muncul kembali bagai satu keajaiban
dari lubuk bumi hitam.

Jakarta, 1978
"Puisi: Tentang Kebenaran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Kebenaran
Karya: Diah Hadaning
Sajak tentang Kelelawar dan Manusia

Saat tumpah warna merah kesumba
kelelawar bergegas terbang sembunyi
dalam gelap saling merasa heran ternyit-nyit
mengapa tak lagi berwarna hitam
dan kelelawar kehilangan langitnya
dalam hitam gelak menggebrak cakrawala
manusia telah hitam sampai pada bayangnya.

Dalam gelap kelelawar saling bernyit-nyit
ataukah membiarkan diri kehilangan warna
ataukah memburu manusia merebut semuanya
lantas semakin tumpah warna merah kesumba

Semakin padam cahaya di mata
bagaimana bisa, mereka saling tanya dalam nyit-nyit
bangsa kelelawar tak pernah menjadi raja dunia
bangsa kelelawar hanya tukang kepak-kepak saja
lantas satu-satu mereka runtuh dan mati
bertumpuk warna merah kesumba
di atasnya manusia saling meneliti.

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak tentang Kelelawar dan Manusia (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Kelelawar dan Manusia
Karya: Diah Hadaning
Ketika Matahari Meleleh

Bekerutlah hati kecil di pinggang kulit
bersalam pada sabana kehilangan kuda
apa kabar, padang perburuan?

Hening panjang tanpa sahutan.

Sabana lengang bagai lelaki tua di huma
menatap langit menyala
di situ baur dendam dan pesona lama
ketika sesekali Yosef, Stefanus dan yang lain
memburu sisa-sisa gairah sabana
walaupun mereka tahu
yang ditemui hanya angin kembara.

Jakarta, 1980
"Puisi: Ketika Matahari Meleleh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ketika Matahari Meleleh
Karya: Diah Hadaning
Suara-Suara dari Lembah Code

Selamat pagi Romo
selamat pagi mbakyu kakang
selamat pagi lembah padat cerita
matahari muncul di antara daun-daun
anak-anak tumbuh dalam asuhan alam
yang sisakan keramahan tata kota
anak-anak menghitung umur
tiap tahun upacara hari merdeka
bapa biyung coba kubur segala murung
malamnya jauh terang Gedung Agung

Selamat malam Romo
selamat malam mbakyu kakang
selamat malam lembah padat cerita
di cakrawala saling kejar berlintasan
bintang-bintang dan satelit buatan
lembah code bersaksi tenang
suara gambang nyelinap dalam ruang
perjalanan, perjuangan, makin panjang
langkah menyusuri jalan Ireda
'natap musim perjuangan
langkah menyusuri trotoar harmoni
'natap menara kota
suara-suaramu ada.

Jakarta
Oktober, 1986
"Puisi: Suara-Suara dari Lembah Code (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Suara-Suara dari Lembah Code
Karya: Diah Hadaning

Bulaksumur Sebuah Catatan Oktober

Menyalami pagimu dalam semarak jingga, Yogya
kutemukan merjan-merjan pernah berserakan
manakala angin dan hujan
sembunyikan rekaan di tahun-tahun yang jauh
di antara wajah-wajah semringah
kutemukan wangimu dulu, Yogya
bincang pagi mengalir mencari muaranya.

Menyalami malammu dalam semarak rembulan, yogya
kutemukan kata-kata adalah kekayaan
dan perjalanan ke segala arah adalah hikmah
ada nada-nada di aula
dan ekspresi segala makna
saudara-saudaraku tengah membuat warna pada malam
menata mozaik bagi kehidupan.

Tawa siapa masih tertinggal di teras wisma kagama
sementara oktober kulipat perlahan
bersama bunga putih beruntaian
Yogya, sungai dan laut menyatu di muara.

Yogyakarta
Oktober, 1993
"Puisi: Bulaksumur Sebuah Catatan Oktober (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bulaksumur Sebuah Catatan Oktober
Karya: Diah Hadaning
Percakapan dengan Angin 

Ceritakan tentang berita kota
yang membuat hati jelaga dan nafas bara
semusim ini aku tengah ngelangut
kau bawakah nafas anakku
ingin kusatukan dengan nafasku
seperempat abad aku kehilangan dia
musim-musim telah menyembunyikannya
perempuan yang rindang dedaun
aku angin dari silam kurun
di dalam catatan damba anak manusia
yang senantiasa mencari biyungnya.

Bogor, 1995
"Puisi: Percakapan dengan Angin  (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan dengan Angin 
Karya: Diah Hadaning
Ekspresi Amaq Indram
Bagi Amaq Indram, penari topeng dari Sakra

Berapa lama rumah panggung simpan impian
berapa lama rumah panggung simpan kesendirian
dan topeng-topeng simpan legenda 
pentas-pentas bukan lagi tembang nurani
Amaq Indram tak pernah mengerti
Amaq Indram melabuh mimpi
desa Medane masih bunga Sakra sederhana
desa Medane masih hampar ladang cinta
Lombok terus berubah
Lombok terus tercacah.

Amaq Indram, Amaq Indram
hidup telah biru lebam
ramainya layar kaca kemas acara
sampaikan tembang nurani bahkan caci maki
Amaq Indram tak peduli
rumah panggung kian sunyi
topeng-topeng mengamati
tanganmu adalah dunia timur sejati.

Bogor, Maret 1996
"Puisi: Ekspresi Amaq Indram (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ekspresi Amaq Indram
Karya: Diah Hadaning
Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera

Ingatan tentang merdeka, nang
masih mengental di kopi pahit
kian hari makin pahit
lantaran kebun tebu
warisan canggah moyangmu
telah ditumbuhi tiang-tiang beton.

Anak cucu yang mulai dewasa
kini bertanya asal-usulnya
dan heran melihat aku yang simpan medali
keliling kampung menjual bendera
setiap Agustus menjelang tiba
setiap kusembunyikan air mata.

Harapan tentang merdeka, nang
terus mengental dalam impian tua
kian hari kian pekat
seperti malam tanpa saat
selagi darah menetes di jalan raya
selagi raungan duka membius kota.

Api membakar udara malam
tapi sangkur telah lama kusarungkan
doaku bersarang kembali di dada
sementara bebatuan berserak di trotoar
sementara keberingasan mencari mangsa
aku sempurna terusir dari tanah kelahiran.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera
Karya: Diah Hadaning
Tanda-tanda Musim

Batu kembalikan panasnya
ke hati orang-orang tergusur
orang-orang jadi beringas
orang-orang jadi berani
mengancam matahari.

Laut kembalikan panasnya
ke hati orang-orang trotoar
orang-orang jadi liar
orang-orang jadi ingkar
mengancam ruang-ruang.

Jelaga di langit kota
kota semakin pengap.

Orang-orang terperangkap
ada etnis yang jadi kakap 
saudaraku jadi kerakap
musim begini kacau
di lidah-lidah tersisip pisau.

Maret, 1998
"Puisi: Tanda-tanda Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tanda-tanda Musim
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Gedung Agung

Di dalam gedung agung
suara-suara menjadi gaung
pamornya hilang menjadi mendung
tapi orang-orang yang pesolek
ekspresinya bak wayang golek
terus tertawa dan bertepuk
sementara
di jalanan
di tikungan
di bawah jembatan layang 

orang muda anak zaman
berhadapan
tameng dan pentungan
hardik dan senapan.

Angkasa ya sang bapa
saksi diam saksi luka
bumiku ya sang ibu
saksi diam saksi ngilu.

Di dalam gedung agung 
orang-orang berbangga mimbar 
palu mampu hapus
dosa-dosa zamannya
orang-orang di rumah ngurut dada
Gusti tunjukkan keadilan.

November, 1998
"Puisi: Abstraksi Gedung Agung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Gedung Agung
Karya: Diah Hadaning
Perempuan dan Anak Sang Waktu

Pagi,
perempuan menyisir serat kabut
setelah doa subuh dirunut
menghitung sisa bintang
harap sandar perahu mayang
di beranda ia
mengetuki dada
masihkah sisa detaknya
buat sambut anak waktu yang lelaki
yang datang di kelak hari.

Senja,
perempuan menyisir desau angin
pohonan pun malu pada akarnya 
mandang perempuan sungguh setia
menanti tak jemu sang putera
di bawah langit ia
nunggu magrib tiba
di celah azan selalu merupa
bayang-bayang anak lanang
cucu Adam tersayang.

Dulu, 
pernah berjani di musim padi
akan berbakti sampai mati
pada bunda bestari
sesudah lelah arungi samudera
berpacu dengan sang bagaskara.

Bogor
Februari, 2000
"Puisi: Perempuan dan Anak Sang Waktu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan dan Anak Sang Waktu
Karya: Diah Hadaning
Gaduh Kota

Ketika Kebenaran
bukan lagi kebenaran
karena kebenaran
tak lagi dibenarkan.

Maka tandailah ya anakku
kegaduhan bukan kegaduhan
kegaduhan jadi pemandangan
kegaduhan bagian kehidupan
kebenaran bukan lagi keindahan.

Jika kepiawaian bisa buktikan
yang benar bukan benar
karena di kota gaduh
yang tak benar itulah benar.

Bogor
Agustus, 2000
"Puisi: Gaduh Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Gaduh Kota
Karya: Diah Hadaning
Pada Sebuah Episoda

Manusia menghela sejarah
mengubahnya dari windu ke windu
mengkhianati sang waktu
diam-diam menanam benih dosa
ketika musim menebar anyir darah
keajaiban terjadi
negeri melati penuh suara lenguh sapi
mengantar lahirnya dajal-dajal
menarikan kepongahan
sambil menepis tembang rembulan
tak henti mencaci matahari
mengubah gereja dan mushola
menjadi ladang api.

Mereka tumbuh dan terus tumbuh
porak porandakan negeri melati
merabuki semak dendam
membakari sisa harapan
manakala yang lurus selalu dibengkokkan
dengan ciptakan pemahaman baru
yang menyuburkan pengkhianatan
kata-kata berlumur dosa
mengatasnamakan kebenaran
meluncur pada layar-layar kaca
membuat para kawula putus asa
menangisi sisa-sisa peradaban
yang tersangkut dalam impian urban.

Bogor
Agustus, 2000
"Puisi: Pada Sebuah Episoda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Sebuah Episoda
Karya: Diah Hadaning
Suara-Suara antara Manggarai-Muara Angke

Gelak bocah yang tak pernah terjajah waktu
melambai saat lewat perahu 'nuju muara
potret kami, potret kami
siang ini muncul kembali
dalam serat arus banjir
yang tebarkan derita anyir
mangga silahkan lewat saja.

Tegur sapa perempuan tua
di antara bayangan slum Manggarai
siang ini muncul kembali
dalam gelegak amuk Ciliwung
Jakarta jadi perahu sarat beban
sekelompok anak jaman menari di jalan-jalan.

2002
"Puisi: Suara-Suara antara Manggarai-Muara Angke (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Suara-Suara antara Manggarai-Muara Angke
Karya: Diah Hadaning
Awan Merapi

Awan Merapi
melukis gerak merpati
terbang menyisir lereng
mencari dusun sunyi
sembunyi dalam hijau alam.

Awan Merapi
melukis gerak kuntum
mekar dari tangkai kehidupan
di antara lukisan alam itu
engkau berdiri membatu.

Bogor, 2002
"Puisi: Awan Merapi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Awan Merapi
Karya: Diah Hadaning
Pesan Aneh Awal Kemarau
Bagi sebuah nama

Rembulan baru saja terbit dari balik bukit
pelan melenggang ke arah pucuk-pucuk jati
kau panggil sebuah nama dan mengajak bicara
mari bicara sebagai orang tua
(kusimak suaramu mulai fals)
Si, jangan tafsirkan dengan rekayasa aksara
aku mau kau cermati tuturku ini
karena tak kutemukan lagi
perempuan simpan belati dalam jiwa selain,
selain geletar syahwat, camkan ini
dalam tatapku ada belati berhulu bunga
tajam bermata dua siap aku hujam lidah penggoda
maka aku bertutur padamu.

Aku titipkan dusun kecil kelahiran
tanami selaksa macam bunga
jika bunga di bumi kurang jenisnya, tambahi
dengan bunga dalam jiwamu
kini lega aku berangkat jauh
simak cepat raut wajahku
sesudah ini aku tak kan menengok lagi
(pesan aneh di awal kemarau
segala membuatku menelusuri segala nama
dalam laci, buku, kranten dan tas kerja
Siapa kira-kira punya pesan aneh itu)


Bogor, Juli 2003

Catatan:
Si = maksudnya panggilan kesayangan Genduk Si
"Puisi: Pesan Aneh Awal Kemarau (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Aneh Awal Kemarau
Karya: Diah Hadaning
Sajak Ketut Tua, Pemahat Dusun yang Frustrasi

Dia bernama Ketut
orang dusun panggil Ketut
Ketut tua sederhana
Ketut tua limbangan cinta.

Turunan ke tiga penghuni banjarnya
banjar tua dengan Ketut sama tua
banjar cinta dengan Ketut sama cinta
banjar setia dengan Ketut sama setia.

Sepanjang musim
ya sepanjang musim
Ketut memahat dengan rajin
bersahabat dengan miskin.

Ketut tua telah memahat umurnya
roh moyang titisan ilhamnya
matahari langit Bali adalah semangatnya
tapi tahukah Ketut berhati sederhana
kini seni tak miliknya sendiri.

Jaman angker kakek moyang lama lewat
seni Bali telah dijejal rapi di toko suvenir peni
dan siap sangkut pergi
pengagum berkocek tebal Manca-Negara.

Ketut malang perlahan langitnya bergoyang
mereka tak lagi mencarinya di kampung tersembunyi
Ketut sepi memahatlah hati nurani
Diramaikan hentak kaki para cucu main sendiri.

Ketut tua apa nian kau gumamkan?
Kebijaksanaan baru?
Ada itu disebut di koran-koran
tapi langka di keseharian 
Ketut tua termangu lama lama lama.

Kampung hijau geresek kayu tawa para cucu
tiba tiba mengental dalam bayang
tiba tiba mengental dalam genang
kali kecil dusun Bali di gigir pipi.

Jakarta
Juni, 1982
"Puisi: Sajak Ketut Tua, Pemahat Dusun yang Frustrasi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Ketut Tua, Pemahat Dusun yang Frustrasi
Karya: Diah Hadaning
Sajak 20 Butir Leunca Muda

Kekasihku,
santunan segala cinta tak pernah berkecambah dalam
pusar Adam dan Hawa tak pernah ingkar setia
hari-hari selalu berpacu dengan umurmu
adakah kau tahu
berkali telah kusentuhkan bunga putih dan merah
di ujung matamu yang penat dan lelap
karena kau bermimpi
mengunyah dua puluh butir buah leunca muda
kau tak bisa tegar menjadi naga penyangga bumi
memberikan perkasamu untuk membongkar peranda ini
bila dalam gengganganmu yang kencang
tetap kau mimpikan dua puluh butir buah leunca muda
apa lagi bila kau pun mulai mencoba
menyeret hatimu yang luka bukan oleh
pertempuran lantaran membela bukit-bukit Sukarno
atau siksa bayi dan bocah Campuchea tinggal kerangka
kau coba melipurnya dengan menjenguk-jenguk
daerah warung bubur dan segala macam parloba.

Kekasihku,
lebih baik aku membunuhmu di Kaki Tuhan
sebelum kau menghancurkan diri sendiri
dan dunia kita dengan polahmu yang hina
atau kau buang itu dua puluh butir buah leunca muda
dan bangun pegang tanganku
menyusul barisan yang telah mulai berangkat pergi.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak 20 Butir Leunca Muda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak 20 Butir Leunca Muda
Karya: Diah Hadaning
Senja di Pantai Bojo'

Langit menggeliat tiba-tiba
Ketika azan diayunkan pohon-pohon kelapa
perahu yang berlayar ke langit
tiangnya semakin bisu.

Bugis, nama tempat telur menetas itu
Darah yang menetes
tak seluruhnya punya nestapa
Segalanya telah sempurna
tapi serasa belum selesai.

Sebentuk sujud putih
dan laut pun turun ke dasarnya
bersama bintang-bintang.

Amboi, lihatlah itu di belakang karang
Seekor cumi-cumi
sedang meninabobokan matahari.

"Puisi: Senja di Pantai Bojo' (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Senja di Pantai Bojo'
Karya: D. Zawawi Imron
Di Museum Penyiksaan
Di museum ini kau bisa membayangkan
seluruh tubuhmu penuh sayatan pedang
Seluruh lukamu menganga bagai kembang sepatu
Dari jeritmu akan lahir kearifan
bahwa hukum memang bukan keadilan.

Perhatikan tali gantungan, tong berduri
dan kursi listrik itu
Atau bayangkan sebuah kepala lepas dari lehernya
Matanya menyala menatap ke arah istana
yang dibangun dari tengkorak manusia
Tengkorak-tengkorak yang menyimpan aroma sorga.

Bagi penegak kebenaran
Tuhan dan nurani
sering bertemu di penyiksaan.

Racun yang diminum Socrates
sumurnya selalu ada di mana-mana
Sebagai pelengkap palu kekuasaan.

"Puisi: Di Museum Penyiksaan (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Di Museum Penyiksaan
Karya: D. Zawawi Imron
Sinom Belanda
Bila matahari menempuh rute selatan
Daun-daun tak bisa bertahan
pada reranting
Tanah ini seperti tersingkir ke utara
ke dingin kata-kata yang menetas dari salju
Ada angin sonder angin sama saja
Sama tak tertebak
nasib esok dan lusa.

Daun-daun rontok tak sia-sia
Mereka akan menyisakan kisah
tentang letih, dan kasih bunga yang megah
Jarum jam sebentar membelah
tanah kering dan tanah basah.

Tapi mengapa hanya pohon-pohon yang terburu
atau berkemas untuk bisu
Padahal langit tak tampak bergegas
Meskipun telah raib daunan yang lepas.

Pada langit yang kertas, bumi yang kertas
Terukir cinta, kata-kata yang tak terbatas
Ranting-ranting akan berbisik kepada angin
Tentang bahana bersiut dua bulan lagi.

Namun angin adalah bisik-bisik itu sendiri
Di Woerden, Tuhan menjawab dengan bulu biri-biri.

"Puisi: Sinom Belanda (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sinom Belanda
Karya: D. Zawawi Imron
Merdeka


Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida.

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah.

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang.

Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang.

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.
 


14 Juli 1943
"Puisi: Merdeka (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Merdeka
Karya: Chairil Anwar
Dagang
Susahnya duduk berdagang
tiada tempat mengadukan duka
bundaku tuan selalu terpandang
hendak berjumpa apatah daya.

Terlihat-lihat Bunda merenung
rasa-rasa Bunda mengeluh
mengenangkan nasib tiada beruntung
luka penceraian tiadakan sembuh.

Bunda pun garing seorang diri
hati luka tiada berjampi
nangislah ibu mengenangkan kami
rasakan tiada berjumpa lagi.

Allah diseru memohonkan restu
moga kami janganlah piatu
aduh ibu, kemala hulu
bukankah langit tiada berpintu?

Sudahlah nasib tiada bertemu
sudahlah untung hendak piatu
bagaimana mengubah janji dahulu
sudah diikat di rahim ibu.

"Puisi: Dagang (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Dagang
Karya: Amir Hamzah
Pengemis Senen


Begitu mereka memandang kepadaku, tajam dan hina
tubuh ditumpuki beban, terdekap pada bumi
terkaca di matanya tangan maut panjang dan tajam
akan menerkam duka.

Begitu mereka memandang kepadaku, harap dan benci
hidupnya telah dihisap, melonjak nafsu di dadanya
aku berkacakan diri pada mereka dan mereka dalam
mataku.

Mereka memilih jalan lain, melekapkan tubuh ke kulit bumi
terdengar degup jantungnya, berbareng desah nafasku
karena terkaca pada mereka, aku ngungun wajah jalang
keras di urat tangan, tapi aku tak sampai merabanya
biru-biru tingal tulang.

Aku dan mereka berpisah, mereka pilih rumah sendiri di
buminya
cuma karena tangan nasib mengulur berbeda.
 
   
"Puisi: Pengemis Senen (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pengemis Senen
Karya: Ajip Rosidi
Ular

Ular yang mendesis merisik, dengan warna kulit indah
mengejarku, bahkan sampai dalam mimpi.
Berhenti! kataku. Dan ia menatap patuh, namun gelisah
Tiba-tiba kubaca: namamu terukir pada lidahnya yang terjulur merah.
  
1971
"Puisi: Ular (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Ular
Karya: Ajip Rosidi
Potret Diri
Begitu ia melirik arah kota Jakarta
cintanya menyanyi sepanjang malam
dikandungnya dosa pada mata
dendamkan hari berbuahkan warna
merah menyala di sudut kanan:
geram harimau meraung di wajahnya
adalah geram kegemasan.

Begitu ia memandang arah kota Jakarta
malamnya melenguh kehilangan senja
dikandungnya dendam, dikandungnya dalam
wajah yang segera merebah
mendekap mangsa yang kalah: seperti tajam pedang
adalah duri-duri alisnya.
   
"Puisi: Potret Diri (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Potret Diri
Karya: Ajip Rosidi