loading...

Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera

Ingatan tentang merdeka, nang
masih mengental di kopi pahit
kian hari makin pahit
lantaran kebun tebu
warisan canggah moyangmu
telah ditumbuhi tiang-tiang beton.

Anak cucu yang mulai dewasa
kini bertanya asal-usulnya
dan heran melihat aku yang simpan medali
keliling kampung menjual bendera
setiap Agustus menjelang tiba
setiap kusembunyikan air mata.

Harapan tentang merdeka, nang
terus mengental dalam impian tua
kian hari kian pekat
seperti malam tanpa saat
selagi darah menetes di jalan raya
selagi raungan duka membius kota.

Api membakar udara malam
tapi sangkur telah lama kusarungkan
doaku bersarang kembali di dada
sementara bebatuan berserak di trotoar
sementara keberingasan mencari mangsa
aku sempurna terusir dari tanah kelahiran.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top