Sajak 20 Butir Leunca Muda

Kekasihku,
santunan segala cinta tak pernah berkecambah dalam
pusar Adam dan Hawa tak pernah ingkar setia
hari-hari selalu berpacu dengan umurmu
adakah kau tahu
berkali telah kusentuhkan bunga putih dan merah
di ujung matamu yang penat dan lelap
karena kau bermimpi
mengunyah dua puluh butir buah leunca muda
kau tak bisa tegar menjadi naga penyangga bumi
memberikan perkasamu untuk membongkar peranda ini
bila dalam gengganganmu yang kencang
tetap kau mimpikan dua puluh butir buah leunca muda
apa lagi bila kau pun mulai mencoba
menyeret hatimu yang luka bukan oleh
pertempuran lantaran membela bukit-bukit Sukarno
atau siksa bayi dan bocah Campuchea tinggal kerangka
kau coba melipurnya dengan menjenguk-jenguk
daerah warung bubur dan segala macam parloba.

Kekasihku,
lebih baik aku membunuhmu di Kaki Tuhan
sebelum kau menghancurkan diri sendiri
dan dunia kita dengan polahmu yang hina
atau kau buang itu dua puluh butir buah leunca muda
dan bangun pegang tanganku
menyusul barisan yang telah mulai berangkat pergi.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak 20 Butir Leunca Muda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak 20 Butir Leunca Muda
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top