Maret 2003
Catatan Masa Kecil, 2

Ia mengambil jalan pintas dan jarum-jarum rumput berguguran oleh langkah- langkahnya. Langit belum berubah juga. Ia membayangkan rahang-rahang laut dan rahang- rahang bunga lalu berpikir apakah burung yang tersentak dari ranting lamtara itu pernah menyaksikan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkam-menerkam. Langit belum berubah juga. Angin begitu ringan dan bisa meluncur ke mana  pun dan bisa menggoda laut sehabis menggoda bunga tetapi ia bukan angin dan ia kesal lalu menyepak sebutir kerikil. Ada yang terpekik di balik semak. Ia tak mendengarnya.

Ada yang terpekik di balik semak dan gemanya menyentuh sekuntum bunga lalu tersangkut pada angin dan terbawa sampai ke laut tetapi ia tak mendengarnya dan ia membayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir hujan. Ia sampai di tanggul sungai tetapi mereka yang berjanji menemuinya ternyata tak ada. Langit sudah berubah. Ia memperhatikan ekor sri-gunting yang senantiasa bergerak dan mereka yang berjanji mengajaknya ke seberang sungai belum juga tiba lalu menyaksikan butir-butir hujan mulai jatuh ke air dan ia memperhatikan lingkaran-lingkaran itu melebar dan ia membayangkan mereka tiba-tiba mengepungnya dan melemparkannya ke air.

Ada yang memperhatikannya dari seberang sungai tetapi ia tak melihatnya. Ada.
"Puisi: Catatan Masa Kecil 2 (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Catatan Masa Kecil, 2
Karya: Sapardi Djoko Damono
Malin Kundang
(: GM)

Sejak semalam tak henti-hentinya aku batuk
padahal harus ke darat hari ini
untuk memenuhi kutuk itu.
Dari balik tabir katarak mataku
kusaksikan pinggir laut, sangat tenang –
kubayangkan orang-orang itu berdesak-desak
menungguku. Mereka berteriak-teriak,
“Jangan ke mari! Jangan ke mari!
Berangkatlah lagi, kau bukan milik kami!”

Di sela-sela batukku kubayangkan
Ibu tua itu berjalan betelekan tongkat
menjemputku. “Aku merindukanmu, Malin.”
Tapi aku toh harus dikutuknya. Sabda
dikirim dari Sana, sama sekali tanpa suara –
namun mungkin saja menghindar ketika aku
memutuskan untuk dengan ikhlas menerimanya.

Kubayangkan laut mendidih kalau nanti kapal
berlayar kembali, tapi seperti dari dunia lain
Ibu tua itu menyapaku,
“Aku menunggumu, Malin. Seperti kapalmu,
tanah ini milikmu, juga orang-orang ini,
juga panen yang gagal, juga hutan gundul,
juga kenangan yang takkan terhapus.
Mendaratlah, mereka tidak akan pernah
memahami bahasa kita.”

Batukku tak juga reda sejak semalam
dan mataku yang kabur membayangkan
begitu banyak orang dan seorang Ibu tua
menunggu kapal itu. “Aku, si Malin,
datang kembali bersama Sabda,” teriakku.

Ketika kujejakkan kaki di pinggir pantai itu
tak kutemui seorang pun. Sama sekali.
Juga bakau. Juga Ibu tua itu.
Hanya beberapa kaleng bekas minuman,
plastik pembungkus roti, koran-koran bekas,
dan sisa-sisa istana pasir yang dibangun anak-anak.
Juga jejak-jejak ban bis. Mungkin ini hari libur.
Mungkin mereka telah menungguku sejak pagi
sambil makan, minum, dan bernyanyi
lalu pulang menjelang senja hari.

Dari balik mataku yang kabur, di antara batuk
yang tak juga reda sejak pagi,
kusaksikan diriku terbungkuk-bungkuk
mencari bekas jejak tongkat Ibu tua itu di pasir
dalam cahaya senja. “Kau harus kembali ke laut,
cepat!” seru orang-orang kapal itu.
“Kita toh harus diterjang badai
agar bisa sepenuhnya terlibat
dalam bahasa itu.”


"Puisi: Malin Kundang (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Malin Kundang
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sonet: Kau Bertanya Apa
(untuk Wing Kardjo)

Kau bertanya apa masih ada harapan. Mungkin masih,
di luar kata. Di dalam kata terdengar tak putus-putusnya
suara orang berkhotbah, berceramah, dan berselisih.
Sementara kita mengemis, mencuri, berebut jatah,

menjarah, atau menjadi gila; sementara kita menyaksikan
rumah-rumah terbakar, jaringan telepon putus,
pohon-pohon tumbang - di dalam kata masih saja
setiap aksara dipertanyakan asal-usulnya, setiap desis

diusut keterlibatan maknanya. konon, dulu,
di dalam kata pernah terdengar desau gerimis kecil,
cericit anak-anak burung, siut daun jatuh,
dan langkah kabut pagi. Konon, dulu, pernah terdengar kita

saling berbisik. Kau bertanya apa masih ada harapan.
Ada yang menunggu kita di luar kata, mudah-mudahan.

"Puisi: Sonet: Kau Bertanya Apa (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Sonet: Kau Bertanya Apa
Karya: Sapardi Djoko Damono
Pohon di Tepi Jalan

Pohon, yang biasa disiram dua kali sehari
yang berdiri sejajar tiang listrik di tepi jalan itu,
tak bosan-bosannya menggoda mobil tua
yang merayap di aspal yang suka meleleh.

di bawah matahari; pohon, yang sudah lupa
asal-usulnya, suka menghirup asap knalpot
dan menyebutnya kekasih, sumber kehidupan kota;
kita tak pernah sempat memahami kelakar mereka.

"Puisi: Pohon di Tepi Jalan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pohon di Tepi Jalan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Bunga Randu Alas

Bunga randu alas itu telah merekah, dan angin
kemarau yang malam hari suka jadi sejuk sering lewat di
sana. "Kenapa selalu terbayang bara sisa ketika kutatap
bunga itu," kata angin yang diam-diam terlanjur telah
mencintainya. "Kenapa bukan warna subuh, atau
setidaknya batu delima, atau apa saja asal bukan bara
sisa."

Pohon randu alas itu menjulang di kuburan samping
rumah kami; setiap kemarau bunga-bunganya yang
merah suka melengking, bahkan sampai larut malam.
Angin, yang sering terjepit di antara batang bambu, telah
jatuh cinta padanya - hanya Tuhan yang tahu kenapa
jadi begitu.

Angin itu jugalah yang bersijingkat mengantar
lengking bunga itu sampai ke sudut-sudut paling jauh
dalam tidur nyenyakku. Dalam lengking bunga itulah
tersirat lirih suaranya sendiri, "Mengapa bara sisa yang
terbayang, dan buka kobaran api?"

"Puisi: Bunga Randu Alas (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Bunga Randu Alas
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kematian Anak

Bagai mengambil mutia bagus
Dari indungnya, bersukacita,
Datang malaikat, perbadan halus,
Memetik jiwa anak tercinta.

Dibawa gaib ke dalam surga,
Disuruh bermain di taman sari,
Di tengah bunga antakesuma
Bersukaria sepanjang hari.

Siapa gerangan jadi cemburu
Dari lumpur terpungut mutu
Dengan menangis sebagai ini?

Bukan anak yang jadi tangisan,
Ia meratap, iba kasihan
Kepada badan diri sendiri.


"Puisi: Kematian Anak (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Kematian Anak
Karya: Sanusi Pane
Mandi

Mereka tiba di kamar mandi menjelang tengah malam
ketika langit terang dan bulan sedang cemerlang.
Pemimpin rombongan segera angkat bicara,
"Hadirin sekalian, malam ini kita berkumpul di sini
untuk mengantar mandi salah seorang saudara kita.
Mari kita sakiti dia agar sempurnalah mandinya."

Korban segera diseret ke kamar mandi
dan diperintahkan berdiri di depan. Wajahnya
tertunduk pucat, tubuhnya gemetar, dan matanya
seperti kenangan yang redup perlahan. Belum sempat
pemimpin rombongan menanyakan tanggal lahir
dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah
tak sabar menyaksikan sekaratnya berseru nyaring,
"Mandikan dia! Mandikan dia!"

Tubuh tak bernama yang terlampau tabah menerima
cambukan waktu yang gagah perkasa. Mandikanlah dia.

Mulut tanpa kata yang tak perlu lagi mengucap segala
yang tak terucapkan kata. Mandikanlah dia.

Hati paling rasa yang tak pernah usai memburu cinta
di rimba raga. Mandikanlah dia.

Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka.

Pembantaian sebentar lagi dimulai. Hadirin segera
pergi setelah masing-masing menghunjamkan nyeri
ke hulu hati. Korban dibiarkan terkapar di kamar mandi.

Sepi yang tinggi besar melangkah masuk sambil
terbahak-bahak. Korban diperintahkan berdiri. 
"Mandi!" bentaknya. Dengan geram diterkamnya
tubuh korban dan kemudian dikuliti. Lihatlah, korban
sedang mandi. Mandi dengan tubuh berdarah-darah.

Bahkan bulan tak berani bicara; dengan takut-takut
ia melongok lewat genting kaca. Sepi makin beringas.
Ia cengkeram tubuh kurus korban, ia serahkan
lehernya kepada yang terhormat tali gantungan.
Krrrkk! Sepi melenggang pergi sambil terbahak-bahak,
meninggalkan korban berkelejatan sendirian.
Lalu, di hening malam itu, tiba-tiba terdengar
seorang bocah menjerit pilu: "Ibu, tolong lepaskan aku, Ibu!"

2003
"Puisi: Mandi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mandi
Karya: Joko Pinurbo
Koma

Menjelang dinihari pengarang itu mati. Kepalanya
terkulai di atas meja, batuknya serasa masih
menggema, sementara rokok yang belum habis
dihisapnya masih menyala di atas asbak. Tubuhnya
babak belur sehabis semalaman duel seru melawan
komplotan kata: duel satu lawan satu maupun satu
lawan dua, lima, sepuluh, pokoknya banyak. Di layar
komputernya tertera tulisan: Kutunggu lagi kalian
besok malam. Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan.

Besoknya ia datang lagi ke gelanggang. Ia pikir malam
itu ia akan berhadapan dengan komplotan kata yang
lebih tangguh. Ternyata cuma ditantang sebuah koma
yang berani-beraninya muncul sendirian. Ah, itu sih
kecil. Sekali pukul saja pasti terpental.

Ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa. Sudah
bertarung semalam suntuk, belum juga ia takluk. Malah
makin mbeling saja. Bukan main cerdiknya. "Belajar
silat di mana, dik? Di sekolah ya?" tanya pengarang.
"Ah, tidak. Saya otodidak saja," jawab koma.

Antara mabuk dan mengantuk, pengarang berusaha
keras mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk
melumpuhkan koma. Sebab hanya yang mampu
menguasai koma yang layak menyebut diri jagoan.
Dan tahukah, pengarang, koma pula yang setia
menungguimu saat kau mati menjelang dinihari?

Ketika pengarang terbangun dari mati, koma memberi
kabar bahwa judul sedang sakit sehingga tidak bisa
datang. "Dia memang tidak tahan banting. Manja,"
ujarnya. "Lantas siapa yang menggantikannya?"
timpal pengarang."Saya!" kata koma.

2003
"Puisi: Koma (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Koma
Karya: Joko Pinurbo
Dokter Mata

Belakangan ini saya banyak mendapat gangguan mata. 
Apa dan siapa yang saya lihat sering tampak bergoyang. 
Bahkan mata saya kadang salah sangka.
Saat bercermin, misalnya, saya merasa bahwa tuan 
yang sedang mengagumi saya adalah kenalan lama saya. 
Ternyata ia lupa dan mengajak kenalan ulang. 

Selain salah lihat, mata saya sering dianggap salah baca. 
Saya baca buku, buku bilang salah, baca lagi, salah lagi. 
Tak terkecuali buku-buku yang saya tulis sendiri.

Malam ini sakit mata saya makin akut: nyeri, pusing, 
berdenyut-denyut. Maka datanglah seorang dokter mata: 
“Selamat malam, pasien.” Tanpa bicara ia periksa mata saya.
“Dokter, apakah saya harus pakai kacamata?” 
“Tidak perlu kacamata. Hanya perlu dicungkil.” 
Dicungkil? Saya tidak dapat membayangkan mata saya 
harus diganti dengan mata buatan atau bekas mata 
orang lain. Saya diminta berdoa dan tidur tenang 
sementara ia akan menggarap mata saya.

Subuh hari saya terbangun. Dokter mata sudah pergi.
Aneh, semua terasa nyaman dan normal kembali. 
Saya segera mendatangi cermin langganan saya 
dan saya terkejut tiba-tiba bertemu dengan dokter mata itu.
“Dokter, apakah Anda telah mengganti mata saya?” 
“Ah enggak. Aku cuma membersihkan dan merendam
matamu dalam air mataku, kemudian mengembalikannya 
seperti semula. Kau pangling dengan matamu?”

“Terima kasih, Dokter.” Dan dokter mataku tampak 
ingin menangis, tapi ia tidak ingin aku melihat air matanya.

2003
"Puisi: Dokter Mata (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Dokter Mata
Karya: Joko Pinurbo
Sedekah

Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan 
sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah. 
Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan, 
sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah.

“Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,” 
cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.” 
Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.” 

Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci 
pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci 
dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata.
Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya. 

“Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli 
tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,” 
ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil
Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato.

Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas 
dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah. 
Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik 
oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan 
kepada entah siapa yang pantas menerimanya.

2003
"Puisi: Sedekah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sedekah
Karya: Joko Pinurbo
Rumah Persinggahan
(untuk SS)

“Aku sekarang bisa pulang ke rumah,” kata temanku
dengan wajah berbinar-binar.
Lalu ia tunjukkan rumahnya yang baru, rumah yang besar,
yang halamannya luas tak berpagar.

“Bukan pulang, tapi singgah,” aku berkilah,
“sebab hanya kalau larut malam kau berumah,
sedang sebagian besar waktumu, jadwal hidupmu
kauhabiskan di sekian banyak entah.”

“Iyalah,” ia mengalah, dan dengan takjub kukagumi
arsitektur rumahnya yang langka dan spesial,
tampak sederhana tapi menggoda.

“Bertahun-tahun aku menabung kemiskinan
untuk membangun rumah ini,” kata temanku.
“Bukan kemiskinan, tapi kematian,” aku menyanggah.
“Iyalah,” ia kembali mengalah.

Ketika itu Jakarta hampir punah.
Seluruh pelosok telah habis dijarah
petualang-petualang kampung dari berbagai daerah.
Di mana-mana orang bikin gedung, pabrik, hotel, toko,
salon, kesenian, pemerintahan, panti pijat, warung gaul
sehingga untuk mukim kau harus cari kapling
di kompleks perumahan bawah tanah.
Temanku beruntung bisa bikin rumah besar di sebidang tanah
bekas kuburan Cina yang konon banyak jinnya.

Kujelajahi rumah temanku yang ada kolam renang
dan kolam ikannya.
Dinding-dindingnya penuh lukisan dan topeng.
“Jin tidak berani gentayangan di sini,” sindir temanku,
“sebab jin takut topeng, apalagi topengnya
lebih ganteng dari kamu.”

Wah, rumah temanku banyak benar kamarnya.
Di bagian depan, misalnya, ada kamar khusus
untuk tamu-tamu miskin dari luar kota yang datang
untuk sekadar numpang mandi, tidur, dan, tentu saja, makan.
Persis di bagian tengah tersedia sel tahanan,
lengkap dengan terali dan cahaya remang-remangnya.
“Siapa tahu ada seniman kriminal
tiba-tiba mengamuk di sini,” jelasnya.

Nun di pojok belakang ada kamar gelap yang dijaga
sepasang jerangkong, dirancang untuk kuburan.
“Kau anak jadah, sebatang kara. Kalau suatu saat kau mati
di Jakarta, biar kukubur kau di sini,” temanku bercanda.
Aku merinding, dan ia tunjukkan nisan coklat
yang belum diberi nama.

Masih banyak ruangan lain yang entah untuk apa.
Ada, konon, ruangan dingin buat bercinta,
tapi aku tak tahu di sebelah mana.

Ah, kurang apa rumah temanku.
Sayang si empunya jarang pulang, eh singgah.
Kalaupun singgah, ia lebih suka mendekam dan menulis
di dalam sel dan tak seorang pun bisa mengusiknya.
“Bahkan topeng pun tidak berani menggangguku,” katanya.

Seperti puisi, mungkin juga cinta, rumah temanku
jauh dan tersembunyi.
Tidak mudah menemukan alamatnya.
Kalaupun sampai, kemudian kubuka pintunya,
bisa saja aku lantas tersesat dan terkurung
dalam keluasannya.
Tapi aku selalu ingin singgah ke sana.

Teman, aku datang naik andong. Kling klong kling klong.

1999
"Puisi: Rumah Persinggahan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Rumah Persinggahan
Karya: Joko Pinurbo
Malam Pertama

Malam pertama tidur bersamamu, aku
terkenang saat-saat manis bersama ibuku
ketika dengan lembut dan jenaka ia mengajariku
mandi dan memakai celana hingga kurasakan
sentuhan ajaib tangan-tangan cinta
tanpa bisa kuucapkan terima kasih padanya
selain tersenyum dan tertawa.

Lalu ibu menjebloskanku ke sekolah.
Bertahun-tahun aku belajar bahasa yang baik
dan benar hanya untuk mengucapkan
cinta monyet dengan lugu dan malu-malu
tanpa menyadari bahayanya. Setelah dewasa
aku paham bagaimana menyatakan cinta
tanpa harus mengatakannya.

Kini aku harus menidurimu. Tubuhmu
pelan-pelan terbuka dan merebakkan bau masam
dari ketiakmu. Aku gugup. Tapi tak mungkin
kupanggil almarhumah ibuku untuk mengajariku
membaca halaman-halaman tubuhmu sebagaimana
dulu dengan tekun dan sabar ia mengajariku
membaca kalimat-kalimat sederhana:
ini ibu budi; budi minum susu; ini susu ibu.

Malam pertama tidur bersamamu, buku, kulacak lagi
paragraf-paragraf cinta ibuku di rimba kata-katamu.

Apakah kata-kata mempunyai ibu?
Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa kata ibu.
Aku sering lupa dulu ibu suka berkata apa.
Aku gemetar. Tubuhmu makin cerdas
dan berbahaya. Ibu kata, temanilah aku.

2003
"Puisi: Malam Pertama (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam Pertama
Karya: Joko Pinurbo
Di Pojok Iklan Satu Halaman

Di pojok iklan satu halaman lelaki itu duduk
mencangkung sepanjang hari, menunggu perempuan
yang pernah ia temui di sebuah mimpi.
Kutunggu kau di sudut taman ini.

Ia suka menengadah ke langit, menyaksikan
ribuan pipit mencecar senja dalam cericit,
meringkas waktu ke dalam jerit.

Ia mencangkung saja sepanjang hari, lalu tertidur
sampai pagi, sampai seorang perempuan
datang membangunkannya.
Aku ingin memperkosamu di taman yang hening ini.

2001
"Puisi: Di Pojok Iklan Satu Halaman (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di Pojok Iklan Satu Halaman
Karya: Joko Pinurbo
Ranjang Kematian

Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri.
Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali
oleh keturunan orang-orang mati.
Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi.

Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu.
Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku.
Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula
mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi.

Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran
tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia.
Semalaman mereka telanjang, meniup seruling,
hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda.

1991
"Puisi: Ranjang Kematian (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ranjang Kematian
Karya: Joko Pinurbo
Lebih Dekat dengan Engkau

Tidak mudah mendapatkan waktu yang baik untuk menjumpai engkau. Pagi engkau masih tidur. Malam engkau sibuk menyendiri dan melukis. Secara kebetulan saja aku bisa bertemu engkau.

Ketika aku tiba di rumahmu, engkau sedang mandi. Engkau penggemar mandi tampaknya. Mandimu lama dan riang sekali. Kudengar engkau bersenandung. Senandungmu menjangkau relung yang telah lampau. Aku terdiam di ruang tamu. Termangu. Melihat-lihat kau dalam pigura: sedang duduk berdua dengan senja di halaman rumah yang rindang, wajahmu gemilang oleh kemilau mambang.

Lama ditunggu, mandimu selesai juga akhirnya. Kau melongok ke ruang tamu. “Selamat siang! Maaf ya, tadi terlambat bangun. Semalam melukis sampai pagi.” Lalu kau minta ijin untuk mengeringkan rambut yang habis dicuci. Lalu kau muncul bersama hitam: hitam bajumu, hitam celanamu, hitam rambutmu, hitam kopimu.

“Ayo minum. Mumpung masih hitam,” kata kau, lalu kau persilakan aku bicara. “Tapi jangan lama-lama. Sebentar lagi aku harus melukis. Selagi masih bisa berdamai dengan warna.”


***
Engkau biasa bangun siang?
Ya, itu hobi. Lebih tepatnya pilihan. Entah mengapa aku tidak suka melihat terbitnya matahari.

Engkau penggemar mandi?
Mandi adalah senang-senang. Bagi orang lain mandi mungkin tugas atau pekerjaan. Atau kontemplasi. Atau melankoli. Untukku mandi adalah pembebasan.

Maaf, tampaknya engkau suka berlama-lama mandi.
Tergantung suasana hati. Kalau hati senang, mandi juga senang. Dan lama. Kalau hati sedih, mandi adalah penghiburan. Dan bisa lebih lama.

Apakah kau suka mandi sambil menyanyi dan menari?
Ya itu tadi, tergantung suasana hati.

Bisa diperagakan?
Ah, kau norak sekali!

Adakah hubungan perilaku mandi dengan masa kecil seseorang? Aku pernah membaca buku psikologi mandi. Konon mandi bisa merupakan pelampiasan perasaan-perasaan terpendam yang erat kaitannya dengan memori dan pengalaman masa silam.
Bohong! Mandi ya mandi. Titik.

Engkau tidak sedang menyembunyikan diri, bukan?
Ah, seperti psikolog saja.

Memang pernah bercita-cita jadi psikolog, tapi entah mengapa tersesat jadi wartawan.
Wah, kalau begitu rugi dong bicara dengan orang tersesat.

Aku memang tersesat dalam kepedihan matamu.
Gombal!

***
Hari makin beranjak siang. Rumahmu terasa lengang. Makin lengang, makin luas dan ngiang oleh alunan Mozart yang timbul-tenggelam. Engkau minta ijin untuk rehat dulu. Engkau masuk kamar. Kau bilang mau masuk kanvas sebentar. Mau mengaduk warna. Membetulkan garis-garis senja. Dengan wajah berbinar-binar engkau muncul kembali bersama hitam: hitam bajumu, hitam celanamu, hitam rambutmu, hitam lengkung langit matamu.

***
Engkau tidak takut sekian lama tinggal sendirian? Engkau tidak pernah kesepian?
Oh tidak. Mungkin malah sepi yang takut dengan kesendirianku.

Bisa engkau jelaskan?
Kesendirian bisa sangat berbahaya jika ia tegar dan kuat. Sepi akan limbung, lalu merasa kehilangan alasan kehadirannya karena tidak mendapatkan antagonisnya.

Wah, agak berbau filsafat juga.
Harus! Supaya kau bingung. Supaya aku menang.

(Engkau tertawa ngakak dan aku senang.)

Sejak tadi aku mendengar cericit tikus di rumah ini. Engkau suka memelihara tikus?
Tikus-tikus itu dipelihara sepi untuk melawan kesendirianku. Tapi cericit tikus justru membelaku.

Engkau tinggal di rumah ini dalam rangka menyendiri atau melarikan diri?
Apa bedanya?

Menyendiri itu menyepi atas kemauan sendiri. Melarikan diri itu minggat atas paksaan sendiri.
Enggak lucu! Keduanya salah. Aku cuma ingin berdamai dengan diri sendiri. Aku benci bunuh diri.

Aku dengar rumah ini ditunggui laki-laki tanpa celana yang suka muncul malam-malam dengan darah mengucur dari kelaminnya. Kapan aku bisa bertemu dengannya?
Stop! Engkau jahat. Engkau mulai memasukiku.

Maaf. Satu lagi. Besok engkau ulang tahun. Keberapa?
Enam puluh.

Oke. Selamat ulang tahun ke-60. Dirgahayu!

***
(Wawancara imajiner selesai. Pelukis itu termenung di depan kanvas. Berpikir keras bagaimana caranya menempatkan sosok hitam perempuan itu di tengah lanskap senja tanpa mengganggu panorama warna.)

2003
"Puisi: Lebih Dekat dengan Engkau (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Lebih Dekat dengan Engkau
Karya: Joko Pinurbo
Di Salon Kecantikan

Ia duduk seharian di salon kecantikan.
Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin.
Menyusuri langit putih biru jingga
dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala.

“Sekali ini aku tak mau diganggu.
Waktu seluruhnya untuk kesendirianku.”

Senja semakin senja.
Jarinya meraba kerut di pelupuk mata.
Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap
yang ingin diulur-ulur terus
namun toh luput juga.
Karena itu ia ingin mengatakan:
“Mata, kau bukan lagi bulan binal
yang menyimpan birahi dan misteri.”

Ia pejamkan matanya sedetik
dan cukuplah ia mengerti
bahwa gairah dan gelora
harus ia serahkan kepada usia.

Toh ia ingin tegar bertahan
dari ancaman memori dan melankoli.
Ia seorang pemberani
di tengah kecamuk sepi.

Angin itu sayup.
Gerimis itu lembut.
Ia memandang dan dipandang
wajah di balik kaca.
Ia dijaring dan menjaring
dunia di seberang sana.
Hatinya tertawan di simpang jalan
menuju fantasi atau realita.

Mengapa harus menyesal?
Mengapa takut tak kekal?
Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal?
Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar
yang pura-pura tak saling mengenal.

“Aku cantik.
Aku ingin tetap mempesona.
Bahkan jika ia yang di dalam cermin
merasa tua dan sia-sia.”

Yang di dalam kaca tersenyum simpul
dan menunduk malu
melihat wajah yang diobrak-abrik tata-warna.
Alisnya ia tebalkan dengan impian.
Rambutnya ia hitamkan dengan kenangan.
Dan ia ingin mengatakan:
“Rambut, kau bukan lagi padang rumput
yang dikagumi para pemburu.”

Kini ia sampai di negeri yang paling ia kangeni.
“Aku mau singgah di rumah yang terang benderang.
Yang dindingnya adalah kaki langit.
Yang terpencil terkucil di seberang ingatan.
Aku mau menengok bunga merah
yang menjulur liar
di sudut kamar.”

Ada saatnya ia was-was
kalau yang di dalam cermin memalingkan muka
karena bosan, karena tak betah lagi berlama-lama
menjadi bayangannya
lalu melengos ke arah tiada.

Lagu itu lirih.
Suara itu letih.
Di ujung kecantikan jarum jam
mulai mengukur irama jantungnya.

“Aku minta sedikit waktu lagi
buat tamasya ke dalam cemas.
Malam sudah hendak menjemputku
di depan pintu.”

Keningnya ia rapatkan pada kaca.
Pandangnya ia lekatkan pada cahaya.
Ia menatap. Ia melihat pada bola matanya
segerombolan pemburu beriringan pulang
membawa bangkai singa.

Senja semakin senja.
Kupu-kupu putih hinggap di pucuk payudara.
Tangannya meremas kenyal yang surut
dari sintal dada.
Dan ia ingin mengatakan:
“Dada, kau bukan lagi pegunungan indah
yang dijelajahi para pendaki.”

Ia mulai tabah kini
justru di saat cermin hendak merebut
dan mengurung tubuhnya.
“Serahkan. Kau akan kurangkum,
kukuasai seluruhnya.”

Ia ingin masih cantik
di saat langit di dalam cermin berangsur luruh.
Hatinya semakin dekat
kepada yang jauh.

1995
"Puisi: Di Salon Kecantikan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di Salon Kecantikan
Karya: Joko Pinurbo
Telepon Genggam

Di pesta pernikahan temannya
ia berkenalan dengan perempuan
yang kebetulan menghampirinya.
Mata mengincar mata, merangkum ruang.
Rasanya kita pernah bertemu. Dimana ya? Kapan ya?
Mata: kristal waktu yang tembus pandang.

Di tengah hingar mereka berjabat tangan,
berdebar-debar, bertukar nama dan nomor,
menyimpannya ke telepon genggam, lalu saling janji:
Nanti kontak saya ya. Sungguh lho. Awas kalau tidak.

Pulang dari pesta, ia mulai memperhatikan
tanda-tanda sakit jiwa. Jas yang seharusnya dilepas
malah dirapikan. Celana yang seharusnya dicopot
malah dikencangkan. Ingin ke kamar tidur,
tahu-tahu sudah di kamar mandi.
Mau bilang jauh di mata, eh keliru dekat di hati.

Masih terngiang denting gelas, lenting piano
dan lengking lagu di pesta itu. Semuanya
tinggal gemerincing rindu yang perlahan tapi pasti
meleburkan diri ke dalam telepon genggamnya,
menjadi sistem sepi yang tak akan habis diurainya.

Mondar-mandir saja di dalam rumah,
bolak-balik antara toilet dan ruang tamu,
menunggu kabar dari seberang, sambil tetap
digenggamnya benda mungil yang sangat disayang:
surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.

Dipencetnya terus sebuah nomor dan yang muncul
hanya tulalit yang membuat sakitnya
makin berdenyit. Sesekali tersambung juga,
namun setiap ia bilang halo jawabnya selalu
halo halo bandung. Ia pukulkan telepon genggamnya
ke kepalanya, lalu diciumnya.

Kabar dari seberang tak kunjung datang,
ia pergi saja ke ranjang: tidur barangkali akan
membuatnya sedikit tenang. Ia terbaring terlentang,
masih dengan kaos kaki dan jas yang dipakainya
ke pesta, dan telepon genggam tak pernah lepas
dari cengkeram. Telepon genggam:
surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.

Akhirnya terdengar juga bunyi panggilan.
Ia berdebar membayangkan perempuan itu
mengucap salam: Tidurlah, sayang, sudah malam.
Kau tak akan pernah kutinggalkan. Ternyata cuma
cemooh dari seseorang yang tak ia kenal:
Gile, tidur aja pake jas segala. Emang mau mati?

Berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan
dan tak pernah ada balasan. Hanya sekali
ia terima pesan, itu pun cuma iseng:
Selamat, Anda mendapat hadiah undian
mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda
untuk dicocokkan dengan kodoknya.

Antara tertidur dan terjaga, antara harap
dan putus asa, telepon genggamnya tiba-tiba
berbunyi nyaring. Ia tempelkan benda ajaib itu
ke telinganya dan ia dengar suara burung berkicau
tak henti-hentinya. Suara burung yang dulu
sering ia dengar dari rerimbunan pohon sawo
di halaman rumahnya, rumah bapak-ibunya.

Di luar hujan telah turun. Terdengar suara
peronda meninggalkan gardu. Ia ingin tidur saja
karena merasa tak ada lagi yang mesti ditunggu.
Ketika untuk terakhir kali ia coba menghubungi
nomor perempuan itu, ia terkesiap takjub melihat
layar telepon genggamnya memancarkan
gambar gerimis mengguyur senja.

Kalau harus gila, gila sajalah. Ia ingin pulas
dalam mimpi yang ia tahu tak pernah pasti.
Emangnya gue pikirin? Ia pura-pura tak acuh,
padahal sangat butuh. Ia betulkan jasnya,
genggam erat surga kecilnya, lalu terpejam,
terlunta-lunta: tubuh rapuh tak berdaya
yang ingin tetap tampak perkasa.

Ketika ia merasa bahwa tidur pun tak bisa lagi
menolongnya, telepon genggamnya tiba-tiba
memanggil. Ia dengar suara anak kecil menangis
tak putus-putusnya. Nyaring, lengking,
lebih lengking dari hening. Namun ia terpejam saja,
terpejam sebisanya, sementara telepon genggamnya
meronta-ronta dalam cengkeraman tangannya.

Apa yang sedang ia bayangkan? Mungkin ia melihat
seorang anak lelaki kecil pulang dari main
layang-layang di padang lapang dan mendapatkan
rumahnya sudah kosong dan lengang.
Hanya terdengar suara burung berkicau bersahutan
di rerindang ranting dan dahan. Hanya ada
seorang anak perempuan kecil, dengan raut rindu
dan binar bisu, sedang risau menunggu.

Seperti saudara kembar yang ingin memeluknya
dalam haru, mengajaknya bermain di bawah
pohon sawo: pohon hayat yang tak terlihat waktu.

2002/2003
"Puisi: Telepon Genggam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Telepon Genggam
Karya: Joko Pinurbo
Kapan Lagi

Kapan lagi kau bisa duduk manis di bawah
pohon cemara, mendengarkan beberapa ekor puisi
berkicau di ranting-rantingnya, membiarkan
bulan mungil jatuh dan memantul-mantul
di atas kepalamu, meredakan gemuruh tubuhmu.

Hidup yang longgar ini kadang terasa sumpek juga.
Baju yang sebelumnya waras-waras saja
mendadak terasa sesak di bagian ketiak.
Celana yang sampai kemarin nyaman-nyaman saja
tiba-tiba terasa melintir di bagian paha.
Tadi malam kau pulang dari salon dengan gembira,
sekarang kau malu dengan potongan rambutmu.

Seharian kau gelisah melulu, ingin mengganti ini
mengganti itu, sementara daftar janji yang ingin
kau penuhi bertambah panjang saja. Janji mencabuti
rumput di makam nenek. Janji membelikan ayah
selembar sarung sutera. Janji minta maaf
kepada pohon mangga yang sering kau curi buahnya.
Janji tidak marah dan mengucapkan anjing
kepada pendengki yang memanggilmu asu.
Janji menolong teman yang sedang sedih dan lesu.
Janji berterima kasih kepada tukang sampahmu.

Duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak
akan jadi batu nisanmu. Duduklah sambil
membaca Pramoedya: "Hidup sungguh sangat
sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya."

2016
"Puisi: Kapan Lagi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kapan Lagi
Karya: Joko Pinurbo
Sajak Balsem untuk Gus Mus

Akhir-akhir ini banyak
orang gila baru berkeliaran, Gus.
Orang-orang yang hidupnya
terlalu kenceng dan serius.
Seperti bocah tua yang fakir cinta.

Saban hari giat sembahyang.
Habis sembahyang terus mencaci.
Habis mencaci sembahyang lagi.
Habis sembahyang ngajak kelahi.

Dikit-dikit marah dan ngambek.
Dikit-dikit senggol bacok.
Hati kagak ada rendahnya.
Kepala kagak ada ademnya.
Menang umuk, kalah ngamuk.

Apa maunya? Maunya apa?
Dikasih permen minta es krim.
Dikasih es krim minta es teler.
Dikasih es teler minta teler.

Kita sih hepi-hepi saja, Gus:
ngeteh dan ngebul di beranda
bersama Khong Guan isi rengginang,
menyimak burung-burung
bermain puisi di dahan-dahan,
menyaksikan matahari
koprol di ujung petang.

Bahagia adalah memasuki hatimu
yang lapang dan sederhana,
hati yang seluas cakrawala.

2016
"Puisi: Sajak Balsem untuk Gus Mus (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sajak Balsem untuk Gus Mus
Karya: Joko Pinurbo