loading...

Malin Kundang
(: GM)

Sejak semalam tak henti-hentinya aku batuk
padahal harus ke darat hari ini
untuk memenuhi kutuk itu.
Dari balik tabir katarak mataku
kusaksikan pinggir laut, sangat tenang –
kubayangkan orang-orang itu berdesak-desak
menungguku. Mereka berteriak-teriak,
“Jangan ke mari! Jangan ke mari!
Berangkatlah lagi, kau bukan milik kami!”

Di sela-sela batukku kubayangkan
Ibu tua itu berjalan betelekan tongkat
menjemputku. “Aku merindukanmu, Malin.”
Tapi aku toh harus dikutuknya. Sabda
dikirim dari Sana, sama sekali tanpa suara –
namun mungkin saja menghindar ketika aku
memutuskan untuk dengan ikhlas menerimanya.

Kubayangkan laut mendidih kalau nanti kapal
berlayar kembali, tapi seperti dari dunia lain
Ibu tua itu menyapaku,
“Aku menunggumu, Malin. Seperti kapalmu,
tanah ini milikmu, juga orang-orang ini,
juga panen yang gagal, juga hutan gundul,
juga kenangan yang takkan terhapus.
Mendaratlah, mereka tidak akan pernah
memahami bahasa kita.”

Batukku tak juga reda sejak semalam
dan mataku yang kabur membayangkan
begitu banyak orang dan seorang Ibu tua
menunggu kapal itu. “Aku, si Malin,
datang kembali bersama Sabda,” teriakku.

Ketika kujejakkan kaki di pinggir pantai itu
tak kutemui seorang pun. Sama sekali.
Juga bakau. Juga Ibu tua itu.
Hanya beberapa kaleng bekas minuman,
plastik pembungkus roti, koran-koran bekas,
dan sisa-sisa istana pasir yang dibangun anak-anak.
Juga jejak-jejak ban bis. Mungkin ini hari libur.
Mungkin mereka telah menungguku sejak pagi
sambil makan, minum, dan bernyanyi
lalu pulang menjelang senja hari.

Dari balik mataku yang kabur, di antara batuk
yang tak juga reda sejak pagi,
kusaksikan diriku terbungkuk-bungkuk
mencari bekas jejak tongkat Ibu tua itu di pasir
dalam cahaya senja. “Kau harus kembali ke laut,
cepat!” seru orang-orang kapal itu.
“Kita toh harus diterjang badai
agar bisa sepenuhnya terlibat
dalam bahasa itu.”


"Puisi: Malin Kundang (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Malin Kundang
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top