loading...

Sedekah

Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan 
sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah. 
Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan, 
sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah.

“Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,” 
cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.” 
Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.” 

Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci 
pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci 
dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata.
Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya. 

“Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli 
tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,” 
ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil
Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato.

Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas 
dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah. 
Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik 
oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan 
kepada entah siapa yang pantas menerimanya.

2003
"Puisi: Sedekah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sedekah
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top