Telepon Genggam

Di pesta pernikahan temannya
ia berkenalan dengan perempuan
yang kebetulan menghampirinya.
Mata mengincar mata, merangkum ruang.
Rasanya kita pernah bertemu. Dimana ya? Kapan ya?
Mata: kristal waktu yang tembus pandang.

Di tengah hingar mereka berjabat tangan,
berdebar-debar, bertukar nama dan nomor,
menyimpannya ke telepon genggam, lalu saling janji:
Nanti kontak saya ya. Sungguh lho. Awas kalau tidak.

Pulang dari pesta, ia mulai memperhatikan
tanda-tanda sakit jiwa. Jas yang seharusnya dilepas
malah dirapikan. Celana yang seharusnya dicopot
malah dikencangkan. Ingin ke kamar tidur,
tahu-tahu sudah di kamar mandi.
Mau bilang jauh di mata, eh keliru dekat di hati.

Masih terngiang denting gelas, lenting piano
dan lengking lagu di pesta itu. Semuanya
tinggal gemerincing rindu yang perlahan tapi pasti
meleburkan diri ke dalam telepon genggamnya,
menjadi sistem sepi yang tak akan habis diurainya.

Mondar-mandir saja di dalam rumah,
bolak-balik antara toilet dan ruang tamu,
menunggu kabar dari seberang, sambil tetap
digenggamnya benda mungil yang sangat disayang:
surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.

Dipencetnya terus sebuah nomor dan yang muncul
hanya tulalit yang membuat sakitnya
makin berdenyit. Sesekali tersambung juga,
namun setiap ia bilang halo jawabnya selalu
halo halo bandung. Ia pukulkan telepon genggamnya
ke kepalanya, lalu diciumnya.

Kabar dari seberang tak kunjung datang,
ia pergi saja ke ranjang: tidur barangkali akan
membuatnya sedikit tenang. Ia terbaring terlentang,
masih dengan kaos kaki dan jas yang dipakainya
ke pesta, dan telepon genggam tak pernah lepas
dari cengkeram. Telepon genggam:
surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.

Akhirnya terdengar juga bunyi panggilan.
Ia berdebar membayangkan perempuan itu
mengucap salam: Tidurlah, sayang, sudah malam.
Kau tak akan pernah kutinggalkan. Ternyata cuma
cemooh dari seseorang yang tak ia kenal:
Gile, tidur aja pake jas segala. Emang mau mati?

Berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan
dan tak pernah ada balasan. Hanya sekali
ia terima pesan, itu pun cuma iseng:
Selamat, Anda mendapat hadiah undian
mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda
untuk dicocokkan dengan kodoknya.

Antara tertidur dan terjaga, antara harap
dan putus asa, telepon genggamnya tiba-tiba
berbunyi nyaring. Ia tempelkan benda ajaib itu
ke telinganya dan ia dengar suara burung berkicau
tak henti-hentinya. Suara burung yang dulu
sering ia dengar dari rerimbunan pohon sawo
di halaman rumahnya, rumah bapak-ibunya.

Di luar hujan telah turun. Terdengar suara
peronda meninggalkan gardu. Ia ingin tidur saja
karena merasa tak ada lagi yang mesti ditunggu.
Ketika untuk terakhir kali ia coba menghubungi
nomor perempuan itu, ia terkesiap takjub melihat
layar telepon genggamnya memancarkan
gambar gerimis mengguyur senja.

Kalau harus gila, gila sajalah. Ia ingin pulas
dalam mimpi yang ia tahu tak pernah pasti.
Emangnya gue pikirin? Ia pura-pura tak acuh,
padahal sangat butuh. Ia betulkan jasnya,
genggam erat surga kecilnya, lalu terpejam,
terlunta-lunta: tubuh rapuh tak berdaya
yang ingin tetap tampak perkasa.

Ketika ia merasa bahwa tidur pun tak bisa lagi
menolongnya, telepon genggamnya tiba-tiba
memanggil. Ia dengar suara anak kecil menangis
tak putus-putusnya. Nyaring, lengking,
lebih lengking dari hening. Namun ia terpejam saja,
terpejam sebisanya, sementara telepon genggamnya
meronta-ronta dalam cengkeraman tangannya.

Apa yang sedang ia bayangkan? Mungkin ia melihat
seorang anak lelaki kecil pulang dari main
layang-layang di padang lapang dan mendapatkan
rumahnya sudah kosong dan lengang.
Hanya terdengar suara burung berkicau bersahutan
di rerindang ranting dan dahan. Hanya ada
seorang anak perempuan kecil, dengan raut rindu
dan binar bisu, sedang risau menunggu.

Seperti saudara kembar yang ingin memeluknya
dalam haru, mengajaknya bermain di bawah
pohon sawo: pohon hayat yang tak terlihat waktu.

2002/2003
"Puisi: Telepon Genggam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Telepon Genggam
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top