April 2003
Penggaris Desember

Desember adalah penggaris yang lurus, lurus sekali, dan putus dalam kelurusannya. Putus yang tersembunyi dalam patahannya sendiri, putus yang melihat kesunyian dari patahannya sendiri.

Dan angin, dan yang mengerang di bawah penggaris, dan berkata, dan besok – Januari – Januari – akan datang melalui jalur yang lalu. Jalur dengan bau rempah-rempah, gula, kopi, tembakau. Tembakau yang membuat orang menangis hingga selat Malaka. Ingatlah kapal-kapal tanpa penggaris, ingatlah derap kereta kuda yang mengukur kesedihanmu. Tentang pernyataan Desember yang lurus sekali dan putus dalam kelurusannya. Dan angin. Angin yang menyulam waktu dari keretakannya.

Kenanglah angin di atas penggaris dan angin di bawah penggaris. Dan mereka yang menyulam keretakan dari putus ke putus. Jiwa yang berubah ketika waktu tidak lagi mengikuti gerak: semua yang kau lempar tetap berada dalam tanganmu. Putus. Kenanglah di atas penggaris. Semua yang kau lihat tetap berada dalam matamu. Putus. Kenanglah di bawah penggaris. Semua yang kau katakan membuat lidahmu seperti Desember yang melompat ke Januari. Kenanglah potongan-potongan Desember yang mengambil dirinya sendiri di bawah penggaris di atas penggaris. Melepaskan diri dari semua yang kau maknakan di seberang hari ini.

Desember, Desember, penggaris yang kesunyian dalam kesunyian. Dia yang mengambil asuransi kebakaran, mengambil ekonomi dari asuransi kebakaran, mengambil penggaris yang mengukur api dari lidahmu ke korek api – dan ke korek api lainnya lagi. Ekonomi asuransi kebakaran yang membuat kembang api akhir tahun di atas penggaris. Dia yang lurus dan yang putus. Dia yang mengukur semua patahan. Dia yang memandang Januari, seperti penggaris yang mengukur suara jantungmu.

Dia yang bukan sendiri, ketika melihat, ketika melihat penggaris membuat ladang-ladang bintang di seberang hari ini.


"Afrizal Malna"
Puisi: Penggaris Desember
Karya: Afrizal Malna
Lorong Gelap dalam Bahasa

Si maut itu sudah datang membuat kamar dalam perutku. Ia membeli lemari baru, tempat tidur baru, meja dan lampu kamar. Ia juga memasang sebuah cermin. Si maut itu tidak pernah keluar dari kamarku. Setiap malam ia menyetel Radio dan TV. Koran pagiku selalu diambilnya. Si maut itu, membuatku harus menggotong tubuhku sendiri untuk berdiri. Lemari goyah menahan berat tubuhku. Kamar seperti akan tenggelam ke dalam pagar-pagar jiwa. Si maut itu mengatakan, semua yang aku rasakan bukan milikku.

Aku bertengkar dengannya. Ia telah mengambil semua yang aku rindukan, semua mimpi-mimpiku. Si maut itu telah membuat kamar tidurku seperti sebuah geraja yang rusak. Seluruh penghuninya telah pergi. Lonceng berdentang seperti menggemakan lorong gelap dalam bahasa. Dan Si maut itu membuat mulutku seperti peti besi. Kata-kata yang tak pernah lagi menemui anak-anak kucing bermain. Bulunya halus dan lembut, tubuhnya gugup menghadapi setiap gerak dari dunia luar. Ibunya datang, memanggilnya dengan suara yang datang dari lorong kematian dan kelahiran, menggigit lehernya, dan membawanya ke dalam sebuah kardus.

Si maut itu, api dari kaki-kaki bahasa.

"Afrizal Malna"
Puisi: Lorong Gelap dalam Bahasa
Karya: Afrizal Malna
Fotokopi Orang Ramai

Tak ada lagi yang merasa perlu meniru jadi hujan, 
kalau tak siapa pun perlu berbeda. Semua yang dilihat 
telah mengenakan mantel, payung, dan sepatu 
berlumpur. Segala yang besar telah tumbuh, meniadakan 
arti pada hujan yang turun.

Selalu seperti itu peristiwa berlalu melampaui saya, 
seperti menanam batu di depan pintu. Saya antar diri 
sendiri ke situ, di antara orang-orang ramai bergerak, 
mengisi dekor-dekor kota yang bukan miliknya. Melihat 
hari seperti etalase menyimpan lenganmu.

Setiap saat saya harus meyakini kembali di situ, setiap 
benda yang bergerak di sekitar saya: Meraba dinding, 
memukuli tiang listrik, dan mendengar dentang jam 
hanya untuk tahu: Di situ orang datang menuju dirinya 
sendiri, seperti menuju ke sebuah daerah yang telah 
lampau.

Saya orang ramai yang ditulis oleh peristiwa di situ, 
telah jadi bahasa yang menafsirkan dirinya kembali, 
ketika jalan raya menjemputnya pergi.

1987
"Afrizal Malna"
Puisi: Fotokopi Orang Ramai
Karya: Afrizal Malna
Sembahyang Malam

Antara gelap dan terang
Cahaya gemerlap dan lampu yang lelap
Padamkan saja!
Kamar ini biarkan jadi malam seterusnya
Untuk pertemuan

Pertemuan antara Kau dan aku
Antara aku dan Kekasihku
Gelap!
Lelap!
Dalam sujud malam ini
Kita berpeluk dalam kerinduan
Tubuhku menggigil dan gemetaran

Kekasihku, tidurkah aku mimpikah aku?
Dekatlah selalu di sampingku
Mana tangan-Mu?
Tolong rabalah ini luka-lukaku
Dekatlah selalu dan dekaplah erat-erat aku!
Dalam gelap dalam syahdu malam begini
Cinta-Kasih-Mu menyala di ini hati.

1980
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sembahyang Malam
Karya: Acep Zamzam Noor
Laut Tengah

Laut tua, aku mabuk dengan suara
Yang mengalir dari mulutmu bila
Ia menganga seperti lonceng hijau dan
Berklenengan sangat jauh.

Kau tahu, kenangan segala musim panasku lama
Bermukim di dadamu
Di ranah tempat matahari mendidih pelan-pelan
Serangga mengabuti udara.

Juga kini
Aku membatu di sini
Pada kehadiranmu, laut
Tapi aku punah arti
Depan nafasmu berat dan dalam
Kau mula-mula berkata padaku
Nyeri kecil jantungku
Hanya sedenyut nadimu
Bahwa dalam di tubuhku
Singgah bahana segara
Biar dihanyutkannya semua daki
Seperti kau yang mengempasi pantai
Di antara ganggang dan bintang laut
Penghuni perlente dalam jurangmu.

2 September 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Laut Tengah
Karya: Taufiq Ismail
Ayam

‘Kukkuruyuuuk,” kokok ayam jantan pagi-pagi
“Tok-petok-petok-petok,” kotek ayam betina menyambutnya
“Cik-cik-cik-cik,” anak-anak ayam beramai-ramai berbunyi
Wah, ramai juga suara ternak ayam di rumah tetangga

Oom Dayat sudah sibuk memberi makan ternak ayamnya
Subuh-subuh dia bangun bersama anaknya Rudi dan Susi
Membagi dedak, jagung dan sayur makanan piaraannya
Tak lupa mineral dan vitamin sebagai pelengkap gizi

Ayam mereka putih bulunya dan rajin bertelur
Dalam setahun 200 butir telur hasil seekor ayam betinanya
Yang gemuk-gemuk bisa jadi ayam untuk dipotong
Lima ratus ekor semua jumlahnya

|“Makanannya mesti cukup dan lengkap”, kata Oom Dayat
“Dan awas-awas pada penyakit yang datang menyerang,
Jadi harus disediakan beberapa macam obat
Tapi yang terbaik ialah mencegahnya sebelum datang”

“Yaitu jaga kebersihan kandang dengan teliti
Dan jangan lupa tindakan yang sifatnya pencegahan
Ialah suntikan yang namanya vaksinasi
Baru bisa sempurna terjaga kesehatannya.”

“Kukkuruyuuuk, tok petok-petok, cik-cik-cik-cik,” ramai bunyinya
Lima ratus ayam yang sehat dan rajin bertelur
Rudi dan Dani gembira membantu bapa ibunya
Beternak ayam itu lumayan hasilnya.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Ayam
Karya: Taufiq Ismail
Katak

Katak hidup di sawah, kolam dan rawa-rawa
Dia tidak pandai berjalan biasa tapi melompat-lompat
Memang begitulah gerak badannya setiap harinya
Kaki belakangnya terlipat, siap melompat setiap saat

Pernahkah kamu melihat katak menangkap mangsanya?
Yaitu ketika dia menyambar nyamuk atau lalat?
Yaitu dengan lidahnya yang istimewa bentuknya
Senjata utamanya mencari rezeki yang lewat

Lidahnya itu berpangkal di depan mulutnya
Tidak seperti lidah kita yang berpangkal di dalam mulut kita
Lidah katak yang panjang itu bisa menjulur ke luar
Dan menangkap nyamuk lalu membawanya masuk ke mulut

Perhatikan ketika dia menelan makanannya
Waktu itu dia memejamkan matanya
Maksudnya agar mudah menelan makanannya itu
Karena matanya ikut mendorong masuk ke dalam

Kung, kung, bunyi katak di malam hari
Itulah suara dari katak yang jantan
Di bawah dagunya ada kantong udara yang penuh
Dari sanalah ke luar suara katak yang sering kita dengar itu.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Katak
Karya: Taufiq Ismail
Legasi

“Kalau dia hidup, seratus delapan puluh umurnya tahun ini,” ujarmu terpesona sepanjang hiruk-pikuk repetisi Dan di tanganmu berkibar secarik panji-panji Dikenal sangat lama warna bandana, slogan dan teriakan Karena di titik absis-ordinat 0 ini kau memerlukan sebuah peran Di bawah dan di atas tanah gerakan bersama kawan-kawan.

Kalau dia hidup, umurnya tahun ini seratus delapan puluh Dan yang kau baca itu naskahnya ditulis berdua ketika masih tiga puluh Sahibnya, dua tahun lebih muda, menafkahinya penuh Bergelora, egaliter, masuk akal, populis dan romantis Strategi selalu tersembunyi, front kebangsaan dan aliansi taktis Berikut selimut penyamaran dan penyangkalan lapis berlapis.

Lapis terluar dengan lapis berikut mana saling bersentuhan Molekul sel beratus bertautan dalam histologi anyaman Inilah fisiologi subversi dalam sejarah tak ada tandingan Di kawasan Ji-En-Pi tinggi dan keadilan benar ditegakkan Ideologi ini gulung karpet dan jadi bahan tertawaan Tapi di negeri represi dan di kuduk mendingin laras senapan Tempat orang sangat lapar dan sangat kenyang tak bersentuhan Tumpak bumi subur adegan pertentangan dan kebencian Sejarah mengulang siklusnya tanpa sekelingking rasa keraguan.

Kalau dia hidup, umurnya tahun ini seratus delapan puluh Dia heran sendiri di jagat ini idenya Serba Materi begitu berpengaruh Struktur boleh runtuh, tembok Berlin sepanjang itu bisa rubuh Tapi ideologi tak mati, tanpa tubuh kaki ke mana terus berlari Bila pengalaman dibagi teori tak pernah cocok diimplementasi Kau tetap tak mau menyeka itu garis bekas ingus, kanan dan kiri.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Legasi
Karya: Taufiq Ismail
Demokrasi

Pah pah kok papah orasi ngotot begitu amat sih 
dengarkan juga kami-kami ini dong 
mbok yo sing sabar ngono to pak 
tos sabaraha tahun nya bapa teu nyetir ha iko apak lah 
tigo puluah sambilan tahun indak manjalankan 
oto daddy daddy your democracy license expired in the fifties dad in the late fifties

Pah pah papah ambil ujian SIM lagi dong jangan malu-maluin keluarga sampeyan niki karepe menang dewe piye to pak aih urang mah ari demokrasi terpimpin demokrasi pancasila sarua keneh ha rombak majelis buek pamarintah samantaro apo rasian anarki ko daddy daddy are you making a complete guided democracy cycle to collective dictatorship or what

Pah pah ujian ambil SIM demokrasi yang sabar makan waktu luama yang kompromi dengar 100 pendapat partai orang coba bikin pemilihan umum lurus takda bunuh-bunuhan tanpa sandiwara penghitungan suara woalah piye to ngger ngger bakatmu nek slonong ngono yo angele ora jamak aih aih urang mah asararipuh pisan ha sutan baa ko ka ditaruihkan juo barang ko daddy daddy please listen

Pah pah ujian SIM demokrasi papah mau nyogok lagi?

PAH!

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Demokrasi
Karya: Taufiq Ismail
Seorang Kuli Tua di Setasiun Yokohama

Seorang kuli tua di setasiun Yokohama
Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
Berdiri agak terbungkuk di depan peron
Handuk kecil di lehernya

Beratus penumpang turun sepanjang ruangan
Menari dalam kilau jendela kereta
Ia pun menjamah koporku setelah menatapku
Agak lama

Hari itu musim panas di bulan Agustus
Udara sangat lembab dan angin tak bertiup
Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang
‘Aku dulu di Semarang’

Dengan hormat diucapkannya selamat jalan
Ia pun kembali ke setasiun berbata-bata
Berkaus dan bersepatu putih
Tiba-tiba wajahnya sangat tua

Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku
Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata
Terbunuh dalam pertempuran lima hari
Dua belas tahun yang lalu

Hari itu musim panas di bulan Agustus
Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
Seorang kuli di setasiun Yokohama
Tiba-tiba wajahnya sangat tua.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Seorang Kuli Tua di Setasiun Yokohama
Karya: Taufiq Ismail
Potret di Beranda

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar sulaman ibuku
Dibuatnya tatkala masih perawan

Di dapur rumah nenekku, nenekku renta
Tergolek drum tua pemasak kerupuk kulit
Di atasnya sepasang tanduk hitam berdebu
Kerbau bajak kesayangan kakekku

Kerupuk kulit telah mengirim ibuku
Sekolah ke kota, jadi guru
Padi, lobak dan kentang ditanam kakekku
Yang disulap subur dalam hidayat
Dijunjung dan dipikul ke pasar
Dalam dingin dataran tinggi
Karena ibuku yang mau jadi guru

Dan ibuku bertemu ayahku
Yang dikirim nenekku ke surau menyabit ilmu
Dengan ikan kolam, bawang dan wortel
Di ujung cangkul kakekku kukuh
Yang kembang dan berisi dalam rahmat
Terbungkuk-bungkuk dijunjung di hari pekan
Karena ayahku mau jadi guru

Maka lahirlah kami berenam
Dalam rahman
Dalam kesayangan
Dalam kesukaran

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar buatan ibuku
Disulamnya tatkala masih perawan.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Potret di Beranda
Karya: Taufiq Ismail
Sembilan Burung Camar Tuan Yusuf

Di Desa MACASSAR (kawasan Faure), Cape Town, Afrika Selatan, di atas sebuah bukit berdirilah sebuah bangunan kecil, luasnya 7 x 5 meter, dengan atap kubah hijau. Dari kejauhan dia tampak seperti masjid.

Di sinilah Syekh Maulana Yusuf atau Syekh Yusuf, atau Tuan Yusuf, dimakamkan. Tuan Yusuf mendarat di Afrika Selatan pada 2 April 1494, berlayar dengan kapal 'De Voetboog' dengan istri, putra-putri, alim ulama dan sejumlah pimpinan pasukannya sebanyak 48 orang. Tuan Yusuf dibuang karena dianggap mengganggu kestabilan penjajahan Belanda yang menjalankan perdagangan imperialistik VOC. Umur beliau waktu itu sudah 68 tahun.

Selepas konflik bersenjata sekitar 8 tahun dengan Belanda di Banten, Tuan Yusuf ditangkap secara khianat pada 1686. Dibawalah dia dengan kapal dari Cirebon ke Batavia dan ditahan di sana. Takut karena pengaruhnya yang sangat besar pada rakyat sebagai ulama besar, dia dibuang ke Ceylon. dari Ceylon dipindahkan pula ke Cape, yang dalam peta disebut sebagai Tanjung Harapan, tapi tentu lebih tepat disebut Tanjung Penindasan.

Tanjung itu adalah Tanjung Harapan bagi penjajah Portugis melalui penemunya Bartholomeus Dias (1487) yang menamainya Cabo da Boa Esperanza, yang didarati oleh nakhoda VOC Jan van Riebeek pada 6 April 1652. Bagi Tuan Yusuf, Tuan Guru dan pejuang-pejuang kemerdekaan yang menjalani pembuangan serta penduduk yang ditindas dipaksa bekerja ke benua sejauh itu, Tanjung itu patut diganti nama dan adalah Tanjung Penindasan.

Rombongan tahanan Tuan Yusuf diasingkan di Zandfliet, dekat False Bay atau Teluk Palsu. Isolasi ini tidak berhasil karena karisma Tuan Yusuf menyebar ke kampung-kampung lain. Secara rahasia mereka melaksanakan ibadah, dan walaupun VOC disamping mengeksploitir tenaga juga gencar melakukan Kristenisasi dikalangan pekerja-paksa itu, usaha itu tak pernah berhasil. Pada waktu itu agama Kristen identik dengan penindasan Belanda yang sangat mereka benci.

Sesudah lima tahun dalam tahanan, Tuan Yusuf wafat pada usia 73 tahun. Di samping ulama dan pejuang, Tuan Yusuf adalah seorang sufi dan pengarang. Sufinya dari kelompok Khalwatiyyah. Menurut Suleman Essop Dengor (tesis MA, Universitas Durban Westville, 1981), sejumlah 15 judul buku telah ditulis Tuan Yusuf dalam bahasa Arab, Bugis dan Melayu. Dia menguasai bahasa Arab karena mulai usia 18 tahun sampai usia matang.

Tuan Yusuf menuntut ilmu di Makkah. Diduga sebagian dari karya-karya itu ditulis di Desa Macassar, Afrika Selatan. Buku-buku itu masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Karena permintaan yang kuat dari Raja Goa Abdul Jalil, akhirnya Belanda menyetujui pemindahan jenazah Tuan Guru ke Goa. Penjemputan tiba 5 April 1705 dan keesokannya dilaksanakan penguburannya di Lakiung, Sulawesi Selatan.

Dalam setiap percakapan dengan orang Muslim Cape tentang Tuan Yusuf, mereka selalu bertanya apakah benar ada kubur Tuan Yusuf di Indonesia. Mereka tidak yakin bahwa jenazah tersebut sudah dipindahkan. Ziarah kubur wali-wali atau yang disebut Keramat yang berjumlah 7 buah, berfrekuensi tinggi di Cape Town. Demikianlah total isolasi itu. Saya pun menjelaskan berkali-kali.

Penghormatan pada Tuan Yusuf tidak saja dari kaum Muslimin Melayu, tapi juga dari kaum Muslimin seluruh Afrika Selatan. Dalam literatur tentang Islam di Afrika Selatan, Tuan Yusuf selalu disebut "yang pertama-tama menanamkan akar Islam di bagian benua ini."

Pertama saya membaca karangan orang Indonesia yang pernah ziarah ke kubur Tuan Yusuf ini adalah tulisan Renville Almatsir 19 tahun lalu dalam Intisari, 1974. Saya terkesan dan selalu ingat pada laporan Renville, dan sering bertanya pada diri sendiri bisakah saya pada suatu waktu berziarah ke Desa Macassar dekat Tanjung Penindasan itu.

Sekarang bayangkanlah saya memegang terali kubur pertama Tuan Yusuf, dan memandang bekas tumpuk bumi yang pernah menating jenazahnya. Kemudian lihatlah saya keluar bangunan itu, pergi ke-4 kuburan dengan nisan berjajar, tidak diberi nama tapi diukir dengan kaligrafi Asmaul Husna. Di situ berkubur 4 orang dari rombongan tahanan, mungkin ulama, mungkin juga komandan pasukan Tuan Yusuf, berasal dari Bugis atau Banten.

Kemudian bayangkanlah sebuah meriam bercat hitam, menunjuk ke cakrawala langit Afrika. Kemudian ikutilah saya mengingat-ingat jalan pertempuran yang dipimpin Tuan Yusuf bertahun-tahun di Banten.

Angin bertiup waktu itu, mungkin dari dua samudera yang bersalam-salaman di ujung tanjung, mungkin juga angin dari Kutub Selatan. Lihatlah dedaunan musim rontok pada pepohonan mengitari teluk, yang bermerahan berganti warna.

Kemudian bayangkanlah Tuan Yusuf, seorang sufi yang cendekia, zikir membungkus tubuhnya, karangan-karangan mengalir melalui kalam terbuat dari sembilu bambu dengan dawat berwarna hitam dan merah menjadi 15 buku dalam 3 bahasa, seorang lelaki yang cendekia dan berani.

Lantas fantasikan tulang-tulang seorang pemberani tersusun dalam peti berlayar 11.000 lebih kilometer lewat dua samudera, suara angin dari barat menampar-nampar tujuh layar, di pesisir Sulawesi buang jangkar, lalu orang-orang bertangisan menurunkan Tuan Yusuf penuh hormat ke dalam bumi tempat ibunya Aminah dahulu melahirkannya.

Wahai, sukar bagiku mereka-reka garis-garis wajahmu ya Syekh karena rupa tuan tidak direkam dalam fotografi hari ini, tidak juga dibuat lukisan pesanan pemerintah dalam potret cat akrilik lima warna. Namun kubayangkan sajalah kira-kira wajah seorang tua yang ikhlas, berjanggut tipis, bersuara dalam, bertubuh langsing dan fasih berbahasa Bugis, Arab dan Melayu.

Orang-orang Tanah Rendah itu takut pada Tuan. Dan sebenarnya, di lubuk hati Gubernur dan manajer-manajer maskapai dagang VOC yang gemar menyalakan meriam dan mesiu itu, mereka kagum pada Tuan. Tapi mereka mesti membuang Tuan sebelas ribu kilometer ke benua ini karena mereka tak mau tergaduh dalam pengumpulan uang emas disusun rapi dalam peti-peti terbuat dari kayu jati. Aku pernah baca kutipan catatan mereka. Apa format dan inti keikhlasan dan keberanianmu, ya Syekh?

Perhatikan kini kabut meluncur cepat dari Bukit Meja yang memandang dua samudera. Aku merasakan angin musim gugur bulan April berkata, kau merdeka hari ini karena tiga abad yang lalu Syekh Yusuf telah membabat hutan rotan dan menyibakkan ilalang berduri untukmu. Aku mendengar zikir mengalir lewat sembilan burung camar yang sayapnya seperti berombak bernyanyi.

Cape Town
26 April 1993
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sembilan Burung Camar Tuan Yusuf
Karya: Taufiq Ismail
Oda Bagi Seorang Supir Truk

Sebuah truk lama
Dengan supir bersahaja
Telah beruban dan agak bungkuk
Di atas setirnya tertidur
Di tepi jalan yang sepi
Di suatu senja musim ini

Dalam tidurnya ia bermimpi
Jalanan telah rata. Ditempuhnya
Dengan sebuah truk baru
Dengan klakson yang bisa berlagu
Dan di sepanjang jalanan
Beribu anak-anak demonstran
Tersenyum padanya, mengelu-elukan
“Hiduplah bapak supir yang tua
Yang dulu berjuang bersama kami
Selama demonstrasi!”

Di tepi sebuah jalan di ibukota
Ketika udara panas, di suatu senja
Seorang supir lusuh dengan truk yang tua
Duduk sendiri terkantuk-kantuk
Semakin letih, semakin bungkuk.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Oda Bagi Seorang Supir Truk
Karya: Taufiq Ismail