loading...

Penggaris Desember

Desember adalah penggaris yang lurus, lurus sekali, dan putus dalam kelurusannya. Putus yang tersembunyi dalam patahannya sendiri, putus yang melihat kesunyian dari patahannya sendiri.

Dan angin, dan yang mengerang di bawah penggaris, dan berkata, dan besok – Januari – Januari – akan datang melalui jalur yang lalu. Jalur dengan bau rempah-rempah, gula, kopi, tembakau. Tembakau yang membuat orang menangis hingga selat Malaka. Ingatlah kapal-kapal tanpa penggaris, ingatlah derap kereta kuda yang mengukur kesedihanmu. Tentang pernyataan Desember yang lurus sekali dan putus dalam kelurusannya. Dan angin. Angin yang menyulam waktu dari keretakannya.

Kenanglah angin di atas penggaris dan angin di bawah penggaris. Dan mereka yang menyulam keretakan dari putus ke putus. Jiwa yang berubah ketika waktu tidak lagi mengikuti gerak: semua yang kau lempar tetap berada dalam tanganmu. Putus. Kenanglah di atas penggaris. Semua yang kau lihat tetap berada dalam matamu. Putus. Kenanglah di bawah penggaris. Semua yang kau katakan membuat lidahmu seperti Desember yang melompat ke Januari. Kenanglah potongan-potongan Desember yang mengambil dirinya sendiri di bawah penggaris di atas penggaris. Melepaskan diri dari semua yang kau maknakan di seberang hari ini.

Desember, Desember, penggaris yang kesunyian dalam kesunyian. Dia yang mengambil asuransi kebakaran, mengambil ekonomi dari asuransi kebakaran, mengambil penggaris yang mengukur api dari lidahmu ke korek api – dan ke korek api lainnya lagi. Ekonomi asuransi kebakaran yang membuat kembang api akhir tahun di atas penggaris. Dia yang lurus dan yang putus. Dia yang mengukur semua patahan. Dia yang memandang Januari, seperti penggaris yang mengukur suara jantungmu.

Dia yang bukan sendiri, ketika melihat, ketika melihat penggaris membuat ladang-ladang bintang di seberang hari ini.


"Afrizal Malna"
Puisi: Penggaris Desember
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top