Mei 2003
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Kebangkitan

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda pertiwiku
Dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu
Tak mampu lagi menyebut namamu

Berabad-abad aku terlelap
Bagai laut kehilangan ombak
Atau burung-burung yang semula
Bebas di hutannya
Digiring ke sangkar-sangkar
Yang terkunci pintu-pintunya
Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya

Berikan suaramu, kemerdekaan
Darah dan degup jantungmu
Hanya kau yang kupilih
Di antara pahit-manisnya isi dunia

Orang asing itu berabad-abad
Memujamu di negerinya
Sementara di negeriku
Ia berikan belenggu-belenggu
Maka bangkitlah Sutomo
Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo
Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro
Bangkitlah semua dada yang terluka
“Bergenggam tanganlah dengan saudaramu
Eratkan genggaman itu atas namaku
Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.”

Suaramu sayup di udara
Membangunkanku
Dari mimpi siang yang celaka

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia
Berikan degup jantungmu
Otot-otot dan derap langkahmu
Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu
Atau mendobraknya atas namamu
Terlalu pengap udara yang tak bertiup
Dari rahimmu, kemerdekaan
Jantungku hampir tumpas
Karena racunnya

Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit-manisnya isi dunia!
(Matahari yang kita tunggu
Akankah bersinar juga
Di langit kita?)

Mei, 1985
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Nyanyian Kebangkitan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Killing Inside

Sampaikan salam terakhir
.
Seusapan - segelisiran
: debu. Penjamkan mata dan
eksekusi tuntas. Ditembak -
mati. Tak ada lagi cerita
atau apapun. Maaf...

2015
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Killing Inside
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lentera Jarak

Ingin membangun rinai jelang petang,
dengan pelangi pelan melengkungkan
tujuh warna perhiasan pertanian
tapi tidak cukup air dalam awan, tidak
cukup kapas buat ditenun jadi benang,
serta direntangkan sebagai gerimis
- membuncah pada telau dekat kiara -
cuma kabut yang menggumpal, menirai
gerumbul bambu, bubungan, serta pintu
yang berlentara sundukan jarak
mengerdip sampai pagi, sambil mendesis
bersama derak bambu di gerumbul ketika
angin lembah mengajaknya naik
tak cukup ada air, tak cukup ada awan di
langit kemilau. tak ada kiriman dari laut
di selatan - cuma suara yang bergemuruh.


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Lentera Jarak
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sel

Beri aku sebatang rokok, sekilas
nyala korek api yang mengoyak
kelam. Sesaat sebelum segala sekarat

- Telah lama malam menempatkan
bayangan pada tubuh, ketika nafas
dijauhi tatap, telinga meraba-raba,
dan nyeri mengisi pendar kunang-kunang.

Angin di luar, kenangan di luar,
angan-angan di luar. Jadi lintah
melekat pada pintu bagai karat,
bagai lumut menyebar aroma amis merindu.

Beri aku jendela, beri aku bulan penuh
dan suara kanak main injaki bayangan
beri aku siang, sengat kilau matahari
dan suara adzan sebelum lahat kalian timbun.

: Katakan jam berapa sekarang? Apa
masih ada antrian minyak tanah dan
beras? Apa bendera kita belum koyak terbalik?

2008
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Sel
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Siul

Bila tidak bersiul
barangkali kami
sudah lama mati. Kaku.

Karena anak terus makan
minta jajan, uang sekolah
dan satu saat minta kawin. Pesta.

Dan bila tidak belajar
bersiul: akan jadi apa
dengan berteriak dan berontak?

Seperti sebuah lagu, aku
akan bersiul sampai
tembok runtuh dan indonesia tumbuh

Dan bila bersiul
terus. Lama-lama
aku jadi prongos dan kurus.

2003
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Lagu Siul
Karya: Beni Setia