Juli 2003
Mimpi Kucing Jadi Hujan

Kucing itu bermimpi jadi hujan. Hujan yang bisa meloncat-loncat seperti katak. Agar dia tidak perlu mengeong bila melihat anjing. Mungkin cukup menjerit, atau melengking. Dia juga merasa tak perlu bergelung di balik keset, dan berjemur di genting kalau udara dingin. Ia hanya ingin melingkarkan ekornya dalam kabut. Ia hanya ingin hidungnya mengendus pohon. Ia hanya ingin kakinya bisa melompat ke atas meja, lalu tangannya menyentuh langit. Ia merasa, hujan itu eksotis dan sengit. Seperti Tuhan sedang memainkan benang jahit. Ia begitu terpesona pada impiannya. Maka ia menggelembungkan impiannya jadi kenyataan. Ia menjadi hujan sungguhan. Ia pun menderas sungguhan dan melompat-lompat sungguhan. Seperti sajak tentang seekor kucing.

2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiMimpi Kucing Jadi Hujan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Keluarga Bahagia Ketika Hujan di Hari Minggu

Hujan di pagi hari menyebalkan. Aku menarik selimut sampai 
dagu. Tanganku kelu di bawah bantal. Istri dan anak-anak 
sudah mandi.

Ke Mal, teriak mereka. Jendela tidak bohong. 
Kaca penuh embun. Selebihnya kabut. Aku menarik selimut 
sampai kepala. Tanganku berputar ke arah guling. Istri dan 
anak-anak sudah mandi.

Ke Mal, teriak mereka. Aku menarik 
selimut menutup kepalaku. Gelap dalam selimut. Anak istriku 
ikut masuk ke dalam selimut. Istriku meninju guling. Anak-
anak meninju mukaku. Aku tidak bohong. Kami keluarga 
bahagia.

2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKeluarga Bahagia Ketika Hujan di Hari Minggu
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||