November 2003
Berpalinglah Kiranya
(Tentang seorang pengemis yang terlalu)

Berpalinglah kiranya
mengapa tiada kunjung juga?
muka dengan parit-parit yang kelam
mata dan nyala neraka.

Larut malam hari mukanya
larut malam hari hatiku jadinya,
mengembang-ngembang juga rasa salah jiwa.

Dosa-dosa lalu-lalang merah-hitam
memejam-mejam mata-mata ini di dunia.

Berpalinglah kiranya
mengapa tiada kunjung juga?
Kaca-kaca gaib menghitam air kopi hitam.
Biji-biji mata di rongganya memantulkan dosa-dosa
seolah-olah dosa itu aku yang punya.

Padaku memang ada apa-apa. Cuma
tidak semua baginya, tidak juga 'kan menolongnya.
Pergi kiranya, pergi! Mampus atau musna;
Jahatlah itu minta dan terus minta.

Terasa seolah aku jadi punya dosa.
Bukan sanak, bukan saudara. Lepaslah kiranya ini siksa.

Aku selalu mau beri tak usah diminta
Tapi ia minta dan minta saja dan itu siksa.

Berpalinglah kiranya
mengapa tiada kunjung juga?
 
"Puisi: Berpalinglah Kiranya"
Puisi: Berpalinglah Kiranya
Karya: W.S. Rendra
Nenek yang Tersia Bersunyi Diri


Nenek yang tersia bersunyi diri
bertempat di paling kiri berpaling segala hati
sepi adalah kenalan yang lama
tanpa mengetuk menyampingi lewat jendela.

Dipatahi reranting kering bagai jemarinya
teman beromong malam di tungku berabu
langkahnya sepi bila nuruni jalan batu
mengemis dengan mata, semua datang dari pinta
segala yang tertadah berakhir palingkan muka
makian diperanakkan kejijikan.

Nenek yang tersia bersunyi diri
langkahnya sepi menuruni jalan batu.
Gadis cilik rambut berpita warna bunga
langkahnya dansa menaiki jalan batu.

Keduanya bertemu dengan hati dan mata:
- Selamat pagi, Nenek Tua!
Lalu segala jalanan teduh, rerumput adalah bunga:
- Ah, alangkah manisnya bocah itu
dikatakannya selamat pagi kepadaku!
 
 
"Puisi: Nenek yang Tersia Bersunyi Diri"
Puisi: Nenek yang Tersia Bersunyi Diri
Karya: W.S. Rendra
Spada


He, kakak yang berjalan ke timur itu
palingkan kepalamu bongkah batu
kerna dalam gelap yang menelanmu
aku bingung apa kau lakiku!

Ada khianat dan angkuh antara kita
tertahan ku ngejar, bisaku cuma nyapa.
Spada! Hai! Teriak angin di dada. Spada!
Bila kau lelakiku yang serong, berpalinglah kiranya.
 
 
"Puisi: Spada"
Puisi: Spada
Karya: W.S. Rendra
Lagu Duka


Ia datang tanpa menetuk lalu merangkulku
adapun ia yang licik bernama duka.
Ia bulan jingga neraka langit dadaku
adapun ia yang laknat bernama duka.

Ia keranda cendana dan bunga-bunga sutra ungu
adapun ia yang manis bernama duka.
Ia tinggal lelucon setelah ciuman panjang
adapun ia yang malang bernama duka. 

 
 
"Puisi: Lagu Duka"
Puisi: Lagu Duka
Karya: W.S. Rendra
Nyanyian Pengantin


-
Kami adalah pagi hari
Kami adalah cahaya yang pertama
Bumi keras. Batu keras.
Berantuk dengan mimpi.

+
Manisku, manisku!
Sepasang pengantinku!

-
Tidak semua orang punya rumah.
Tidak semua hari punya nasi.
Di atas bumi asing kami berkemah.
Kami kepal tangan. Kami unjuk gigi.

+
Manisku, manisku!
Sepasang pengantinku!

-
Benih telah ditabur. Tidak semua menjadi.
Tanah telah dicangkul. Dan rumput disiangi.
Malam berbulan. Siang bermentari.
Kemarau dan hujan datang berganti.
Dengan khidmat kami mencium wajah bumi.
Ialah kerajaan dan kuburan kami.
Dengan khidmat
kami mencium hidup dan mati kami.

+
Manisku, manisku!
Sepasang pengantinku!

-
Kehidupan emas dan kematian emas
adalah mahkota bagi pengantin.
Mahkota emas logam bercaya
ditempa di landasan, diuji di dalam api

+
Manisku, manisku!
Sepasang pengantinku!
 
 
"Puisi: Nyanyian Pengantin"
Puisi: Nyanyian Pengantin
Karya: W.S. Rendra