Januari 2004
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Orang Perahu


Trinh, kulihat bintang berlari, bercerai
menyeberang kontinen malam.
Tapi ingin selesai, laut lerai
dan kau katakan, "Ada burung hitam di buritan".

Trinh, kuingat pohon-pohon kota Saigon
dan nyanyian di ranting-rantingnya.
Kusebut namamu, terkubur di setiap sekon
laut lama akan tak mengingatnya.
 
1990
"Puisi: Lagu Orang Perahu (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Lagu Orang Perahu
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ya Rasulallah


Aku ingin seperti santri berbaju putih
yang tiba-tiba datang menghadapmu
duduk menyentuhkan kedua telapak tangannya di atas paha-pahamu muliamu
lalu aku akan bertanya ya rasulallah
tentang islamku
ya Rasulallah
tentang imanku
ya Rasulallah
tentang ihsanku.

Ya Rasulallah
mulut dan hatiku bersaksi
tiada tuhan selain Allah
dan engkau ya Rasul Utusan Allah
tapi kusembah juga diriku astaghfirullah
dan risalahmu hanya kubaca bagai sejarah
ya Rasulallah
setiap saat jasadku salat
setiap kali tubuhku bersimpuh
diriku jua yang kuingat.
Setiap saat kubaca salawat
setiap kali tak lupa kubaca salam
Assalamu'alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarakatuh
salam kepadamu wahai nabi juga rahmat dan berkat Allah
tapi tak pernah kusadari apakah di hadapanku
kau menjawab salamku
bahkan apakah aku menyalamimu
ya Rasulallah
ragaku berpuasa
dan jiwaku kulepas bagai kuda
ya Rasulallah
sekali-kali kubayar zakat dengan niat
dapat balasan kontan dan berlipat
ya rasulallah
aku pernah naik haji
sambil menaikkan gengsi
ya Rasulallah, sudah islamkah aku?

Ya Rasulallah
aku percaya Allah dan sifat-sifat-Nya
aku percaya malaikat
percaya kitab-kitab suci-Nya
percaya nabi-nabi utusan-Nya
aku percaya akherat
percaya qadha-kadar-Nya
seperti yang kucatat
dan kuhafal dari ustad
tapi aku tak tahu
seberapa besar itu mempengaruhi lakuku
ya Rasulallah, sudah imankah aku?

Ya Rasulallah
setiap kudengar panggilan
aku menghadap Allah
tapi apakah Ia menjumpaiku
sedang wajah dan hatiku tak menentu
ya Rasulallah, dapatkah aku berihsan?

Ya Rasulallah
kuingin menatap meski sekejab
wajahmu yang elok mengerlap
setelah sekian lama mataku hanya menangkap gelap.

Ya Rasulallah
kuingin mereguk senyummu yang segar
setelah dahaga di padang kehidupan hambar
hampir membuatku terkapar.

Ya Rasulallah
meski secercah, teteskan padaku
cahyamu
buat bekalku sekali lagi
menghampiri-Nya.
 
  
1414 H
"Puisi: Ya Rasulallah (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Ya Rasulallah
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Puisi Balsem dari Tunisia


Di Festival Puisi di negeri Abu Nuwas
Kepalaku pening setiap hari
Dicekoki puisi-puisi mabok puji
Padahal aku tidak membawa
Puisi-puisi balsemku yang manjur istimewa.

Untung seorang penyair Tunisia
Munsif Al-Muzghany namanya
Di samping beberapa kumpulan puisinya
Dia membawa puisi-puisi balsem juga rupanya
(Puisi balsem cukup universal juga ternyata!)
Satu di antaranya begini bunyinya:
Ada seekor kambing
Nyelonong masuk gedung parlemen
Dan mengembik
Maka tiba-tiba saja
Menggema di ruang terhormat itu
Paduan suara: setujuuu!

Peningku sejenak hilang
Ternyata puisi balsem Tunisia
Lumayan manjur juga.
 
  
27 November 1989
Baghdad (memang ditulis di Baghdad, tapi disebutkan di sini sambil bergaya)
"Puisi Balsem dari Tunisia (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi Balsem dari Tunisia
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Kamar

Dalam kamar ini
mulanya kami berdua
(aku dan istriku)
lalu lahirlah anak-anak
datang beruntun.

Kamar ini
siang dan malam
kami benahi
dengan mimpi
dengan hati.
  
1967
"Puisi: Sebuah Kamar (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Sebuah Kamar
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat Es Artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan Susu + Coca Cola.
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
- ketika kita bersepeda kuantar kau pulang -
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi... hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.


1947
"Puisi: Tuti Artic (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Tuti Artic
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Taman

Pada gerbang batu dan taman tak berpagar
kau menunggu, 5 menit, 7 menit, tinggal, gemetar
mengisi teka-teki silang, sampai seseorang datang
dari tikungan yang dingin,

melambai, "Hai, hai, kau tak akan lama,
tak akan lama di sini!"
Kau pun merunduk. Hanya kau simak kalimat
yang hilang bentuk: "Kenapa, Tuan, lupa?"

Saat itu kau dapatkan kata baru
sepatah. Bukan, bukan "amnesia"
Tapi kau ingin pergi juga, terburu, takut,
karena tak ada sinonim

untuk selamat tinggal, rupanya,
pada suara burung terbang
dari rumput.
Hanya ada sesuatu yang seperti kotak putih

yang tak akan terisi, seperti ruang
di antara angka arloji: 5 menit, 7 menit...
ketika huruf tumbuh panjang
tajam, seperti sembilu aur hutan. 


2004
"Puisi: Taman (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Taman
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Sebuah Pantai: Interlude

Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Yakni ketika pasang berakhir, dan aku
menggerutu, "masih tersisa harum lehermu"; dan kau tak
menyahutku.
Di pantai, tepi memang tinggal terumbu,
hijau (mungkin kelabu).
Angin amis. Dan
di laut susut itu, aku tahu,
tak ada lagi jejakmu.
Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari
sebuah dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang
semalam mungkin kubayangkan untukmu, tanpa tercatat,
meskipun pada pasir gelap.
Bukankah matahari telah bersalin dan
melahirkan kenyataan yang agak lain?
Dan sebuah jadwal lain?
Dan sebuah ranjang dan ruang rutin, yang
setia, seperti sebuah gambar keluarga
(di mana kita, berdua, tak pernah ada)?
Tidak aneh.
Tidak ada janji
pada pantai
yang kini tawar
tanpa ombak
(atau cinta yang bengal).
Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,
berberes dalam sebuah garis, dan berkata: "Mungkin tak ada
dosa, tapi ada yang percuma saja."
Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang
sentimentil. Dan itulah soalnya.
Di mana ada keluh ketika dari pohon itu
mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
ketika kini tinggal panas dan pasir yang
bersetubuh.
Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-
kalimat biasa berlarat-larat (setelah semacam
affair singkat), dan kita menelan ludah sembari
berkata: "Wah, apa daya."
Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.
Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil hanya ada satu
dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!
Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah
memberi tanda DILARANG NANGIS.
Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang
padaku.
Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin
Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.
Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut
pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana - apa pun maknanya.

1973
"Puisi: Pada Sebuah Pantai: Interlude (Karya Goenawan Mohamad)"
Pada Sebuah Pantai: Interlude
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jangan lagi Engkau Berdiri

Jangan lagi Engkau berdiri
di jendela-jendela sunyi dan kelam kali
Jangan lagi Engkau tak mengerti
sajak apakah yang tinggal sendiri

Sajak yang ada mendengar bumi, bumi yang letih.
Sajak yang ada mendengar hidup, hidup yang menagih.
Sajak yang ada melihat abad, abad yang bersih.
Bagaikan bulan yang timbul: memutih putih.
1963
"Puisi: Jangan lagi Engkau Berdiri (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Jangan lagi Engkau Berdiri
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cikini
Syahdan, di kedai kembang itu dibelinya ros putih,
dan dituliskannya di secarik kartun: 'Aku
mencintaimu, kekal, seperti kucintai Audrey Hepburn'

Tapi (di sini ia berhenti sebentar, batuk,
menutupkan kerah jaket, dan berkata pada diri
sendiri), kapan tahun tak akan memburuk?

Hidup mungkin sebuah bioskop, tapi tidak di jalan
ini. Cikini tetap terjepit juga di dekat pagi,
ketika gelap tak lagi penuh dari langit,

dan dari stasiun kuning, terang lampu tampak
tirus seperti lewat cadar, dan ambulans menggeletar,
mengirimkan isyarat.

Meski tak menyongsong apa-apa... Ia juga tak akan
berangkat. Ia dan Maut ingin berdua, di utara.
2004
"Puisi: Cikini (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Cikini
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Adegan


Kuingat bedeng beratap hitam
Kuingat bedeng beratap hitam di sebuah film Jerman:
Seorang perempuan tertinggal dalam gerbong

dengan lima patah kata dan lima luka bibir. Pada
close-up tampak ada darah seperti koma yang tertera

di alinea terakhir sebelum burung bangun sebelum
lambat laun jam menaburkan gentar

seperti tempias hujan dari pinus di halaman. Di
saat itu, mungkin kau tahu, doa fade out, jadi salju.


2004
"Puisi: Adegan (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Adegan
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cerita Untuk Mita
Di tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang
dan gambar seorang perempuan pirang.
Ia memperkenalkan: "Aku dari sebuah masa kecil.
Kau kukenal dalam kenangan."

Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan
tapi malu untuk ditertawakan.
"Oh, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?"
Ia tertawa: "Salah, aku merk manisan Amerika."
Catatan:
Mita adalah nama kecil dari putri Goenawan Mohammad. 
"Puisi: Cerita Untuk Mita (Karya Goenawan Mohamad)"
Cerita Untuk Mita
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Tangan
Inilah tangan seorang mahasiswa,
tingkat sarjana muda.
Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai,
yang terpegang onderok hostes berumbai,
Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,
tak ada jawaban.
Aku tendang pintu,
pintu terbuka.
Di balik pintu ada pintu.
Dan selalu.
ada tulisan jam bicara
yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana,
dan aku keluar mengembara.
Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan
muncul di depanku.
Tanganku aku sodorkan.
Nampak asing di antara tangan beribu.
Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,
tangan nelayan yang bergaram,
aku jabat dalam tanganku.
Tangan mereka penuh pergulatan.
Tangan-tangan yang menghasilkan.
Tanganku yang gamang
tidak memecahkan persoalan.
Tangan cukong,
tangan pejabat,
gemuk, luwes, dan sangat kuat.
Tanganku yang gamang dicurigai,
disikat.

Tanganku mengepal.
Ketika terbuka menjadi cakar.
Aku meraih ke arah delapan penjuru.
Di setiap meja kantor
bercokol tentara atau orang tua.
Di desa-desa
para petani hanya buruh tuan tanah.
Di pantai-pantai
para nelayan tidak punya kapal.
Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
Politik hanya mengabdi pada cuaca ...
Tanganku mengepal.
Tetapi tembok batu di depanku.
Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.
Aku berjalan mengembara
Aku akan menulis kata-kata kotor.
di meja rektor.


TIM, 3 Juli 1977
"Puisi: Sajak Tangan (Karya: W.S. Rendra)"
Sajak Tangan
Karya: W.S. Rendra