Februari 2004
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lukisan Mawar

Kuletakkan mawar pada vas dalam lukisan itu
namamu mengabur dalam warna tanah. Dalam dinding
kefanaan. jam-jam digugurkan kesunyian.

kuletakkan pada dinding-dinding yang berdebu
namaku pada akarnya, terbakar nafas purba
-dunia apa yang diucapkan warna-warna cat
yang gelisah. terlepas dari bingkainya.

kuletakkan mawar, dan kaucatatkan bait-bait
mengaduhmu. berhamburan pada warna jendela terbuka.

1987
"Puisi: Lukisan Mawar (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Lukisan Mawar
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Radio, Kumatikan
fragmen ke 23, kepada XG

Mungkin yang kaudengar tadi cuma kepak burung,
ada yang ingin lepas dari sangkar, ingin terbang pulang
ke rimba, pulang ke angkasa lepas, biarpun ia tahu
telah menunggu segerombolan predator dan pemburu.

Tak perlu berdebat lagi, kita bertukar saja tempat,
sangkar itu kosong, dan kita bikin ranjang untuk kantuk
yang tertunda.

Sebenarnya, apakah yang kita perebutkan?
hingga kuyup tubuh ini, hingga letih kita, oleh
keinginan-keinginan kosong.

Sesungguhnya kita hanya ingin berebut tempat
dalam sehalaman buku sejarah, yang mungkin
hanya akan kita tulis dan kita baca sendiri.

Jakarta, 1999
"Puisi: Sebuah Radio, Kumatikan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Sebuah Radio, Kumatikan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Hujan

Karena tiada kali direntang jembatan
Kubanjirkan sungai hujan
karena tak sebahasa mengeja makna
Kukejutkan musim bunga dengan pohon tumbang
karena keangkuhan jadi mahkota jiwa
Kulongsorkan bukit-bukit tanah pinggiran
tangis kata Aku hilang Keadilan
Aku sedang Ciptakan penyembuhan.

Seorang perempuan membaca dalam diam:
barangkali melati kembali putih
barangkali mawar kembali merah
harusnya suwung menjadi rumah
harusnya dengung menjadi prasetya sumpah
deras hujan membasuh senja April
deras dzikir membasuh jiwa.

Bogor
April, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Hujan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rerasan Pesisiran

Delapan windu angka jadi guguran bunga
ditebar angin tenggara pengunci Tanya
laut pun tak tanya akan ombaknya
ombak pun tak tanya akan deburnya
orang-orang pesisir diam-diam hitung musim
gumam tembang pesisiran
tak lagi cemasi kampung tepi laut
tempat angan perempuan tersangkut
karena rembulan dan mentari telan jabat cahaya
tak lagi cemasi pagi jelang upacara
karena cakrawala dan kening telah menyatu
seiring tembang syahdu.

Dalam jiwa hadir hari keramat
dalam sukma hadir hari bertobat
orang-orang dengar suara genta
tak lagi raung-raung tangis purba
tak lagi keluh kesah nafas terengah
semua telah di ujung langkah
semua telah di batas waktu
saatnya Sabdopalon dan Noyogenggong
hadir kembali menagih janji
seiring munculnya tanda-tanda alam
gunung-gunung meletus
alam murka banjir melanda
huru-hara di mana-mana
lalu teduh tenang
tanah air damai raya.

Cimanggis
September, 2004
"Puisi: Rerasan Pesisiran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Rerasan Pesisiran
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Gaduh

Berujar tak pada siapa
melepas malam menerka waktu
malam gaduh di kota-kota
kota gaduh di rumah-rumah
rumah gaduh di jiwa-jiwa
lalu terdengar suara tua
bicara tentang kesaksian akhir abad
terbayang tanah gersang berdarah di ujung belati
luka-luka memasir busuk di teluk-teluk

Jika penembang, tembangku gaduh
jika pendoa, doaku gaduh
jika perindu, rinduku gaduh
jika pemimpi, mimpiku gaduh
betap rindu hening yang bukan sepi
tak dikoyak raung mikrofon pagi
seseorang coba memaknai abad baru
lepas dari tafsir-tafsir sungsang
lepas dari hasrat-hasrat grangsang

Barangkali:
melati kembali putih bukan dalih
mawar kembali merah bukan darah
suwung jadi rumah dalih jadi sumpah
deras hujan basuh musim tak banjir
deras dzikir usap pikir tak pandi
deras dakur jaga syukur tak hancur
kalau saja tak lagi bahasa gaduh
berujar tak pada siapa.

Cimanggis
September, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Gaduh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Gaduh
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Lelaki

Lelaki penunggu Kali Wisa
lelaki selalu geliatkan nasib pantura
setahun sekali lupakan pengkhianatan kota
pernah tertikam pedang berkarat
saat rembulan berkalang.

Sementara lelaki Akar Rimang
lelaki serat kayu bentuk Adam
ditatah diukir sungsang cuaca
jiwa latu baker tubuh sendiri
jika musim kikis sisa habis tinggal gamang

Lelaki sederhana cemaskan bukit kapur
ngidung malam kirim doa leluhur
menatap rembulan separo
siapkan penolakan atas algojo
bukit kami adalah sisa segala sisa, keluhnya

Sementara lelaki cemaskan lading sawi
menuai kilat lidah belati
menatap matahari bulan Sembilan
serunya tertahan: kusiapkan bibit wijaya kesuma
setelah kucabut akar ilalang.


Cimanggis
September, 2004

Catatan:
latu (Jawa) = api
"Puisi: Membaca Bahasa Lelaki (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Lelaki
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Teluk Banten Masih Setia

Teluk Banten masih setia
kirim buih ombaknya
Tanjung Pontang masih menjaga siang
Tanjung Pujut masih jarring angin dan kabut
Pulau Panjang masih simpan tembang
seiring desir sapu ilalang
di tikungan peradaban.

Nyi Ageng Serang
semat sunting semangatnya
Nyi Rangga Sedasa
genggam santun kesetiaannya
para karuhun bingkai jaman dan kawasan
Allah, Allah, Allah
pada-Mu diri berpasrah.

Banten
Juli, 2004
"Puisi: Teluk Banten Masih Setia (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Teluk Banten Masih Setia
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan yang Tertinggal Buat Leo Kristi

Yang menyanyi hari ini:
dengan suara,
dengan mata,
dengan hati,
bukan tentang bulan pucat
dan cinta yang bisa bikin orang jadi sekarat.

Yang memekik hari ini:
ada api di matanya,
ada darah di hatinya,
ada peluh di kakinya,
di sini selaksa bunga rumput bergoyang
di sini topan sahabat setia nelayan
di sini angin penyambung kasih sayang
dia berkata!

Di sini selaksa derita adalah bunga
di sini angin dan topan adalah risik rebana
di sini yang waras dan yang saling edan cerita
aku berkata!

Mari saling sambut tangan
mari saling tatap mata
kunyah bersama derita-derita
belai bersama duka-duka.

Yogya, 1978
"Puisi: Catatan yang Tertinggal Buat Leo Kristi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan yang Tertinggal Buat Leo Kristi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Seorang Penyair

Awal sebuah perjalanan manakala pagi
membuka gelap bebukitan
dan doa siap dalam lantunan
awal sebuah pengertian manakala penyair
tak lagi bersajak tentang bulan
bulan telah lumat terkunyah fakir di pojok taman.

Akhirnya satulah nafas hutan nafas kota
akhirnya satulah desah alam desah sukma
dan berkabarkanlah langit kepada gagak yang melintas
tentang perjalanan panjang
pemimpin salon dan penyair jalanan
memburu bulan perlambang kebahagiaan sendiri
tanpa peduli isi mulut fakir di pojok taman
yang menyatu dalam liur dalam dengkur.

Sang sadar datang terlambat
esoknya orang dapati
sang pemimpin naik mimbar
memperbarui janji dan mengangkat panji-panji
sang penyair pingsan terkapar
tanpa janji tanpa panji-panji.

Jakarta, 1980
"Puisi: Sajak Seorang Penyair (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Seorang Penyair
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tuak Bali Tuak Kehidupan

Meleleh dari guci pecah
Putu, jangan sentuh itu
mari kita susul mereka yang menuju Pura.

Sekuntum kemboja putih enam kelopak
jatuh dalam tuak di tanganmu
putu, buka genggamanmu
berikan untuk kutuang
di wajah pucat.

: mari berpagut dalam kenangan
biarkan ia tumpah dalam tawa si bule di pantai kuta
sendiri kita menerobosi malam dari seribu pintu.

1981
"Puisi: Tuak Bali Tuak Kehidupan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tuak Bali Tuak Kehidupan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Elegi Jakarta

Langit kota tak sajikan
bintang malam ini
langit kota tak riapkan kabut
menguap dari kolam-kolam
ada tatap menusuk langit
menetes darah
menggenang kehitaman.

Di jalan-jalan 
di taman-taman
di atap-atap rumah
di sudut-sudut hati
di titik sunyi.

Diri jadi ciliwung
kehilangan langit berkaca
saat dering-dering jahanam
mengoyak siang mengoyak malam
mengoyak langit kota
mengoyak langit sukma
mengembang sisa lagu duka.

Jakarta
November, 1984
"Puisi: Elegi Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Elegi Jakarta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Seekor Katak Kala Bulan Agustus

Tuhan, Ruh segala makna kemerdekaan
jangan hujankan langit
sementara anak manusia
menghitung puncak-puncak karunia-Mu.

Tuhan, Ruh segala makna kedamaian
jangan rontokkan bumi hangat
tak peduli surat kolamku di hutan-hutan
lihat mataku yang besar
sebesar jiwaku yang sabar
jika pun hari lebih panjang dalam kering
karena anak manusia berpesta kelewat lama
matiku bukan apa-apa.

Seekor katak tengah berdialog dengan alam
di antara gemuruh suara penebangan hutan
langit buram turun dalam kolam
katak-katak pun bermunculan di otakku
berdialog sepanjang waktu.

Ditatapnya dunia lewat mataku
didengarnya tembang merdeka lewat telingaku
dibisikkan doa lewat mulutku
katak-katak berkembang biak dalam sukmaku
berdialog sepanjang waktu.

Jakarta
Agustus, 1986
"Puisi: Doa Seekor Katak Kala Bulan Agustus (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Seekor Katak Kala Bulan Agustus
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Perempuan Malam

Hujan petang menerpa jendela kamar
rumah bunga pinggir jalanan
jarum-jarum hujan berjatuhan tak terhingga
cerita ini masih berapa lama?
Selembar daun luruh lagi
setiap angin menerjang pohonnya
seorang lelaki mampir lagi
menyiramkan dosa tak berkesudahan.

Hujan petang menerpa ketabahan
malaikat telah terbang jauh ke sorga
tinggalkan anak bunda penuh luka
mana lagi melati-melati pernah kutanam
di kebun masa kanakku?
Romo, mungkin tercemar dari genggamanmu
ketika Tuan melintasi halaman gereja tua
Tuan pernah menerimanya dari tangan kecilku
sebelum ibu sempat memetik buat sebaran
meja riasnya yang selalu menggodaku
jadi pesolek kecil dan akhirnya penjaja malam

Hari-hari tak bertuan
Romo, khotbah Tuan kurindukan
ah, Tuan telah pangling tak mengenaliku
wajahku telah pucat dan tua dihisap beban dunia
aku si kecil yang telah berpaling dari padamu
dengarlah nyanyianku memanggilmu
di malam hujan yang tak kan kuperpanjang.

Jakarta
Februari, 1987
"Puisi: Nyanyian Perempuan Malam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Perempuan Malam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Elegi Indramayu

Dalam elegi tembangnya
pernah dibawa merantau bocah lanang nama Badri
luluh dalam satu sajak di Aula Rendra
pada satu hangat bulan Februari
ketika hidup jadi satu kesimpulan
bukan sepiring nasi putih
Elegi Indramayu kembali hadir pagi ini
dibawa merantau lelaki muda nama Tarwadi
sayang hasratnya hitam
walau demi cinta istri
dan mulut-mulut empat bocah
sementara umur belum lewat dua puluh lima
tentu lantaran kawin muda karena
cinta kelewat membawa
dan iman tak sekukuh menara
Indramayu citra perjuangan hidup
lewat keringat bocah Badri
pagi ini dirusak Tarwadi
sesalilah, tangisilah
jauhkan hasrat hitam dari perjalanan panjang
sementara anak-anak butuh kesetiaan
sementara Indramayu tak pernah memberi hukuman
anginnya masih semilirkan tetembangan.

Jakarta
November, 1990
"Puisi: Elegi Indramayu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Elegi Indramayu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bunga Mawar di Pucuk Senapan
(bagi perempuan Bosnia)

Hari-harinya tercecer antara
tebaran kelongsong peluru
tawa dan tangis hangus
oleh serbuk mesiu
yang sisa luka jahanam.

Yang indah kini sejarah
seni hidup porselin yang pecah
bunga mawar siapa dikirim
lewat pucuk senapan
seorang lelaki perang.

Barangkali lama lagi
bisa kutanam sendiri
mawar-mawar perdamaian
jika perang mulai reda
dan pagi mulai jingga.

Bogor
Nopember, 1992
"Puisi: Bunga Mawar di Pucuk Senapan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bunga Mawar di Pucuk Senapan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Angin Utara Bertiup Lembut
di Jalan Lurus Kotaku

Di jalan lurus kotaku
pohon-pohon berjajar ayu
mirip lukisan dalam buku
bagian dari masa kecilku.

Di jalan lurus kotaku
pohon-pohon tetap hijau
tempat hinggap burung berkicau
angin bertiup hilang risau.

Di jalan lurus kotaku
angin utara masih setia
mengipasi hari gersang
mengipasi mimpi panjang.

Jepara
Juni, 1995
"Puisi: Angin Utara Bertiup Lembut (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Angin Utara Bertiup Lembut
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Sang Perkasa

Bumi langit lembah dan bukit
sepanjang musim terus bersaksi
kehadiranmu sang perkasa
cahaya hidup mahkota jiwa
anak negeri simpan setia
meski sejarah penuh prahara
masih kuingat warna yang susah
siang dan malam menabur gundah
Juni mekar udara menggeletar
Kudengar suaramu dari arah Blitar
Anggun dan mawar.

Bapa, Bapa segala Bapa
kasihnya membalut segala luka
di sini aku terus berdoa.

Mengiring perjalanan kota tua
kudengar langkahmu menandai windu
menghitung angka-angka perjuangan
yang telah banyak bersimpangan
pilar-pilar pernah ditegakkan
masih berdiri bersaksi
sementara pilar lain tak sisakan
selahan buat prasasti
anak-anak pun kini perkasa
selalu menanyakanmu di mana Bapa
jawabku engkau tengah rampungkan tapa.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Sang Perkasa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Sang Perkasa
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Samarinda Seberapa Bara

Titik akhirnya jadi nyala
garis akhirnya jadi lidah api
mimpimu dihelanya
jadi alas jiwa temaha
engkau menap
engkau menghitung
engkau menanti
berapa lama yang hilang tumbuh kembali
bara hanguskan dada kembara
bara sisakan mimpi Samarinda
bara mengejek anak merdeka
orang-orang masih bisa ketawa
sementara asap telah melapis udara
barangkali dalam bencana
masih dikemas angka-angka
kiranya Mandau telah diganti
jadi kata bakar
dan semuanya jadi api
di seberang Mahakam engkau kelu.

Maret, 1998
"Puisi: Samarinda Seberapa Bara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Samarinda Seberapa Bara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Nopember di Jalan Imam Bonjol

Trotoar simpan debar
pohonan tua simpan getar
langit Jakarta simpan pijar
dalam seruan
dalam nyanyian
dalam kepal tangan
simpan segala tentang kehidupan.

Ketika gelegak jiwa
tak harus membaca nama
sementara di gedung anggun
berhala-berhala masih ada
siapa bisa kirim arus usung sampah janji
kepura-puraan dalam ronce melati.

Jika waktu tiba pada saat
orang-orang muda miliknya zaman
orang-orang muda di dadanya api
jika terlalu lama bersaksi-saksi
ada darah menetes ulang
di trotoar dan jalanan
darah yang tak pernah sia-sia.

November, 1998
"Puisi: Catatan Nopember di Jalan Imam Bonjol (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Nopember di Jalan Imam Bonjol
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Sebuah Teluk

I
Ombak barisan
menyapa siang
pantai Pacitan nunggu persembahan.

Ada yang selaras
ada yang terlepas
segala baur
dalam suara debur
di langit mentari temaram
di pantai hidup dilukiskan
anak manusia melabuh
debu jiwa raga
di alun ombak segara
mawar merah melati suci
persembahan ditengarai.

Ombak barisan
menyapa siang
bening di kalbu hening di awang-awang.

II
Matahari putih terang
menyiram laut dan kehidupan
anak manusia menyusur pantai
tinggalkan jejak di pasir
bayangannya memanjang
lidah ombak menyalam
mereka bertegur sapa
dalam bahasa jiwa

Aki nyai penunggu gisik ini
sempurnakan tembang pagiku
sebelum lepas dari ujung lidahku

Seekor capung laut dikirimnya
terbang di atas ombak
menuju barat
adakah diusungnya
mimpiku kian sarat
tentang perubahan nagari
segalanya tengah disiapkan
ubarampe ‘tuk nanti malam.

Pacitan,
April, 1999
"Puisi: Pada Sebuah Teluk (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Sebuah Teluk
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Amsal Gua

Kukidungkan desir kehidupan
mengapung di gelap gua
dalam tetes ritmis
antara stalagtit stalagmit
teduh jiwa teduh
gaduh sirna gaduh.

Simpan tembang masa silam
abadi dalam lengkungan
simpan doa purba
dalam aroma angsoka
di sini tiada siang tiada malam
di sini hadirku bayang-bayang.

Wanodya mulia
pernah meraga sebentuk mega
manakala rembulan empat belas
hari ini kusentuh batu semadi
dengan kidungku
sentuh gua nuranimu
siang menjelang sura
gua satukan sapa.

Gua Tabuhan, Pacitan
April, 1999
"Puisi: Amsal Gua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Amsal Gua
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menanti Janji Sang Kalasuba

Sang kalasuba kusapa
usunglah janji purba
tentang makna
tersirat dalam nuansa
kehadiranmu.

Kini jaman telah berganti
anak manusia menanti
serat kabut dihitungnya
butir embun ditampungnya
rembuan ditimangnya
matahari disalami
darah telah tumpah
di mana-mana sumpah serapah
tapi aku masih 'nembang
menanti janji sang.

O, prahara surutlah jadi nuansa
O, badai surutlah jadi angin derai
adalah janji sang kalasuba
daya bunga dalam rasa
hidup tanpa luka.

Bogor
Februari, 2000
"Puisi: Menanti Janji Sang Kalasuba (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menanti Janji Sang Kalasuba
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Episoda Musim

Pada suatu musim tak bertanda
seorang tua sisa peradaban
bercerita pada manusia pertama
yang lahir pada era 'golden nebula'
tentang sebuah episoda
negeri semut hitam
: ada untai merjan terburai
segala sulit diurai
bermula dari
yang lurus dibengkokkan
yang bengkok diluruskan
yang benar dihapuskan
yang hapus dibenarkan
lalu api dan darah
membuat musim.

Bogor
September, 2000
"Puisi: Episoda Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Episoda Musim
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yang Memanggil

I
Seorang prajurit tua 
memanggil setiap nama
orang-orang urban
orang-orang musiman
orang-orang mimbar
suarakan mimpi masa datang
bendera belum diturunkan
dan aku memanggil namamu
anak wayang 
anak lenong
anak jalanan
tembangkan irama perjalanan
dalam gambang kromong
dan dolanan
dalam gambuh
dan ketawangan.

II
Sepanjang subuh sampai menuju lohor
sepanjang lohor menuju magrib
siang diam-diam menuju malam
malam diam-diam menuju pagi.

Ombak-ombak kepulauan seribu
basahi pantai dan jiwamu
yang terus menghela beban
yang tak pernah henti berjalan

membiarkan angin 
berdesir di pesisir 
membiarkan panen ikan
di laut mimpi.

Bogor
September, 2000
"Puisi: Yang Memanggil (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Memanggil
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesan dari Tepi Gaduh

Kota gaduh sepanjang langkahmu darah
catatan bertebaran di ruang-ruang
mahkota hilang sudah
dari jiwamu yang terbelah
aku tak mampu menegur selain gelisah
manakala muncul bisikan itu:
jiwa harus tetap terjaga
demi kelestarian batin kita.

Aku terperangah di tengah-tengah
sementara engkau semakin pongah
dan aku menangisi ibu bumi
saat bisikan itu muncul lagi:
gusti telah menjaganya
dan manusia menikmatinya
demi kebetahan manusia
di Wadah Ciptaan-Nya.

Aku terdiam dalam kegaduhan
terus bersaksi atas kegaduhan.

Bogor
Mei, 2002
"Puisi: Pesan dari Tepi Gaduh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan dari Tepi Gaduh
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ritual Perang Api

Telah ditata garis batas segi tiga
ubarampe di tengahnya
pawing muda memasuki lapangan upacara
lengking mantera menguak udara
angin malam menyambutnya
api mulai dinyalakan.

Ibu kehidupan memulai langkah usung makna
pengawal setia menarikan geliat jiwa
dalam kibas kain warna biru
meningkah-tingkah tembang doa sang ibu:
andika yang menjaga dan merawat bumi
yang bersemayam di tempat ini
ijinkan anak manusia yang berkarya
jauhkan segala malapetaka
agar lestari raharja
karena kehendak Allah jua
anak manusia mulai berlarian di lingkaran
nyala api berpendaran
terdengar lengkingnya membelah malam:
hurah, ini rumah manusia bukannya ladang
tikus pemangsa harus dibuang
agar selamat rizki dan kehidupan
tikus-tikus bertahan
terjadi perang api
perilaku purba berulang lagi
antara hasrat-hasrat yang berkembang
ketika perang api selesai
tak pernah selesai jiwa sansai.


Lereng Merapi, 2003
"Puisi: Ritual Perang Api (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ritual Perang Api
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bahasa Enampuluh Purnama

I
Enampuluh purnama menghitung ruas waktu
orang-orang meraung terjirat kalabendu
dalam jiwa udara didihkan tuba
api padam kembali menyala
jalanan dan kampung porak poranda
bayang-bayang siapa mengusung cemas.

Enampuluh purnama menghitung detak jantung
api padam kembali mengoyak siang berdengung
orang-orang terjepit waktu yang meradang
di pohon-pohon mahoni tua jalan Simpang Raya
orang-orang bingung
siapa harus didukung.

Kalau saja Jakarta penuh taman bunga bakung
bukan bebaju di taman
yang simpan denyut derita urban
tentu seorang perempuan yang banyak kehilangan
tak harus mewakili suaramu
bicara tentang enampuluh purnama 
atau menulis aksara hilang makna.

II
Kota dendangkan suara-suara dari liang luka
para urban menabuh tifa-tifa tanpa kulitnya
mereka berebut sanjung gemerlap kota raya
harap murah hati pemberiannya
: sisa purnama.

Ada yang mengaku tak terharu
katanya seru
budaya dari pinggiran telah diterapkan
cinta sampah jadi gunungan.

Bahasa kehidupan jadi berubah
rasa kagum dan harapan jadi serapah
seseorang yang kehilangan anak kesayangan
hanya menangisi makna bahasa
enampuluh purnama.

Butir-butir bintang yang nyawa
serpih-serpih bulan yang mala.

Bogor
Oktober, 2003
"Puisi: Bahasa Enampuluh Purnama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bahasa Enampuluh Purnama
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menyimak Guruh November

Guruh dan angin saling sapa di udara
terhela-hela ingatanku coba temukan bayangnya
sempurna lagi kota tua itu mandi cahaya
gereja kecil di tenggara akan kembali
memanggil anak-anak yang pernah tumbuh di sana
dalam asuhan denting loncengnya
di dada di kepala tergambar janji-janji masa depan
sebelum orang-orang gemar berburu
padahal mereka bukan pemburu
kurenungi lembar yang hilang dari pesan pusaka
kurindui wistarian ungu bunga sepanjang telaga
dari puisi penuh makna pernah kuterima
: biar orang-orang belajar sendiri
untuk mengerti, anakku
bayang gaib Sang Romo lintasi beranda sunyi
guruh getarkan langit tinggi.

Bogor
November, 2003
"Puisi: Menyimak Guruh November (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Guruh November
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta

Glamournya menyebar liar
sampai ke kota tua
mengejek kampung utara
aku ternganga
ketika satu saat
harus mengetuk pintunya
untuk bermukim.

Glamournya memilih-milih
tak sampai pada jalan 'nuju rumahku
aku bukan sahabat
aku datang tanpa diundang
salah diri terbongkok udang
'nembang menatap awang-awang
Jakarta, bagaimana harus menyebutmu.

Rembulan di langitmu
terpotong puncak gedung
Matahari di langitmu
terpotong siluet benang
Impian di langitmu
membuatku jadi kepompong
akankah di sini lama aku.

Jakarta
Juni, 1975
"Puisi: Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam di Tepi Hutan

Kubaca kelap-kelip pelita
dari satu ke satu
Adalah gelap membuka lembaran-lembaran lalu.

Piala purba yang lama remuk
kini kembali berbentuk
Padanya air mata seruling kuteguk
Badik di tangan bisa dilepas.

Badik di hati
yang ditempa dalam tafakur
telah siap menoreh bulan:

Embun hari esok
akan sanggup
melidahkan deburan ombak.

"Puisi: Malam di Tepi Hutan (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Malam di Tepi Hutan
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Refrein di Sudut Dam
Amsterdam bagiku
memang sebuah terminal
dengan detik-detik yang terasa mahal
Masa silam dan masa depan
di sini bergumpal
menyesali titik-titik gagal.

Matahari yang juga mata waktu
mendesakku menjadi kaca menggala
Untuk menerjemahkan cahayanya
menjadi api dan nyala.

Di udara menari kapak, senapan, sapu
biola, gendang dan sejenis debu
Menyanyi buku-buku, kertas arsip
hendak turut memutar tasbihku
Jangan dulu! Di sini Amsterdam
Akan kukubur dendam sejarah
Sia-sia memberhalakan derita.

Ibu dan kampungku selaksa kilometer jauhnya
tapi terasa berbatas tabir saja
Segenap keasingan akan lebur
dengan menyemai cinta ke hati salju.

Terbayang pohon pinang dekat sumur dulu tempatku mandi
menyuruhku jangan sembunyi.

Olle ollang
darahku makin gelombang.

"Puisi: Refrein di Sudut Dam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Refrein di Sudut Dam
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dendam


Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak.

Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak.

Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu.

Bulan bersinar sedikit tak nampak.

Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari.

Aku mencari
Diri tercerai dari hati.

Bulan bersinar sedikit tak nampak.
 


13 Juli 1943
"Puisi: Dendam (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Dendam
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Purnama Raya
Purnama raya
bulan bercahaya
amat cuaca
ke mayapada.

Purnama raya
gemala berdendang
tuan berkata
naiklah abang.

Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi.

Purnama raya
bunda mengulik
nyawa adinda
tuan berbisik.

Purnama raya
gadis menutuk
setangan kuraba
pintu diketuk.

Purnama raya
bulan bercengkerama
beta berkata
tinggallah nyawa.

Purnama raya
kelihatan jarum
adinda mara
kanda dicium.

Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
pulanglah abang ...

"Puisi: Purnama Raya (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Purnama Raya
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pintu
Lewat pintu berpijak langkah yang mesra
Selagi hati ceria dan harapan terbuka
Tapi bila hati gundah dan merana
Kututupkan ia, lalu kupalang tengah.
  
1956
"Puisi: Pintu (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Pintu
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cikini Raya
Pedagang kembang yang menembang sumbang
dilarikan karet becak ke ujung malam
lampu-lampu jalan bersinar terang
lari bayangan
dan malam makin lenggang.

Pedagang kembang mengebas ranjang
tembang riang mau pulang
sama sisa malam
jalan makin rata
bening berbayang.
   
"Puisi: Cikini Raya (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Cikini Raya
Karya: Ajip Rosidi