loading...

Menyimak Guruh November

Guruh dan angin saling sapa di udara
terhela-hela ingatanku coba temukan bayangnya
sempurna lagi kota tua itu mandi cahaya
gereja kecil di tenggara akan kembali
memanggil anak-anak yang pernah tumbuh di sana
dalam asuhan denting loncengnya
di dada di kepala tergambar janji-janji masa depan
sebelum orang-orang gemar berburu
padahal mereka bukan pemburu
kurenungi lembar yang hilang dari pesan pusaka
kurindui wistarian ungu bunga sepanjang telaga
dari puisi penuh makna pernah kuterima
: biar orang-orang belajar sendiri
untuk mengerti, anakku
bayang gaib Sang Romo lintasi beranda sunyi
guruh getarkan langit tinggi.

Bogor
November, 2003
"Puisi: Menyimak Guruh November (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Guruh November
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top