loading...

Refrein di Sudut Dam
Amsterdam bagiku
memang sebuah terminal
dengan detik-detik yang terasa mahal
Masa silam dan masa depan
di sini bergumpal
menyesali titik-titik gagal.

Matahari yang juga mata waktu
mendesakku menjadi kaca menggala
Untuk menerjemahkan cahayanya
menjadi api dan nyala.

Di udara menari kapak, senapan, sapu
biola, gendang dan sejenis debu
Menyanyi buku-buku, kertas arsip
hendak turut memutar tasbihku
Jangan dulu! Di sini Amsterdam
Akan kukubur dendam sejarah
Sia-sia memberhalakan derita.

Ibu dan kampungku selaksa kilometer jauhnya
tapi terasa berbatas tabir saja
Segenap keasingan akan lebur
dengan menyemai cinta ke hati salju.

Terbayang pohon pinang dekat sumur dulu tempatku mandi
menyuruhku jangan sembunyi.

Olle ollang
darahku makin gelombang.

"Puisi: Refrein di Sudut Dam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Refrein di Sudut Dam
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top