Maret 2004
Sonet 14

Kaudengar gumam jalan ini, benar? Ya, ia ingin
kita selamanya melewatinya, seolah ada yang bisa abadi.
Kau tertawa, tentu saja. Kusentuh tanganmu yang dingin
ketika jalan itu mulai terdengar menggumam lagi.

Setiap berhenti sejenak untuk membenarkan letak sepatu
kau bertanya, Kau dengar gumam jalan ini? Ia sudah tua,
didendangkannya hujan yang suka membuka payung biru,
disenandungkannya kemarau yang suka berselimut udara

malam-malam, digumamkannya matahari yang melumurkan
lumut sekujur tubuh pohon teduh itu. Kau dengar itu?
Jalan ini mengalir (hanya kita yang tahu) sangat pelahan
mengelilingi sebuah tanah lapang. Hanya kita yang tahu

bahwa ia ingin kita melewatinya, sepanjang waktu? Tetapi,
apakah kita pernah yakin ada cinta yang bersikeras abadi?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 14
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kisah

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. Ia bersihkan lumut dari plat itu, lalu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kisah
Karya: Sapardi Djoko Damono
Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996

Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut
rame-rame hari itu. Aku tak mengenalnya,
hanya dari koran, tidak begitu jelas memang,
kenapanya atau bagaimananya (bukankah semuanya
demikian juga?) tetapi rasanya cukup alasan
untuk mencintainya. Ia bukan
mahasiswaku. Dalam kelas mungkin saja
ia suka ngantuk, atau selalu tampak sibuk mencatat,
atau diam saja kalau ditanya,
atau sudah terlanjur bodoh sebab ikut saja
setiap ucapan gurunya. Atau malah terlalu suka
membaca sehingga semua guru jadi asing baginya.
Dan tiba-tiba saja, begitu saja, hari itu ia mati;
begitu berita yang ada di koran pagi ini -
entah kenapa aku mencintainya
karena itu. Aneh, koran ternyata bisa juga
membuat hubungan antara yang hidup
dan yang mati, yang tak saling mengenal.
Siapa namanya, mungkin disebut di koran,
tapi aku tak ingat lagi,
dan mungkin juga tak perlu peduli. Ia telah
mati hari itu - dan ada saja yang jadi ribut.
Di negeri orang mati, mungkin ia sempat
merasa was-was akan nasib kita
yang telah meributkan mahasiswa mati.

"Puisi: Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996 (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996
Karya: Sapardi Djoko Damono
Menanti Kata

Aku duduk diam semata,
Membuat batin hening tenang,
Menanti-nanti timbul kata
Dari dalam, bercaya terang.

Hendak direka jadi karangan
Tidak terbanding dengan indahnya,
Akan diberi kepada tunangan,
Penunjuk betapa cinta besarnya.

Berapa datang, semua masih
Tidak sepadan dengan kekasih,
Tidak sampai indah permainya.

Ah, ratuku, 'pabila gerangan
Mendapat kata yang sepadan
Dengan cantik paras adinda.

"Puisi: Menanti Kata (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Menanti Kata
Karya: Sanusi Pane
Aceh 26 Desember 2004

Gema lonceng Natal
masih bergetar di kaca jendela
ketika Aceh meleleh
di kelopak mataku,
menetes deras
ke dalam gelas
di atas meja perjamuanmu.

2005
"Puisi: Aceh 26 Desember 2004 (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Aceh 26 Desember 2004
Karya: Joko Pinurbo
Panggilan Pulang

Bangun tidur, ia langsung menghidupkan
telepon genggam mudah-mudahan ada pesan.
Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi
di matanya. Masih temaram.

Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan
telepon genggam? Paling-paling cuma dapat
pesan ringan: “Bagaimana tidurmu semalam?
Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya?
Tadi saya nunggu lama di kuburan.”

Azan subuh berkumandang. Penuh hujan.
Ia buka telepon genggam. Tumben, ayah kirim pesan:
“Ibu sakit. Kangen berat. Nenek sudah tiga hari
hilang. Makam kakek belum sempat dibersihkan.
Sarung ayah dicuri orang. Utang stabil.
Pohon nangka di samping rumah tumbang.
Bisa pulang? Bisa minta ijin telepon genggam?”

Pesan terakhir. Musik. Telepon genggam
menyanyikan The Beatles: Mother....

2003
"Puisi: Panggilan Pulang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Panggilan Pulang
Karya: Joko Pinurbo
Mudik

Mei tahun ini kusempatkan singgah ke rumah.
Seperti pesan ayah: “Nenek rindu kamu, pulanglah!”

Waktu kadang begitu simpel dan sederhana:

Ibu sedang memasang senja di jendela.
Kakek sedang menggelar hujan di beranda.
Ayah sedang menjemputku entah di stasiun mana.
Siapa di kamar mandi?
Terdengar riuh anak-anak sedang bernyanyi.

Nenek sedang meninggal dunia.
Tubuhnya terbaring damai di ruang doa,
ditunggui boneka-boneka lucu kesayangannya.
“Hei, bajingan kita pulang!” seru boneka singa
yang tetap tampak perkasa, dan menggigil saja ia
saat kubelai-belai rambutnya.

Ayah belum juga datang, sementara taksi
yang menjemputku sudah menunggu di depan pintu.
Selamat jalan nek, selamat tinggal semuanya.
Baik-baik saja di rumah. Salam untuk bapak tercinta.

Di jalan menuju stasiun kulihat ayahanda
sedang celingak-celinguk di dalam becak, wajahnya
tampak lebih tua; becak melaju dengan sangat tergesa.
Dari jendela taksi aku melambai ke ayah,
sekali kukecup telapak tanganku, kulambaikan;
ia pun mengecup tangannya lalu melambai ke aku
sambil berpesan hati-hati di jalan ya.

Begitu simpel dan sederhana, sampai aku tak tahu
butiran waktu sedang meleleh dari mataku.
“Almarhumah nenekmu kemarin masih sempat
menumpang taksi ini,” ujar pak sopir yang pendiam itu,
yang ternyata bekas guruku.

2001
"Puisi: Mudik (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mudik
Karya: Joko Pinurbo