April 2004
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jam Kerja Telepon

Ini bicara dengan Merlin. Saya Merlin. Tetapi Merlin 
tak ada di mana-mana. Merlin sedang jadi bintang. 
Merlin sedang jadi bintang. Saya ciptakan orang-orang 
dari obat tidur. Tetapi suaramu parau, Merlin. Saya 
menelanjangi diri sendiri, seperti menelanjangi dunia 
yang minta saya jadi Merlin.

Tetapi Merlin tak ada di mana-mana, seperti dunia tak 
ada di mana-mana, seperti orang tak ada di mana-mana. 
Merlin telah jadi pamflet dari keinginan jadi manusia. 
Tolong sambungkan saya dengan dunia mana pun, 
Merlin. Saya Merlin. Tetapi Merlin tak ada di mana-mana. 
Merlin sedang jadi bintang, mengubah dunia jadi obat 
tidur. Kau menangis, Merlin. Saya menyaksikan orang-
orang lahir dari telepon. Mereka memaksa saya jadi 
Merlin. Mereka memaksa saya jadi Merlin. Dan saya 
meneguknya dalam putaran: Pil!

Saya mencium bau busuk dari telepon. Saya 
kehilangan kontak. Saya tercekik. Saya bukan Merlin. 
Merlin telah jadi ibu, Merlin telah jadi ibu, dalam TV-TV 
merah kuning hijau biru dan sepi.

1986
"Afrizal Malna"
Puisi: Jam Kerja Telepon
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengukir Tubuhmu

Duabelas jam aku mengukir tubuhmu
Menjadi hujan. Tubuhmu menaburkan sunyi
Yang terpendam di belantara ingatan
Tubuhmu sulur-sulur air yang tak henti
Mengalirkan gairah dan kegelisahan

Duabelas jam aku membendungmu
Dengan ciuman. Tubuhmu menjelma sungai
Yang meluap dari balik kegelapan
Tubuhmu gelombang yang menyeretku
Ke tengah lautan penciptaan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Mengukir Tubuhmu
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Keluh

(I)
Dari dasar jurang
kupandang Cakrawala
betapa jauh!

Ini hati sungsang
kusandang seharian
betapa keluh!

(II)
Dari kegelapan
tak bisa kupandang apa dan siapa
selain selaput mataku

Dan dari balik itu
kukagumi kebesaran-Mu
betapa terbatasnya aku
betapa terbatasnya waktu.

(III)
Dari keterbatasan
jarak semakin mendekatkanku
kepada-Mu.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Keluh
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Muhammad Menjelang Baytil-Maqdis

Langit yang melengkungkan dada, biru hitam
Muka tengadah denyut darah tertahan
- Kutoreh dadamu al-Amin, jantung baiduri
- Kubuka langit-Ku bagimu, mata hujan dan salju

Di tangannya waktu meleleh
Lumat gurun dan lembah. Berlalu
Gerimis cahaya melinangi bumi
Lekah dada dan langit baginya. Selalu.

6 April 1960
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Muhammad Menjelang Baytil-Maqdis
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membajak Kembali

Orang-orang telah membajaki sawah-sawah kembali
karena lewat sudah musim kemarau
menguning bumi lekang kering
menafaskan lagi air membening

Di punggung bukit-bukit awan hujan 
bergantung biru
pepohonan di desa mulai dipukul angin
beruap lembab tangkai-tangkai besi
bajak dan penyawah-penyawah berselubung harap di jantung.
Kerbau-kerbau di-hee, yaaaaah!
Hee yaaaah!

Anak-anak perempuannya mengantar sarapan
cuma nasi jagung dan ketela kering,
ibu-ibu bersingsing kain hati sesak bertopi caping
setiap dada berlingkar cemas harap mata dikandungi sesuatu
menyesak dan mulut meneriak:
Hee yaaah! Hee yaaaaah yaa aaaah!

Lumpur terbalik baring berbongkah-bongkah
mata 
dibayangi awan hujan,
meniti di pematang sawah
lingkar-lingkar di leher bukit harapan
bumi bernafaskan air panen padi kuning
selepas kemarau melekah kering
dan teriak kini merencah teriak kian meresah:
Hee yaaaah! Hee yaaaaah!


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Membajak Kembali
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hewan Purbakala

Lama sekali dahulu, lama sekali dahulu kala
Lebih 100 juta tahun yang silam
Di atas dunia ada hewan aneh rupanya
Yang sekarang sudah tidak ada lagi, cuma tinggal bekasnya

Ada hewan-hewan yang tergolong Dinosaurus
Dinosaurus artinya “cecak yang menakutkan”
Semuanya besar dan gemuk, tak ada yang kecil kurus
Dan memang muka mereka agak menyeramkan

Misalnya Tyrannosaurus, kira-kira tujuh meter tingginya
Kepalanya besar dan rahangnya bergigi tajam
Dua kakinya raksasa tapi dua tangannya kecil saja
Dan memang dia pemakan daging yang kejam

Tapi Brontosaurus hanya makan tumbuh-tumbuhan
Walaupun badannya raksasa benar, 35 ton beratnya
Lihatlah dia merangkak menyeret ekornya yang kepanjangan
Dan kepalanya kecil betul, tentu otaknya kecil pula

Stegosaurus ini aneh pula bentuknya badannya
Dia bersirip besar dan ekornya berduri runcing-runcing
Itu senjata untuk melawan dinosaurus lainnya
Berkelahi sesama mereka memang terjadi sering

Yang hidup di lautan Plesiosaurus namanya
Di samping ada sirip untuk berenang dan gigi pun runcing
Lima belas meter panjang badannya dari kepala ke ekornya
Dari bentuk giginya tahulah kita dia pemakan daging

Tapi kini mereka tak hidup lagi di zaman kita
Karena sudah punah, artinya hilang semuanya
Bukti mereka pernah hidup adalah bekas tulang-tulangnya
Dari tulang itu dapat pula diukur umurnya berapa.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Hewan Purbakala
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cek Kosong
(dari Nurcholish Madjid)

Tahun itu kau catat itu tahun paling sihir
di bagian dunia kita
berjuta orang serempak membubuhkan tanda tangan
di sudut bawah cek sebuah bank

bangsa secara sah 
dan dengan sangat riang menghadiahkannya
selepas sebuah gergasi tembus ditikam di medula oblongata
sehingga nafasnya terceguk-ceguk lalu dia gelepar
menggelepar terbanting-banting 
dan raib ditelan pasir berputar
dan kau dengar kami sampai serak menyanyi

Sorak-sorak
Bergembira
dan cek itu diisinya selesa luar biasa
nolnya luar biasa banyak
nolnya lu-lu-luar biasa pa-pa-panjang

nolnya sementara mata kita diperciki
lalu disiramnya pasir pembangunan
dan sihir tahunnya sangat berkepanjangan.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Cek Kosong
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pengkhianatan

Siapa lagi sekarang akan ditangkap. Menanti 
Mungkin sebentar lagi mereka akan datang mengetuk pintu 
Mendorong masuk dan menjerembabkan nasib 
Di ambang waktu. Dengan berbagai tuduhan 
Barangkali agen mereka ada di antara kita 
Dengan pestol Browning di pinggang dalam 
Kita tak pernah pasti tahu 
Mengapa engkau pucat sekali? 
Intip cermin di atas lemari 
Di luar angin pepohonan damar masih berseru 
Atau jip-kah itu yang menderu? 
Cek sekali lagi: sudahkah semua dokumen dibakar 
Bersihkan sisa abu di lubang kloset 
Granat dan sten di dinding-papan 
Hapalkan nama-nama palsu kalian
Sudjono! Hentikan goyangan kakimu 
Merokoklah. Merokok di kolong kalau tak tahan 
Udara terlalu pekap di sini, dalam temaram 
Kita makin berpeluh tapi jari kenapa menggigil 
Udara panas bergetah dengan bau ikan sardin 
Seorang bangkit pelan, mengintip di balik gorden

Tiba-tiba aku berteriak, melolong-lolong 
Tjok dan Momo menerkamku tak berbunyi 
Dan menyumbat mulutku
Aku berontak, lepas dalam geliat liar 
Tapi badan mereka bagai sapi Bali 
Lenganku dikunci mereka ke punggung. Badanku 
Dibengkok-busurkan 
Keluh serak dari mulutku
‘Lepaskan dia. Dan kau diam’
Kata Budi
‘Kau terlalu tegang’
Diapun menuding ke sudut kamar
Aku terhuyung ke sana, dua langkah
Dan tiga langkah surut kembali
Dalam gerakan terpincang, kataku serak:
‘Budi, aku telah berkhianat’

Seluruh kamar tegang dan pekat
Halilintar meledak dalam ruangan
Mata mereka nanap, duka perjuangan semakin berat
Angin pepohonan damar menebas tajam bagai kelewang

‘Budi, aku sudah berkhianat’
Aku melihat berkeliling. Mereka diam aneh
Lenganku mula mengulur, lalu bergantungan
Dengan gelisah aku berputar melihat kawan-kawan
Mataku merah dan liar serigala
Meneriakkan ‘Aku pengkhianat!’
Dan aku tersedu, tertengkurap di tengah kamar
Mereka semua diam. Sudjono mematikan rokoknya
Aku menangis seperti anak lima tahun
Yang kehilangan baling-baling kertasnya
‘Tembaklah aku. Mereka sudah tahu semuanya
Sebentar lagi mereka datang
Aku tak tahan Budi, tembaklah aku di sini’

Budi memberi tanda. Senjata-senjata dibongkar dari dinding
Dengan perkasa mereka siap berangkat dalam formasi rahasia
Mereka akan menyelinap lewat gang belakang
Sepanjang urat-urat kota memperjuangkan kemerdekaan
Di sela rapatnya rumah-rumah, meneruskan gerakan di bawah tanah

Budi melucuti belatiku dan pada Momo memberi perintah 
Menggamit Tjok dan Maliki dengan tangan perunggu 
Perlahan yang lain berangkat satu-satu 
Setiap orang memerlukan menoleh padaku sebentar 
Di lantai, aku menekuri jubin sebelah meja 
Dan Momo yang akan menjalankan perintah komandan 
Berdiri dengan belatiku telanjang di tangan.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pengkhianatan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Syair Orang Lapar

Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau

Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris

Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kau ulang jua
Kalau.

1964
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Syair Orang Lapar
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Adakah Suara Cemara
(buat Ati)

Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas
Gemersik dedaunan lepas

Deretan bukit-bukit biru
Menyeru lagu itu
Gugusan mega
Ialah hiasan kencana

Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah lautan ladang jagung
Mengombakkan suara itu.

1973
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Adakah Suara Cemara
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pangeran Pengungsi

Wajah siapakah terselip di antara pengungsi?
Apakah itu kamu yang menghindari ledakan cinta
dan terpuruk dalam kebimbangan masa?
Sejak Mei; Timtim, Bali, Aceh, Ambon, Papua, Jakarta, dan entah nanti
bom ditanam sembarangan
tanpa mengindahkan rambu-rambu jalan.

Sedang kamu masih asyik dengan catatan harian
tentang kenangan, kota bunga, dan impian pelaminan
atau tentang istana pasir di mana tertawan seorang pangeran
nyatanya, pangeran itu terjebak di barak pengungsian
miskin dan tersia
tanpa selimut, air, makanan apalagi mahkota.

Wajah siapakah terselip di antara pengungsi?
Sementara koran-koran hari ini mencetak darah
yang tumpah di tanah tumpah darah,
di halaman tengah
puisi cintamu nampang dengan gagah
tanpa busana!
Sedang sang pangeran
berebut jatah makanan dengan seorang bocah
yang tersesat di gambar iklan
di halaman belakang.

Wajah siapakah terselip di antara pengungsi?
Kapan giliran kita terperangkap di sana?

Solo
19 Januari 2000
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Pangeran Pengungsi
Karya: Sosiawan Leak
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Apakah Kartini

Kartini, apakah kau akan tersenyum
tahu astronot wanita kita gagal mengangkasa lantaran keburu tua
sementara amerika menunda peluncuran pesawatnya
dan kita belum mampu meracik roket sendiri.

Kartini, apakah kau akan tertawa
lantaran sekarang wanita dapat menjadi birokrat
atau wakil rakyat di parlemen
bahkan presiden.

Kartini, apakah kau akan menangis
lantaran kini untuk yang pertama kali
presiden wanita kita sudah turun tahta
dan entah nanti apakah terpilih lagi atau frustasi.

Kartini, apakah kau akan menderita
tatkala di koran kau baca
ada ibu rumah tangga rela menjadi pengedar ganja dan narkoba
untuk membantu suaminya menghadapi keruwetan ekonomi
atau seorang ibu yang membunuh suami
lantaran selingkuh dengan teman sendiri.

Kartini, apakah kau akan susah
ketika kau jumpa para remaja
kehormatannya diobral murah
di tanah sendiri atau di negeri tetangga.

Kartini, kalau kau lahir di jaman ini
mungkin bingung mencari arti emansipasi
seperti kami linglung mengingat nama dan arti Kartini.

Untung kau lahir 127 tahun lalu
sehingga tak mengalami,
betapa susahnya menjadi wanita berkelamin ganda;
ibu rumah tangga sekaligus pekerja!
Solo
25 April 2004
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Apakah Kartini
Karya: Sosiawan Leak