Mei 2004
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hymne Kentut di Negeri Bebek

Tancapkan bendera setengah tiang
Karena kita adalah petualang
Yang lincah saling tendang
Yang bertingkah layaknya binatang
Atau kanak-kanak kehilangan uang

Kibarkan bendera setengah tiang
Barislah seperti bebek keluar kandang
Barislah! Baris dan nyanyikan tembang
Tentang negeri kaya muslihat bengis

Kibar dan tancapkan setengah telanjang
Apa artinya rasa malu?
Seperti kita perjuangkan dulu
Seperti kita proklamirkan dulu
Tanpa pamrih berpekik letih

Aku pun tersipu
Kunyanyikan hymne kentut
Ungkapan salut di negeri bebek

Biarkan bendera itu setengah tiang!

Surabaya
Oktober, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiHymne Kentut di Negeri Bebek
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Monolog Seorang Veteran yang Tercecer dari Arsip Negara

Bendera-bendera berkibar di udara
Dan, orang-orang berteriak 
"
telah bebas negeri kita"
Tapi aku tertatih sendiri
Di bawah patung kemerdekaan yang letih
Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi.

Kau pasti tak mengenaliku lagi
Seperti dulu, ketika tubuhku terkapar penuh luka
Di sudut stasiun Jatinegara, setelah sebutir peluru
Menghajarku dalam penyerbuan itu
Dan negeri yang kacua mengubur
Sejarah dalam gundukan debu.

Setengah abad lewat kita melangkah
Di tanah merdeka, sejak Soekarno-Hatta
Mengumumkan kebebasan negeri kita
Lantas kalian dirikan partai-partai
Juga kursi-kursi kekuasaan di atasnya
Gedung-gedung berjulangan
Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan
Jalan-jalan layang, mengembang bersama
Korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,
Yang membengkakkan perutmu sendiri
Sedang kemiskinan dan kebodohan
Tetap merebak di mana-mana
Dan, aku pun masih prajurit tanpa nama
Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran
Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan
Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman
Tanpa istri simpanan.

Meskipun begitu, aku sedih juga
Mendengarmu makin terjerat hutang
Dan keinginan IMF yang makin menggencet
Kebijakan negara.
Karena itu, maaf, saat engkau
menyapaku, "Merdeka!"
Dengan rasa sembilu
Aku masih menjawab, "Belum!"

Jakarta, 1998
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiMonolog Seorang Veteran yang Tercecer dari Arsip Negara
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
The Old Man's Blues

Kenangan serupa rel yang merentang dalam
belukar, kukuh menuju stasiun terbengkalai
dalam jalur yang tak lagi dioperasikan PT. KAI.

Kenangan serupa kabel telepon yang rentang
menggabungkan 1000 kota. Selalu: Langsung
menuju rumah kasih - yang kini dimiliki orang lain.

Kenangan merupakan julang menara telpon selular
yang berjajar + berkawal kilometer demi kilometer
- mengekalkan Sim Card jamuran di laci meja tulis.

- Kenangan serupa denyut migrain berkepanjangan,
mirip denyit jerat tambang di leher di dahan cemara.

2009
"Puisi Beni Setia"
Puisi: The Old Man's Blues
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Petanggang

Cuma kemilau 
terang bulan di danau
: angin tersekat
jajaran pohon
kerontang, dan gundulkan
tanah-kuburan
halimun dingin,
setapak dan jalanan
: pintu dikunci
- kampung kelabu
malam buram, bersekat
kepompong bungkam.


Catatan:
Halimun = kabut.
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Petanggang
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Telau Di Lembah Dalam

Setapak ke lembah berupa titian pada
tebing - licin ketika hujan. dua orang:
mati, terjatuh dalam tujuh puluh tahun
lima puluhan undakan setinggi kiara,
dengan temali rotan untuk merambat
turun serta menekah naik - mengais air
dua bumbung bambu tersanding di kiri
serta di kanan, setinggi 80 senti. untuk:
air! telau bawah kiara diapit jurang terjal
dan sebelum kabut turun kau harus gegas
turun + harus gegas ketika kabut menipis
- sebelum dahaga menjerang setiap siang.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Telau Di Lembah Dalam
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lembang, Hotel Panorama

Telepon di sisi pembaringan melengkung karena
menunggu, tak seperti ranjang dan kasur yang
lempeng karena sepreinya selalu diganti para pelayan.

Telepon itu ingin berbisik pada dirinya setelah
berhari, berminggu dan berbulan tak ada yang
menelpon dan membisikkan kata-kata sayang merindu.

Senantiasa kesepian di udara dingin (malam) berkabut.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Lembang, Hotel Panorama
Karya: Beni Setia