Juli 2004
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Langgam Bocah

Hari ini kau memaksaku
ke kampungmu

Debu merayuku
di pagutan rumah
ranum sempurna:
Dua tiang besi di sisi,
Ubin kuning di kanan kiri
menyambutku sebelum pintu.

”Di sini aku bisa jadi siapa saja”

Dan mataku berkilat melihatmu
kau bocah ayu
bisa membangun rumah kayu
di tanah-tanah
di kampung rekah.

Dewasalah kau
di tangan hangat perempuan
dan lelaki tabah
dengan akar gelisah
dengan mantra
yang terlanjur ditebarkan
mimpi di hunian.

Lalu kau bercerita:
ibuku perempuan ayu
dengan keranjang dan sepeda
tiap pagi ia bergegas
ke pabrik seberang desa
betapa wangi bau tubuhnya!
Melebihi wangi teh yang ia bawa
di guratan kulitnya
yang menua

Ayahku sudah tua
betapa bersahaja ia
di kayuh roda tiga!
Bacalah keakrabannya
pada becak dan jalan berdebu
pada keringat dan kelu

“Tiap pagi aku menyambut terbit matahari
dengan tanganku
yang mengangkat timba di sumur itu

Kuambil air
kucuci diriku

Tuhan tak pernah lelah mengisi sumur kami
dan bila mataku menatap tajam ke bawah
sebelum meraih seember air lagi
maka gema dari dalamnya
membisikkan doa di telingaku:
dewasalah sebelum kau jadi payah.”

2008
"Puisi Nana Riskhi Susanti"
PuisiLanggam Bocah
Karya: Nana Riskhi Susanti

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Zaman

Di atas panggung kulihat gadis seksi
menari-nari tanpa busana menjulurkan selendang
ia menghampiri para lelaki, bujang juga si renta jalang
matanya ketap-ketip, oh lentik jemarinya menggelitik
gairahku menaiki ubun-ubun, hati bak letupan peluru

Tapi seketika menjadi anyep
pada bulat matanya terkubur peradaban purba
terbaca catatan nenek moyang yang pandai menenun senyum
membuat selimut tebal menjaga anak-cucu dari raung ngeri malam

Malam tak pernah berubah, tetap gelap, sesekali berbulan berbintang
tapi kini, petuah tak lagi merekah, hanya kuncup-kuncup layu
tak ada tenunan, kita bebas tel**jang memajang kemolekan
dan lupakanlah Tuhan, birahi kita telah mendapatkan mandat-Nya.

Lagi pula di atas panggung lain, pada malam yang sama
para penceramah itu telah lupa pada amanah
pesan-pesan terbang bersama guyonan ala ludruk
dan para jamaah duduk manis menikmati sajian.

Di atas panggung telah kusaksikan manusia-manusia te***jang
di atas panggung tengah kusaksikan para penceramah menggelar lawakan
dan mari, bersama-sama menyalahkan zaman yang menua.

Cilegon, Banten
2 November 2011
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiSajak Zaman
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kereta Pensiunan Pelacur

Pensiunan pelacur duduk di antara calon-calon pelacur di gerbong kereta tujuan kota metropolitan, ia tak tahu dari mana harus memulai kata, tiba-tiba kelu. Bayangan masa remaja melintas-lintas, sesekali tengah tertawa mengejar kupu-kupu di pematang sawah, sesekali tengah merintih lirih di puncak malam paling jalang, juga wajah-wajah lelaki menyeringai penuh birahi dari satu kamar ke kamar, dari satu hotel ke hotel, dari satu lorong ke lorong yang lain! Sampai dia lupa terakhir kali menangisi nasib, lupa terakhir kali tertawa lepas, terbingkai rapih dalam penyerahan paling nyeri!

Kereta terus melaju kencang menembus kabut tebal, angin dingin menuruni lembah kenangan menusuk-tusuk rusuk yang kian keropos. Dia masih diam tapi ingin bicara, ingin menyampaikan pesan, ingin menarik calon-calon pelacur itu pulang ke desa, mencuci baju di kali sambil menunggu seorang pemuda melamar dengan segenggam ketulusan, ah!: jadi gagu, membisu!

Dia memejamkan mata, deru paru semakin sesak, jarum jam berputar mundur, sangat cepat... degup jantung tak teratur o... ! Tersungkur di antara epitaf rimba metropolitan, tak tahu arah pulang, terpenjara dalam sel germo, jadi barang dagangan, dikamarkan tanpa ijab-qabul, tanpa saksi, tanpa Tuhan! Hingga dewasa... sampai menua dan menunggu keranda senja dengan sekumpulan penyesalan, karam dalam airmata!

Tiba-tiba kereta terhenti, dia membuka mata, sudah sepi...: calon-calon pelacur itu? Ya! Mereka telah dipenjarakan, menggantikan dirinya yang terus berpindah-pindah kereta menunggu saatnya seorang pemuda renta melingkarkan cincin emas dan membawanya ke singgasana perkawinan.

Cilegon, Banten
9 Februari 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiKereta Pensiunan Pelacur
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepasang Bibir di Dalam Cangkir

Aku sedang duduk di dalam kafe. Pelayan kafe meletakkan 
cangkir kopiku pelan-pelan di atas meja. Aroma kopi 
mengudara, membuat kaca kafe berembun seperti hari 
menjelang senja.

Ketika si pelayan berlalu, tiba-tiba saja 
kulihat kamu sedang melambaikan tangan di kaca itu. Aku 
terkesiap dan memburu, membuat cangkir terguncang oleh 
sendok sehingga air kopi itu berpusing-pusing jatuh ke pisin, 
menitik di lantai, sebelum lelerannya jatuh berdenting.

Ketika 
aku tengadah, kamu sudah mengabur dari kaca yang masih 
berembun oleh aroma kopi. Sekarang aku melihat sepasang 
bibir di dasar cangkir dekat air kopi di pisin menyeru-nyeru 
namaku. Siapa pemilik bibir itu? Tanyaku sambil membaui 
aroma dan ampas kopi yang rebah di lantai.

Gatro, Cikini Raya
9 Oktober 2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSepasang Bibir di Dalam Cangkir
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||