November 2004
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kandungan


Ia merenda baju mungil dan harapan
rahim yang subur menyimpan sebagian angan-angan.

Lesu dibebani kandungan dan mimpi yang bersarang di dada.
Dipuasi diri dengan beras mentah, mangga muda.

Yang tergolek dikandung dicita bunga hidupnya
dendangnya dilagukan sekarang, menyanyi pula podang
terbayang sudah sepasang mata menggenggam separo dirinya.

Dan lakinya memandang dengan pandang warna teja
merasa sebagian dari nyawa di rahim istrinya juga
keduanya bertatapan, bicara dalam kediamannya
terungkap peraman rasa memberi warna pada senja.

Lalu lelaki itu membelai perut istrinya
dicium pada pusar dengan hangat rindu sorga
terasa menggeronjal bayi di rahim manja
perempuan itu menggigit punggung lakinya.

 
 
"Puisi: Kandungan"
Puisi: Kandungan
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumah Kelabu

Rumah batu, rumah kelabu
begitu lapang berpenghuni satu
kesuraman merebahinya
redup lampu, denting piano bertalu-talu.

Terpendam penghuninya mengurung diri
warna duka menembusi jendela
lagu piano, lelap sepi, redup lampu.

Racun apa yang mendindingi dirinya
begitu benar dicintainya sepi?

Pupus kepercayaan oleh ketidakabadian segala?
Apa ia kelewat mencinta dirinya?
Tidak dibiarkan satu luka di sisi bekas yang lama?
Mati citarasa bagi nikmat agung sedetik bunga?

Penghuni yang mengunci diri dan hati pada sepi
di hati kutanya-tanya, kapan ia bunuh diri?

Rumah batu, rumah kelabu
kemuramannya tidak memberita kecuali teka-teki.
 
 
"Puisi: Rumah Kelabu"
Puisi: Rumah Kelabu
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lelaki Sendirian

Kirjomulyo duduk di depanku - 
memandang ke luar jendela


Dan ia diam juga
lembah yang dalam
kabut biru di perutnya
Tapi di hatinya
pucuk-pucuk cemara
dipukuli angin hitam.

Bagai kerbau kelabu ia
lelaki dengan rambut-rambut rumput.
Dan ia diam juga.
Tapi di hatinya ada hutan
dilanda topan.

Lelaki yang mengandung dendam
lelaki yang mengandung kesunyian
mengutuki debu-debu kiriman angin
mengutuki birunya kejemuan.

Bagai kerbau kelabu ia
lelaki dimakan dan memuntahkan kutuk
bara menyala tanpa air siraman.
 
 
"Puisi: Lelaki Sendirian"
Puisi: Lelaki Sendirian
Karya: W.S. Rendra