Januari 2005
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam


Perempuan yang dirajam menjelang malam
memandang ke seberang daratan.

Matahari telah memar. Cakrawala
luka bakar
Magrib raib dan gelap seperti lesit
menghisap sisa darah
yang basah pada langit.

Perempuan yang dirajam menjelang malam
adakah ia mencari
seorang laki-laki yang menulis sesuatu pada pasir
saksi terakhir
semua itu?

Yang hanya ada aku
tangan yang menulis
pada sabak hitam
ketakutanku.

Orang-orang dengan batu di tangan
telah pulang.

Dosa telah dilenyapkan.
Senja telah dibersihkan.
Dan langit telah lapang.

Tapi aku tak bisa pulang
Tubuh itu juga.

Kulihat di pelupuknya darah antri
seperti nira hitam.

Dan di bola mata yang pecah, ia seperti telah berkata
"Hamba telah berzina".

Perempuan yang dirajam menjelang malam
ingatkah kau kepadaku?

Ia hanya memandang ke seberang daratan.

Sampai akhirnya kelelawar-kelelawar yang terbang
memekik
mengenali jasad itu:

Di nanahnya ada namaku,
Sesuatu yang ingin ia sembunyikan
seperti kesedihanku.

"Ya," begitulah ia berkata sekali waktu,
"Aku hanya mencintaimu"

Perempuan yang dirajam menjelang malam
pejamkanlah
pelupukmu.
 
1990
"Puisi: Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Suwuk Kulhu Sungsang


Sato sampai sato mati
Jalma sampai jalma mati
Maling sampai maling mati
Rampok sampai rampok mati
Tamak sampai tamak mati
Lalim sampai lalim mati
Tiran sampai tiran mati
Buta sampai buta mati
Hantu sampai hantu mati
Setan sampai setan mati
Niat busuk sampai niat busuk mati
Atas pertolongan Pasti.
 
  
1411 H
"Puisi: Suwuk Kulhu Sungsang (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Suwuk Kulhu Sungsang
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Kebebasan atawa Boleh Apa Saja


Merdeka!
Ohoi, ucapkanlah lagi pelan-pelan
Merdeka
Kau 'kan tahu nikmatnya
Nyanyian kebebasan.

Ohoi,
Lelaki boleh genit bermanja-manja
Wanita boleh sengit bermain bola
Anak muda boleh berkhutbah dimana-mana
Orang tua boleh berpacaran dimana saja.

Ohoi,
Politikus boleh berlagak kiai
Kiai boleh main film semau hati
Ilmuwan boleh menggugat ayat
Gelandangan boleh mewakili rakyat.

Ohoi,
Dokter medis boleh membakar kemenyan
Dukun klenik boleh mengatur kesejahteraan
Saudara sendiri boleh dimaki
Tuyul peri boleh dibaiki.

Ohoi,
Pengusaha boleh melacur
Pelacur boleh berusaha
Pembangunan boleh berjudi
Penjudi boleh membangun.

Ohoi,
Yang kaya boleh mengabaikan saudaranya
Yang miskin boleh menggadaikan segalanya
Yang di atas boleh dijilat hingga mabuk
Yang di bawah boleh diinjak hingga remuk.

Ohoi,
Seniman boleh bersufi-sufi
Sufi boleh berseni-seni
Penyair boleh berdzikir samawi
Muballigh boleh berpuisi duniawi.

Ohoi,
Si anu boleh anu
Siapa boleh apa
Merdeka?
 
  
1987
"Puisi: Nyanyian Kebebasan atawa Boleh Apa Saja (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Nyanyian Kebebasan atawa Boleh Apa Saja
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kalau Mati

Kalau mati cuma bagai tidur saja sayang
Aku yakin besok pagi aku bangun kembali
Dan sajak yang kutulis malamnya dapat 'ku baca;
Tapi aku tahu betul bahwa mati itu lain sekali.
Karena bila aku mati malam ini, maka
Fajar merekah besok taklah sama aku menyaksikan
Pun orang membaca sajakku, tak lagi kudengar.

  
1958
"Puisi: Kalau Mati (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Kalau Mati
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebelum Bom

Sebelum bom itu meledak
Ia lihat pantai:
laut (yang belum selesai menghapal ombak)
melepaskan teja
yang hampir padam.

Hijau tak diacuhkan hujan, agaknya,
juga burung yang bertebar
di ladang garam.

Dan ingin tidur.

Tapi di kamar ini Tia, seekor kucing.
mencakari kaca akuarium,
dan ikan-ikan tua
mengatupkan insang
ketika jam bundar itu
melepaskan tak-tik-toknya
ke cuaca, dan ia tak ingat benar
adakah bunga dalam vas itu
ia namai "krisantenum"
sebelum mati.

Sebelum bom itu meledak.


2005
"Puisi: Sebelum Bom (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sebelum Bom
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pangrango

Dari Pangrango:
Ilusi hujan

Suara ilalang gemetaran

Burung menginap
pada kawat telegrap

Kereta berseru
Ibu Ibu Ibu...

Kau pasti tak di situ,
bukan?

Halte dingin batu

Kau tak di situ.

1978
"Puisi: Pangrango (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Pangrango
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kepada Kota
Apabila engkaulah cinta, lepaskanlah, kota
dari guhamu beribu gema
Hindarkan saat-saat yang senyap: udara mengertap
deru mobil dan huruf-huruf berlampu kerjap

Apabila engkaulah setia, tenangkanlah, kota
hatimu yang mendengar semesta dunia
Biarkan kini terjaga
Biarkan bumi semakin bergesa.

1963
"Puisi: Kepada Kota (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Kepada Kota
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kabut
Siapakah yang tegak di kabut ini
atau Tuhan, atau kelam:
Bisik-bisik lembut yang sesekali
mengusap wajahnya tertahan-tahan.

Kepada siapakah kabut ini
telah turun perlahan-lahan:
Kepada pak tua, atau kami
kepada kerja atau sawah sepi ditinggalkan.
1963
"Puisi: Kabut (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Kabut
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Jalan ke Arah Biara
Di jalan ke arah biara
bulan seperti suasa.
Langit lembap
Tuhan tak tertanda
Tapi lereng itu rimbun
ke arah dusun. Tebing menahan dingin, dan angin
seperti surat bahagia, dengan kata Latin
yang tak berarti apa-apa.

2005
"Puisi: Di Jalan ke Arah Biara (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Jalan ke Arah Biara
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Assisi
Tuhan dengan suara yang aneh
melepaskan sayap malaikat
yang ingin terbang
dan tak kembali ke mural ini.
Berkah akan jadi tua,
juga batu-merah sepanjang hujan,
dan yang suci akan jadi hijau,
dan di langit El Gerco,
yang tak - fana
mungkin tak mengerti
kenapa cinta adalah sedih
yang tersisa
seperti remah pada meja
pagi hari.

2005
"Puisi: Di Assisi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Assisi
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aubade

Di halte pertama
seorang masinis menyanyi
karena tak terasa lagi dinihari. Pukul 5,
orang-orang tetap tak melihatnya
Tapi kota itu terbangun
oleh rel riuh, suara subuh,
sisa gerimis, tembilang ayam jantan
yang lama mengais.
seorang pelacur pun pulang
ke arah anak di kelas yang jauh,
"Telah kusiapkan sabak itu, Ibu,
telah kutuliskan namaku"
2005
"Puisi: Aubade (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Aubade
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan Malam
Wer reitet so spat durch Nacht und Wind?
Er ist der Vater mit seinem Kind
- GOETHE

Mereka berkuda sepanjang malam,
sepanjang pantai terguyur garam.
Si bapak memeluk dan si anak dingin,
menembus kelam dan gempar angin.

Adakah sekejap anak tertidur,
atau takutkan ombak melimbur?
"Bapak, aku tahu langkah si hantu,
ia memburuku di ujung itu."

Si bapak diam meregang sanggurdi,
merasakan sesuatu akan terjadi.
"Kita teruskan saja sampai sampai,
sampai tak lagi terbujur pantai."

"Tapi 'ku tahu apa nasibku,
lepaskanlah aku dari pelukmu."
"Tahanlah, buyung, dan tinggallah diam,
mungkin ada cahaya tenggelam."

Namun si hantu tak lama nunggu:
dilepaskannya cinta (bagai belenggu).
Si anak pun terbang ke sebuah cuaca:
"Bapak, aku mungkin kangen di sana."


1976
"Puisi: Perjalanan Malam (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Perjalanan Malam
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Widuri untuk Joki Tobing


Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.
Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.
Orang-orang miskin menentang kemelaratan.
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
karena terlibat aku dalam napasmu.
Dari bis kota ke bis kota
kamu memburuku.
Kita duduk bersandingan,
menyaksikan hidup yang kumal.
Dan perlahan tersirap darah kita,
melihat sekuntum bunga telah mekar,
dari puingan masa yang putus asa.


Nusantara Film, Jakarta
9 Mei 1977
"Puisi: Sajak Widuri untuk Joki Tobing (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Widuri untuk Joki Tobing
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Joki Tobing untuk Widuri


Dengan latar belakang gubuk-gubuk karton,
aku terkenang akan wajahmu.
Di atas debu kemiskinan,
aku berdiri menghadapmu.
Usaplah wajahku, Widuri.
Mimpi remajaku gugur
di atas padang pengangguran.
Ciliwung keruh,
wajah-wajah nelayan keruh,
lalu muncullah rambutmu yang berkebaran
Kemiskinan dan kelaparan,
membangkitkan keangkuhanku.
Wajah indah dan rambutmu
menjadi pelangi di cakrawalaku.


Nusantara Film, Jakarta
9 Mei 1977
"Puisi: Sajak Joki Tobing untuk Widuri (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Joki Tobing untuk Widuri
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nota Bene: Aku Kangen


Lunglai - ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan di langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Adapun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.


Jakarta, Kotabumi
24 Maret 1978
"Puisi: Nota Bene: Aku Kangen  Karya: W.S. Rendra"
Puisi: Nota Bene: Aku Kangen
Karya: W.S. Rendra