Februari 2005
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Potret Kenangan

Potret dalam pigura itu mengeras pada tembok
wajah-wajah yang dingin, mengirimkan salju ke dalam
ruang tidurku. aku terperangkap masa silam
yang terlipat. kebahagiaan warna-warna dalam kaca
dan bunga luka-luka yang tak bisa diulang.

Potret dalam pigura itu mengeras, dinding-dinding
mendekap luka tidurku. dan fana -
atau dalam kalender, abad-abad yang tanggal
dan mengekal di ranjang, atau di lantai yang berdebu.

1987
"Puisi: Potret Kenangan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Potret Kenangan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Song of solitude
(kepada BS)

Rupanya terlalu singkat kutebak luka pada kaca di balik 
gorden. wajah yang selalu diulang-ulang, tanpa gairah
pertempuran. luka demi luka yang tumbuh dalam pot:
menjelmakan bacin nafas dunia. kesegaran hidup yang 
terkurung dalam usia singkat embun di atas daun, jauh di
luar kaca.

seperti menutup kembali album yang melipat waktu di luar
usia, kututup kembali gorden. Lantas gugur bayangan ke luar
pigura. Mengabut pada meja. Kita seperti menangkap gairah 
kepedihan itu kembali. Lalu di luar percakapan, menanamnya 
dalam vas bunga, di liang luka-luka.

1987
"Puisi: Song of solitude (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Song of solitude
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berita Kematian

Akhirnya lepas bersama gugur daun
Selembar mimpi di luar tidurmu
-Tatap pun jadi jauh
Menembus batas cakrawala

Akhirnya tinggal gaun
Di atas ranjang tanpa mimpi
Akhirnya menyingkir sampai paling
Tepi
Akhirnya lengkap
Segala sunyi

Tinggal bisikmu
Tak tertangkap tajam badik
Sang Matahari.

1987
"Puisi: Berita Kematian (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Berita Kematian
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lukisan Waktu

Pintu itu sudah setua hidupku. sejarah dan waktu
berlintasan dalam geritnya. hingga tak perlu kauketuk
setiap kali akan memasukinya. cuma, bertanyalah
sebab apa ia kemudian terkunci ketika sampai waktu
kereta
menjemputmu. kerinduan anak-anak di luar,
mengaburkan
kesunyian yang gaib. menggetarkan seribu bahasa
diamnya.

Bahasa apakah harus kuucapkan dalam syair-syairku,
sebab kebisuan tumbuh di keningku. kegaduhan batinku
telah mengaliri suara-suara keriuhan anak-anak itu.
tapi tak juga 'nganga pintu itu. sedang waktu dan usia
telah berlepasan dari hidupku. tak juga 'nganga.

"Puisi: Lukisan Waktu (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Lukisan Waktu
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perempuan Berdosa

Perempuan itu memikul dosa sendirian, seringan jeritannya
yang rahasia: berlari di antara sekelebatan rusa yang diburu segerombolan serigala.
kautulis igaunya yang hitam, mengendap di bayang dinding
tak memantulkan cahaya.

Perempuan itu melukis dosa yang tak terjemahkan
ia tulis rahasia puisi yang perih dendam dalam gesekan rebab.
lalu ia hentakkan tumit penari indian yang gelap dan mistis.

Segerombolan lelaki melata di atas perutnya.
mengukur berapa leleh keringat pendakian itu.
sebelum mereka mengepalkan tinjunya
ke langit. dan membusungkan dadanya yang kosong:
mulutnya yang busuk menumpahkan ribuan belatung dan ulat-ulat.

Perempuan itu membangun surga dalam genangan air mata.
menciptakan sungai sejarah: sepanjang abad!

Februari, 2000
"Puisi: Perempuan Berdosa (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Perempuan Berdosa
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Agustus Tahun Ke-60

Bayiku bernama kemerdekaan
lahir dari rahim sejarah
bertualang putih berdarah merah
wajah rembulan jantung matahari
tumbuh dalam asuhan musim dan perjuangan
bertahan dari bencana dan pengkhianatan.

Bayiku kini perkasa
kusebut pesona merdeka
kuiring kumandang tembang dan doa
kuiring khusyuknya puji dan gita
tapi derita tak henti mendera
orang-orang datang dari segala penjuru
semula bijak baru menggebrak
semula 'nolong akhirnya 'rongrong
anak jaman terus bertahan
antara jepitan dosa lama
dan hempasan dosa baru.

Bayiku terus tumbuh
meski kota tak henti rusuh
dikelilingi aneka makhluk tanpa warna
seringai Durna, Sengkuni, Burisrawa dan Kurawa
semua tunjukkan cinta dan pengabdian
tapi selalu salah jalan.

Bogor, 2005
"Puisi: Catatan Agustus Tahun Ke-60 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Agustus Tahun Ke-60
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berdialog dengan Jakarta

Jakarta
selamat pagi-siang-malam
salam hati sepanjang musim
kusapa engkau saat purbani di bulan Juni
kusapa antara slum Mangarai dan gebyar Harmoni
kusapa antara rimba beton dan rel-rel.

Jakarta
musim mengirim angin ke sudut-sudut kota
cahya melambai urban ke liang-liang luka
penjara nasib dimasukinya
pintu-pintu tak terkunci jadi kebebasan semu
penjor-penjor penuh warna sungging tawa
wajah-wajah berkaca di tigabelas sungai kota
dari catatan ke catatan
simpan mozaik kehidupan.

Jakarta
rangkaian bunga masih melambai di balkon Harmoni
kami coba meraihnya karma pernah kau janjikan
kami datang bertemperasan jadi laron memburu lampu
mengusung harapan tak berkesudahan
timbul tenggelam antara umbul-umbul dan kibar bendera
jatuh bangun antara rizki-paha-dosa
hari jadi tahun-tahun jadi windu-windu jadi abad
sesekali berseteru sesekali bersahabat.

Jakarta
di bayang bulan kami menyalakan lilin agar jiwa tak padam
di ambang fajar kami tembang balada agar jiwa mekar
mantra dan doa jadi akar hasrat pohon hayat
bumi dan langit jadi saksi ruwat sengkalmu
dalam bualan Aki Nyai Rejasari.

Bogor
Juni, 2005
"Puisi: Berdialog dengan Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berdialog dengan Jakarta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Tanpa Ornamen

Hari ini kuwakili
berjuta anak cucu sisa peradaban
dari bumi ijo royo yang abadi dalam gunungan
gemah ripah loh jinawi ndah dalam suluk dalang.

Hari ini kuwakili
kenyataan tak terbilang
hitam kelabu mulai hapus warna hijau
instalasi baru derita para kawula
limbah tak lagi milik sungai
tapi di lidah para pemikir baru
yang ngungsi tidur saat harusnya terharu
menyimak tangis korban ketidakadilan
rembang pagi kuketuk pintu purimu
wahai putera sang waktu
dengar, dengarlah suara jiwa
anak cucu Ki Suto Kluthuk
windu-windu hidup tersaruk.

Hari ini kuberaksi
di antara langkah-langkah dan sabarmu
adalah para Durna dan Sengkuni
yang muncul salah jaman.

Cimanggis
Juli, 2005
"Puisi: Fragmen Tanpa Ornamen (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Tanpa Ornamen
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Teratak Tua

Di teratak tua tanah utara
run-temurun orang-orang sederhana
bermukim sepanjang musim
di kisah baru kan hadir naga kepala tujuh
radius bahaya tiga kota tua itu.

Dengar gemuruh ombak
alam beri tenaga serempak
dengar desing tiupnya angin
kan penuhi selaksa ingin
pandang cahaya matahari
sejak purba padanya manusia mencari
daya tumbuh, usir gamang, hangat terang.

Di hari elokmu wahai putera angin Timur
kuberi bukan seikat mawar dewata
namun derail-deru kata-kata
ruh ombak, angin, mentari dan bunga
mozaik hidup-mati kawula.

Cimanggis
Juli, 2005
"Puisi: Di Teratak Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Teratak Tua
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Benih-Benih yang Ditanam

Adalah benih-benih
yang ditanam di basah lahan
adalah daun lontar
ditata seputar mimbar
bukan bagian suluk dalang.

Benih-benih dan daun lontar
menjadi lembar damba tua
menjadi tangis dan tawa
anak negeri yang asing di tanah sendiri
setiap siang menyapa angina
setiap malam menyapa bintang
setiap gerhana menyapa luka
hari menjadi minggu
bulan menjadi tahun
windu menjadi umur
saat tanah Jawa kehilangan danyangnya
saat nurani lepas dari buhul iman
padamu kutemukan segala yang hilang.

Sebutir damba orang pinggiran
melesat menjadi bintang
semula aku gamang
sampai tumbuh di antara uwuh
sepohon kukuh tepis mengatruh.

Cimanggis
Juli, 2005
"Puisi: Benih-Benih yang Ditanam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Benih-Benih yang Ditanam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan yang Tertinggal

I
Menghitung langkah ke langkah
memasuki ruang dan waktu
menata jejak ke jejak
menjadi peta perjalanan umur
tak peduli jaman tebar api
langit tebar hujan belati.

Bunga-bunga kecil
di beranda kehidupan
mekar wangi pagi senja
petik harumnya simpan dalam kalbu
jadi pengantar kidung persembahan
setiap purnama lingkar sempurna.

Sadarnya hadir di puncak musim
bukan lagi pasang teratak bicara-bicara
tapi melakukan yang bisa dilakukan
memasuki ruang dan waktu.

II
Tak hitung windu
sampai gunung longsor patah penjor
sampai lindu guncang gapura hilang
ada yang tak tereja
angka di langit warna di mosaik
selalu ada yang tak tereja.

Tak hitung musim
sampai beburung lintasi awan
sampai pohon-pohon meditasi musim
ada yang tak tereja
langit sesudah malam sisakan pucat bulan
selalu ada yang tak tereja.

Teratak Gondosuli
Desember, 2005
"Puisi: Catatan yang Tertinggal (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan yang Tertinggal
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Bahasa Petir

Petir menyambar udara senja
tinggalkan getaran aneh di beranda
mozaik nada suara:
Yang kelabu langit bukan jiwa
yang melidah api bukan amuk rasa
tak hanyut Aku-mu oleh itu
tak kusut hasrat latu
baker suara purbamu
langit simpan hujan
musim simpan sisa peradaban
kenapa masih tak percaya
Akulah Penguasa Semesta
pantas murka oleh durhaka
saat di Pintu Rumah-Ku
bersila para insan jiwa berhala
aku jua muara pengampunan
Petir-Ku lewat karena 
kidungmu luruh di ujung senja.

Petir menyambar kembali
menjauh di udara tinggi
tinggalkan garis mozaik api.

Bogor
April, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Petir (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Petir
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Deru Dera

Adakah bunga cempaka tanah Cut Nya
masih mekar putting kuning
sisakan peradaban warna
manakala antaran peduli Aceh
ternoda tangan-tangan berhala
ternoda hasrat-hasrat candala
tak ibarat tak jua ayat
mampu hapus tanda-tanda oleh alpa.

Tercipta sudah peta hitam
tercipta seiring deru gelombang
hempas pagi tanah serambi.

Dibilang dihitung angka-angka
seiring delapan arah kiriman doa
tanda masih ada peradaban.

Tapi ada tangan durhaka sisipkan pengkhianatan
sementara bocah kecil sepi menggigil
kehilangan lentera hari lusa
di tanah airmata saat badai reda
Panglima tua muncul dari kabut sejarah
hatinya luka oleh para pendosa
doa purbanya tanpa suara:
Tuhan, ampuni para pendosa atau lebur jua.

Cimanggis
Januari, 2005
Catatan:
Candala (Jawa) = jahat, hina
"Puisi: Deru Dera (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Deru Dera
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kabar dari Beranda yang Tersisa

Sesiapa masih tertinggal
bersendiri di beranda ajal
mata rantai peradaban tua
lepas dari hari lusa tanah pulau
hempas gelombang menghela sempurna
mantra-mantra bunga raya
tak lagi tersisip di telinga
seiring raibnya tugu batu
saksi bisu doa ibu
langit kosong turun di mata sepi
endap lumpur memadat di hati.

Cimanggis
Januari, 2005
"Puisi: Kabar dari Beranda yang Tersisa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kabar dari Beranda yang Tersisa
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Teunom, Sebuah Mozaik Retak
(Buat dokter Nursanti di pinggir Teunom)

Dentang-dentang layar kaca
memasang mozaik bencana
sebuah kiamat kecil dunia fana
Banda kecil tanpa rembulan
bulan telah ditelan gelombang
mengintip gempa susulan.

ada Teunom mozaik retak
dalam dekap perempuan bijak
yang berjanji akan terus bertahan
di pinggir jauh puing runtuhan

Teunom cempaka kecil itu
bayangan sebuah kesetiaan
tangan cinta perempuan Nursanti
dilipat kerudung tersimpan
sejarah tak perlukan kata-kata
tangan lentik adalah ketegaran cinta.

Cimanggis
Januari, 2005
"Puisi: Teunom, Sebuah Mozaik Retak (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Teunom, Sebuah Mozaik Retak
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sisa Kota Peradaban
(Mencari Maskirbi dalam imajinasi)

: Sesaat orang masih saling bincang
tentang luas dan perubahan
tenteram damai tanah pantai
lalu bencana melanda
hempasan ombak samudra usai gempa
punah semua wahai Cut Nya
yang tersisa bayang-bayang bunga cempaka
dalam serat kabut Banda.

Di antara puing kota
mencari wajah-wajah
mungkin ibu mungkin ayah
serasa ingin dengar kembali
saat dendang saat marah
melangkah pelan di jalan lama
jalan kecil yang dulu selalu menaggil
akhir tahun tinggal gigit.

Syair tua, dendang dan tari itu
selamat dalam hatiku, bisiknya kaku
sambil tak henti panggil namamu
Ulebalang, Ulebalang, Ulebalang
cucumu daun melayang.

Cimanggis
Januari, 2005
"Puisi: Sisa Kota Peradaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sisa Kota Peradaban
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepotong Doa Sungai di Ujung Badai

Gemuruh badai diusung layer kaca
seraut wajah hanyut terbawa
barangkali wajah masa depan
bunga Tanah Rencong jika berkesempatan
kini hanya seangka korban
hanya mujiat-Mu jua
ia terasuh Sang Waktu.

Sepotong doa sunyinya
jadi serat kabut di langit Banda
sepasang mata dukanya
mencari ruh Seudati di ujung bencana
sepi menelan doanya
tak lukisan mana mampu samai warna
warna duka itu sangat sempurna.

Seutas kasih sayang
lepas dalam hempas gelombang
sisakan sepi seutuhnya
mencari bentuk keajaiban.

Cimanggis
Januari, 2005
"Puisi: Sepotong Doa Sungai di Ujung Badai (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sepotong Doa Sungai di Ujung Badai
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di antara Doa-Doa

Saat musim usung mimpi perubahan
tragedi menimpa tanah warisan
saksi perjuangan kakek moyang.

Deram gempa porandakan teratak jiwa
deru gelombang terjang gapura peradaban
tak ada tempat 'tuk melipat ratap
tak jua sempat simak ulang rubayat
selain doa luka dalam ucap ayat-ayat
dan sebasah nama saksi jamannya
dia raib dalam simpul nasib
kenangan panjang tertinggal di kaki langit
jadi pelangi di batas tabir kelabu
pesan dikirim dari tempat teramat jauh
jangan Tanya siapa-siapa lagi
baca sisa aksara dalam diri
urai simpul rahasia makna
di sana jawab segalanya
luluh lantak ujung negeri
tak hanya peristiwa alam 'tuk dimaknai
di sana ada misterinya misteri
yang harus dicermati
jadilah insan sejati
jujur dan setia di jalan Ilahi.

Suaranya hilang
seiring sayup sisa gelombang
seseorang panggil namanya dengan suara terbata.

Cimanggis
Februari, 2005
"Puisi: Di antara Doa-Doa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Doa-Doa
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berita dari Ladang

Angin cerita damai di ladang
jagung dan rumput tumbuh berdampingan
kecapi dan gerit pedati pagi-pagi
kabarkan lahirnya bayi-bayi
belum sampai berangkat dewasa
mereka telah kehilangan rumputnya
mereka telah kehilangan hijaunya
mereka telah kehilangan burung berlintasan
mereka telah kehilangan tembang
derek-derek perkasa
telah merambah sampai ke desa
lumat rumput, jagung, lintas burung
dia masih juga telanjang
dengan pusar mencuat di perut
emaknya masih Cuma berkutang
dengan jejamur di punggung
bocah dan emak tak tahu makna hidup
selain menatap dengan ujung mata.

Akhirnya mereka menyerbu kota
tanak nasi di bawah pohon sambil blingsatan
tapi masih bilang; nyaman!
Angin kini enggan berkabar
kejangkitan penyakit manusia kota
tak peduli, datang dan pergi
ladang yang ditinggal sepi mati.

Jakarta
Agustus, 1979
"Puisi: Berita dari Ladang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berita dari Ladang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Condet Secabik Net

Terbata di antara hiruk pikuk kota
memeluk diam hijau yang sisa
atau hilang selamat datang pembaruan?
Tersendat lewat atap-atap
rumah bertingkat
mengenang sendiri rimbun pohon salak
dan jawara kekar memapah gadisnya
dari cengkeraman centeng kompeni
lantas berdengang pelan
tentang cagar alam nina bobo yang kelam.

Jakarta
Februari, 1981
"Puisi: Condet Secabik Net (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Condet Secabik Net
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Desa Bulak

Ombak ombak ombak ombak
ombak ombak ombak
ombak ombak 
ombak 
menyapu desa bulak
patah tolak balak
desa tua
musim tua
matahari tua
bertahan rapuh
dalam keluh
dalam keruh
bertahan desah
sesaji tumpah
tak terjamah
ombak menyapu desa Bulak
iblis bergelak
roh-roh mengoyak
bayi-bayi mengeak
Jepara tambah tua, tua juga.

Jakarta, 1981
"Puisi: Sajak Desa Bulak (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Desa Bulak
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perempuan dari Utara

Bukit Donorojo
kebisuan wingit di mulutnya
debur doga dendam abadi Ratu Kalinyamat
mengeram pada erang jantung malam
dipujanya kebisuan
dendam orang jadi pijar logam
dipujanya pijar logam jadi mata panah
dalam diam dia panah matahari
dia panah langit birahimu
dia panah mata hatimu
dia panah rumah kardus tepat pintu.

Jakarta
Maret, 1982
"Puisi: Perempuan dari Utara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan dari Utara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sosok Sang Nyai Danyang

Kau takkan pernah mengenal suaraku
kau takkan pernah mengenal langkahku
kau takkan pernah mengenal warnaku

Aku Nyai Danyang yang tinggal di setiap
lorong tanpa penghuni dari sukmamu yang
tak pernah henti rindu desir keindahan
aku kelelawar yang muncul dari malam paling
pekat, melepaskan dahan-dahan kemalasanmu
aku jejak tak tinggalkan bekas di jalan
setapakmu pada hari berkabut dan kau
kehilangan kasut dalam hidup.

Aku Nyai Danyang yang menjagamu dengan caraku
bagai pandan duri di pesisirku
bagai warna merah pada capung musim ikan
bagai tajam mata pada pena sang penyair
Aku Nyai Danyang yang menjagamu tetap merdeka.

Jakarta
Agustus, 1986


==========
Catatan:
Nyai Danyang adalah lembaga, jasad halus yang bersifat baik.
"Puisi: Sosok Sang Nyai Danyang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sosok Sang Nyai Danyang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Pagi Sebuah Kota
(bagi Agus Djaja)

Pandeglang masih simpan erang perjalanan
pada hijau pohonan
pada akar-akar di kedalaman
dan pada palung jiwa lelaki tua
Pandeglang masih simpan kilau kenangan
menisik-nisik hari yang tawar.

Lelaki tua berdiri sendiri
menghitung pohon dan ilalang
menghitung semi Pandeglang.

Mengelopak hati yang tanjung
menisik-nisik hari yang tawar
Pandeglang masih simpan kenangan
dan pada palung jiwa lelaki tua
pada akar-akar di kedalaman
pada hijau pohonan
Pandeglang masih simpan erang perjalanan. 

Bogor
Nopember, 1992
"Puisi: Doa Pagi Sebuah Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa Pagi Sebuah Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan Dahlia

Aku ingin tumbuh terus, di sini
atas nama segala yang lestari
seperti bukit tak pernah bergeser
dari ufuk timur
dan matahari bangkit dari balik
gunung hijau berkabut pagi hari
aku ingin hadir terus, bersaksi
pada musim, warna, rasa
smarak dami anak manusia
manakala kumekarkan mahkota
(dahlia mekar perdana bercakap
dengan pagi simpan harapan)

Aku ingin abadi dalam syair pepujian
disenandungkan anak manusia
selepas dini hari dan hati rindu
sentuhan Illahi dalam suaranya bening
aku ingin smaraki lembah raya
pada kanvas pelukis sederhana
senantiasa rangkum Kasih-Nya
dalam garis dan warna-warna
aku ingin abadi dalam kebun hatinya 
(dahlia mekar tua bercakap
dengan musim harap takdir lemukjizadan)

Bogor
April, 1995
"Puisi: Percakapan Dahlia (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Percakapan Dahlia
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Anak Zaman Merdeka

Anak zaman merdeka adalah kami
yang merdeka hasrat jiwa
yang pacu langkah sepanjang sejarah
yang berjuang sepanjang hayat
di tanah kering di tanah basah
menanam pohon pengharapan.

Anak zaman merdeka adalah kami
yang memasang pilar-pilar negeri
yang memukul tifa deramkan genderang
yang pancang tali baja di pantai dan rawa
di tanah bunda tanah perdikan
mencatat peta sejarah.

Gemuruh perang itu bagian masa silam
gemuruh langkah sekarang
adalah catatan perjalanan
anak laut anak angin anak musim
sungai-sungai masa datang
tempat harmoni kehidupan berlayar.

"Puisi: Balada Anak Zaman Merdeka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Anak Zaman Merdeka
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanda-Tanda Getaran

Getaran ether darinya
getaran etherku jua
menyatu dalam nuansa
giri sukmaku.

Badai negeri menguatkanku
banjir bandang menyabarkan
bukit longsor menabahkan
di mana-mana
tipu daya prima
yang menangisi zaman
selalu sama.

Cambuklah langit
dengan lidi lanang
tak hujan datang
basahi bumi dengan darah
tuangi sungai dengan air mata
kau tetap bertanya.

Apakah arti merdeka?
Tunggu!
Getaran itu!

Februari, 1998
"Puisi: Tanda-Tanda Getaran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tanda-Tanda Getaran
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bambu Runcing dan Bunga

Dalam dada ada bara
dalam mata ada cinta sesama
dalam tangan ada bunga
di jalan Thamrin Jakarta.

Ada bambu runcing 'nusuki udara
di tugu proklamasi plaza 
ujung-ujungnya tak bertuan
berarak-arak di jalanan
o, kenapa menebar tua
kepada bunga-bunga
tahukah, semesta bersaksi
yang tak murni
pada saatnya terkelupas sendiri
zaman sedang berubah
tembangkan syair anggrek dan mawar
pasangi nurani radar
tak acung senjata di jalan raya
semuanya anak bumi merdeka
yang tengah mencari makna.

Dalam dada ada bara
dalam mata ada cinta sesama
bunga-bunga di tangan menari
bunga-bunga di hati bersaksi.

November, 1998
"Puisi: Bambu Runcing dan Bunga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bambu Runcing dan Bunga
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Nopember di Jalan Depan Senayan

Hujan Nopember membasah kota
nafas-nafas panaskan udara
jiwa terapsung berwindu-windu
hasrat mencari pintu
di depan pagar berduri
benteng ciptaan baru 
sembunyikan berhala baru
tumbal telah diambil zaman
saat awal pergolakan
seperti dilupakan
demi bingkai-bingkai rekaan.

Orang-orang muda penuhi kota
hanya tangan dan hati dibawa
berkawan hujan dan lapar
untuk kebenaran yang dikejar
sampai ke ujung duri mawar
dan api dalam sekam 
menghangus luka biru lebam
semua baur dalam kota berjamur
perjuangan dan pengkhianatan
di antara bunyi tembakan
jiwa terkoyak tubuh berjatuhan.

November, 1998
"Puisi: Catatan Nopember di Jalan Depan Senayan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Nopember di Jalan Depan Senayan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Amsal Burung

Beburung pagi
melintas-lintas di langit mendung
pucuk cemara
bersaksi murung
saat lotus putih mekar
tujuh kuntum di jambangan
jiwa kekidungan.

Tuhan telah hadirkan
panorama sederhana
buat titah-Nya
yang tak henti berjalan
yang henti mencari.

Di telatah Timur
beburung pagi menjawab tanya
dengan caranya sendiri
gelar jagad alitmu
satukan dengan jagad besar-Nya
gelar mozaik jiwamu
satukan dengan mozaik-nya.

Taman Budaya, Solo
April, 1999
"Puisi: Amsal Burung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Amsal Burung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Partitur

I
Jentera waktu
tengarai akhir abad
telah uban tembang zaman
orang-orang mulai tabur benih
di tanah perdikan ini
tumbuh pohon-pohon pengharapan
dalam sentuh angin sepanjang musim.

Jentera waktu
diputar tangan-tangan ghaib
orang-orang terpana
mengejar waktu
menarikan kehidupan.

II
Siapakah meniup seruling
di bawah terang rembulan
bangunkan para penabur benih
mengajarkan kesabaran
mengajarkan hitung musim
mengajarkan catat waktu
mengajarkan berani menunggu.

Siapakah 'nembang pesisiran
saat embun mulai luruh
bendera lembab di puncak tiang
Siapakah 'nembang ketawangan
mengajarkan doa purba
mengajarkan cinta semesta.

Bogor
September, 2000
"Puisi: Partitur (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Partitur
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Orang Muda dari Takengon

Orang muda dari Takengon
jiwanya kini sarang tawon
madu telah mongereng
oleh asap dan desing mimis
sisakan warna coklat simpan kiamat.

Orang muda dari Takengon
menari tarian sukma
rembulan bersinar sepi
cahaya temaram mengusik lahan mati
tanah leluhur simpan hari lusa
ditinggalkan pergi mengungsi
sementara amunisi
gantikan gerak seudati.

Orang muda dari Takengon
orang sederhana di kampung tua
orang muda banyak kehilangan
jeritnya gemerincing rencong
keluhnya desau angin lahan kosong.

Bogor
September, 2000
"Puisi: Sajak Orang Muda dari Takengon (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Orang Muda dari Takengon
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Amsal Ular

I
Mengenalinya
tak hanya dari warna
tak hanya dari racunnya
simak kepala dan ekornya.

II
Jika bersama ular besar
kau di ekor hanya
kau bukan apa-apa
walau bersama ular kecil
kau ada di kepala
kaulah penentu arah
ular besar ular kecil
sama makna dalam rumpunnya.

Juli, 2002
"Puisi: Amsal Ular (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Amsal Ular
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Silungkang

Silungkang
rumah gadang
rumah tua pinggir jalan
warna hitam kecoklatan
simpan nyata
derita purba
anak keturunan.

Lagu itu
mengusik kalbu
jiko den kaka
si daun paku.

Silungkang
alif ba ta mengambang
di celah kerudung alam
siapa berdoa siang-siang
di ujung salam sembahyang
siapa menerawang
di anjungan rumah gadang.

Silungkang
Desember, 1997
"Puisi: Tentang Silungkang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Silungkang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak-Anak Air Api

Anak siapa 'nyanyikan syair sumbang
membuat malu bintang-bintang
suaranya makin parau
Anak siapa mencari perhatian
mengajak berpacu terbang
matanya merah nafasnya meradang
perdamaian itu
hari ini dalam liurku
sementara pemusik terus berdendang
dan bom imperialis berjatuhan.

Jakarta, 1986
"Puisi: Anak-Anak Air Api (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak-Anak Air Api
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pong Tiku

Tak kuhitung
berapa awan yang gugur dan keningmu
tapi gunung-gunung yang pernah kau taburi rindu
masih tetap menyimpan madu.

Kutahu kini engkau melangkah
memahat jejak di batu-batu.

Dari tongkonan ke tongkonan
senyummu menyiratkan gelombang karang
jadi harapan kerbau-kerbau
yang rajin mencangkul walau kemarau.

Hutan-hutan itu
masih terasa istanamu saja
karena kekhidmatan alam
punya kemerduan lagu yang amat dalam.

Pertemuan ini hanya sebuah ketika
bintang demi bintang akan tenggelam
sedang sorot matamu tajam
senantiasa mengintip
dari sela-sela hujan yang disiramkan matahari.

"Puisi: Pong Tiku (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Pong Tiku
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada Tari dalam Diam

Napasmu yang ditahan pohon-pohon kabut
mencampakkan bercak-bercak ke langit senja dan bunga-
bunga yang mencoba baca jadi buta.

Tangis pun menjadi pohon cuaca yang melindungi tugu
garam yang segera akan cair mendengar lagu aneh dari
zaman Puangnge ri Lampulungeng.

Kita memang bukan siput, lumut dan rumput, tapi serasa
sehati dengan mereka, hingga kecut asam yang melekat di
lidah mereka kuterjemahkan dengan bahasa cambuk dan
pisau.

Bayang-bayang yang bertumbangan di ketiak ilalang diam-
diam menyemaikan bintang pada coklat bumi yang bisu.
Menari dalam diam tentu ada panen menanti di
belakangnya
Ada.



Puangnge ri Lampulungeng: orang pertama yang berkuasa di daerah Wajo
"Puisi: Ada Tari dalam Diam (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Ada Tari dalam Diam
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Makan Gado-Gado
Buat BS dan BMS

Di restoran itu kupesan sepiring gado-gado. Harganya lima
euro, lima belas kali harga gado-gado buatan Ning, Balai
Pemuda, Surabaya. Aku telah bosan melangkah dari roti ke
roti sampai angan-angan seperti basi.
Sendok dan garpu menari, kuserahkan mulutku pada irisan
kentang, lontong, tauge, kerupuk udang, dan bumbu pedas
yang makin memantapkan keindonesiaanku. Detak jantungku
menabuh gamelan, nafasku menjadi angin yang melambaikan
daun-daun nyiur, dan rohku menjelma pencalang yang
menciumi ombak demi ombak Kepulauan Seribu.
Saat kubayar gado-gado itu, aku berbisik ke arah yang jauh:
"Ning, aku di sini masih merasakan ramah gado-gadomu,
tapi uangnya kubayarkan kepada orang lain di kota Den Haag."
Dalam langkah pulang ke hotel, masih kujilat sisa bumbu yang
melekat di langit. Peristiwa di tanah air tak semuanya enak
dikenang. Tak semuanya selincah lenggang layang-layang.

"Puisi: Makan Gado-Gado (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Makan Gado-Gado
Karya: D. Zawawi Imron