loading...

Berdialog dengan Jakarta

Jakarta
selamat pagi-siang-malam
salam hati sepanjang musim
kusapa engkau saat purbani di bulan Juni
kusapa antara slum Mangarai dan gebyar Harmoni
kusapa antara rimba beton dan rel-rel.

Jakarta
musim mengirim angin ke sudut-sudut kota
cahya melambai urban ke liang-liang luka
penjara nasib dimasukinya
pintu-pintu tak terkunci jadi kebebasan semu
penjor-penjor penuh warna sungging tawa
wajah-wajah berkaca di tigabelas sungai kota
dari catatan ke catatan
simpan mozaik kehidupan.

Jakarta
rangkaian bunga masih melambai di balkon Harmoni
kami coba meraihnya karma pernah kau janjikan
kami datang bertemperasan jadi laron memburu lampu
mengusung harapan tak berkesudahan
timbul tenggelam antara umbul-umbul dan kibar bendera
jatuh bangun antara rizki-paha-dosa
hari jadi tahun-tahun jadi windu-windu jadi abad
sesekali berseteru sesekali bersahabat.

Jakarta
di bayang bulan kami menyalakan lilin agar jiwa tak padam
di ambang fajar kami tembang balada agar jiwa mekar
mantra dan doa jadi akar hasrat pohon hayat
bumi dan langit jadi saksi ruwat sengkalmu
dalam bualan Aki Nyai Rejasari.

Bogor
Juni, 2005
"Puisi: Berdialog dengan Jakarta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Berdialog dengan Jakarta
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top