Membaca Bahasa Petir

Petir menyambar udara senja
tinggalkan getaran aneh di beranda
mozaik nada suara:
Yang kelabu langit bukan jiwa
yang melidah api bukan amuk rasa
tak hanyut Aku-mu oleh itu
tak kusut hasrat latu
baker suara purbamu
langit simpan hujan
musim simpan sisa peradaban
kenapa masih tak percaya
Akulah Penguasa Semesta
pantas murka oleh durhaka
saat di Pintu Rumah-Ku
bersila para insan jiwa berhala
aku jua muara pengampunan
Petir-Ku lewat karena 
kidungmu luruh di ujung senja.

Petir menyambar kembali
menjauh di udara tinggi
tinggalkan garis mozaik api.

Bogor
April, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Petir (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Petir
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top