Maret 2005
Narcissus

Seperti juga aku: namamu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma

atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun
dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan?
Cemaskah aku kalau nanti air hening kembali?
Cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi?

1971
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Narcissus
Karya: Sapardi Djoko Damono
Hujan Dalam Komposisi, 3

Dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya
terpisah dari hujan.

1969
"Puisi: Hujan Dalam Komposisi, 3 (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Hujan Dalam Komposisi, 3
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kata

I
Matahari, yang akhir-akhir ini jarang sekali kauperhatikan, pagi
ini menerobos celah-celah jendela kamar sampai ke wajahmu.

“Jam berapa ini?” Sudah pagi. Masih juga belum kautemukan
kata sambung itu. Kau kenal betul setiap kata yang ada
dalam kamus itu, karena ikut menyusunnya dulu: yang,
karena, dari, atas, terhadap - tetapi bukan semua itu.

Akhirnya kauperhatikan juga matahari itu, dan kau seperti
bertanya sejak kapan ia berada di sana, sejak kapan ia
seperti suka menyalah-nyalahkan kita, sejak kapan ia
menyebabkan kau bertanya, “Jam berapa ini?”

Masalahnya, belum juga kautemukan kata sambung itu. Apakah
kami berhak mengatakan padamu, “Sudahlah!”?

II
“Ada sepatah kata bergerak ke sana ke mari jauh dalam dirimu;
biarkan saja, ia tak punya bahasa.”

Tapi ia suka membangunkanku.

“Biarkan saja. Ia toh akhirnya akan menyadari bahwa bukan
yang kaucari, dan akan mengembara lagi jauh dalam
dirimu jika kau terjaga dan tenang kembali.”

Tapi aku tak bisa lagi terjaga.

"Puisi: Kata (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kata
Karya: Sapardi Djoko Damono
Tiga Sajak Ringkas Tentang Cahaya

I
Cahaya itu, yang sesat
di antara pencakar langit,
sia-sia mencari
bayang-bayangnya.
"Apakah ada cahaya
yang tanpa bayang-bayang?"
pikirnya,
ketika sore begitu cepat tiba
dan matahari sampai serak
memanggilnya.

Malam hari, begitu banyak
bayang-bayang bersijingkat
di sekitar gedung-gedung tinggi ini.
Mereka berjumpa si Sesat itu
dan berkata, hampir serempak,
"Tapi kau bukan sumberku!"

II
Pada suatu hari
sebuah cahaya
yang sangat terang
berniat mencari sumbernya.
Setelah menempuh hutan,
menyusur sungai,
mendaki gunung,
dan meluncur di padang salju
sampailah ia
ke sebuah padang pasir.
Suatu bayang-bayang
yang sangat panjang,
dan sangat hitam, menyambutnya,
"Aku sumbermu." katanya.

Letih dan lelah, tokoh kita
si cahaya terang itu
berhenti dan berkata ya saja,
meskipun ia curiga
bagaimana bisa di padang pasir
yang begitu luas dan rata
dan tak ada sosok apa pun itu
bisa tercipta bayang-bayang.

III
Ketika bangun pagi ini,
kudapati cahaya kecil,
sisa semalam,
bersembunyi di sudut kamarku.
Aku hampir tidak mengenalinya
sampai ketika aku hampir keluar kamar
ia berkata, "Tutup kembali
pintu itu, cepat,
aku tak tahan menghadapi
cahaya di luar itu!"
Tentu saja,
sumber mereka berbeda,
pikirku.
"Siapa bilang begitu!"
hardik cahaya di luar
yang menyilaukan itu.

"Puisi: Tiga Sajak Ringkas Tentang Cahaya (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Tiga Sajak Ringkas Tentang Cahaya
Karya: Sapardi Djoko Damono
Candi

Engkau menahan empasan kala,
Tinggal berdiri indah permai,
Tidak mengabaikan serangan segala,
Megah kuat tidak terperai.

Engkau berita waktu yang lalu,
Masa Hindia masyhur maju,
Dilayan putra bangsawan kalbu,
Dijunjung tinggi penaka ratu.

Aku memandang suka dan duka
Berganti-ganti di dalam hati,
Terkenang dulu dan waktu nanti.

Apa gerangan masa di muka
Jadi bangsa yang kucinta ini?
Adakah tanda megah kembali?

"Puisi: Candi (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Candi
Karya: Sanusi Pane
Bola

Permainan sudah selesai. Perburuan tak akan usai.
Kostum, bendera, spanduk bertebaran di pinggir arena.
Ribuan penonton telah pulang meninggalkan stadion,
tempat yang kalah dan yang menang bertukar celana.
Maafkan kami yang tak juga paham rahasia bola.

Di tengah lapangan Maradona masih menari di atas bola:
bulatan nasib yang selembut doa; buntalan daging
yang membalut kandungan bunda; tempat janin kudus
mengarungi hari-hari agung penciptaan; puisi pengembara
yang ditenun dari benang-benang aksara.

Aku ingin masuk ke dalam bola, ingin meringkuk di sana.

2004
"Puisi: Bola (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bola
Karya: Joko Pinurbo
Misbar

Di sebuah lapangan di sebuah kampung di sebuah kenangan
di pusat Jakarta masih bisa kautemui sebuah misbar.

Mereka duduk berdesakan menyaksikan pertunjukan film
layar lebar dengan bintang-bintangnya yang cantik dan segar.
Suasana begitu hingar. Suara-suara begitu bingar.
Setiap orang bebas bicara dan bertingkah, bikin gosip,
kabar kabur, colak-colek, clap-clup, cicit-cuit, berteriak cabul,
tanpa menghiraukan benar cerita yang sedang diputar.

Ada yang memilih mojok di bawah pohon beringin
sambil minum cendol dan bersayang-sayangan.
Ada yang lebih suka ajojing sambil mabuk dan menjerit-jerit
kesetanan. Ada yang main kartu, perang mulut, ribut
dan akhirnya gelut. Ada yang menyetel radio keras-keras
dan serius amat mendengarkan pidato presiden.
Ada yang bercakap-cakap dengan topeng.
Ada yang menyinden. Ada yang main kuda lumping,
mengamuk, kemudian terpelanting. Ada yang sesenggukan
membaca sepucuk surat dari pacarnya yang minggat.
Ada yang bertengkar memperebutkan laki-laki hidung belang.
Ada yang mencopet dan mengutil, kemudian dihajar
habis-habisan. Ada yang jual tampang, pamer pamor,
menjaring iseng, dengan wajah menor-menor.
Ada yang kencing sembarangan di bawah pohon pisang.
Ada juga yang menjajakan berbagai mayat orang hilang
yang gambarnya sering terpampang di koran.

Penyair adalah penjual rokok yang duduk terkantuk-kantuk
di sudut yang remang, yang sambil klepas-klepus
memperingatkan: “Merokok dapat merugikan kesehatan.”
Yang menyimak segala hingar dan segala bingar
sambil mendengar yang tak terdengar.
Yang berani menduga siapa di antara orang-orang
yang sibuk tertawa itu yang melengos pulang
kemudian menggantung diri di kamar
karena diam-diam merasa sangat kesepian.

Tontonan makin seru. Kacau bukan soal.
Tiba-tiba terdengar letusan. Banyak yang ngacir. Kocar-kacir.
Lintang pukang. Tunggang langgang. Maling berteriak maling.
Spiker melengking-lengking. Ada yang lari terkencing-kencing.
Lalu datang orang berseragam, mengamankan keadaan.
“Tenang. Situasi dapat dikendalikan.
Pertunjukan dapat dilanjutkan.”

“Jakarta memang asyik euy,” kata penjual rokok itu
yang sambil klepas-klepus memperingatkan:
“Merokok dapat merugikan kemiskinan.”

Kemudian turunlah gerimis, pertunjukan pun bubar. Misbar.

Di sebuah lapangan di sebuah kampung di sebuah kenangan
di pusat Jakarta masih bisa kautemui sebuah misbar.
Suatu saat akan aku temui penjual rokok itu.
Siapa tahu ia saudara kembarku.

1999
"Puisi: Misbar (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Misbar
Karya: Joko Pinurbo
Himne Becak

Dua puluh tahun yang lalu aku melihatmu
sedang melamun di dalam becak yang kauparkir
di depan warung makan Sabar Menanti.
Petugas ketertiban kota datang menggarukmu:
becak dan si tukang becak diangkut mobil patroli.

Sepuluh tahun kemudian aku melihatmu
sedang mengantuk di dalam becak yang kauparkir
di depan rumah makan Sabar Menanti.
Petugas ketertiban kota datang menggarukmu:
becak segera diangkut mobil patroli,
si tukang becak dipersilakan pulang berjalan kaki.

Dan malam ini, sayang, aku melihatmu
sedang mendengkur di dalam becak yang kauparkir
di depan restoran Sabar Menanti.
Petugas ketertiban kota mengayuh becakmu,
membawamu pergi ke tempat yang sepi
sambil tetap membiarkanmu dininabobokan mimpi.

Tidur begitu manjur sampai kau tak tahu
bahwa becakmu sedang parkir di depan kuburan.
Aku tinggal rintik-rintik hujan ketika subuh datang,
ketika kau menggeliat dan berbisik lantang 
sepanjang azan, dan becakmu dicari-cari penumpang.

2005
"Puisi: Himne Becak (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Himne Becak
Karya: Joko Pinurbo
Wintemaehten, 2002

Magrib memanggilku pulang
ketika salju makin meresap
ke sumsum tulang.

Pulang ke hulu matamu
agar bisa mencair
dan menjadi air matamu.

Musim tidak berbaju,
badan dimangsa hujan,
dan magrib mengajakku pulang.

Pulang ke suhu bibirmu
agar bisa menghangat
dan menjadi kecup-kenyalmu.

Menggigil adalah menghafal rute
menuju ibukota tubuhmu.

2005
"Puisi: Wintemaehten, 2002 (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Wintemaehten, 2002
Karya: Joko Pinurbo
Pohon Cemara

Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi,
dari jauh terlihat tenang dan tinggi.
Jaman berubah cepat, andaikan nasib bisa diralat,
dan pohon cemara masih saja serindang mimpi.

Pada dahannya masih tergantung sepotong celana:
gambar panah di pantat kanan, gambar hati
di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari.

Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya,
bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya.

Aku pulang di malam yang tak kau duga.
Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya:
panah telah patah, hati telah berdarah;
darahnya kau simpan di botol yang tak mudah pecah.

2005
"Puisi: Pohon Cemara (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pohon Cemara
Karya: Joko Pinurbo
Malam Insomnia

Tenang saja, tak usah khawatir.
Aku berani pergi sendiri ke kamar mandi.
Aku akan baik-baik saja.
Tak ada hantu yang perlu ditakuti.
Oh tidak, aku tidak akan bunuh diri
di kamar mandi. Aku akan segera kembali.

Dari tempatku terbaring sayup terdengar
suara bocah sedang menjerit-jerit ketakutan.
Kemudian hening. Setelah itu ia tertawa nyaring.

Bu, aku sudah selesai mandi.
Di kamar mandi aku sempat berjumpa
dengan gembong sepi nan gondrong rambutnya.

Bagus. Nyalakan matamu.
Segera tuliskan kata-katamu
dengan sisa-sisa sakitmu
sebelum aku goyah, berderak, rebah
karena tak sanggup lagi menampung
gelisah tidurmu yang semakin parah.

Baiklah. Doakan menang ya, Bu. Aku akan duel
dengan harimau merah yang sering merusak tidurku.

2005
"Puisi: Malam Insomnia (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam Insomnia
Karya: Joko Pinurbo
Mobil Merah di Pojok Kuburan

Mobil merah di pojok kuburan
menderam-deram menyambut malam.
Lampu dinyalakan, klakson dibunyikan.
Di remang sunyi kembang jepun berguguran.

Lelaki tua sibuk berdandan,
di kaca spion wajahnya terlihat tampan.
Rambutnya harum, licin mengkilat,
lalat yang hinggap bakal terjerembab.

Kadang ia bersiul, dasi dan jas ia rapikan.
Rokok dihisap, asap dikepul-kepulkan.
Telepon genggam tak juga bilang
kapan si dia bakal muncul dari seberang.

Tiba-tiba ia terpana, pandangnya heran:
ada gadis kecil lewat, bersenandung pelan,
mendaki bukit, menyunggi bulan,
sekali-sekali menoleh ke belakang.

Mobil merah di pojok kuburan
serupa mobil-mobilan yang dulu hilang.
Musik dihidupkan, mata dipejamkan.
Di terang sepi kembang jepun bermekaran.

2005
"Puisi: Mobil Merah di Pojok Kuburan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mobil Merah di Pojok Kuburan
Karya: Joko Pinurbo
Bertelur

Dengan perjuangan berat, alhamdulillah akhirnya aku
bisa bertelur. Telurku lahir dengan selamat,
warnanya hitam pekat.

Aku ini seorang peternak: saban hari
mengembangbiakkan kata, dan belum kudapatkan kata
yang bisa mengucapkan kita.

Kata yang kucari, konon, ada di dalam telurku ini.

Kuperam telurku di ranjang kata-kata yang sudah lama
tak lagi melahirkan kata. Kuerami ia saban malam
sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan.

Kalau aku lagi asyik mengeram, diam-diam telurku
suka meloncat, memantul-mantul di lantai,
kemudian menggelinding pelan ke toilet,
dan ketika hampir saja nyemplung ke lubang kloset
cepat-cepat ia kutangkap dan kubawa pulang ke ranjang.

Mana telurku? Tiba-tiba banyak orang merasa
kehilangan telur dan mengira aku telah mencurinya
dari ranjang mereka.

Ah telur kata, telur derita, akhirnya kau menetas juga.
Kau menggelembung, memecah, memuncratkan darah.
Itu bukan telurku!

2001
"Puisi: Bertelur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bertelur
Karya: Joko Pinurbo
Ronda

Beberapa hari terakhir ini kampung kami sering dilanda
gangguan keamanan. Pencurian mulai merajalela, bahkan telah
terjadi perampokan disertai penganiayaan. Kepala kampung
memerintahkan agar kegiatan ronda digalakkan karena
tidak mungkin berharap sepenuhnya kepada petugas keamanan.

Malam itu Pak Aman hendak melaksanakan tugas ronda.
Ia warga kampung yang rajin dan setia, meskipun tubuhnya
yang kurus dan tua kurang mendukung gelora semangatnya.
Kalau ronda ia suka memakai topi ninja berwarna hitam,
mungkin untuk sekadar gagah-gagahan. Tapi malam itu
ia tidak mengenakannya karena topi kebanggaannya itu hilang
dicuri orang ketika sedang dijemur di depan rumahnya.

Nah, ia memukul-mukul tiang listrik, memanggil-manggil
teman-temannya, namun yang dipanggil-panggil tidak juga
menampakkan batang hidungnya.
Sambil bersiul-siul Pak Aman berjalan gagah ke gardu ronda.
Ia terperangah melihat di gardu ronda sudah ada beberapa
orang pencoleng sedang bermain kartu sambil terbahak-bahak
dan meneriakkan kata-kata yang bukan main kasarnya.
Bahkan ia jelas-jelas melihat salah seorang pencoleng
dengan enaknya mengenakan topi ninja kesayangannya.

“Ada musuh!” seru seorang pencoleng dan kawanan pencoleng
segera bersiaga untuk meringkusnya. Secepat kilat Pak Aman
melompat dan bersembunyi di sebuah rumpun bambu.
Tubuhnya menggigil demi melihat wajah sangar
para pencoleng sampai ia terkencing-kencing di celana.

Tidak lama kemudian muncul serombongan petugas patroli,
hendak memeriksa keadaan. “Bagaimana situasi malam ini?”
tanya seorang petugas. “Aman!” seru orang-orang
di gardu ronda yang sebenarnya adalah para bajingan.

Meskipun ketakutan, Pak Aman tidak kehilangan akal.
Ia punya keahlian menirukan suara binatang, dan ia paling fasih
menirukan suara anjing. Maka mulailah ia menggongong
dan melolong. Para pencoleng yang merasa sangat terganggu
oleh suara anjing serempak mengumpat: “Asu!”
Tapi gonggongan dan lolongan itu makin menjadi-jadi
sampai beberapa orang kampung mulai berhamburan keluar.

Menyadari ada ancaman, kawanan pencoleng yang sedang
menguasai gardu ronda segera lari tunggang langgang.
Dengan terkekeh-kekeh Pak Aman keluar dari tempat
persembunyian dan teman-temannya yang sudah hafal
dengan kelakuannya serempak berseru: “Asu!”

2001
"Puisi: Ronda (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ronda
Karya: Joko Pinurbo
Di Kulkas: Namamu

Di kulkas masih ada
gumpalan-gumpalan batukmu
mengendap pada kaleng-kaleng susu.

Di kulkas masih ada
engahan-engahan nafasmu
meresap dalam anggur-anggur beku.

Di kulkas masih ada
sisa-sisa sakitmu
membekas pada daging-daging layu.

Di kulkas masih ada
bisikan-bisikan rahasiamu
tersimpan dalam botol-botol waktu.

1991
"Puisi: Di Kulkas: Namamu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di Kulkas: Namamu
Karya: Joko Pinurbo
Calon Jenazah

Dalam pidato pelepasan jenazah
bapak tua yang awet muda itu berkata,
"Para calon jenazah yang mulia,
mari kita ikhlaskan kepergian saudara kita
yang kita banggakan ini. Ia telah bertempur
dengan hebat melawan sakitnya
yang berat. Saat ajal memeluknya,
saya sedang berada dalam sakitnya."

Tengah malam setelah pemakaman,
calon jenazah yang awet muda itu merasakan
dadanya panas dan ia ingin mandi.
Ia segera masuk ke dalam bak mandi.
Lampu padam, kemudian menyala kembali.
Ia mendongak mendengar suara:
"Calon jenazah yang mulia, selamat mandi.
Saat kau kungkum di bak mandi,
aku sedang berada dalam mandimu."

2016
"Puisi: Calon Jenazah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Calon Jenazah
Karya: Joko Pinurbo