April 2005
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelabuhan Pulau Terasing

Pulau diri Pulau tak terkata
seribu tahun kau terkubur dalam tubuhku
dalam orang yang telah bertuhan
berumah pada daun-daun yang tak berpohon
kita telah berlayar untuk berlupa pada darat:
pelabuhan yang mendingin dalam diriku

Dan tuhan mengalir dalam kesembunyian rahasia
menjadi petaka semesta hari

Aku berkata dalam laut yang tidur dalam sukma ikan
mencari tanah tanah jauh tak berkota
waktu yang terkubur seribu tahun:
Aku mau hidup dalam nama-nama kematian

Dan tuhan berenang-renang dalam laut yang hilang dalam diriku
tak tahu mau pulang ke mana

Dalam kuburmu: semua telah berlabuh.

1982
"Afrizal Malna"
Puisi: Pelabuhan Pulau Terasing
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Makan Malam Bersama Ama dan Ami

Ama dan Ami memesan rendang. Saya memesan gulai 
tunjang, satu gelas teh manis. Di luar, gerimis memotret 
kota Padang. Seperti kereta batu-bara berjalan sendiri, 
membuat lembah dari rel-rel besi dan gerobak sapi. Tak 
ada partai sosialis dan Masyumi di sini, juga seorang 
kemenakan yang hilang di kaki lima. Edy sedang 
mencukur bulu hidung waktu itu. Noni memasak telur 
dadar. Tiba-tiba dua gadis kembar berusia 5 tahun, 
mengucapkan dialog-dialog peri dari negeri Hamlet. Ada 
es krim warna-warni pada tawa lucu Ama dan Ami, 
seperti tanah air yang lain. Mereka memang pernah jadi 
peri dalam pertunjukan itu, meramal tragedi Hamlet, dari 
kekuasaan paman dan ibu. Lalu mereka berlari-lari kembali 
ke masa kanak-kanakku, yang menunggu di depan pintu.

Waktu itu saya berusia 5 tahun, Ama dan Ami sedang 
minum susu di pasar Bukittinggi, mengumpulkan 
bangkai-bangkai rumah dari Kota Gadang: “Para 
perantau itu,” kata ibuku, “seperti rumah-rumah Minang 
yang menusuk telapak kakimu.” Lalu seekor anjing 
berlari dari ujung jalan, seperti negeri berada dalam 
bahaya perang PRRI. Tahu, politik tidak ikut campur 
mengatur kamar mandi saya.

Tetapi tutup pintu itu!

Angin dingin di Padang Panjang, kabut dalam sorotan 
lampu senter, membuat Ama dan Ami gaduh dalam masa 
kanak-kanakku. Mereka memakai sepatu ayah, memakai 
topi ayah, memerankan Hamlet yang terusir. Kamar 
hotel, yang berdiri di depan kantormu, Edy, gemetar, 
memotret negeri ibu sendiri lewat siaran radio.


1994
"Afrizal Malna"
Puisi: Makan Malam Bersama Ama dan Ami
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fort Rotterdam

Semburat fajar
Mewarnai langit tenggara
Udara yang terbakar
Tercium dari puing-puing
Pelabuhan. Cahaya susut
Garam-garam kabut
Dan sebuah gema
Yang ditembakkan ke laut

Kisahmu tinggal jejak-jejak kaki
Para pemburu udang. Waktu
Hanya asap
Yang mengepul
Dari tungku

Perahu-perahu di kejauhan
Tak lagi bergerak
Ke arahmu. Hanya sisa ombak
Gelombang lunak
Dan bintang-bintang mati
Yang berjatuhan

Kemudian sebuah peta
Di balik rambutmu
Menunjukkan isyarat
Yang tak pernah terbaca:
Ada gambar badik di pundakmu

Kisahmu tinggal kerumunan jam
Di pergelangan. Angka-angka
Yang berloncatan
Hurup-hurup yang tumbang
Ke haribaan

Pulau-pulau yang pergi
Tak akan kembali
Menemui pagi. Hanya sisa lampu
Kelap-kelip tak menentu
Semacam ajal
Yang kehilangan sinyal

Kemudian tubuhmu
Gelap tubuhmu
Mengisyaratkan jejak
Yang tak pernah tercatat:
Sebuah peta terukir dekat pusarmu

Kematian yang seksi
Menyelinap
Ke balik sunyi. Seperti burung
Dengan sayap-sayap besi
Seperti kawat
Yang mengalirkan birahi

Kisahmu tinggal percikan air
Pada pasir. Usia
Hanya balon udara
Yang pecah
Menjadi rahasia.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Fort Rotterdam
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Romantic Agony

Ciumanmu melontarkanku ke dasar sunyi
Dan kembali kusyukuri nikmat kejatuhanku
Di bumi. Sinar bulan kuinjak dalam debu
Kegelapanlah yang kusongsong sebagai harapan baru
Ketika pohon-pohon hitam berbaris mengurungku
Langit merah padam siap menimpaku di segala penjuru
Aku bicara sebagai bangkai dan serigala-serigala
Mengerti ucapanku. Kujabat tangan sungai yang deras
Dan kubiarkan salam-salamku hanyut oleh gelombang
Kini pakaianku kesabaran yang sobek, keikhlasan
Yang koyak. Aku bersujud mencari lumpur yang wangi
Sambil mengenakan ciumanmu dan kepedihanku
Menggali dan menimbun kuburan waktu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Romantic Agony
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Mencintai-Mu, Kekasih Tamparlah Mukaku!

Aku mencintai-Mu. Janganlah pergi
jangan tinggalkan aku sendiri
di belantara ini

Jangan pergi. Jangan perjelas sepi
tak sanggup lagi aku Kauperdaya
aku tak bisa berbuat apa-apa

Tak bisa berkata-kata. Jangan menjauh
aku takut melangkahkan kaki
terlalu banyak jalan bersimpangan di sini

Aku bego. Tamparlah mukaku
tunjukkan padaku sebuah tempat
dimana seharusnya aku mesti Kaududukkan

Aku tak tahu. Dimana seharusnya aku
mesti menempatkan diri
dan dimana seharusnya aku mesti berdiri

Aku mencintai-Mu. Janganlah pergi
jangan tinggalkan aku sendiri
hutan ini sangatlah mengerikan dan sepi

Aku takut, takut melihat ke depan
takut menoleh ke belakang
takut diam

Tamparlah mukaku, Kekasih
lemparkan aku ke sebuah tempat
dimana seharusnya aku mesti berbaring

Sungguh tak tahu, Kekasih
bagaimana mungkin aku sampai ke sebuah Rumah
tanpa Kau yang menunjukkannya.

1980
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Aku Mencintai-Mu, Kekasih Tamparlah Mukaku!
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kerendahan Hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya....
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu....
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kerendahan Hati
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Riwayat

Sebuah kisah yang dibangkitkan 
dari antara keluarga-keluarga para penenun 
dan pembatik di kota P.

    Hidup yang bergalau gemertak deru mesin tenun pada siur jaringan benang dan ragi kain panjang pada tawarnya hati bila anak jadi berbesaran sebuah keluarga sendiri pula dunianya

    ibunya, ibu berwajah hangus diang tungku terbungkuk begini renta cuma bertutup dada nafkah bertuangkan lilin mendidih dan jejak canting tembaga

    bapanya, bapa penenun tua jika pagi-pagi sekali (penabur gigih dari persemaian menyemi di hati) menganyamkan kehidupannya bila peluit pabrik berbunyi

    tidak ingin bapa melantangi gemuruh pedal mesin tenun karena berteguh janji jadi penyemai sabar setia sejemput benih, tergenggam di jarinya dan jari ibu tua disuburi lilin mendidih, kesibukan kukuh papan tenun berlaga

    Bila mendewasa kanak: bujang dan gadis remaja dibesarkan di gubuk tepi kali basuhan kain mori sudut sebuah kota iklimnya kewangian desa ramah bumi persemaian, pinta doa bersahaja

    bila malam turun di satu akhir tahun diintip kerlip kandil di pelupuh gubuk mungil bapa bersila padat, irup kretek berdecit-decit bujang meningkah, meregang kejang tadi siang ibu bersugi merah sirih, lamban perlahan melepas pandang sayang pada gadis mengikal kembang

    bila tiba-tiba saja bapa berkata
    (ibu menggeser merah sugi, gadis memilin tepi kain)
    -kelamarin pagi keluarga Diman,
    datang meminang kau Idja

Idja tersirap Idja dara berikal kembang tunduknya hening berpintal damba dambanya damba abang Diman dambakan tanah ramah menggembur bumi persemaian di lepas riba tua berjalin sari kesayangan

Hidup, yang bergalau gemertak deru mesin tenun pada siur jaringan benang dan ragi kain panjang penabur setia, di subur dada bumi yang ramah dan menerima.


September 1955
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Riwayat
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja
(Mengenang Sjafruddin Prawiranegara)

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jejang atas,
bagai 
menyaksikan sebuah pentas.
Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak,
menggali kembali 
ingatan pada Agresi Kedua, 1948 tahunnya.

Aku berenang di antara arus kertas kerja, penelitian, bibliografi 
dan 
wawancara,
aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan,
kurasa sudah kukenal anatomi dan fisikologi sukmamu wahai sejarah,
tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja.

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu,
menatap sosok-sosok 
pemeran drama 40-an tahun yang silam,
mereka yang mendirikan 
negeriku ini,
mereka dahulu cendekia-cendekia sangat belia,
pemuda-pemuda yang memahat sebuah negara,
remaja-remaja yang 
baru belajar menggenggam laras senjata,
operator radio dalam rimba 
raya,
diplomat-diplomat tanpa sertifikat,
pelaut tiada armada,
penerbang yang merindukan sayap-sayap,
para pemberani yang tabah
menghadapi segala kemuskilan dalam beribu format.

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus,
sudut tulang rahang jelas 
kelihatan,
berambut hitam lebat,
memakai pomade yang lengket,
dan 
aku ingat betul
mereka bercelana panjang model kedomrangan.

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja,
mereka tidak memikirkan 
uang 
dan materi
tapi merenungkan dan memperjuangnkan pikiran 
serta ide.

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan 
ini
karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Ilahi,
begitu pula kuingat beribu-ibu manusia Indonesia lain pada zaman 
itu
yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka
ketika 
memerdekakan Nusantara,

Mari kita tundukkan kepala sejenak,
pejamkan mata beberapa detik,
dan kita 
bacakan Al-Fatihah untuk mereka.

Ada suara lalu-lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini,
dan terbayang 
di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya,
tak 
kita ketahui dimana adresnya,
mereka itu dulu telah melepas 
gelang, berlian, kalung, cincin
dam memecah tabungan,
mereka 
itu yang membelikan senjata
dan pesawat terbang untuk 
perang kemerdekaan.

Aku tak pernah tahu nama mereka,
aku tak pernah melihat wajah 
mereka
di harian pagi dan sore ibukota,
tidak dalam direktori 
Apa Siapa,
di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara,
apalagi masuk dalam  buku teks sejarah,
baik sejarah resmi versi 
yang berkuasa
maupun versi pertikelir atawa swasta.

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keihklasan
yang jadi kerangka 
semuanya ini?
Mengapa bisa berjuta-juta merionet menari
dan 
melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan
yang sedemikian 
ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan
di atas 
panggung histori,
50, 100, 200 tahun atau lebih waktu 
pementasannya,
lalu para sejarawan sibuk mencatat dan 
menganalisanya,
tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Aku saksikan kepala-kepala mereka
yang cendekia menggeleng perlahan-
lahan.
“Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufiq 
Abdullah,
“sebenarnya tahu sedikit saja,”

Sehabis masa yang dua hari itu, 
inilah yang kurindukan:
suara zaman 
yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan,
suatu 
zaman dimana kecambah ide dan lalu lintas pikiran
disenandungkan dengan nada berbeda-beda
tanpa ditekan 
harus sama semua ukuran panjang, 
lebar dan warnanya,
zaman 
ketika senyum yang nampak tidak dipasang
pada topeng 
panggung pementasan,
zaman di mana sikap bersahaja 
diperebutkan.

Seminar PDRI
26 September 1989
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Adalah Bel Kecil di Jendela

Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan Juni
Berkelining sepi.

Daun asam dan cericit burung gereja
Keletak kuda andong-andong Yogya
Kota tua membentang dalam debu
Sepanjang gang ditaburnya sunyi itu.

Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan Juli
Berke-
li-
ning s
epi.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Adalah Bel Kecil di Jendela
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan dengan Zaini

Rendra di muka kaca
Syahwil sedang meriasnya

Penyanyi berbagai serenada dalam warna
Sedang menatap diri sendiri dalam kaca
Penyair yang meluluhkan jasad dengan garang
Panggilan gong di pentas bertambah lantang

Seribu sajak meleburkan baitnya dalam gerak
Menggelepar manja. Berbulu putih dengan sayap perak
Beterbangan dan hinggap dari dahan ke dahan
Dahan zaitun, dahan pohon utara dan selatan

Seribu gerak kembali lahir jadi puisi
Si pencari yang mendaki tangga zaman Yunani
Kuulurkan tangan padanya: man kita ngembara
Ke mana saja. Karena sajak ada di sepanjang benua

Penyanyi itu telah mengenakan jas birunya
Kali terakhir menatap dirinya pada kaca
Semakin lama kita ngembara dalam puisi
Mana tanganmu, siapa tak terbawa jauh sekali.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Percakapan dengan Zaini
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pikiran Sesudah Makan Malam, September

Demikianlah, bila kita harus berkata juga
Kontemporer! Saat ini! Ya
Saat ini juga
Dan secarik bintang melesat di atas sana.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pikiran Sesudah Makan Malam, September
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kopi Menyiram Hutan

Tiga juta hektar
Halaman surat kabar
Telah dirayapi api
Terbit pagi ini
Panjang empat jari
Dua kolom tegak-lurus
Dibongkar dari pick-up
Subuh dari percetakan
Ditumpuk atas jalan
Dibereskan agen koran
Sebelum matahari dimunculkan
Dilempar ke pekarangan
Dipungut oleh pelayan
Ditaruh di meja makan
Ditengok secara sambilan
Dasi tengah diluruskan
Rambut istri penataan
Empat anak bersliweran
Pagi penuh kesibukan
Selai di tangan
Roti dalam panggangan
Ketika tangan bersilangan
Kopi tumpah di bacaan
Menyiram tiga juta hektar koran
Dua kolom kepanjangan
Api padam menutup hutan
Koran basah dilipat empat
Keranjang plastik anyaman
Tempat dia dibuangkan
Tepat pagi itu
Jam setengah delapan.

1988
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kopi Menyiram Hutan
Karya: Taufiq Ismail