Makan Malam Bersama Ama dan Ami

Ama dan Ami memesan rendang. Saya memesan gulai 
tunjang, satu gelas teh manis. Di luar, gerimis memotret 
kota Padang. Seperti kereta batu-bara berjalan sendiri, 
membuat lembah dari rel-rel besi dan gerobak sapi. Tak 
ada partai sosialis dan Masyumi di sini, juga seorang 
kemenakan yang hilang di kaki lima. Edy sedang 
mencukur bulu hidung waktu itu. Noni memasak telur 
dadar. Tiba-tiba dua gadis kembar berusia 5 tahun, 
mengucapkan dialog-dialog peri dari negeri Hamlet. Ada 
es krim warna-warni pada tawa lucu Ama dan Ami, 
seperti tanah air yang lain. Mereka memang pernah jadi 
peri dalam pertunjukan itu, meramal tragedi Hamlet, dari 
kekuasaan paman dan ibu. Lalu mereka berlari-lari kembali 
ke masa kanak-kanakku, yang menunggu di depan pintu.

Waktu itu saya berusia 5 tahun, Ama dan Ami sedang 
minum susu di pasar Bukittinggi, mengumpulkan 
bangkai-bangkai rumah dari Kota Gadang: “Para 
perantau itu,” kata ibuku, “seperti rumah-rumah Minang 
yang menusuk telapak kakimu.” Lalu seekor anjing 
berlari dari ujung jalan, seperti negeri berada dalam 
bahaya perang PRRI. Tahu, politik tidak ikut campur 
mengatur kamar mandi saya.

Tetapi tutup pintu itu!

Angin dingin di Padang Panjang, kabut dalam sorotan 
lampu senter, membuat Ama dan Ami gaduh dalam masa 
kanak-kanakku. Mereka memakai sepatu ayah, memakai 
topi ayah, memerankan Hamlet yang terusir. Kamar 
hotel, yang berdiri di depan kantormu, Edy, gemetar, 
memotret negeri ibu sendiri lewat siaran radio.


1994
"Afrizal Malna"
Puisi: Makan Malam Bersama Ama dan Ami
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top