Mei 2005
Resonansi Indonesia

Bahagia saat kau kirim rindu
termanis dari lembut hatimu
jarak yang memisahkan kita
laut yang mengasuh hidup nakhoda
pulau-pulau yang menumbuhkan kita
permata zamrud di khatulistiwa.

Kau dan aku
berjuta tubuh satu jiwa
kau semaikan benih-benih kasih
tertanam dari manis cintamu
tumbuh subur di ladang tropika
pohon pun berbuah apel dan semangka
kita petik bersama bagi rasa bersaudara
kau dan aku
berjuta kata satu jiwa.

Kau dan aku
siapakah kau dan aku?
Jawa, Cina, Batak, Arab, Dayak
Sunda, Madura, Ambon, atau Papua?
Ah, tanya itu tak penting lagi bagi kita
: kau dan aku
berjuta wajah satu jiwa.

Ya, apalah artinya jarak pemisah kita
apalah artinya rahim ibu yang berbeda?
Jiwaku dan jiwamu, jiwa kita
tulus menyatu dalam genggaman
burung garuda.


Jakarta
1984/1999
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiResonansi Indonesia
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Bukit Soreang

Tebing, jembatan
kelokan sungai, serta
kuburan kampung
lubuk antara,
dua julangan, hunjaman
batas alamiah
tempat menyawang
luang di puncak bukit
- dan panorama
tempat bersantai
usai lelah menyusur
jejak leluhur,
atau tak perlu?
Akhir kembara: makam
tidak dikenal.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Bukit Soreang
Karya: Beni Setia
Variasi Ramadhan
(Sambil menonton yang belanja
lebaran, sambil menanti daging
qurban dibagikan - bersabar ...)

(1)
Dekat stasiun ada warung soto kikil: kita
leluasa mengunyah, sambil bercermin di
pekat lemak kuah. si perangkap nikmat
hempang rel timur-barat, tapi kereta tak
mungkin ada lewat–sampai nanti, jam
sebelas, sampai tiba waktu terpilih. mati
”hari apa ini? tanggal berapa?” tidak ada
jawaban. pada sepuluh hari lagi ramadan
akan dimulai - maksudku: ramadhanis sale
di warung stroke di meja asam urat: aku
tercenung. di sebelas bulan ini kita sudah
biasa berpantang apa? dan akan apa lagi?

(2)
Mesjid kami akan dilengkapi menara
tinggi - sarang bagi spiker. agar azan
dan lantun qurían terdengar di seantero
pun bacaan terawih, dan (nanti) tadarus.
sebentar lagi seruan buat sahur, isyarat
imsak, dan terutama: anjuran agar bertakjil
awal serta ujung hari yang bising, dengan
siang yang selalu lengang - tanpa kegiatan
: semua terlelap. sehingga butuh pengeras
agar umat gegas terjaga serta sigap makan.

(3)
Aku membuka catatan belanja bulanan
: menaksir cicilan rumah serta sepeda
motor–memanjang ke julang misteri usia
ditambah rutin uang kuliah serta bea kos
anak, hutang jangka pendek dari telepon,
koran, sembako, rokok, baju - dll dst dsbnya
berbulan dipaksa menahan diri, senantiasa
berpantang serta mengalah. lantas: dengan
apa memanjakan-Nya di jalan zakat + sedekah?
apakah harus merampok, melacur, atau korupsi.

(4)
Silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, kataku
pada kawan yang ëngajak halal-bi-halal. reuni
sebab karcis kereta serta pesawat sudah habis
terjual, sedangkan bis habis di-booking acara
mudik bersama. bareng produsen sapi cincang
sambil termangu menaksir tunjangan lebaran
anak, santunan zakat serta kewajiban fitrah - 
sisanya buat pulsa: sms ucapan selamat lebaran
sayap + ceker buat opor hari raya. makan besar
2 bulan lagi - ketika tiba pembagian sapi qurban

(5)
Aku sedang berlatih berbaring. tangan terlipat
di dada agar khidmat menatap ke kiblat
melengos pada apapun sebelum papan lahat
dirapatkan serta lubang kubur dipadatkan
taqarrub - mimpi bercengkerama dengan-Nya.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Variasi Ramadhan
Karya: Beni Setia
Pengenalan Diri

Kita dijaga oleh syaraf. Tulang-tulang
dibungkus kulit yang berlapis daging
tempat ribuan urat mengalirkan darah
- jantung mengisap serta mengempa
seirama dengan paru-paru menapis udara.

Kita dililit syahwat. Dibina insting akar kiara
tumbuh dengan tekad menjulang mengaling
semak-semak dan rumput dari berkah surya
jadi yang senantiasa menyala di tengah semesta
di antara planet dan astroid - reruntuk eksistensi.

Sesal gerabah pecah dengan jejak embus nafas-Nya.


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Pengenalan Diri
Karya: Beni Setia