November 2005
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kami Pergi Malam-malam


Malaikat penjagaku mengetuk jendela
dari sorga sehati dengan daku
berdua satu tempaan.

Kami sama-sama menuruni malam
bulan terpancang kedinginan.

Malam dibungkam kabut tipis
sepinya seperti topeng yang gaib.
Dan di sini terpancar suara-suara yang paling murni
keras dan tajam seperti dinginnya tiang listrik.

Dunia, sorga, neraka
semua bicara di sini.

Kami sama-sama menuruni malam
sampai di satu lorong dibungai perempuan.
Perempuan-perempuan susu layu dirapikan
mata kuyu dibinarkan pulasan.

Mereka kuda-kuda yang dihalau dari padang subur
menerjunkan diri ke rimba-rimba
yang makin menggila oleh kegelapan.

Mereka yang dikutuki wanita gereja
dipalingkan dari harapan surga.
Dosa apa pada mereka?
Hai, nyonya-nyonya, dosa apa?
mereka mendapat kehitaman itu
waktu dipingsankan mata mereka.

Kita mulyakan almarhum bunga bangsa
dan mereka bunga-bunga hitam yang masih ada nyawa
begitu rendahkah mereka
di bawah tulang-belulang bunga bangsa?

Mereka bicara dalam kuyu mata mereka
mereka bicara dalam dusta lemah mereka
tapi wanita-wanita terhormat tidak tahu
mereka dijauhi harapan surga
dan timbul nafsu lelaki.

Malaikat penjaga merangkul daku
kami berlutut dan berkata: Haleluya!
karena kami lihat Tuhan menciumi kening mereka
kuda-kuda yang dihalau dari padang subur.

 
 
"Puisi: Kami Pergi Malam-malam"
Puisi: Kami Pergi Malam-malam
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertemuan di Pinggir Kali


Bulan di air kali, berdekapan kami di tebing rumputan
mengurai jumlah rindu yang didukung wajahnya
mengibas kesepian hangat darah yang bergayut di matanya.
Merasuki gigitannya di bahuku pada setiap kepuasan.

Pertemuan di pinggir kali, pertemuan menembus sepi
Bau bunga, lembut rumput, dan dekapan kami penuh cinta
di dada kami nafsu cantik kandungan sejak lahir mula.

Cengkerik-cengkerik berkhianat, rahib-rahib yang menyeru:
itu dosa!

He, para palsu yang bongkok-bongkok?
Demi nafsu suci yang merah, nafsu suci yang indah
mengapa ini dosa? Mengapa kami dosa?

Tiada satu dari kami dijahati dan terputus siksa dada
mengecup bunga-bunga kehidupan, bunga-bunga umur muda.

Di dada kami nafsu kandungan sejak lahir muda
mengecap remang-remang yang nikmat, remang-remang pinggir kali dan hati.
 
 
"Puisi: Pertemuan di Pinggir Kali"
Puisi: Pertemuan di Pinggir Kali
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lelaki-lelaki yang Lewat


Debu-debu mengepul
tanda orang-orang lewat di jalanan
Bau keringat dan gurau cabul
tanda lelaki-lelaki lewat di jalanan.
Ke timur. Mereka berjalan ke timur.
Ke arah limau merah dari langit.

- Hai, Nak! Anak penjaga malam!
Lelaki-lelaki telah lewat dengan galaunya.
Katakan, Anak, darimana datangnya?

- Mereka datang dari barat
utara dan selatan.
Ah, Bu, mereka datang dari pojok mana saja

Mata berkilat bagai buah-buahan
mulut bau arak dan nyanyi sepanjang jalanan
lelaki-lelaki telah datang dari barat, selatan
ya, dan penjuru mana saja
Mereka telah tinggalkan rumah-rumah bahagia yang terlarang
kelelawar-kelelawar terbang pulang ke gua sarang
kerna di langit arwah-arwah
telah membasuh piring merah

- Hai, Nak. Anak gembala dinihari?
Lelaki-lelaki telah lewat dengan wajah bagai tungku.
Katakan, Anak, apa yang telah mereka kerjakan?

- Mereka kerjakan ini.
Mereka kerjakan itu dan apa saja.
Ah, Bu, lelaki adalah nabi hatinya!

Dinihari yang segar
dengan buahan di pepohonan.
lelaki yang payah telah butuhkan rumah.
Mereka telah lewat dengan nyanyinya.
Lelaki-lelaki menjual umur dengan berani.
Mereka menyanyi dan selalu menyanyi.
Ah, ya, tentu dengan kenangan yang indah!

 
 
"Puisi: Lelaki-lelaki yang Lewat"
Puisi: Lelaki-lelaki yang Lewat
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng Pahlawan


Pahlawan telah berperang dengan panji-panji
berkuda terbang dan menangkan putri.
Pahlawan kita adalah lembu jantan
melindungi padang dan kau perempuan.
Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra.

Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba.
Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi
kerna pahlawan telah berkunjung di tiap hari.

 
 
"Puisi: Dongeng Pahlawan"
Puisi: Dongeng Pahlawan
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Serenada Merjan


Angkatlah pandang matamu
ke swarga loka,
ke sejuta lilin alit
yang gemetar.
Semerbak bau kesturi
dan endapan mimpi malammu.
Tidakkah kau mengerti
aku suami, engkau istri?

Kau dan aku
yang berpijak di bumi pusaka
di tengah alam semesta
yang telanjang dan terbuka,
adalah sumber dari hidup yang baru
kita adalah persemaian
dari dosa, penderitaan
dan napas harapan kehidupan.

Wanita!
Merapatlah engkau kemari!
Bertaburanlah kristal-kristal semangat
dalam udara yang menentang mati.
Tubuhmu bagai kijang kencana
berkilauan di lengan-lengan kuatku
adalah pernyataan
menentang kehancuran benih insani.

Tumpaslah engkau,
suara malam yang durhaka!
Laguku yang ini
lahir dan koyak-moyaknya mimpi pertama
yang menjelma jadi mimpi ke sejuta.
Inilah nyanyianku
yang lepas dari dadaku
yang terluka dalam penderitaan yang jingga
dan selalu menemu fajar esoknya.
Insan tak bisa dihancurkan.

Merangkak sepanjang abad
menaruh harapan di tangannya yang menderita.
Dan percintaan
selalu penentang kematian.

Di dalam udara bau kesturi,
dan selalu bergema
debaran selaksa jantung di kahyangan
kudekap dikau pengantinku.

Melenguh lembu-lembu yang terjaga,
bambu-bambu merapat kedinginan,
berdesir sungai birahi,
pucuk padi menciumi bumi,
pohonan hidup dan gemetar,
dan bulan menutup wajahnya.
Tanganku menjamah dadamu.
 
 
"Puisi: Serenada Merjan"
Puisi: Serenada Merjan
Karya: W.S. Rendra