loading...
Serenada Merjan


Angkatlah pandang matamu
ke swarga loka,
ke sejuta lilin alit
yang gemetar.
Semerbak bau kesturi
dan endapan mimpi malammu.
Tidakkah kau mengerti
aku suami, engkau istri?

Kau dan aku
yang berpijak di bumi pusaka
di tengah alam semesta
yang telanjang dan terbuka,
adalah sumber dari hidup yang baru
kita adalah persemaian
dari dosa, penderitaan
dan napas harapan kehidupan.

Wanita!
Merapatlah engkau kemari!
Bertaburanlah kristal-kristal semangat
dalam udara yang menentang mati.
Tubuhmu bagai kijang kencana
berkilauan di lengan-lengan kuatku
adalah pernyataan
menentang kehancuran benih insani.

Tumpaslah engkau,
suara malam yang durhaka!
Laguku yang ini
lahir dan koyak-moyaknya mimpi pertama
yang menjelma jadi mimpi ke sejuta.
Inilah nyanyianku
yang lepas dari dadaku
yang terluka dalam penderitaan yang jingga
dan selalu menemu fajar esoknya.
Insan tak bisa dihancurkan.

Merangkak sepanjang abad
menaruh harapan di tangannya yang menderita.
Dan percintaan
selalu penentang kematian.

Di dalam udara bau kesturi,
dan selalu bergema
debaran selaksa jantung di kahyangan
kudekap dikau pengantinku.

Melenguh lembu-lembu yang terjaga,
bambu-bambu merapat kedinginan,
berdesir sungai birahi,
pucuk padi menciumi bumi,
pohonan hidup dan gemetar,
dan bulan menutup wajahnya.
Tanganku menjamah dadamu.
 
 
"Puisi: Serenada Merjan"
Puisi: Serenada Merjan
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top