Januari 2006
Maskumambang


Kabut fajar menyusup dengan perlahan
bunga Bintaro berguguran di halaman perpustakaan
di tepi kolam, di dekat rumpun keladi
aku duduk di atas batu melelehkan air mata.

Cucu-cucuku
zaman macam apa,
peradaban macam apa
yang akan kami wariskan kepada kalian?

Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang
kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.

Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan.

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman.

Bangsa kita kini
seperti dadu terperangkap dalam kaleng hutang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa
tanpa kita bisa melawannya
semuanya terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan di zaman penjajahan.
Tatanan kenegaraan dan tatanan hukum
juga mencontoh tatanan penjajahan
menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan
yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik.

O comberan peradaban,
o martabat bangsa yang kini compang-camping
negara gaduh, bangsa rapuh.
Kekuasaan kekerasan meraja lela
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama takhayul pembangunan.

Restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang
kawan dan lawan,
peradaban yang dangkal.

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
di dalam daulat manusia
namun daulat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat
dan daulat hukum akal sehat.

Matahari yang merayap naik dari ufuk timur
telah melampaui pohon dinding
udara yang ramah menyapa tubuhku
menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur
berdengung sepasang kumbang yang bersenggama.

 

Cipayung Jaya
4 April 2006
"Puisi: Maskumambang (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Maskumambang
Karya: W.S. Rendra
Dari Jendela Bar Saya Lihat Hujan Ikut Hingar


Panggil aku melankoli, katanya.
Terompet yang ditembakkan ke arah lampu 40 watt.
Daun pintu kering yang digebrakkan malam.

Panggil aku melankoli, katanya.
Ruh dalam ruang remang-remang,
yang terbakar oleh kunang-kunang rokok
berkejaran.

Panggil aku melankoli, katanya.

Wajah bersandar dalam poster, senyumnya
kertas dinding yang menggeletar sebentar
dan langkahnya, hidupnya, seperti jantung yang
didinginkan.

Panggil aku.
"Tapi aku tak mengenalmu," kata saya kepadanya.

Ia tertawa orang hitam. Ia menggeliat orang hitam.
Lihat paru-paruku, katanya. Sebuah benda
ruang angkasa yang lengket
oleh nanah.

Panggil aku melankoli, ia berkata lagi, lalu menyanyi.

I hate to see...
 

1991
"Puisi: Dari Jendela Bar Saya Lihat Hujan Ikut Hingar (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Dari Jendela Bar Saya Lihat Hujan Ikut Hingar
Karya: Goenawan Mohamad
Suwuk Solibin


Solibin solimat
Bimat busipat
Langitmu tanpa mendung
Lautku tanpa garam
Mendung bagianku
Garam bagianmu
Solibin solimat
Bimat busipat.

Pundakmu tanpa beban
Bebanku tanpa pundak
Hakmu tanpa kewajiban
Kewajibanku tanpa hak.

Solibin solimat
Bimat busipat.

Kau kemas keserakahan dalam amal kesalehan
'Ku kemas kecemasan dalam senyum kekalahan
Kau bungkus kebusukan dalam kafan sutera
'Ku bungkus kepedihan dalam dada membara.

Solibin solimat
Bimat busipat.

Kau keparat!
 
  
1410 H
"Puisi: Suwuk Solibin (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Suwuk Solibin
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Kepada Orang Terlunta

Menjalar kau sayang, matamu nanar
Berputar-putar kau sayang, di lingkar lapar
O dimana akan bersua rindu setia
Baginya yang terlunta dalam kota

Debu-debu berterbangan ramah menyongsongnya
Ketika malam terang, bulan benderang
Ketika malam kelam, ditempeli bintang
Ketika hujan lebat, malam disobek kilat

Berkejaran angin membawa berita
Tentang sebuah kota yang sengsara
Menangkup pada bumi kulepas salam yang mesra
Selamat jalan bagimu orang yang terlunta!

  
1959
"Puisi: Kepada Orang Terlunta (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Kepada Orang Terlunta
Karya: Aldian Aripin
Piknik


Untuk pikniknya yang terakhir Tiar menyiapkan telur dadar dan sejumput merica. Ia bangun pagi sekali. Di tempat mandi dipandangnya sumur: sebuah liang hijau, seperti lorong hutan yang memanggil. Ia tahu ia tak hendak pergi.

"Tapi aku mesti pergi," bisiknya sambil menerjunkan timba.
Air terkoyak. Lorong itu mengembalikan bunyi.

35 tahun yang lalu untuk pikniknya yang pertama ia ingat
ia memilih topi katun putih. Si upik mengenakan gaun ros,
dan mengikuti anak-anak yang menari di tepi danau
dengan lagu angan-angan. Ibunya menyiapkan tikar,
menggumamkan sesuatu. Ia seperti dengar suara saluang.

Setelah itu mungkin 20 tahun menyela mereka, memisahkan,
sampai mereka bersua di kereta ke Solo. Mereka tak saling menyapa.
Ia pura-pura melihat ke luar gerbong: sederetan pokok dadap,
kembang merah yang ranum, sisa tanggul yang runtuh.

"Kau masih sendiri?" Ia bayangkan ia bertanya.

Tapi si upik yang tak ditatapnya akan selalu memandang ke depan,
dan dari ruang masinis seperti ia dengar seseorang berkata,
"Tak ada lagi."

Pada pikniknya yang terakhir Tiar tahu apa artinya "tak ada lagi."


2006
"Puisi: Piknik (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Piknik
Karya: Goenawan Mohamad
Sajak Gadis dan Majikan

Janganlah tuan seenaknya memelukku,
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu.
Aku bukan ahli ilmu menduga,
tetapi jelas sudah 'ku tahu
pelukan ini apa artinya ...
Siallah pendidikan yang aku terima.
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tatacara.
Tetapi lupa diajarkan:
bila dipeluk majikan dari belakang,
lalu sikapku bagaimana!
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku tetekku,
sudah 'ku tahu apa artinya ...
Mereka ajarkan aku membenci dosa
tetapi lupa mereka ajarkan
bagaimana mencari kerja.
Mereka ajarkan aku gaya hidup
yang peralatannya tidak berasal dari lingkungan.
Diajarkan aku membutuhkan
peralatan yang dihasilkan para majikan,
dan dikuasai para majikan.
Alat-alat rias, mesin pendingin,
vitamin sintetis, tonikum,
segala macam soda, dan ijasah sekolah.
Pendidikan membuatku terikat
pada pasar mereka, pada modal mereka.
Dan kini setelah aku dewasa
ke mana lagi aku kan lari,
bila tidak ke dunia majikan?
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Aku bukan cendikiawan
tetapi aku cukup tahu
semua kerja di mejaku
akan ke sana arahnya.
Jangan tuan, jangan!
Jangan seenaknya memelukku.
Ah. Wah.
Uang yang tuan selipkan ke beha-ku
adalah ijasah pendidikanku.
Ah. Ya.
Dengan yakin tuan memelukku.
Perut tuan yang buncit
menekan perutku.
Mulut tuan yang buruk
mencium mulutku.
Sebagai suatu kewajaran
semuanya tuan lakukan.
Seluruh anggota masyarakat membantu tuan.
Mereka pegang kedua kakiku.
Mereka tarik pahaku mengangkang.
Sementara tuan naik ke atas tubuhku.
Yogya
10 Juli 1975
"Puisi Sajak Gadis dan Majikan (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Gadis dan Majikan
Karya: W.S. Rendra