loading...

Piknik


Untuk pikniknya yang terakhir Tiar menyiapkan telur dadar dan sejumput merica. Ia bangun pagi sekali. Di tempat mandi dipandangnya sumur: sebuah liang hijau, seperti lorong hutan yang memanggil. Ia tahu ia tak hendak pergi.

"Tapi aku mesti pergi," bisiknya sambil menerjunkan timba.
Air terkoyak. Lorong itu mengembalikan bunyi.

35 tahun yang lalu untuk pikniknya yang pertama ia ingat
ia memilih topi katun putih. Si upik mengenakan gaun ros,
dan mengikuti anak-anak yang menari di tepi danau
dengan lagu angan-angan. Ibunya menyiapkan tikar,
menggumamkan sesuatu. Ia seperti dengar suara saluang.

Setelah itu mungkin 20 tahun menyela mereka, memisahkan,
sampai mereka bersua di kereta ke Solo. Mereka tak saling menyapa.
Ia pura-pura melihat ke luar gerbong: sederetan pokok dadap,
kembang merah yang ranum, sisa tanggul yang runtuh.

"Kau masih sendiri?" Ia bayangkan ia bertanya.

Tapi si upik yang tak ditatapnya akan selalu memandang ke depan,
dan dari ruang masinis seperti ia dengar seseorang berkata,
"Tak ada lagi."

Pada pikniknya yang terakhir Tiar tahu apa artinya "tak ada lagi."


2006
"Puisi: Piknik (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Piknik
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top