Februari 2006
N.B.

Seperti kalau kita berjalan di pusat perbelanjaan,
di pinggir-pinggir toko dan kaki lima
segalanya menggoda kita untuk melihat: dengan nyata!
hanya lemari kaca dan etalase, kalau saja kita
bukanlah sekelompok orang renta dan tua dengan mata rabun
atau si buta dengan tongkatnya.
segalanya begitu nyata!
atau kalau saja kita bukan bayi yang berjalan merangkak
atau anak-anak usia bermain yang hanya tergoda kegembiraan.

Apa yang tak terlihat?
bahkan suara orang-orang gelisah sepanjang jalan
dan rengekan pengemis yang lapar.
lagu-lagu sumbang pengamen, atau bahkan, kalau bisa bersuara,
bisikan sedih sesuatu yang dijajakan itu ...

Tetapi kita tidak melihat apapun. seperti kalau kita berjalan
di ruang-ruang tanpa cahaya. bahkan ledakan bom dan
tembakan meriam tak bisa kita dengarkan.

Jakarta, 1999
"Puisi: N.B. (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: N.B.
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia

1
Selalu, setiap perjalanan keluh kesah itu
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan nama-nama gang.

Orang-orang, selalu seperti memulai hari
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluh kesah.
dan selalu gagal membaca arah.

2
Ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
: sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patung-patung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenang-senang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hiruk-pikuk kotamu yang angkuh.

3
Kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,
kutunggu sepanjang rel dan bangku-bangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
Kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.

4
Kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerak-gerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimana-mana kudengar
cerita-cerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.

5
Sebuah surat kutemukan di Malioboro,
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalase-etalase
dan di antara tumpukan barang-barang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayang-bayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke mana pun.

6
Rindu kadang menyakitkan
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
Seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumah siput.
Seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.

Yogya, 1999
"Puisi: Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Doa dalam Upacara

Dia ratunya wanodya
berhati bunga melati
semangat jiwa ksatria
menembus ruang dan waktu
abad hadir abad bergulir
kisahnya terus mengalir
di kota tua tertatah terukir

Di bumi wangi
kusatukan segala doa
membasuh luka sejarahnya
wanodya sekar buana

Gusti Maha Ning Gusti
berkahi cahayanya abadi
Jepara tak pernah suwung
Jepara jadilah sumur agung
di Arasy-Mu jiwa temiyung
bagi Sang Ratu segala kidung
dalam tebar bunga tanjung.

Jepara, 2006
"Puisi: Doa dalam Upacara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa dalam Upacara
Karya: Diah Hadaning
Catatan Agustus

Pesona ruh dua warna itu
mendepak dan menendang
menggeliat dan menerjang
bicara makna kehadirannya
Kemerdekaan!
tapi para Sengkuni merajalela
tapi para durna makin temaha
aku cemas aku gemas.

Bapa, kusaksikan begitu lama
bapa, kutunggu perubahan nyata

Yudistira, benihkan kejujuran di tanah ini
Bima, kukuhkan ketegaran jiwa bangsa ini
Harjuna, ruhkan kesaktian juang anak negeri
Nakula Sahadewa, berikan makna budi yang lupa diri
Kemerdekaan itu, pesona itu
bersihkan dari limbah hitam dalam jiwa
bebaskan dari udara jelaga purba
lusa manakala angka berubah makna
yang sat jadi sapta
religi buana dalam sabda
menyusur lorong bencana
bingkai tetarian dosa
langkahku zikir purba
kala-kala sumingkira!

Bogor, 2006
"Puisi: Catatan Agustus (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Agustus
Karya: Diah Hadaning
Nyanyian Putih

Sesosok bayang bicara dari dunia jauh:
ini hari yang wangi, saudaraku
jangan hentikan nyanyianmu
selagi merah putih masih berkibar tinggi
bersaksilah bagi kami, saudaraku
peluru telah menyunting janji maut
jadi manik dan bintang di dada
mati bukanlah sakit untuk diobati
melainkan nyanyian putih di hati
tentang cinta pada setiap tapak bumi

Terus nyanyikan hari ini, saudaraku
seperti kami nyanyikan dari bayangmu
kenapa lari sembunyi?
pandangi camar terbang sepanjang pantai
bincang cinta egoisme dan hal tak menentu
inikah wujud lain dari pekik merdeka atau mati-ku dulu?
di ujung kakimu itu
dulu darahku tumpah dan beku
tanpa doa tanpa apa-apa
aku tanya dalam kebodohan primitif
tapi kau hanya bernyanyi syairnya lain
sekali, tentang disco dan gensi
aku makin bising tak lelap berbaring
akankah kau henti dan mulai benah diri?
dan mengirim diriku kembang melati...

Jakarta, 1978
"Puisi: Nyanyian Putih (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Putih
Karya: Diah Hadaning
Sajak Hitam

Hitam langit
hitam matahari
hitam bumi
hitam diri
sunyi yang hening
dan abadi.

Hitam buku
hitam ilmu
hitam mataku
hitam citraku
gelisah yang panjang
dan telanjang.

Hitam bayangku
hitam fanaku
hitam baqaku
hitam sorgaku
hitam nerakaku
karena sembunyi
dari lentera-Mu abadi
tapi bangunkan diriku
dengan kuasa-Mu satu.

Jakarta, 1978
"Puisi: Sajak Hitam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Hitam
Karya: Diah Hadaning
Jakarta, Kaukah Itu

Menggigil dalam desah kereta
memanggil dalam keruh sungai tua
dan menggenggam pedang berkarat
adakah kau itu
yang pernah ku rindukan
kala duka-duka mengucur
membasuh hari dan umur.

Jakarta, 1979
"Puisi: Jakarta, Kaukah Itu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta, Kaukah Itu
Karya: Diah Hadaning
Laut Dibakar Matahari

Inilah kebohongan paling besar hari ini
tentang laut yang dibakar matahari
tinggal dasar gosong keropeng
ikan-ikan menggelepar
manusia hingar-bingar
matahari 
ada di mataku ada di matamu.

Jakarta, 1979
"Puisi: Laut Dibakar Matahari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Laut Dibakar Matahari
Karya: Diah Hadaning
N'Kosi Sikele Afrika

Anak bumiku
anak-anak hitam tumbuh di luar tembok tembok penjara
perempuan kerabatku
perempuan perempuan bunga mekar
di padang terbuka antara Soweto - Lusaka
dan hutan hutan
dan gurun gurun
dan getar tam tam
bersaksi atas nama segala cinta
aku tetap belum bisa tenang
menghitung kalender di kursi goyang selama pembebasan
permainan mimbar sebagian sebagian

Walter Sisuluu aku punya sembilu
Neville Alexander aku punya keker
Andrew Masando aku punya loso 
racun tuba masa-masa paling pahit tlah menulang
musim-musim datang dan pergi
dari Robben Island sampai Pollsmor
semua jadi nyanyian kekuatan tak terbilang

rentak-rentak kaki berirama lagi
getar tam-tam nyala api
dan gigi-gigi putih
dan wajah-wajah ekspresif
sekarang kutatap tiap hari
Soweta kudekap, Lusaka kujabat 
matahari kan kutangkap kalian tahu
buat bakar mimpi buruk kalian tahu
buat lebur sisa belenggu kalian tahu.

Jakarta
Maret, 1990
"Puisi: N'Kosi Sikele Afrika (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: N'Kosi Sikele Afrika
Karya: Diah Hadaning
Tembang Duka Perempuan dari Larnaka
(bagi Benazir Bhuto)

Bunga-bunga sedang tak tumbuh dalam musimnya
Rawalpindi fragmen pagi
hanya menyusup di urat nadi
perempuan anak buminya.

Pohon-pohon sedang tak buah dalam musimnya
Islamabad masih melekat
hanya sebuah kegetiran
berkepanjangan.

Doa-doa sedang runduk di fajarnya
Larnaka tembang duka
langit saja yang bicara
wangikan lidahmu.

Bogor
Nopember, 1992
"Puisi: Tembang Duka Perempuan dari Larnaka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Duka Perempuan dari Larnaka
Karya: Diah Hadaning
Tanah Air dan Mozaik Peradaban

Angin pagi bulan april berhembus di hutan cemara
kabarkan padaku cerita lama tentang para kembara
yang masih terus mencari pemukiman
seorang di antara mereka berhenti dan menyapa
apakah aku melihat bapanya
kusimak tajam matanya bersih biasnya
kukatakan, bapanya adalah sang waktu
bagaimana aku menandainya, tanyanya pula
kau harus menyelam dalam hatiku, jawabku sejujurnya
dan ia mencoba untuk mengerti.

April terus dalam bias cahaya ketika mentari di tingkap rumah 
menyihir alam tenang dan diam
para kembara terus berjalan
dan seorang tetap berhenti
ia bertanya kembali
apakah aku melihat ibunya
segera kukatakan padanya
menyelamlah di danau mataku
di situ engkau akan ketemu sang ibu
dan ia mencoba untuk mengerti.

April terus mengapung di udara siang suwung
kembara yang tertinggal kini ada di segala ruang
ada di kebun, di ladang, di latar, di beranda
di mata, di hati, di rasa, di waktu
ia bagian dari dunia gaibku
dan telah jadi satu dari urat nadiku
denyutkan tentang tanah air dan mozaik peradaban.

Bogor, April 1996
"Puisi: Tanah Air dan Mozaik Peradaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tanah Air dan Mozaik Peradaban
Karya: Diah Hadaning
Balada Angalai Riwu Ga

Jalan Macadam sayup-sayup di ujung mata
ladang jagung di daratan senyap
pulau timur yang gersang
rindu lama seorang Riwu Ga
Riwu Ga yang sabar
simak siang tanpa mawar
Riwu Ga yang hanyut
ke masa silam berlumut

: merah putih ada di hati
agama jingi itu dasar kalbu
desa depe tumpah darah
adalah jantung sabu
adalah erang ibu.

Riwu Ga terus mengenang
segelas air dingin masa lalu
dicampur sejumput kapur
buat dia bernama sang bapa
agar suara lebih gelegar
agar cinta anak negeri kian mekar
hanya bagi putra sang fajar.

Indah mesranya Riwu Ga
air mata menetes di pegangsaan timur
tanda cinta paling luhur
meski tak senafas dengan Jakarta
kembali ke ladang jagung di tengah gebang
diam-diam terus mengenang
setia telah menyawa bagi bapa
getar sukma kemerdekaan.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Angalai Riwu Ga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Angalai Riwu Ga
Karya: Diah Hadaning
Catatan Ciganjur Tembang Hati yang Peduli

Yang ngalir dari arah mata angin
yang menggenang dari lubuk mata air
tembang hati yang peduli
tembang rasa yang mengerti
bagi yang lama terdera
di pelosok negeri.

Harapan dari sisa kenyataan
lama diterpa prahara kehidupan
pungutilah wahai
insan yang diberkahi ketulusan
orang-orang lama menunggu
ikrar prasetiamu itu.

Luka sudah menganga
darah sudah tertumpah
kampus sering ditinggalkan.

Diikhlaskan sambil cari genggammu
diikhlaskan sambil cari suaramu
lembutkanlah keangkuhan yang batu.

November, 1998
"Puisi: Catatan Ciganjur Tembang Hati yang Peduli (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Ciganjur Tembang Hati yang Peduli
Karya: Diah Hadaning
Kepada Keangkuhan

Tak kau dengar, sudah
tak kau sapa, sudah
tak kau beri, sudah
bagaimana mungkin kubilang; ya sudah!
Kau rantai lidah jiwaku, sudah
kau bantai getar sukmaku, sudah
kau renggut ronce harapku, sudah
dalam galau lubang luluk
dalam galau beras ditampi
aku bayang-bayang yang terpuruk
aku sosok tumbal sakethi.


Bogor, akhir 1999


Catatan:
Sakethi = sebutan bilangan 40
"Puisi: Kepada Keangkuhan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kepada Keangkuhan
Karya: Diah Hadaning
Mendengar Suara

Hujan, angin, gisik, gunung, t'lah bersaksi
saat mengeluh tanpa aksara untuk kata
saat menangis tanpa suara untuk nada
o, jaman edan sesungguhnya t'lah memangsa
aku terdepak
dalam gejolak negeri koyak
aku terbadik
dalam galau negeri tercabik
mengusung keranda angan-angan tak lagi jaman
menembang di beranda berangin tak lagi ingin
Kalinyamat kutelusuri gaung semangat abad
penyembuh segala luka terbabat
lalu kudengar suara bapa angkasa:

Dhuh, angger, puteraku
jangan sira mengeluh s'lalu
walau hidup ini berat
jika s'lalu ingat bertobat
kelak nanti kan diruwat.

Bogor
Akhir 1999
"Puisi: Mendengar Suara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mendengar Suara
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Perilaku Arimbi

Arimbi merasakan keteduhan
putri lestari batu beningnya kalbu
ketika diakui dan didoakan
ditembangkan dalam jiwa
gurit ketawang puspawarna
rembulan turun di dada
purnamanya membias terang buana
gelap sirna Arimbi jadi bayangnya.

Fajar menyapa sisa malam
diam-diam diikhlaskan
rembulan memucat di langit Barat
pagi semburat
mengantar beburung kecil menyapa alam
kemuning dan angsoka
bercengkerama
Arimbi terus menembang
sempurna dalam bayang.

Perempuan-perempuan mencari jejaknya
dalam sisa bias purnama
Arimbi menyatu dalam nafas mereka.

Cisarua
Oktober, 2000
"Puisi: Menyimak Perilaku Arimbi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Perilaku Arimbi
Karya: Diah Hadaning
Balada Perempuan yang Terluka

Mata lebar itu masih simpan
bayang dunia dan kelopak mawar
getar angin Islamabad
gerak langkah bersicepat
gema rebana kota tua.

Angin larkana menyapa perjalanan
sejarah senantiasa berubah
antara eligi dan extravaganza
lalu musim tak lagi sahabat
lidah dan pedang saling babat
kejujuran hanya milik malaikat
ketika langkah hanya sebatas pintu rumah
tembangkan lagu-lagu kerinduan anak manusia
antara perang dan damai
antara perundingan dan pengkhianatan
antara senyum dan cacian
kota raya ruhnya di jantung
nafasnya dalam getar kerudung.

Hari ini perempuan dua kali luka
mencari cakrawala di balik jendela
ada yang selalu tersisa
angka dalam gandum, katun, sulfur dan chromit
nada dalam blessed be the sacred land.

Bogor
November, 1996
"Puisi: Balada Perempuan yang Terluka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Perempuan yang Terluka
Karya: Diah Hadaning
Ladrang Buram Solo Bengawan

Sungai panjang kali bengawan
telah jadi kerut lelaki tua
perahu-perahu sarat tembang kehidupan
telah jadi sejarah terlipat dalam
kenangan anak-anak kota
tumbuh oleh kemas peradaban
tumbuh 'biakkan jasa dan dosa
orang-orang bersaksi terus berjalan
anak-anak hadir lupa kapan lahir
barangkali dewasa oleh asuhan angin
barangkali arif oleh balada tua
dan rembulan hilang dari bengawan
lelaki tua bicara ada kegetiran:
keluhkanlah lewat tembang
pahit manis kehidupan
limbah-limbah kini di bengawan
bocah-bocah kini telah lupa kail mainan
menandak-nandak tanpa mengerti
irama baru menghentak negeri
semusim ke semusim - ya dhenok
hijaukan saja jiwamu
jika tak bisa hijaukan bantaranmu.

Bogor
April, 1992
"Puisi: Ladrang Buram Solo Bengawan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ladrang Buram Solo Bengawan
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Jiwa Lapar

Laparku - bulan lapar cahaya
santri kecil pulang berisya
berikan binar matanya
Laparku - matahari lapar sinar
gadis dusun di pancuran
berikan denyar jantungnya
Laparku - bumi lapar kehijauan
penyair tua di pinggir kota
berikan semaian mimpinya
Laparku - insan lapar kejujuran
rajawali di udara
berikan bulu dan sayapnya.

Namun laparku tak hilang jua
tak henti mencari dan nelangsa
karena temaha di jantung utara.

1995
"Puisi: Abstraksi Jiwa Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Jiwa Lapar
Karya: Diah Hadaning
Selalu Laut

Mengapa selalu laut
yang kusebut dalam nyanyian?
Dalam kabut yang gelap
kulihat rohku seperti ikan
yang berenang tak punya rumah.

Hanya air
asal mula dan akhir perjalanan
dan perang telah berlangsung
dalam sajak atau kehendak
kemudian ditiru ombak.

Memang selalu laut
Dan hujan yang sesekali gemuruh
mengajak akar bahar menari
di sela-sela ranting sukmaku.

Segalanya pun pergi
Diam mengalir menabur sandi.

"Puisi: Selalu Laut (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Selalu Laut
Karya: D. Zawawi Imron
Lagu Laut

Sampaikan salamku, wahai kecipak laut!
Pada bumi Bugisku yang hangat
Perahuku teramat jauh kini berlayar
Kutembangkan siul di tengah jerit lautan.

Dan langit
tempat melukis hati gadisku
di mana saja sama birunya
Karena kesetiaan perlu diuji
oleh jarak, topan dan cakrawala.

Semua gelombang biarkan terus menggebu
Paling-paling jadi gambar tenun sarungku
Dan sekian karang
bisa dihindar dengan kemudi.

Ibu, alangkah jauhnya Sinjai
Meski tanpa tali temali
Engkau tetap tambatan
Dan kalau malang perahuku karam
Kuyakin hatimu, ibu,
adalah kuburku yang sebenarnya.

"Puisi: Lagu Laut (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Lagu Laut
Karya: D. Zawawi Imron
Kepada Pelukis Affandi


Kalau, 'ku habis-habis kata, tidak lagi
berani memasuki rumah sendiri, terdiri
di ambang penuh kupak,

adalah karena kesementaraan segala
yang mencap tiap benda, lagi pula terasa
mati kan datang merusak.

Dan tangan 'kan kaku, menulis berhenti,
kecemasan derita, kecemasan mimpi;
berilah aku tempat di menara tinggi,
di mana kau sendiri meninggi

atas keramaian dunia dan cedera,
lagak lahir dan kelancungan cipta,
kau memaling dan memuja
dan gelap-tertutup jadi terbuka!
 
1946
"Puisi: Kepada Pelukis Affandi (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kepada Pelukis Affandi
Karya: Chairil Anwar
Lagu Tanah Air

1
Adalah hijau pegunungan
Adalah biru lautan
Adalah hijau
Adalah biru
Langit dan hatiku
Adalah aku pucuk tatapan
Adalah pucuk
Adalah tatapan
Adalah pucuk senapan
Mengarah ke dadaku.

2
Hijau pegunungan biru lautan
Tiadalah harapan adalah ketakutan
Hijau pegunungan biru lautan
Tiadalah ketenteraman adalah ancaman
Adalah karena cintaku
Adalah karena kucinta
Langit merah jalan berdebu
Rumah punah jalan terbuka.

3
Bunga tumbuh mawar biru
Kembang wera kembang jayanti
Tanah yang kujejak rindu
Kan kurangkum dalam hati.
   

"Puisi: Lagu Tanah Air (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Lagu Tanah Air
Karya: Ajip Rosidi
Soneta dari Manhattan
Di bawah bayang-bayang Manhattan yang gelap
Kulihat kau menyelinap, mengendap-ngendap
Mengais-ngais mencari dalam dirimu:
Sesuatu telah terjadi dan itu engkau tak tahu.

Begitu banyak peristiwa dan begitu banyak rahasia
Yang dalam hidupmu hanya nampak satu segi saja
Tidaklah hidup ini bagimu akan tetap gulita
Bagaikan teka-teki yang hilang soalnya.

Adakah dengan dinding-dinding kukuh perkasa
Bersarang perasaan aman dalam sanubari manusia?
Yang kutemui hanya kewas-wasan, sumber kegelisahan.

Adakah dengan perkembangan teknologi
Manusia telah menemukan dirinya sendiri?
Kau hanya tahu: komputer ternyata menghasilkan banyak persoalan.
  
1938
"Puisi: Soneta dari Manhattan (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Soneta dari Manhattan
Karya: Ajip Rosidi