loading...

Balada Perempuan yang Terluka

Mata lebar itu masih simpan
bayang dunia dan kelopak mawar
getar angin Islamabad
gerak langkah bersicepat
gema rebana kota tua.

Angin larkana menyapa perjalanan
sejarah senantiasa berubah
antara eligi dan extravaganza
lalu musim tak lagi sahabat
lidah dan pedang saling babat
kejujuran hanya milik malaikat
ketika langkah hanya sebatas pintu rumah
tembangkan lagu-lagu kerinduan anak manusia
antara perang dan damai
antara perundingan dan pengkhianatan
antara senyum dan cacian
kota raya ruhnya di jantung
nafasnya dalam getar kerudung.

Hari ini perempuan dua kali luka
mencari cakrawala di balik jendela
ada yang selalu tersisa
angka dalam gandum, katun, sulfur dan chromit
nada dalam blessed be the sacred land.

Bogor
November, 1996
"Puisi: Balada Perempuan yang Terluka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Perempuan yang Terluka
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top