Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia

1
Selalu, setiap perjalanan keluh kesah itu
kau tak ingin sampai, di atas andong kau
bertanya siapa di antara kita kusirnya
kau tak ingin sampai, di setiap tikungan
membaca arah angin dan nama-nama gang.

Orang-orang, selalu seperti memulai hari
berangkat dan pulang, bergegas, dan entah siapa
memburu dan siapa diburu.
kita pun melangkah di antara perjalanan keluh kesah.
dan selalu gagal membaca arah.

2
Ada yang selalu mengantarmu ke segenap arah,
desa demi desa, tapi akhirnya
kau hanya sendiri di atas catatan duka
di deretan hari, mengapa selalu kau buka buku harian
: sebab katamu, kenangan itu racun.
hari ini aku melihat wajahmu
seperti patung-patung gerabah di Kasongan.
lalu hatiku tertawa, mengejek kenyataan hidup.
sebab masa lalu itu racun, dan kita
bersenang-senang atas kesedihan hari ini.
maka, jika rindu, pulang saja ke hotel, dan gambarlah
rumah dan hiruk-pikuk kotamu yang angkuh.

3
Kutunggu engkau di stasiun, beberapa jam usiaku hilang,
kutunggu sepanjang rel dan bangku-bangku yang bisu.
kuingin Yogya, untuk seluruh waktu senggangmu,
sebab hidup mesti dihitung dan setiap tetes keringat
dan untuk itulah aku menanggalkan detik demi detik usiaku?
Kutunggu engkau di stasiun, hingga detik menjadi tahun.

4
Kukira Joan Sutherland dan Mozart dalam Die Zauberflote.
tapi seorang perempuan kecil meminta sekeping uang logam,
dan menyanyikan kesedihan yang membeku di matahari terik
dan aspal membara,
tak selesai, ya, memang tak pernah selesai.
hanya mulutnya yang bergerak-gerak di luar kaca
dan suara mencekam Sutherland.
Yogya semakin tua, dan dimana-mana kudengar
cerita-cerita kesedihan.
tapi di pasar Ngasem, engkau bisa membeli
seekor burung yang tak henti berkicau,
dan menjadi begitu pendiam saat kaubawa pulang.

5
Sebuah surat kutemukan di Malioboro,
tampaknya seorang gadis telah patah hati,
dan mencari kekasihnya di etalase-etalase
dan di antara tumpukan barang-barang kaki lima,
tak kutemu, di seluruh sudut kota ini pun tak ada
bayang-bayang kekasih itu.
kutemukan surat itu, dan kukirimkan kembali
entah ke mana, suatu hari kau menemuiku,
dan membawa segenggam surat hitam: tak beralamat,
tapi kau tak pernah membacanya,
dan aku menulis kembali surat demi surat tak beralamat
dan tak kukirim ke mana pun.

6
Rindu kadang menyakitkan
tapi apa yang disembunyikan kota lama ini?
Seseorang tak ingin pergi
dan membangun sebuah rumah siput.
Seseorang tak ingin pergi
dan mencatat berderet peristiwa
untuk menjadikannya hanya kenangan.

Yogya, 1999
"Puisi: Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Banyak Simpang, Kota Tua: Melankolia
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Post a Comment

loading...
 
Top