Tanah Air dan Mozaik Peradaban

Angin pagi bulan april berhembus di hutan cemara
kabarkan padaku cerita lama tentang para kembara
yang masih terus mencari pemukiman
seorang di antara mereka berhenti dan menyapa
apakah aku melihat bapanya
kusimak tajam matanya bersih biasnya
kukatakan, bapanya adalah sang waktu
bagaimana aku menandainya, tanyanya pula
kau harus menyelam dalam hatiku, jawabku sejujurnya
dan ia mencoba untuk mengerti.

April terus dalam bias cahaya ketika mentari di tingkap rumah 
menyihir alam tenang dan diam
para kembara terus berjalan
dan seorang tetap berhenti
ia bertanya kembali
apakah aku melihat ibunya
segera kukatakan padanya
menyelamlah di danau mataku
di situ engkau akan ketemu sang ibu
dan ia mencoba untuk mengerti.

April terus mengapung di udara siang suwung
kembara yang tertinggal kini ada di segala ruang
ada di kebun, di ladang, di latar, di beranda
di mata, di hati, di rasa, di waktu
ia bagian dari dunia gaibku
dan telah jadi satu dari urat nadiku
denyutkan tentang tanah air dan mozaik peradaban.

Bogor, April 1996
"Puisi: Tanah Air dan Mozaik Peradaban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tanah Air dan Mozaik Peradaban
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top