Maret 2006
Rambutku Adalah Jilbabku

Dua gunting gila menari-nari
di atas rambutnya.
Anda ingin model yang mana?
Mendongak ragu, ia berkata,
“Rambutku adalah jilbabku.”

Tujuh warna muda melintas-lintas
membujuk matanya.
Anda ingin warna yang mana?
Mengangkat dagu, ia berkata,
“Rambutku adalah jilbabku.”

Senja yang sedang bingung
mondar-mandir di atas keningnya
kemudian tertidur di alur alisnya.

Tersentuh waktu, rambutnya
serupa rumpun putri malu.

2005
"Puisi: Rambutku Adalah Jilbabku (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Rambutku Adalah Jilbabku
Karya: Joko Pinurbo
Pokok Kayu

“Suara angin di rumpun bambu
dan suara kapak di pokok kayu,
adakah bedanya, Saudaraku?”

“Jangan mengganggu,” hardik seekor tempua
yang sedang mengerami telur-telurnya
di kusut rambut Nuh yang sangat purba.


"Puisi: Pokok Kayu (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pokok Kayu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Aubade

Percik-percik cahaya. Lalu kembali hijau namamu,
daun yang menjelma kupu-kupu, ketika anak-anak bernyanyi -
melintas di depan jendela itu
lalu kembali cahaya sebutanmu, hatiku pagi ini.

"Puisi: Aubade (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Aubade
Karya: Sapardi Djoko Damono
Di Lereng Salak

Gunung berleret, mulanya hijau,
Lenyap membisu jauh di sana.
Padi menguning bagai kencana,
Sampai di lereng redam berkilau.

Sebelah Selatan dapat ditinjau
Sebagian kecil Lautan Hindia
Laksana tasik dipandang dia
Di bawah perak membiru silau.

Di rumput halus bagai beledu,
Aku guling memandang s’orang,
Bagai minum keindahan alam.

Teringat kota aku tersedu;
Takut kembali ke tempat orang,
Tak mengenal perasaan dalam.

"Puisi: Di Lereng Salak (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Di Lereng Salak
Karya: Sanusi Pane
Tetangga

Ada baiknya sekali-sekali main ke tetangga.
Sekadar mengobrol, minum kopi, main kartu, mabuk bareng,
pamer utang, atau saling mencabuti uban sambil merencanakan
kapan bisa duel untuk saling mengalahkan.

Biasanya tetangga lebih cermat mengamati keadaan rumah kita.
Siapa tahu ia juga bisa menyumbangkan gagasan cemerlang
tentang cara batuk yang sopan supaya tidak mengganggu
tetangga yang sedang tidur atau makan.

Kita suka menunda-nunda waktu untuk main ke tetangga.
Kita suka bilang sibuk atau pura-pura ingin saling menjaga privasi,
padahal sebenarnya cuma takut dan malu mendengar
gunjingan orang tentang (keburukan) kita.

Saya baru sadar bahwa saya punya tetangga yang baik
dan penuh perhatian. Rumahnya cuma di seberang.
Saya sering melihatnya baca koran atau main catur semalaman
sambil bersiul-siul sendirian. Kadang ia main pantomim
di halaman tanpa seorang pun menghiraukan.
Setiap saya pergi dan pulang kerja ia selalu menyapa: “Mampir!”
“Terima kasih, kapan-kapan,” jawab saya tanpa pernah
mampir sungguhan.

Sialan. Tetangga saya itu rupanya sering mengintip saya.
Suatu saat kami bertemu di jalan dan ia mengatakan: “Aku tahu
apa yang kausembunyikan di balik baju dan celanamu. Aku tahu
apa yang paling kaubanggakan dari tubuhmu. Kau tak tahu
diam-diam aku sering mabuk dan berjoget di bugil badanmu.”

Malam itu ia coba-coba mengintip lagi. Saya cepat-cepat membuka
jendela, hendak mendampratnya. Tapi ia segera menghilang
ke rumahnya yang suram dan tak terawat di bawah pohon kemboja.
“Kapan-kapan saya mampir,” kata saya sambil menutup jendela.

1999
"Puisi: Tetangga (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tetangga
Karya: Joko Pinurbo
Sedang Apa

Sedang apa, penyair, malam-malam
masih sibuk menempa dan memahat kata?
Sedang membuat patung dirimu?

Sedang membuat batu nisan untukmu.

2006
"Puisi: Sedang Apa (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sedang Apa
Karya: Joko Pinurbo
Terompet Tahun Baru

Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota
untuk meramaikan malam tahun baru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja
sebab beliau harus menemani kalender
pada saat-saat terakhirnya.

Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu
tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya
dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.

Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.

2006
"Puisi: Terompet Tahun Baru (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Terompet Tahun Baru
Karya: Joko Pinurbo
Kepada Saya

Anda boleh menulis puisi
untuk atau kepada siapa saja
asal jangan sampai lupa
menulis untuk atau kepada saya.
Siapakan saya? Saya adalah Kata.

2006
"Puisi: Kepada Saya (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kepada Saya
Karya: Joko Pinurbo
Kepada Jengki

Bulan tertawa bahagia
melihat kau berdiri gagah
dengan jaket coklatmu.

Ombak mulai gelisah
melihat kau pelan-pelan
membuka jaket coklatmu.

Malam melonjak girang
melihat kau setengah telanjang
tanpa jaket coklatmu.

Nun dari seberang
seorang bidadari datang
berselimutkan jaket coklatmu.

Di pantai terpencil ini, Jengki,
sepasang sepi mabuk berat 
di tubuh coklatmu.

2006
"Puisi: Kepada Jengki (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kepada Jengki
Karya: Joko Pinurbo
Harimau

Aku masuk ke relung kata, mau bertemu
dengan bermacam-macam arwah kata,
malah harimau kata yang kujumpa.
Kuasah pena, kutikam lehernya.
Harimauku terluka parah,
penaku nyaris patah.

2006
"Puisi: Harimau (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Harimau
Karya: Joko Pinurbo
Pasien

Seperti pasien keluar masuk rumah sakit jiwa,
kau rajin keluar masuk telepon genggam,
melacak jejak suara tak dikenal yang mengajakmu
kencan di kuburan pada malam purnama:
Aku pakai celana merah. Lekas datang yah.
Kutengok ranjangmu: tubuhmu sedang membeku
menjadi telepon genggam raksasa.

2006
"Puisi: Pasien (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pasien
Karya: Joko Pinurbo
Layang-Layang Ungu

Celana ungu pemberian kakekku telah kugubah
menjadi layang-layang; kulepas ia di malam terang.
Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku,
mencium harum bulan: ranum bayi
yang masih disayang waktu;
menjangkau relung bunda di palung senja.

Saat aku sakit, layang-layangku menggelepar manja
di bawah jendela, lalu lenyap entah ke arah mana.

Telepon genggam menyampaikan pesan dari Ibu:
"Layang-layangmu yang lucu telah mendarat
di dahan pohon sawo belakang rumah, tempat kau
dan bulan dulu sering menyepi membaca buku.
Ayahmu yang suka melamun segera berlari.
Ini baru layang-layang, katanya girang sekali.

Kini bapakmu sedang menerbangkan si ungu
di atas bukit di samping kuburan kakekmu.
Bulan sedang nakal-nakalnya. Salam rindu. Ibu."

2006
"Puisi: Layang-Layang Ungu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Layang-Layang Ungu
Karya: Joko Pinurbo
Malam Suradal

Sebelum ia berangkat bersama becaknya,
istrinya berpesan, "Jangan lupa beli minyak tanah.
Aku harus membakar batukmu yang menumpuk
di sudut rumah." Dan anaknya mengingatkan,
"Besok aku harus bayar sekolah. Aku akan giat belajar
agar kelak dapat membetulkan nasib ayah."

Setelah berjam-jam mangkal dan tidak juga
beroleh penumpang, ia berkata kepada becaknya,
"Pulang saja yuk, sayang. Perutku sudah keroncongan.
Siapa tahu kita mendapat orang bingung di jalan."

Di jalan kampung yang remang-remang
petugas ronda mencegatnya dan sambil merinding
bertanya, "Suradal, mayat siapa yang kau bawa?"
"Ini mayat malam, Tuan. Saya akan menguburnya
di sana, di ladang hujan di belakang rumah saya."

2006
"Puisi: Malam Suradal (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam Suradal
Karya: Joko Pinurbo
Sehabis Sakit

Di kamar mandi kutemukan
tubuhku yang haus sedang menari.
Satu, dua, tiga, dan jarum sepi
berputar keras sekali.

Bilur-bilur tato telah membiru
pada punggung yang dicambuki waktu
dan tubuhku yang haus menari
sampai kuyup ia sebelum mandi.

Tubuhku pohon ranggas
yang bertunas kembali,
sajak cinta yang ditulis ulang
oleh tangan tersembunyi.

Tubuhku kenangan yang sedang
menyembuhkan lukanya sendiri.

2006
"Puisi: Sehabis Sakit (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sehabis Sakit
Karya: Joko Pinurbo
Gambar Hati Versi Penyair

Seperti koma bertangkupan.
Dua koma dari dua kamus yang berbeda
dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi.

2007
"Puisi: Gambar Hati Versi Penyair (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Gambar Hati Versi Penyair
Karya: Joko Pinurbo
Winternachten

Magrib memanggilku pulang
ketika salju makin meresap
ke sumsum tulang.

Pulang ke hulu matamu
agar bisa mencair
dan menjadi air matamu.

Musim tidak berbaju,
badan dimangsa hujan,
dan magrib mengajakku pulang.

Pulang ke suhu bibirmu
agar bisa menghangat
dan menjadi kecup kenyalmu.

Menggigil adalah menghafal rute
menuju ibu kota tubuhmu.

2005
"Puisi: Winternachten (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Winternachten
Karya: Joko Pinurbo
Masa Kecil

Masa kecil seperti penjaga malam yang setia. Ia yang
membuka dan menutup pintu setiap kau masuk dan
keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi, ia
duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar
sambil ketawa-ketawa sendiri. Jangan suka lihat orang
mandi, nanti sakit mata! Ia langsung menutup
wajahnya dengan buku, seakan geli atau malu melihat
tokoh komiknya yang (tidak) lucu.

"Puisi: Masa Kecil (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Masa Kecil
Karya: Joko Pinurbo
Tanda Seru

Seorang penulis duduk termenung
di jendela, menunggu peristiwa kecil
yang bisa menghibur hatinya.
Matanya berbinar melihat seorang bocah
berjalan dan bersiul riang sambil sesekali
membetulkan celananya yang kedodoran.

Bocah itu menggendong tas sekolah
berisi cita-cita dan doa orang tuanya.
Sebatang hujan yang runcing
tiba-tiba menancap di atas kepalanya.
Ia berteriak aduh dan meringis kesakitan.

Penulis kita melompat dari jendela,
mencabut jarum hujan dari kepala
bocah kita. "Aku telah mendapatkan 
setangkai tanda seru." Ia berpikir,
jangan-jangan tanda seru itu berasal
dari hujan kata-kata yang ia tumpahkan.

2016
"Puisi: Tanda Seru (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tanda Seru
Karya: Joko Pinurbo