April 2006
Bau Air Mata di Bantal Tidurmu

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.

Tarian yang mengajariku tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung berhinggapan di jari-jari tangannya.

Pagi-pagi sekali, ribuan bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak itu ibuku tak pernah menari lagi.

Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.

"Afrizal Malna"
Puisi: Bau Air Mata di Bantal Tidurmu
Karya: Afrizal Malna
Saya Menyetrika Pakaian

Dia adalah deru kereta .... Seorang wanita Indonesia di 
Bern, membuat bahasa aneh, dari jaket kulit dan 
pembebasan visa: “Suami saya seorang Itali. Tetapi saya 
dari Gunung Kidul.” Di Sungai Melezza, batu-batu 
berkaca menghanyutkan kembali lukisan-lukisan Bacon, 
jadi bangkai-bangkai rumah Abad 20. Rasialisme telah 
tertanam dalam warna kulitku. Dia adalah sapi dan sepeda, 
di antara gereja, kafe, dan batang-batang rel kereta.

Perkenalkan, namaku Muhamad Amin, dari Irak. Tapi 
sebuah negeri telah membuatku hidup hanya dari wortel, 
body lotion, dan paspor yang menyimpan keresahan para 
imigran. Dia adalah seorang Jerman, yang belajar 
tersenyum dari tomat-tomat yang tumbuh di balkon. 
Danke. Revolusi Iran telah mengusirku hanya karena 
teater. Lalu para seniman menolak setrikaan di Monte 
Verito. Dia adalah ... tiba-tiba ingin jadi makhluk danau 
di Ascona. Mengirim bukit-bukit berhimpitan, tanpa 
Hitler, Madonna, atau si jenggot dari Trier: Ini tembok 
untukmu, Berlin, jangan sedih.

Tetapi bank-bank telah menanam Suisse, di antara 
kantor-kantor pemerintah, seperti bunga di kamar mandi: 
Siapa yang mau bunuh diri dengan keindahan. Wi, wi ... 
mari. Dia telah membuat sebuah negeri dari perahu 
penyeberangan, di sepanjang Sungai Rhein. Tetapi di 
sebuah pesta ulang tahun, dia adalah sejumlah pelukan 
bernyanyi ... oh, my papa ... “Namaku Lili dari 
Madagaskar,” dalam bahasa Perancis yang tercekik.

1993
"Afrizal Malna"
Puisi: Saya Menyetrika Pakaian
Karya: Afrizal Malna
Jamal Menari

Jamal menari. Tangannya gemulai, seperti bunga 
dirangkai seorang gadis. Tetapi matanya penuh pecahan 
telur: “Inlander dilarang masoek,” katanya. Ada yang 
bergerombol di luar sana. Konservatif. Tubuhnya cairan 
otak dalam botol, dan semacam minyak tanah bercampur 
air. Kemudian orang-orang asing datang, mengajar 
menari. Memasang pengeras suara di gedung-gedung 
pemerintah. Tetapi ketika aku mulai menari, menabrak-
nabrakkan tubuh pada tembok, aku lihat pengeras suara 
pecah di atas kepalamu: Aku putus asa untuk jadi orang 
asing, juga putus asa untuk jadi inlander.

Jamal, temanku dari Madura itu, kemudian berdoa 
dengan baju tebal yang gemetar, seperti Abu Nawas 
menghadap raja: “Yang mulia, aku terlalu lemah untuk 
jadi orang asing, tetapi juga terlalu lemah untuk jadi 
inlander.”

Di tengah pesta, dari orang-orang yang merasa dirinya 
pemberontak, aku kena diare. Tarianku jadi kacau, seperti 
pengeras suara yang pecah di atas kepalamu itu:

“Inlander dilarang masoek”. Aku bersumpah: Dunia 
konservatif sedang memakan jantungmu.

1995
"Afrizal Malna"
Puisi: Jamal Menari
Karya: Afrizal Malna
Di antara Botol-botol

Ketika musik blues mengalunkan suaramu yang serak
Cahaya bulan yang pucat dan keperakan
Mengajakku bunuh diri. Tapi yang kuhasratkan
Adalah setetes darah segar dari ujung jemarimu
Untuk kucampur dengan sisa minuman di gelasku
Sebab kemabukan kini menjadi satu-satunya
Pernyataan rindu. Telah kureguk comberan paling kotor
Lalu aku terkapar di tangga-tangga gereja
Memimpikan Li Po dan Al-Hallaj menari-nari

Sepanjang malam aku menggeliat
Di antara helaan napas bumi yang berat
Pada ujung nyanyianmu yang bergetar di udara
Kubayangkan sekuntum mawar tumbuh dan terluka
Dan sebatang lilin terbunuh cahaya. Masih kudengar
Gelombang melemparkan semua amarahnya ke pantai
Sedang batu karang kasmaran menanti datangnya badai:
Kuisi lagi gelasku dan kuminum dalam regukan besar
Kemudian kurentangkan tanganku lebar-lebar

Di antara botol-botol yang menjulang
Aku berjalan sempoyongan. Inilah tarianku
Menyuling anggur dari kelopak mataku sendiri
Sebab tak ada lagi yang bisa kuminum
Dari sajian dunia. Inilah tarianku yang baru
Menghasratkan setetes darah segar dari ujung jemarimu
O, telah kupanggil Chairil dan Baudelaire ke mari
Untuk mabuk bersama. Di sepanjang jalan-jalan cinta
Musik blues terus menjeritkan suaramu yang serak.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di antara Botol-botol
Karya: Acep Zamzam Noor
Rahasia

Dari ujung rambut burung-burung berjatuhan
Ke dalam lukisan. Tapi di teduh wajah kecantikan utuh
Begitu sempurna sapuan halus dan basah itu dilengkungkan
Pada pipi tirus dan lancip dagu. Sebuah kwas yang sayup-sayup
Mengalir lembut di lekuk telinga, terus menuruni leher jenjang
Tiang pualam yang berkilauan. Di mana butir-butir keringat
Seperti kalung cahaya yang tergantung di antara dua bukit mungil
Di mana rahasia akan tetap menjadi rahasia di kedalaman dada

Kunang-kunang hinggap di pundak dan kembali lenyap
Ke balik puisi. Di bawah pusar aliran darah seolah terhenti
Betapa dalam keindahan digali dari lenguh yang tertahan
Dari mata yang pelahan terpejam. Begitu jauh kekhusyukan
Ditempuh sembahyang demi sembahyang, semadi demi semadi
Di mana tubuh akan membukakan seluruh pintu rahasianya
Bagi penjelajah sunyi. Di mana tahun-tahun akan terasa ringkas
Seperti menit-menit yang lepas pada setiap hembusan napas.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Rahasia
Karya: Acep Zamzam Noor
Makati

Cahaya berpendaran dalam kepungan dentang lonceng
Yang berulang. Kusaksikan langit mulai beranjak tua
Ketika raung ambulans di jalan raya tak kunjung menjauh
Dari telinga. Kususuri detik, kurayapi menit demi menit
Kuhitung napas yang berjatuhan seperti rintik gerimis.

Orang-orang masih bergegas, hari-hari masih akan lewat lagi
Tahun-tahun terus berganti, abad-abad datang dan pergi
Kubayangkan maut singgah di trotoar, duduk dan batuk-batuk
Bunyi lonceng membuat langit semakin renta dan entah kenapa
Aku merasa seperti telah kehilangan begitu banyak peristiwa.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Makati
Karya: Acep Zamzam Noor
Mengapa Selalu Kutulis Sajak

Mengapa selalu kutulis sajak
Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku
Mengapa harus sajak, Tuhanku, mengapa harus ia
Yang mampu kupersembahkan kepada-Mu

Seandainya ini sebuah tugas
Maka aku terima ia sebagai tugas
Akan kujalani sampai nanti nyawaku terlepas
Seandainya ini sebuah sembahyang
Maka akan kuusir segala bayangan yang datang
Yang selalu mencoba mengaburkan-Mu

Mengapa selalu sajak yang kutulis itu
Apabila pertanyaan-pertanyaan datang menyerbuku
Selalu sajak, Tuhanku, mengapa selalu ia
Yang mampu kuberondongkan kepada-Mu

Atau barangkali karena aku tahu
Engkaulah Penyair itu
Yang begitu mempesonaku
Yang telah membelenggu hidup dan matiku
Dengan segala keasingan-Mu.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Mengapa Selalu Kutulis Sajak
Karya: Acep Zamzam Noor
Tiga Pepatah

Seorang pemburu membunuh unggas di hari sejuk
Ketika menjagal itu, air matanya berlinang

Kata seekor margasatwa:
Lihat lelaki itu meratap

Kata yang lain:
Peduli apa air matanya, tangannya tatap.

Bersabarlah pada tetangga jahil:
atau dia Tambah jahil, atau nestapa memusnahkannya

Kehormatan bermukim di bulu tengkuk kuda.

26 Agustus 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Tiga Pepatah
Karya: Taufiq Ismail
Hanggar 17

Di malam seng seng gudang menyanyikan cahaya bulan sebulatnya hati rindu yang terkapar penumpang bersesak di dek dikemahi tenda kasar pelampung dibasuh alun mengkaca bintang dan bulan

Kamar kapitan disiur temali tiang haluan orang-orang ramai berkemas lupa mabuk tanjung cina di palka bunda cenung memangku ananda tidur diriba mengimpi disusul bapa kota Jakarta

Buritan berterali besi kesat diuapi garam buyung dan gadis berceloteh gelak asing mengempas anak-anak heboh berbenah cucu asing pula nakalnya di luar langit dan laut, kapal terjangkar disapu warna kelabu

Kapal ini dari logam tua angguknya dalam satu-satu kelabu warna tanjung, hitam kapal beracungan tiang-tiang lautnya bernafas berat dan alim, laut teluk jakarta begini cinta kelabu warna kuala diperaki bulan dan kerdip bintang mengkilat kelabu tanjung periuk sosok hitam kapal terjangkar Di geladak semakin ribut pasasir semakin cerewet dentang-dentang kamar mandi, centeng-perenang barang pamili maki dan carut, bahak dan celoteh kakek bertudung handuk, dara bergaun malam mendenyut di kelenjar tubuh pukau merapat ke pelabuhan pukau daratan mengental ke dentang-dentang di jantung

Mesin uap menderu berat air bersibak ke hanggar tujuh belas masing penumpang dengan jantungnya sendiri, naik merapat langit tanjung periuk panas oplet deru mendebu mengantar pasasir ke riuh laga di kota jakarta.

Desember 1955
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Hanggar 17
Karya: Taufiq Ismail
American Corruption Watch

Si Toni mendarat musim panas 1998 di pelabuhan Manhattan
Bersama delegasi berdiri di tepi kapal di pagar haluan
Masuk perairan New York disambut lambaian Patung Kemerdekaan
Pelabuhan kecintaan penyair kenamaan Walt Whitman

Sembilan burung camar di permukaan laut berlayangan
Udara panas bergetar lembab cuaca berkilauan
Pencakar langit berbaris tinggi rendah dari kiri ke kanan
Begitu mendarat mereka berangkat ke ibukota Di-Si di selatan

Delegasi America Corruption Watch bersemangat empat lima
Di ibukota bertanyalah Department of State lewat juru-bicara
“Mengapa ikut campur urusan kami bapak-bapak dari Indonesia
Apakah anda sudah jadi Siskamling Dunia?”

Menjawab si Toni ketua delegasi, dia orang masih sangat muda
“Itu betul bahkan kami juga Hansip Antarbangsa
Pos Komando RT Belahan Utara / RW Benua Amerika
Kegiatan ini adalah karena kami memang tak ada kerja

“Jadinya sibuk mengurus negeri lain 10.000 kilometer jauhnya
Di samping itu sebagai negara Indonesia telanjur adidaya
Kemana-mana mengajarkan Hak Asasi Manusia
Bagaimana bertata cara budi pekerti yang mulia.”

Juru-bicara kulit pucat itu merah mukanya:
“Janganlah bapak mengajari kami akhlak utama
Bagi bangsa saya moralitas itu sangat luhur letaknya
Maaf, bukankah skandal di pendopo istana Jakarta

Akhirnya sesudah berdusta, kepala negara mengaku juga
Yang melibatkan Genduk Meniko tebal rambutnya?”

Menjawab si Toni II bergaya lumayan arogan:
“Di negeri saya moral syahwat tidak jadi persoalan
Kalau diisap cerutu kepala negara jadi kecanduan
Itu masalahnya sendiri secara kepribadian

“Terserah pula mau sistem borongan atau ketengan
Jangan diaduk-aduk soal moral dengan perpolitikan
Yang penting warga kami makmur tak ada pengangguran
Sedangkan di Amerika ini depresi moneter sudah 12 bulan

“Di layar TV kami lihat rakyat kalian antri roti berdesakan
Orang dilucuti kerja sampai berjumlah jutaan
Mahasiswa berdemo besar-besaran setiap akhir pekan
Begitulah akibat salah urus yang berkepanjangan.”

Mendengar ini juru-bicara Deparlu tiba-tiba merendah diri:
“Salah urus negara memang itu soal gawat kami
Tapi tolonglah dana bantuan pinjaman Ai-Em-Ef dicairkan dini
Jangan biarkan rakyat Amerika sengsara sangsai begini.”

Si Toni III, kedua tangan berkacak pinggang berkata:
“Soal Ai-Em-Ef soal Bank Dunia
Masalah kurangnya roti dan hilangnya lapangan kerja
Organisasi Ei-Si-Dabelyu kami tak ada tanggung jawabnya

“Dari jauh-jauh kami datang ke sika
Mau memantau langsung koruptifnya Amerika
Menghajar birokrasinya memutar telinga swastanya
Memang kerja kami mengorek-korek aib ini bangsa

“Untuk itu kami dengan LSM sini kerjasama
LSM kulit hitam dari Louisiana
LSM kulit merah dari North Dakota
LSM Chicano dari South California

Majalah Time, 
SeCond dan Editor yang dicabut SIUPP-nya
Semua kami guyuri rupiah besar jumlahnya.”

Juru-bicara State Department mengeluarkan perkataan:
“Dos pundi, woalah kepriben to mas, cara anda menyikapi persoalan
Bahasa badan yang menyolok kok digunakan
Di sana sini, maaf, terasa berlebihan arogan
Begitu jauh mendalam hobi sampeyan campur tangan

“Mentang-mentang sudah 222 tahun merdeka
Dan kini Indonesia satu-satunya negara adidaya
Kami Amerika ‘kan merdeka baru 53 tahun saja
Ukuran kalian tak kena, kepada kami kalian paksa”

Si Toni IV bersemangat melakukan penyelaan:
“Hey bagaimana tidak kena? Dan ini bukan paksaan
Nilai-nilai ini universal, man Universal, man.”

Juru-bicara Deparlu Amerika, pernah bertugas di Tanah Sunda:
“Kiyeu kang, Indonesia teh, memang sejak 1776 sudah merdeka
Proklamasi Amerika, 'kan baru tahun 1945 saja
Tapi kalian menuntut ukuran HAM sederajat setara
Begitu juga tingkat korupsi disamakan pula

“Ini jauh, atuh, di luar garis keadilan namanya
Jadi kalau kalian gigih mau memeriksa kami juga
Ya jajarkan Amerika 1998 dengan Indonesia 1829 saja
Ketika keduanya sama-sama 53 tahun merdeka
Baru parameternya kena dan setara.”

***
Sementara itu suhu panas akan sangat jauh bepergian
Dan musim gugur bersiap-siap merontokkan dedaunan
Membagi warna cokelat, merah dan kuning ke hutan-hutan
Serangga menggerik dan unggas bersiul bersahutan

Cuaca berkaca di termometer pelahan menurunkan angka
Lihat penyair rambut perak Robert Frost di rimba berkereta kuda
Malam beribu juta serpih putih turun ke bumi tanpa suara
Begitu banyak jawab tersedia tapi kenapa yang kucari tanya

***
Delegasi America Corruption Watch dengan semangat empat lima
Sibuk mengurus negeri lain 10.000 kilometer jauhnya
Mengemasi pakaian dalam, mencucikan dan menjemur semua
Saban sebentar memberi wawancara di media massa

Setelah tentang parameter kedua pihak saling setuju
Bertukar dokumen lah Deparlu dan Ei-Si-Dabelyu
Dihitung-hitung jumlah halamannya dua ribu
Dan diangkut dengan dua van berwarna biru

Masing-masing lalu mempelajari dengan teliti
Perangai generasi revolusi kedua negeri ini
Kemerdekaannya satu deklarasi satu proklamasi
Presidennya pernah sama-sama politisi
Pernah pula satu anggota ABRA yang satu anggota ABRI
Yang fenomenal 32 tahun, woalah ngger, kok lama sekali
Keduanya membangun lancar diminyaki Komisi
Keduanya mengkampiunkan diri demokrasi
Keduanya menindas bangsa sendiri
Ladang pembantaian susah dihitung di kedua negeri
Kulit merah ditenggaki alkohol dan dikelabui
Keduanya sama  land grabbing, satunya slavery
Sayup-sayup di telinga John Brown digantung berani menyanyi

Si Toni I, Toni II, Toni III dan Toni IV termenung bersama
Orang State Department termangu-mangu juga
Sesudah mempelajari bahan demikian banyaknya
Kearifan bertumpuk-tumpuk di atas meja kerja
Tiba-tiba juru-bicara Deparlu bergurindam dua baris saja
“Kok sabana sayang sabana cinta
Uruih lah kampuang awak barasiahkan palanta.”

Dan delegasi Ei-Si-Dabelyu mendengar jadi terpana
Karena makna gurindam Minang samar-samar saja
Mereka minta diterjemahkan dengan segera

Sinar laser ditembakkan ke langit tiba-tiba
Di atas sungai Potomac berderet alfabet bercahaya
Kata demi kata hingga lengkap semua

TRUE PATRIOTISM HATES INJUSTICE IN ITS OWN LAND
MORE THAN ANYWHERE ELSE (so Clarence Darrow said)

Lalu delegasi empat Toni saling bertanya
“Klarens Dero, saha eta Jelema ti Tasik, meureun nya?”

***
Musim semi membebaskan cuaca dan kawanan insekta
Berlompatan dari dahan ke dahan unggas dengan seratus suara
Paru-paru dipenuhi aroma dan semua terasa jadi ringan
Kini kuisap angin dari Kanada di tepi danau Michigan

Puisi-puisi alit Emily Dickinson, kini lah saat tepat membacanya
Seumur nenek dari nenekku dia tapi bau tubuhnya betapa remaja
Teka-teki kehidupan perempuan Puritan, sampai sebagai bisikan
Selalu saja ini saat kasmaran menjelang musim panas Indian.


1998
Pakar hukum, orator dan pengacara terkemuka Amerika, Clarence Darrow (1857-1938), lahir di Ohio, meninggal di Chicago.
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: American Corruption Watch
Karya: Taufiq Ismail
Januari 1949

Butiran logam membunuh saudaraku
Dirabanya pinggangnya
Ketika dia rubuh

Sejemput dendam meluluh hatiku
Di mana kuburnya
Semakin jauh

Luka-lukamu
Luka bumi kita
Luka langit yang rapuh

Rumpun-rumpun bambu
Dan lereng akasia
Tempatmu berteduh

Matanya trembesi
Ngembara di padang lalang
Direnggutkan ke bumi
Dengan tujuh letusan.

1956
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Januari 1949
Karya: Taufiq Ismail
Pidato Ricarda Huch di depan Kongres Pengarang Jerman, Seusai Perang Dunia
(Berlin, Oktober 1947)

Pujangga wanita itu
Novelis-penyair delapan puluh tiga tahun
(Demikian tegarnya dihempas waktu!)
Perlahan menaiki mimbar
Dan berkata:

'Dalam sejarah kita ini
Betapa sukarnya terasa
Tugas bimbingan batin waktu ini'
Yang tidak pernah ada sebelumnya...
Pada tahun-tahun ngeri terakhir ini
Selama perang berprahara
Dalam histeri demagogi
Dan kibaran semboyan-semboyan
Saya sering ragu-ragu dan
Bertanya-tanya. Pada bangsa saya
Sekian banyak yang latah dan menjilat
Apakah benar pada hati kecil berkhianat
Sekian banyak sia-sia tersungkur ke bumi
Berselimut awan amunisi
Tapi sementara itu
Telah tampil sekian banyak pula
Kebesaran jiwa
Kesediaan berkorban. Kepahlawanan
Serta kebajikan yang tinggi

Sesudah perang memberi kita
Puing demi puing. Kepapaan dan air mata
Daftar jenazah yang senantiasa bertambah
Hutang dalam ratusan juta jam kerja
Timbullah kini kesabaran dan kekuatan
Memikul berat beban nestapa
Serasa tiada hingganya.

1965

Pada bulan berikutnya, sesudah Ricarda Huch mengucapkan pidatonya di depan pengarang-pengarang Jerman, dia meninggal dunia di Schonberg, 17 Nopember 1947. Novelis-penyair pembangkang ini dilahirkan di Braunschweig, 18 Juli 1864.
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pidato Ricarda Huch di depan Kongres Pengarang Jerman, Seusai Perang Dunia
Karya: Taufiq Ismail
Cerita untuk Anak Kita
(- di pusaramu)

Aku cerita pada anak kita;
bahwa kau sedang tidur lama
dan suatu ketika akan bangun.

Anak kita bertanya;
bagaimana ibu bisa mengenaliku
kalau ia tidur sejak aku lahir?

Kubilang, ibu pasti mengenalmu
sebab ia selalu memimpikanmu
bahkan sejak sebelum tidur!


Solo,
November, 2006
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Cerita untuk Anak Kita
Karya: Sosiawan Leak