Jamal Menari

Jamal menari. Tangannya gemulai, seperti bunga 
dirangkai seorang gadis. Tetapi matanya penuh pecahan 
telur: “Inlander dilarang masoek,” katanya. Ada yang 
bergerombol di luar sana. Konservatif. Tubuhnya cairan 
otak dalam botol, dan semacam minyak tanah bercampur 
air. Kemudian orang-orang asing datang, mengajar 
menari. Memasang pengeras suara di gedung-gedung 
pemerintah. Tetapi ketika aku mulai menari, menabrak-
nabrakkan tubuh pada tembok, aku lihat pengeras suara 
pecah di atas kepalamu: Aku putus asa untuk jadi orang 
asing, juga putus asa untuk jadi inlander.

Jamal, temanku dari Madura itu, kemudian berdoa 
dengan baju tebal yang gemetar, seperti Abu Nawas 
menghadap raja: “Yang mulia, aku terlalu lemah untuk 
jadi orang asing, tetapi juga terlalu lemah untuk jadi 
inlander.”

Di tengah pesta, dari orang-orang yang merasa dirinya 
pemberontak, aku kena diare. Tarianku jadi kacau, seperti 
pengeras suara yang pecah di atas kepalamu itu:

“Inlander dilarang masoek”. Aku bersumpah: Dunia 
konservatif sedang memakan jantungmu.

1995
"Afrizal Malna"
Puisi: Jamal Menari
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top