loading...

Saya Menyetrika Pakaian

Dia adalah deru kereta .... Seorang wanita Indonesia di 
Bern, membuat bahasa aneh, dari jaket kulit dan 
pembebasan visa: “Suami saya seorang Itali. Tetapi saya 
dari Gunung Kidul.” Di Sungai Melezza, batu-batu 
berkaca menghanyutkan kembali lukisan-lukisan Bacon, 
jadi bangkai-bangkai rumah Abad 20. Rasialisme telah 
tertanam dalam warna kulitku. Dia adalah sapi dan sepeda, 
di antara gereja, kafe, dan batang-batang rel kereta.

Perkenalkan, namaku Muhamad Amin, dari Irak. Tapi 
sebuah negeri telah membuatku hidup hanya dari wortel, 
body lotion, dan paspor yang menyimpan keresahan para 
imigran. Dia adalah seorang Jerman, yang belajar 
tersenyum dari tomat-tomat yang tumbuh di balkon. 
Danke. Revolusi Iran telah mengusirku hanya karena 
teater. Lalu para seniman menolak setrikaan di Monte 
Verito. Dia adalah ... tiba-tiba ingin jadi makhluk danau 
di Ascona. Mengirim bukit-bukit berhimpitan, tanpa 
Hitler, Madonna, atau si jenggot dari Trier: Ini tembok 
untukmu, Berlin, jangan sedih.

Tetapi bank-bank telah menanam Suisse, di antara 
kantor-kantor pemerintah, seperti bunga di kamar mandi: 
Siapa yang mau bunuh diri dengan keindahan. Wi, wi ... 
mari. Dia telah membuat sebuah negeri dari perahu 
penyeberangan, di sepanjang Sungai Rhein. Tetapi di 
sebuah pesta ulang tahun, dia adalah sejumlah pelukan 
bernyanyi ... oh, my papa ... “Namaku Lili dari 
Madagaskar,” dalam bahasa Perancis yang tercekik.

1993
"Afrizal Malna"
Puisi: Saya Menyetrika Pakaian
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top