Mei 2006
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Reinkarnasi

Kukembalikan dagingku pada ikan
Kuserahkan darahku pada kerang
Makanlah milikku, ambil seluruhku
Kukembalikan tulangku pada tripang

Jika aku mati
hanya tinggal tanah
jiwaku membumbung
ke kekosongan.

Bertahun-tahun aku mengail
berhutang nyawa pada ikan
Berabad-abad aku minum
berhutang hidup pada laut
Berwindu-windu aku berlari
berhutang api pada matahari
Tiba saatnya nanti kukembalikan
semua hutangku pada mereka.

Kukembalikan jasadku pada tanah
sukmaku kembali ke tiada
: zat pemilik segalanya!

Jakarta
1992
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Reinkarnasi
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Mabuk Reformasi

Tuhan, maafkan, aku mabuk lagi
dalam pusingan anggur reformasi
menggelepar ditindih bayang-bayang diri
seember tuak kebebasan mengguyurku
membantingku ke ujung kakimu
luka-luka kepalaku, luka-luka dadaku
luka-luka persaudaraanku
luka-luka hati nuraniku.

Aku mabuk lagi, terkaing-kaing
di comberan negeriku sendiri. Peluru tentara
menggasak-gasakku, pidato pejabat
merobek-robek telingaku, penggusuran
menohokku, korupsi memuntahiku
katebelece meludahiku, suksesi
mengentutiku, demonstrasi mengonaniku
likuidasi memencretkanku, kemiskinan
merobek-robek saku bajuku.

Tuhan, maafkan, aku mabuk lagi
menggelinding dari borok ke barah
dari dukun ke setan, dari maling ke preman
dari anjing ke pecundang, dari tumbal
ke korban, dari krisis ke kerusuhan
dari bencana ke kemelaratan!

Aku mabuk lagi, mana maling mana polisi
mana pahlawan mana pengkhianat, mana
pejuang mana penjilat, mana mandor
mana pejabat, mana putih mana hitam
mana babi mana sapi, mana pelacur
mana bidadari, mana perawan mana janda
mana Tuhan mana hantu? Semua nyaris seragam
begitu sulit kini kubedakan

Tuhan, maafkan, aku mabuk lagi!
Berhari-hari, berbulan-bulan
tanpa matahari.

Jakarta
Mei, 1998
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Sajak Mabuk Reformasi
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bandung

Sawah tersungkur
: julangan kukuh, struktur,
jalanan beton
makin melebar
- tapi terasa sempit -
: mobil merayap
udara pengap,
kota, setiap akhir
pekan, serentak:
ditinggal libur
di gunung, di udara
bersih dan sejuk
melintas batas
memasuki kenangan.
Mutlak sendiri.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Bandung
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pasar Soreang


(Pasar Soreang, 1)
Mereka turun dari perbukitan di sekitar
Ketika embun sedang dibentuk
Sambil membawa obor setengah lengan,
Sambil memikul bonteng atau singkong
Terkadang Lombok sebakul, atau leunca
Sekeranjang - dibebat kain panjang
Mungkin juga nangka, pepaya, melinjo,
Daun singkong muda, pete, dan jengkol
Sebelum pasar dibuka bergegas dengan
Garam, peda, oncom, dan minyak tanah
:untuk isi cempor, untuk obor hari esok
- gegas menggarap ladang sebelum terik
Berkeringat sehingga raga terpiut, serta
Waktu sangat cepat menggali kuburan
- mendahului matahari setengah hari.

(Pasar Soreang, 2)
Apa mau memilih soto bandung epon?
Bening dengan irisan lobak pleus lauk
Gepuk, kenyal tanpa lemak
Atau soto kuning euis? Dengan kerupuk
Kulit, dorokdok yang khidmat dimakan
Di kios suram di tengah pasar
Ada juga yang membawa nasi sendiri 
Berpesta dengan lauk telor asin – yang 
Dibelah empat untuk berempat
Mungkin juga kupat omo? Kuahnya
Berminyak bihunnya melunak, atau 
Kupat intja atau o’ed?
Atau bubur ayam dengan kurupuk remas?
Bersantai sambil banyak omong, dengan
Cengek garing giling serta kecap ekstra—
Berkeringat dan bergembira selepas panen
Atau cendol dengan aroma duren, es sirop
Dengan alpukat dan cangkaleng, goyobod
Yang ditimbun kristal es serut?

(Pasar Soreang, 3)
Odading serta kueh tambang yang selalu
Dipluntir, ali agrem & jalabriah tersedia
Untuk teman menghabiskan siang
Surandil merah berpupur parutan kelapa,
Awug yang bagai tumpeng dipotong agar
Lapisan gula merahnya bisa ditambang
Katimus, nagasari, uras isi oncom, bacang,
Dan robur nan pepal melulu karbohidrat -
Tersedia dalam kenangan, sia-sia ditelusuri
Jalan tanah berlubang, debu atau kubangan
Lumpur menghilang dibalik lapisan beton -
Masa kanak perlahan menyusut kian surut
Aku mirip pengungsi pencari tanah kelahiran
- yang diusir dan tak diperkenankan kembali
Mungkin hantu bernyawa tanpa ingatan

(Pasar Soreang, 4)
Halaman parkir bau tai serta kencing kuda
& uar ransum ampas tahu - ongok. Delman
Serta gerobak berseling sepi pasang ladam
Dan sekarang hari pasar, hari di mana hasil
Bumi diunggah ke atas truk, sedang barang
Kelontong diturunkan untuk didistribusikan
Hingar-bingar toa menawarkan obat untuk
Segala penyakit, menata lingkar penonton:
Untuk sulap, acrobat sepeda beroda satu,
Serta atraksi piul si adang buta, yang kuasa
Meniru ringkik kuda. Kegembiraan sampai
Jam 09:00 - sebelum kota kembali lengang
Kegersangan padi siap bunting, tenang tanpa 
Parpol yang menyiapkan rintisan jadi bupati,
Dan bahkan presiden - dengan obral janji
Dangdut, bujur ngageol, serta placebo resesi.

(Pasar Soreang, 5)
Omo kuik tidak leluasa kalau melangkah,
Kakinya seret diseret-seret, seperti gerak
Roda lokomotif kehilangan daya
Dari sana mendapat nama: kuik. Membawa
Tongkat agar panceg ketika jalan - merayap
Separuh tertatih sering termangu
Rasanya tidak gila - cuma depresi tidak bisa
Berjalan, seperti bibi rumsi yang senantiasa
diejak kanak sebagai si banyak tumila
atau ehoy yang selalu 'ngiler itu. berprofil
imbecil dengan: si tangan serta kaki kanan
cacat dan sukar digerakkan
real monster masa kanak - sering dicemooh!
: di mana mereka kini? Apa mereka memang 
Sufi suci seperti angan Isac Bashevis Singer?

2015
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Pasar Soreang
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng Sebelum Sarapan

Suatu pagi aku semakin mengerti: Kenapa
lelaki tua itu sekuat tenaga memampatkan
udara ke dalam selongsong ban becak tuanya.

Di dingin pagi ketika hujan tidak mau mereda
dan langit cerah, saat surya gagap menandai
hijau daun dan orang-orang beku disaput lapar.

Itu seperti satu momen - nun dahulu kala:
ketika yang satu meniupkan nafas ikhlas
dan kebebasan pada rongga dada ciptaan-Nya.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Dongeng Sebelum Sarapan
Karya: Beni Setia